Haram Memiliki Anak (44) Pamit. Usai dipikir ditimbang, merenung semalaman. Aku memutuskan untuk meninggalkan panti. Belakangan, aku mendapati terjadi konflik antara Umi Karyunah dengan sanak saudaranya. Kerabat Umi kurang menerima kehadiranku yang dianggap benalu tak tahu malu. Pernah Umi meminta izin untuk menceritakan perihal donasiku pada para kerabatnya. Namun, aku menolak memberi izin. Sejak awal, aku memang meminta Umi agar merahasiakan perihal donasi yang aku berikan. Tidak untuk dibahas lagi di kemudian hari. Umi pun mematuhi janjinya. “Apa tidak bisa diubah lagi, Nak?” Umi menggenggam erat jemariku. Berat memang, tetapi aku tetap menguatkan hati. Menggeleng. “Citra sudah banyak belajar di sini. Sudah saatnya Citra mencari pengalaman baru.” Umi mengangguk lemah. “Ingat ini

