Plak! Telapak tangan Mas Fauzi mendarat di pipiku. Sejenak dunia ini seakan berhenti berputar. Aku menganga tak percaya. Selama delapan tahun, tidak pernah Mas Fauzi memukul atau menamparku. Tanpa bisa dicegah, air mataku mengalir. “Demi Allah, Citra! Kamu ini masih istri sah aku, kenapa kamu jalan sama pria lain? Di mana harga dirimu sebagai seorang perempuan, Citra?” Jantungku tersentak! Mas Fauzi mencengkram kedua bahuku kencang. Sakit. “Dengar Citra, Mas sengaja tak menghubungi karena Mas ingin kamu berpikir jernih dengan tenang. Tapi coba apa yang kamu lakukan? Kamu malah kencan sama pria lain, Citra!” Mas Fauzi mengguncang-guncang keras tubuhku. “Lepaskan!” Mas Kisam menarik paksa Mas Fauzi agar melepaskan cengkeramannya padaku. Mas Kisam melirikku sebentar yang bersender

