Haram Memiliki Anak (42) Riuh. Suara riuh anak-anak yang sedang bermain menyambut hari. Beberapa dari mereka berlarian sambil tertawa. Beberapa lagi berkerumun di teras membaca cerita. Aroma kaldu ayam membumbung memenuhi udara. Aku tersenyum puas saat mencicipi rasanya. Anak-anak pasti akan suka dan makan dengan lahap. “Kamu pinter masak, ya, Cit,” puji Teh Heni. “Dulu aku belajar masak buat menyenangkan suami, Teh.” Senyuman Teh Heni memudar, dia menatapku lembut. “Sabar, Neng. InsyaAllah, ada kebahagiaan di depan sana.” Mengangguk, aku mengaminkan di dalam hati. Mudah-mudahan saja. Aku sudah menjual aset-aset yang ditinggalkan Mas Kisam dan menyumbangkannya ke panti asuhan. Ketika Umi Karyunah—pemilik panti—bertanya di mana aku tinggal, aku menjawab jujur tidak memiliki tempat

