Naira masih menangis di pusara ayahnya. Pria itu telah selesai dimakamkan setengah jam yang lalu. Jaedan bersama sang baby sitter berdiri tak jauh dari mereka. Jimin pun ada di sana, sedang Maira dan Tonny sama-sama berjongkok di dekat Naira yang masih menangis. "Sudah, Nak. Semua sudah berlalu. Ayo, ikhlaskan kepergian ayah. Ibu yakin ayahmu pasti tidak suka kalau ditangisi seperti ini." Sang ibu memeluk putrinya penuh kasih. Ia sangat paham apa yang dirasakan buah hatinya itu. Tapi, toh, selama ini mereka memang sudah hidup tanpa pria itu. Jadi tak akan ada yang berubah meski dia menghilang selamanya. Naira mengangguk lesu. Sang ibu pun membimbing anaknya untuk bangun. Jimin mendekatinya dan membantu mereka berdua. "Sayang, kita kembali ke hotel sekarang, ya." Naira mengangguk mendeng

