"Sayang, kemeja biruku ada di mana?" Jimin mengacak-ajak walk in closet di rumahnya. Hari ini ada meeting dengan seorang klien terkait pembukaan cabang usahanya yang baru di Fukushima. "Sudah aku siapkan, suamiku sayang." Naira mendekati lalu menarik hidung mancung sang suami. Jimin pun mencuri kecupan di bibir sang istri. "Sebentar, ya, aku ambilkan." Naira beringsut pergi. "Sayang, Jaedan di mana?" "Mereka masih tidur," sahut Naira kemudian menghilang dari sana. Tak berapa lama ia kembali dengan setelan pakaian kerja yang sudah rapi dan wangi. "Jadi, kapan kita bisa berikan adik untuk Jaedan?" Jimin menarik pinggang istrinya hingga berbenturan dengan tubuhnya. "Jangan bahas adik di jam seperti ini. Sebaiknya kau segera bersiap." Naira mendorong suaminya hingga keduanya terlepas. Jim

