103. Perpisahan

1017 Kata

Seperti apa yang sudah direncakan, Naira dab Jimin yang telah siap pun turun dari lantai dua. Mereka keluar dari kamar. Jaedan ada dalam gendongan ayahnya. "Sayang, tunggu sebentar." Jimin meletakkan kopernya di dekat sofa. Ia pun meninggalkan Naira dan ibunya untuk menemui Elle. Pria itu tengah ada di dapur membuat kopi untuknya sendiri. "Hei, bukankah pria tak boleh menjadi cengeng?" Elle tersenyum tipis saat mendapat pukulan di bahunya. Pasca pertengkaran mereka di club minggu lalu, Elle memang lebih sering menghindar dari Jimin. Entahlah, ia hanya merasa takut untuk diinterogasi lebih jauh lagi mengenai Kinara. "Kenapa hanya tersenyum tipis dan menyepi sendiri di sini. Tak ingin mengucap selamat tinggal padaku?" "Untuk apa mengucap selamat tinggal jika kau akan selalu kembali." E

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN