"Kita pasti akan bertemu lagi. Kau sangat cantik Naira Amadia." Suara itu kembali terdengar di telinga. Ketakutan kembali menyerang Naira membuatnya kehilangan konsentrasi saat memeriksa laporan dari Medey. Ia mengingat bagaimana rupanya yang terlihat berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Jika dibilang tampan, pria itu memang tampan. Akan tetapi lebih dari pada itu, dia justru sedikit menakutkan. Tulang pipi yang sedikit tirus, dengan rahang tegas ditumbuhi sedikit rambut yang sepertinya baru berumur dua atau tiga hari. Sorot matanya menyiratkan nafsu yang mencapai ubun-ubun. Pun suaranya yang berat penuh penekanan, seakan hendak mengintimidasi dirinya. membuat nyalinya menciut dan kehilangan kendali diri. Jangan lupakan rambut klimis, dengan netra hitam kelam sekelam kota Spayol saa

