Hari-hari di Italia mulai membentuk ritme baru. Pagi datang dengan cahaya lembut yang menembus jendela besar apartemen. Clarisa berdiri di ruang latihan, mengenakan pakaian olahraga sederhana—nyaman, tanpa niat memamerkan apa pun. Kael sudah lebih dulu ada, menyiapkan matras dan botol air. “Kita mulai dari pemanasan,” kata Kael, nada suaranya datar namun jelas. “Gym sebentar.” Clarisa mengerutkan kening. “Aku biasanya cuma stretching.” “Justru itu,” jawab Kael. “Tubuhmu kuat, tapi belum terbiasa menahan beban.” Clarisa mengangguk, setengah yakin. Ia mengikuti Kael ke area gym—ruang yang rapi dengan deretan alat yang tampak terlalu serius. Bau karet dan besi bercampur dengan udara bersih. Clarisa menatap alat-alat itu seperti menatap bahasa asing. Kael menunjuk treadmill. “Mulai dari

