bela diri

864 Kata

Ruang latihan terasa berbeda hari itu. Bukan karena lampunya, bukan karena matras hitam yang sama, atau cermin besar yang memantulkan bayangan mereka. Melainkan karena sesuatu yang tidak terlihat—udara yang lebih padat, sunyi yang lebih dekat. Kael berdiri di tengah ruangan, tangan di belakang punggung. “Hari ini,” katanya pelan, “kita masuk ke teknik dasar.” Clarisa mengangguk. Ia berdiri berhadapan dengan Kael, jarak satu lengan. Posturnya tegak, rahang sedikit mengeras—fokus. Namun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menyadarinya, dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri. “Bernapas,” kata Kael. “Jangan tegang.” Clarisa mengatur napas. Tarik. Lepas. Ia mencoba mengabaikan fakta bahwa Kael begitu dekat—terlalu dekat untuk sekadar pelajaran. “Kita mulai dari sikap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN