Clarisa bangun dengan satu kesimpulan yang sangat jelas di kepalanya: Ia ingin dimanja. Bukan karena ia lemah. Bukan karena kakinya benar-benar tak bisa dipakai. Melainkan karena tubuhnya terasa berat, emosinya naik turun tanpa sebab, dan dunia terasa terlalu keras untuk dihadapi sendirian. Ia menatap langit-langit kamar, mendengar langkah Kael di luar. Ada suara air, bunyi gelas diletakkan, dan aroma teh hangat yang samar-samar masuk ke kamar. “Kael,” panggil Clarisa pelan. Langkah itu berhenti. “Iya?” jawab Kael dari balik pintu. “Aku mau ke kamar mandi.” “Baik,” kata Kael. “Aku bantu jalan.” Clarisa mengerutkan hidung. Jalan bukan rencana yang ia mau. “Tidak bisa,” katanya cepat. Kael masuk ke kamar, menatap Clarisa yang duduk bersandar di bantal dengan wajah paling sengsar

