Clarisa bangun pagi dengan perasaan yang… mencurigakan. Pikirannya seperti penuh kapas—ringan tapi berisik. Emosi datang tanpa antrean, menabrak satu sama lain. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jari-jarinya sendiri dengan dahi berkerut. “Apa sih…” gumamnya. Di luar, kebun lavender yang Kael rawat terlihat terlalu rapi. Terlalu damai. Dan entah kenapa, kedamaian itu membuat Clarisa kesal. Ia berdiri, mengenakan sepatu seadanya, lalu keluar menuju kebun. Kael belum terlihat—mungkin di gudang kecil belakang rumah. Kesempatan. Clarisa berhenti di antara barisan lavender, matanya menyapu tanah. Ia melihat sepotong kayu tipis—bekas penyangga tanaman yang dilepas Kael kemarin. Kayu itu cukup panjang, cukup keras, dan… cukup menjengkelkan. Ide itu muncul begitu saja. Kekanakan. Tidak mata

