Tepat di depan kampus ULTRA, seorang gadis berseragam SMA dengan tag nama Aresya Raquilla berdiri sambil celingak-celinguk ke sana-ke mari. Sesekali, dia juga menengok jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangannya. Sampai tak lama, Opin dan Calvin yang melihatnya, tentu saja menyempatkan diri untuk mampir. “Sendirian aja, Dek?” tanya Opin. Yang kemudian langsung disambar Calvin. “Nungguin siapa? Mau Abang temenin nggak?” Bukan menjawab, gadis SMA itu malah tampak bingung. Menyorot Calvin dengan raut heran dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebelum akhirnya dia suarakan pikirannya. “Kakak ini sebenernya orang bule apa Jawa, sih? Mukanya bule, tapi kok ngomongnya medhog gitu?” “Oh, dia itu bule pinggiran.” Dengan merangkulan sok akrab, Opin menyahut sambil menunjuk wajah Ca

