Menyaksikan papanya berlalu acuh tak acuh meninggalkannya, bahkan tidak peduli dengan apapun yang dia katakan, Selena terpaku di posisinya. Memandangi punggung papanya yang semakin mengecil dan menjauh. Sangat gontai, gadis itu memaksakan kakinya untuk tetap melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya. Meski tiba-tiba di tengah lantai, tubuhnya jatuh terduduk, sesaat setelah ia menutup pintu. Dalam diam, Selena berpikir sangat dalam. Selena ingin jujur pada dirinya sendiri bahwa faktanya, sulit untuk dia percaya kalau papanya akan bertindak setega ini terhadap dirinya. Meninggalkannya tanpa peduli, setelah berbagai makian ia terima tidak henti-henti. Bermacam sentakan demi sentakan terlontar untuknya. Bahkan hingga tamparan keras, yang tidak hanya sakit, tetapi juga menimbulkan luka yang t

