Tanpa mengetuk, tangan mungil Relung langsung membuka knop pintu kamar Antara sambil memanggil. “Mas Antara!” “Jangan ganggu Mas dulu. Mas lagi galau, nih.” Melihat sang abang yang sangat kacau dengan celana boxer merah muda, rambut acak-acakan, dan bawah mata menghitam. Duduk bersandar di tengah ranjang sambil memangku gitar. Relung pun tampak bingung. Apalagi ia sendiri tidak tahu arti kata ‘galau’. “Galau apa, Mas?” Bocah laki-laki itu tidak mengerti. “Mas kenapa, sih? Kusut amat,” komentarnya kemudian. “Lagi patah hati Mas, tuh,” jawab Antara dengan menatap langit-langit kamarnya penuh kesenduan. “Halah, patah tulang kali Mas Antara, mah. Mas kan udah tua, jadinya gampang encok,” cibir Relung, sambil masuk dan menutup kembali kamar Antara. “Nanti deh, kalo kamu udah gede. Pasti t

