bc

MENCINTAIMU SAMPAI MATI

book_age18+
21
IKUTI
1K
BACA
family
HE
friends to lovers
like
intro-logo
Uraian

Demi melunasi utang keluarga yang menggunung, desainer profesional Luna Anindya dipaksa menikahi Arka Dirgantara, seorang CEO Dirgantara Group yang dingin dan pragmatis. Bagi Arka, pernikahan tiga tahun ini hanyalah transaksi bisnis yang diatur oleh kontrak ketat dan Protokol Residensial yang kejam, menjadikannya 'aset' semata.Luna, yang harga dirinya terluka, membalas kendali Arka dengan pemberontakan senyap, menolak tunduk pada setiap aturan minimalis sang CEO. Namun, di balik topeng pernikahan sempurna yang mereka tunjukkan ke publik, Arka harus menghadapi trauma masa lalunya, sementara Luna mulai melihat sisi manusia dari pria yang telah melarangnya dengan tegas: "Jangan pernah, sekali pun, jatuh cinta padaku."

chap-preview
Pratinjau gratis
MAHAR UTANG DAN PERTEMUAN DI RUANG RAPAT
Luna Anindya tidak pernah menyangka bahwa satu-satunya warisan yang ia terima dari nama belakang ayahnya adalah sebuah papan nama usang dan setumpuk utang yang tingginya menjulang hingga ke langit-langit, menyerupai menara Babel yang siap runtuh menimpanya kapan saja. Namun, utang itu kini bukan hanya mengancam untuk menenggelamkan hidupnya, melainkan juga menuntut tumbal yang paling berharga: kemerdekaannya. ​Di hadapannya, ruang rapat marmer di lantai teratas Dirgantara Group terasa seperti lemari es raksasa yang tidak hanya beku oleh udara penyejuk, tetapi juga oleh atmosfer kekuasaan yang dingin dan mutlak. Setiap sentuhan perak dan cermin di ruangan itu memantulkan kesempurnaan tanpa cela, jauh berbeda dengan kekacauan yang sedang ia rasakan di dadanya. ​Ayahnya, yang kini duduk di sampingnya dengan wajah tertunduk layaknya seorang terdakwa, telah menjualnya. Tidak secara harfiah, tentu saja, tetapi dalam praktik bisnis yang kejam. Sebuah utang investasi sebesar 30 miliar, yang entah bagaimana membengkak dan jatuh tempo, menemukan penyelesaian yang tidak masuk akal: pernikahan. ​Pernikahan dengan Arka Dirgantara. ​Luna mengangkat pandangannya, sepasang mata cokelatnya yang tajam beradu dengan sosok yang selama ini hanya ia kenal dari sampul majalah bisnis. Arka duduk di kursi kepala meja, sosoknya tinggi, tegak, dan diselimuti aura yang begitu gelap hingga hampir menyerap cahaya di ruangan itu. Setelan jas mahal yang membungkus tubuh atletisnya terlihat seperti seragam tempur yang berkelas. Wajahnya adalah pahatan sempurna yang hanya diwarnai oleh ketidakpedulian yang mutlak. Arka bahkan tidak repot-repot menatapnya. Matanya terpaku pada selembar dokumen di hadapannya, seolah-olah kertas itu jauh lebih menarik daripada wanita yang akan menjadi istrinya. ​“Jadi, Nona Luna Anindya,” suara Arka memecah keheningan, nadanya rendah, dalam, dan tanpa emosi, seperti bunyi es yang pecah. “Anda memahami persyaratan yang ada, bukan?” ​Luna mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia adalah desainer profesional yang dihormati, wanita yang terbiasa memimpin proyek dan bernegosiasi dengan klien besar. Sekarang, ia diperlakukan seperti barang yang sedang diinspeksi sebelum dibeli. ​“Saya mengerti,” jawab Luna, suaranya sedikit serak, tetapi ia berusaha keras mempertahankannya agar terdengar mantap. “Utang keluarga saya lunas. Sebagai imbalannya, saya akan menjadi istri Anda selama tiga tahun.” ​Arka akhirnya mendongak, tatapan mata abu-abunya yang dingin menusuk langsung ke mata Luna. Tatapan itu menelanjangi dan menilai, dan Luna merasa harus menahan napas. ​“Bukan hanya istri selama tiga tahun,” koreksi Arka, sedikit memiringkan kepalanya, senyum sinis yang hampir tak terlihat terukir di sudut bibirnya. “Anda akan menjadi Nyonya Dirgantara. Itu berarti kewajiban. Anda harus tampil. Anda harus patuh. Anda harus menjaga reputasi saya.” ​“Saya tahu cara bersikap di depan umum, Tuan Arka,” balas Luna dengan cepat. “Saya bukan anak kecil. Saya seorang desainer, saya berinteraksi dengan orang-orang penting setiap hari.” ​“Desainer?” Arka mendengus, nada suaranya sedikit mengejek. “Itu bagus. Setidaknya Anda akan tahu cara memilih pakaian yang pantas untuk menemani saya di acara gala. Tetapi, mari kita perjelas satu hal, Nona Luna. Peran Anda di rumah saya adalah untuk stabilisasi. Anda tidak akan mencoba menjalin ikatan emosional. Anda tidak akan mengganggu urusan bisnis saya. Dan yang paling penting, Anda tidak akan jatuh cinta pada saya.” ​Kata-kata itu menghantam Luna seperti tamparan. Ia tahu Arka adalah pria yang kejam, tetapi mendengar penghinaan terbuka itu terasa seperti rasa logam yang menusuk di lidahnya. ​“Anda tidak perlu khawatir, Tuan Arka,” balas Luna, memaksakan senyum yang bahkan ia sendiri tahu terlihat seperti seringai. “Saya tahu persis apa yang saya hadapi. Saya tidak pernah punya ketertarikan pada pria yang menganggap pernikahan sebagai transaksi properti. Dan demi informasi Anda, pekerjaan saya sebagai desainer adalah gairah saya. Saya akan tetap bekerja dan membangun studio saya sendiri, terlepas dari status palsu yang Anda berikan kepada saya.” ​Luna meraih pena, lalu menarik dokumen perjanjian yang ada di hadapan Arka. Di sana, tertulis klausul-klausul yang memutarbalikkan perutnya: tunjangan bulanan yang mewah, rumah yang terpisah, dan yang paling membuatnya sakit, klausul tentang pembatalan, yang mengizinkan perceraian tanpa kerugian finansial setelah batas waktu tiga tahun terpenuhi. ​Arka hanya bersandar di kursinya, mengawasi setiap gerakan Luna, seperti pemburu yang sedang mengamati mangsanya yang baru tertangkap. ​“Anda bebas bekerja, Nona Luna. Selama pekerjaan Anda tidak menjadi aib bagi nama Dirgantara,” ujar Arka, memberi izin yang terdengar lebih seperti perintah. “Namun, kami akan segera menikah. Dalam dua minggu. Tidak ada pesta besar. Hanya seremoni kecil untuk formalitas hukum.” ​"Dua minggu?" Luna hampir berteriak, tetapi ia berhasil meredamnya menjadi desisan. "Itu terlalu cepat! Saya punya klien, saya punya jadwal!" ​“Anda tidak punya pilihan,” jawab Arka datar. Ia menunjuk ke dokumen dengan jarinya yang ramping. “Jatuh tempo utang adalah besok lusa. Pernikahan ini harus segera dieksekusi agar dana pelunasan dapat dicairkan. Sekarang, tanda tangani.” ​Napas Luna tercekat. Ia melihat wajah ayahnya yang memohon, melihat jurang kehancuran yang menunggu jika ia menolak. Ia membayangkan kehormatan keluarga yang hancur dan semua aset yang akan disita. Semua demi pria dingin di depannya bisa mendapatkan cap "suami stabil" di dahi korporatnya. ​Dengan tangan yang gemetar, Luna menorehkan tanda tangannya di atas garis yang ditentukan, di samping nama Arka Dirgantara. ​Utang itu terbayar. ​Kemerdekaan itu hilang. ​Begitu penanya terangkat dari kertas, Arka berdiri. Gerakannya cepat, gesit, dan penuh otoritas. Ia bahkan tidak memberinya salam atau pandangan terakhir. ​“Selamat datang di neraka, Nona Luna,” gumamnya pelan, suaranya hanya terdengar oleh Luna, sebelum ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Luna dan ayahnya dalam keheningan yang dingin. ​Luna Anindya telah menjadi mahar untuk sebuah utang, dan ia bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan CEO dingin itu mencuri jiwa dan gairahnya. Ini adalah pernikahan tanpa cinta, dan ia akan memastikan itu tetap seperti itu, bahkan jika ia harus berjuang sampai mati. Luna berusaha menenangkan dirinya atas apa saja yang barusan terjadi dengan dirinya. Menarik nafas dalam dalam sambil memainkan pulpen yang ada dia atas meja. Dia sedang memikirkan langkah yang harus dia siapkan untuk mengahadapi badai besar dalam hidupnya kedepan. "Kamu pasti melewatinya". Gumamnya sambil mengepalkan tangannya .

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook