PENGEPUNGAN SENYAP DAN GARIS BATAS

1194 Kata
Dua minggu terasa seperti rentang waktu yang terlalu panjang dan terlalu pendek pada saat yang bersamaan. Terlalu panjang untuk Luna Anindya menahan napasnya, menunggu eksekusi atas hidupnya sendiri, tetapi terlalu pendek untuk memberinya waktu yang cukup guna mengemas seluruh identitasnya ke dalam kotak-kotak karton. ​Sejak penandatanganan dokumen di ruang rapat marmer itu, kehidupan Luna berubah menjadi pengepungan senyap. Utang keluarga memang lunas, tetapi kebebasan berharga yang dulu menjadi udara pernapasan Luna, kini telah tergantikan oleh udara hampa yang steril. Keheningan di rumahnya terasa lebih menusuk daripada teriakan kepanikan finansial sebelumnya. Itu adalah keheningan yang dibeli oleh Arka Dirgantara. ​Satu-satunya tempat yang masih terasa nyata adalah studio desainnya di kawasan Jakarta Selatan yang ramai. Di sana, di antara gulungan kain, swatch warna, dan mock-up interior, Luna masih bisa menjadi dirinya sendiri: desainer, seniman, visioner. Bukan pengantin tanpa cinta. ​Ia sedang menatap desain konsep lobi untuk proyek hotel mewah terbarunya—sebuah tantangan yang membutuhkan konsentrasi penuh. Warna-warna berani dan tekstur yang kaya adalah jiwanya. Namun, fokusnya terus terpecah. ​“Kau masih di sini,” suara ayahnya terdengar dari ambang pintu studio. Suaranya terdengar layu dan dipenuhi rasa bersalah yang tebal. ​Luna tidak berbalik, hanya terus memegang pensil sketsa. “Tentu. Memangnya aku harus berada di mana? Di rumah Arka, berlatih senyum palsu untuk kamera wartawan?” ​Ayahnya melangkah mendekat, perlahan. “Luna, Ayah tahu ini berat. Tapi ini satu-satunya jalan. Utang itu… Ayah tidak punya pilihan.” ​“Ayah selalu punya pilihan,” potong Luna, akhirnya berbalik, tatapannya dingin dan menuduh. “Pilihan untuk jujur, pilihan untuk tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa Ayah penuhi, dan pilihan untuk tidak menjadikan putri Ayah sebagai jaminan. Tapi sudah, lupakan.” ​Ia menghela napas, kelelahan menghapus sisa kemarahan yang seharusnya ia rasakan. Ia telah menangisi dan meneriaki kenyataan ini cukup lama. Sekarang, yang tersisa hanyalah penerimaan pahit. ​“Aku sudah menandatangani. Hidupku selama tiga tahun ke depan bukan lagi milikku. Utang sudah lunas. Ayah aman. Tolong, jangan hancurkan ketenangan yang tersisa ini dengan rasa bersalah yang tidak perlu.” ​Ayahnya hanya mengangguk, tanpa bisa membantah. Ia tahu, kata-kata putrinya adalah kebenaran yang tidak bisa dicabut. Luna mengambil pena, kembali ke papan sketsa, mengisyaratkan bahwa percakapan telah usai. Ini adalah perpisahan tidak resmi pertamanya dengan kebebasan. ​Tiga hari sebelum hari-H, paket berisi instruksi setebal buku panduan tiba di studio Luna. Paket itu tidak dikirim oleh Arka, melainkan oleh kepala stafnya, seorang wanita bernama Ibu Ratih yang efisien dan dingin, seolah-olah ia adalah bayangan Arka dalam bentuk administrasi. ​Luna duduk di sofa, membaca dokumen berjudul Protokol Residensial dan Publik untuk Nyonya Dirgantara. ​Klausul 1: Akses ke penthouse residensial di lantai 60 hanya menggunakan kartu khusus. Tamu harus didaftarkan 24 jam sebelumnya. ​Klausul 5: Jadwal publik Tuan Arka Dirgantara adalah prioritas. Semua agenda pribadi Nyonya Luna harus disesuaikan dan dapat dibatalkan sewaktu-waktu. ​Klausul 12: Semua barang pribadi Nyonya Luna yang bersifat 'dekoratif' harus disetujui oleh tim interior, untuk memastikan keselarasan estetika minimalis properti. ​Luna mendesis. "Estetika minimalis?" berarti ia bahkan tidak bisa menaruh vas bunga kaktusnya di sana tanpa izin. Arka tidak hanya membeli hidupnya; ia mencoba membeli seleranya. ​Namun, yang paling membuatnya terprovokasi adalah Klausul 15: Nyonya Luna wajib menyediakan waktu tiga jam setiap hari (waktu fleksibel) untuk 'keterlibatan emosional terencana' jika diminta, demi mempertahankan citra keluarga yang kuat di mata publik dan dewan direksi. ​'Keterlibatan emosional terencana.' Kalimat yang begitu formal, begitu menjijikkan, dan begitu khas Arka. Itu bukan interaksi; itu adalah jadwal. ​Luna mengambil pena merah dan melingkari klausul itu dengan kasar. Ini adalah garis batasnya. Ia adalah istri kontrak, bukan boneka program. Ia tidak akan pernah membiarkan Arka mengatur emosinya. ​Malam itu, ia pindah. Ia tidak pergi ke rumah Arka, melainkan ke sebuah penthouse mewah di lokasi berbeda, properti yang disiapkan khusus untuk mereka berdua. Apartemen itu tinggi di langit, dikelilingi oleh kaca dan pemandangan gemerlap kota, tetapi terasa seperti kotak penjara yang berkilauan. ​Seluruh interiornya adalah palet abu-abu, beige, dan krom—terlalu sempurna, terlalu mahal, dan tanpa jiwa. Setiap sofa, setiap lukisan abstrak, berteriak "uang," tetapi tidak ada yang berbisik "rumah." ​Luna membuka sebuah kotak kecil berisi lampu meja favoritnya, sebuah karya seni keramik dengan pola geometris warna biru kobalt. Ia berjalan ke meja di sudut ruangan yang ditunjuk sebagai ruang kerja mini dalam denah yang diberikan Ibu Ratih. Ia meletakkan lampu itu di sana. Kemudian, ia mengambil dua buah bantal cushion dari studionya yang berani berwarna oranye tua dan melemparkannya ke sofa kulit abu-abu. ​Ambil itu, Tuan Arka. ​Itu adalah tindakan pemberontakan kecil pertamanya. ​Ia menghabiskan sisa malam itu dengan mengatur laptop dan papan sketsanya, menciptakan zona pribadinya di tengah kemewahan yang dipaksakan. Ia harus mendesain. Itu adalah jangkar yang menahannya dari tenggelam. ​Saat tengah malam, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Luna membukanya, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. ​“Pernikahan akan dilakukan pukul 10 pagi di Kantor Catatan Sipil. Juru rias akan tiba pukul 06.00. Pastikan Anda sarapan. Saya tidak ingin istri saya terlihat pucat di depan kamera.” ​– A.D. ​Itu adalah pesan teks pertama Arka kepadanya. Dingin, praktis, dan sekali lagi, menekankan penampilan. Tidak ada "Hai," tidak ada "Sampai jumpa." Hanya perintah. ​Luna menatap pesan itu. Pria itu sungguh-sungguh menganggapnya sebagai ekstensi bisnis yang harus diurus agar berfungsi dengan baik. ​Luna mengetik balasan, tangannya bergerak cepat karena dorongan emosi sesaat. ​“Terima kasih atas instruksinya. Saya juga tidak ingin suami saya terlihat seperti robot yang baru keluar dari jalur perakitan. Jangan lupa tersenyum.” ​Ia menekan tombol kirim sebelum pikirannya sempat menahannya. Kemudian, ia langsung menyesali impulsivitasnya. Arka Dirgantara bukan tipe pria yang mentolerir pembangkangan, apalagi lelucon sarkastik. ​Dalam hitungan detik, ponselnya kembali bergetar. ​“Anda melanggar Klausul 3: Komunikasi harus bersifat esensial dan berkaitan dengan jadwal. Senyum bukanlah bagian dari kontrak.” ​Luna memejamkan mata. Arka bahkan tidak perlu waktu untuk tidur. Pria itu memang robot, atau setidaknya, sangat mirip. ​Namun, di tengah rasa frustrasinya, ada percikan api aneh yang membakar. Ia telah memprovokasi sang CEO dingin, dan Arka telah bereaksi. Ini adalah permainan, dan Arka baru saja menunjukkan titik lemahnya: dia benci dilanggar. ​Baiklah, Tuan Arka. Luna mematikan ponselnya dan membiarkannya tergeletak di meja. Permainan dimulai besok. Dan kau akan mendapatkan Nyonya Dirgantara yang kau beli. Tapi jangan harap kau bisa mendapatkan Luna Anindya. ​Ia berjalan ke kamar utama. Di sana, di atas manekin di sudut ruangan, tergantung gaun pengantin putih tulang yang dipilih oleh tim Arka. Gaun itu ramping, elegan, dan mahal, tetapi terasa asing, seolah-olah dirancang untuk orang lain. Gaun itu indah, tetapi tidak mencerminkan dirinya yang sesungguhnya. Itu adalah seragam, bukan simbol cinta. ​Ia menatap pantulannya di cermin—wanita bersemangat yang sekarang menjadi jaminan utang. Besok, ia akan menukarkan harga dirinya dengan ketenangan keluarga. ​Luna masuk ke kamar mandi, dan membiarkan air dingin membasuh tubuhnya, mencoba memadamkan api pemberontakan di dadanya. Namun, ia tahu satu hal: tiga tahun ini akan menjadi perang dingin. Dan ia tidak akan kalah. ​Pagi akan tiba, dan dengan itu, ia akan menjadi Nyonya Arka Dirgantara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN