MALAM PERTAMA YANG CANGGUNG

1519 Kata
Udara di kamar Luna terasa pengap, meskipun kamar itu memiliki AC. Kamar tidur kecil yang disiapkan Arka untuknya terasa seperti ruang isolasi, diapit antara kemewahan kamar utama Arka dan lorong panjang yang sunyi. Luna mengganti gaun pengantinnya dengan piyama sederhana dan duduk di tepi ranjang. ​Ia melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 01:00 pagi. Ia seharusnya tidur, tetapi ketegangan pernikahan hari ini terlalu membebani pikirannya. Ia bangkit, memutuskan untuk mencari segelas air dingin. ​Rumah Dirgantara sunyi senyap. Luna berjalan perlahan melintasi lorong menuju dapur, langkah kakinya seolah memantul di lantai marmer. ​Saat tiba di dapur, yang ternyata adalah dapur profesional berukuran restoran, Luna terkejut menemukan Arka ada di sana. Arka hanya mengenakan celana training hitam. Tubuh bagian atasnya yang tanpa busana terlihat bidang dan kokoh, memancarkan daya tarik liar yang tak disengaja. Arka sedang mengambil sebotol air dari kulkas built-in dan tampak terkejut melihat Luna. ​“Ada apa? Tidak bisa tidur?” tanya Arka, nada suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya, mungkin karena ia terkejut. ​“Aku hanya haus,” jawab Luna, merasa malu karena tertangkap melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. ​Arka hanya mengangguk, lalu meneguk airnya dalam diam. Keheningan yang ada terasa tebal dan canggung. ​“Aku tahu ini aneh,” ujar Arka tiba-tiba, setelah jeda yang panjang. “Menikah dengan orang asing, malam pertama di kamar yang berbeda.” ​Luna menatap lantai. “Saya sudah menerima konsekuensinya, Tuan Arka.” ​“Panggil aku Arka. Kita suami istri, setidaknya di atas kertas,” koreksi Arka. ​“Baik, Arka.” ​“Dan kamar itu,” Arka menunjuk ke arah kamarnya, “...adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang terasa aman bagiku.” ​Luna mendongok. Ini adalah pertama kalinya Arka menunjukkan sedikit kerentanan. “Saya tidak akan melanggar batas Anda. Saya menghormati privasi Anda.” ​“Bagus. Karena aku tidak pernah membiarkan orang lain masuk setelah…” Arka menghentikan kalimatnya, rahangnya mengeras, seolah kata-kata itu menyakitinya. ​Luna merasa sedikit kasihan. Pria di hadapannya bukan hanya CEO dingin; dia adalah pria yang terluka. Mungkin pernikahan kontrak ini adalah penjara untuknya juga. ​“Saya mengerti. Dan Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu diri.” ​Arka menatap mata Luna sejenak, tatapannya tidak lagi menilai, tetapi lebih seperti mengukur sesuatu. Ada semacam kehangatan yang dipantulkan oleh Luna, yang terasa asing bagi Arka. ​“Ambil airmu dan tidurlah,” kata Arka, kembali ke sikap dinginnya. Ia berbalik dan berjalan kembali ke kamar, siluet punggungnya menghilang di balik pintu kayu mahoni. ​Luna terbangun karena suara alarm yang pelan, tidak disetel olehnya, melainkan oleh sistem rumah pintar di kamar pengantin yang kini menjadi penjara emasnya. Pukul tiga pagi. Protokol Arka telah menyebutkan dengan jelas: “Istri wajib bangun tiga jam sebelum CEO untuk persiapan penampilan publik dan sarapan.” ​Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Keheningan di kamar itu sangat berat, seolah udara pun tahu bahwa sumpah yang diucapkan kemarin adalah kebohongan megah. Arka masih terlelap di sisi tempat tidur king size yang terpisah tiga meter darinya. Ia tidur dalam posisi yang sempurna, punggung lurus, wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah ia beristirahat, bukan tidur. Bahkan dalam tidur, Arka Dirgantara masih tampak sedang rapat dewan. ​Luna menyelinap keluar dari ranjang. Lantai marmer dingin menyentuh kakinya. Ia menuju kamar mandi, lalu ke ruang pakaian yang luas—lebih besar dari apartemen lamanya—untuk mengenakan jubah sutra yang disiapkan asisten Arka. ​Di lantai bawah, dapur penthouse itu adalah monumen minimalisme. Segala sesuatu tersembunyi di balik panel kayu gelap. Hanya ada satu orang di sana: Nyonya Hesti, kepala rumah tangga berusia lima puluhan dengan tatapan mata yang tajam dan sikap disiplin militer. ​"Selamat pagi, Nyonya Arka," sapa Nyonya Hesti, suaranya kering. "Pagi, Nyonya Hesti. Saya bisa menyiapkan teh sendiri," kata Luna sopan, mencari teko. "Tidak perlu, Nyonya. Saya akan menyiapkan teh Anda sesuai catatan dari Tuan Arka. Teh hijau tanpa gula, disajikan pada suhu 70 derajat Celsius, persis jam 06:15," jawab Nyonya Hesti tanpa senyum. "Tugas Anda sekarang adalah mengecek daftar menu sarapan yang sudah dikirim ke perangkat Anda." ​Luna membuka tablet yang diserahkan Nyonya Hesti. Di sana terpampang jadwal yang ketat untuk hari itu. Sarapan di balkon lantai 50, jam 06:30. Kemudian, pertemuan sore dengan perwakilan dari sebuah yayasan amal yang Arka dukung. Semuanya diatur, setiap menit dipertanggungjawabkan. ​Tempat pukul 07.30 ​Arka berjalan keluar ke balkon, mengenakan setelan jas abu-abu tua yang dipesan khusus, bahannya jatuh sempurna tanpa satu pun kerutan. Luna sudah duduk di kursi meja bundar, memegang cangkir tehnya, membaca sesuatu di tablet. Pemandangan kota Jakarta yang baru bangun terbentang di bawah mereka. ​"Pagi," sapa Arka singkat, menarik kursinya. ​"Pagi," balas Luna tanpa menoleh. ​Nyonya Hesti segera menyajikan sarapan: oatmeal dengan buah-buahan organik untuk Arka, dan piring berisi smoked salmon dan alpukat untuk Luna. Semuanya disajikan dengan indah, tetapi Luna sama sekali tidak berselera. ​"Anda terlihat... kurang bersemangat," komentar Arka setelah meneguk tehnya. Luna meletakkan tabletnya. "Saya bangun jam tiga pagi. Saya kurang tidur, Tuan Dirgantara. Saya tidak terbiasa hidup seperti tentara." "Itu adalah jadwal yang efektif untuk memastikan Anda selalu siap untuk publik. Ini bukan tentang kebiasaan, Luna. Ini tentang tanggung jawab," balas Arka dingin. "Setidaknya Anda berhasil menahan keinginan untuk mengenakan pakaian yang terlalu berwarna pagi ini." ​Luna merasakan denyutan kemarahan di pelipisnya. "Anda benar. Saya menahan diri untuk tidak mengenakan baju tidur dengan motif bunga matahari saya, Tuan. Karena saya ingat ada klausul 'keharmonisan visual dengan furnitur' dalam Protokol Residensial Anda." ​Arka menatapnya, matanya tanpa emosi. "Sarkasme tidak akan melunakkan pasal kontrak, Luna." ​ ​Setelah sarapan yang penuh ketegang itu, tepat jam sepuluh pagi mereka dibawa ke ruang konferensi media di kantor pusat Dirgantara Group. Ini adalah penampilan publik pertama mereka sebagai pasangan baru, dan Luna tahu setiap ekspresi dan gerak-geriknya akan dianalisis. ​Arka tampil sempurna. Ia memegang tangan Luna dengan kehangatan palsu, menjawab pertanyaan tentang sinergi keluarga dan bisnis dengan kalimat-kalimat yang terdengar manis tetapi hampa. ​"Tuan Arka, Nyonya Luna adalah desainer profesional yang dikenal dengan gaya yang berani. Apakah pernikahan ini akan membatasi karier pribadinya?" tanya seorang reporter. ​Arka tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada Luna secara pribadi. "Luna adalah aset berharga. Tentu saja kami mendukung ambisinya. Namun, sekarang ia juga memiliki tanggung jawab baru sebagai bagian dari Dirgantara Group. Setiap proyek yang ia ambil harus mencerminkan standar etika dan citra perusahaan kami yang tak tertandingi." ​Jawaban itu menusuk Luna. Arka telah mengubah gairahnya menjadi komoditas lain yang harus ia kendalikan. ​Saat jeda, Luna berbisik tajam kepada Arka, "Saya bukan properti Anda untuk dikomentari. Karier saya tidak memerlukan 'izin' dari Dirgantara Group." Arka mencondongkan tubuh sedikit, hanya mata mereka yang bertemu. "Itu sudah tertulis dalam Klausul 4b. Anda lupa? Proyek yang melanggar citra perusahaan dapat mengakibatkan denda. Saya hanya memastikan Anda tidak melanggar kontrak di hari pertama." ​ ​Sore harinya, tepat jam tiga sore mereka menghadiri pertemuan dengan Yayasan Pelita Anak, proyek sosial yang dibiayai oleh Dirgantara. Luna mencoba mencari celah untuk menjadi dirinya sendiri, untuk menunjukkan empati aslinya. ​Saat Arka sibuk mendiskusikan angka-angka anggaran dengan para petinggi, Luna mendekati seorang anak kecil yang sedang menggambar di sudut. Anak itu, bernama Rara, menggambar sketsa rumah yang penuh warna. ​"Wow, ini bagus sekali, Rara. Kamu mendesain rumah impianmu?" tanya Luna lembut. ​Rara mengangguk. "Tapi kata guru, warna ungu itu terlalu ramai untuk rumah." ​"Tidak ada yang namanya 'terlalu ramai' dalam imajinasi," bisik Luna. Ia mengambil pensilnya dan menambahkan detail geometris yang berani, mencampurnya dengan warna ungu dan kuning cerah, mengajarkan Rara bahwa desain yang hebat adalah tentang keberanian. ​Saat itulah Arka menghampiri mereka. Ia melihat Luna berjongkok di lantai, jubah mahalnya sedikit kotor, tangannya memegang pensil warna. Wajahnya yang tegang pagi tadi kini berseri-seri. Itu adalah pemandangan yang tidak pernah ia duga. Luna tampak... bebas. ​"Nyonya Luna," panggil Arka dengan nada formal yang segera memudarkan senyum Luna. "Waktu kita sudah habis. Kita harus segera kembali untuk rapat video conference." ​Luna bangkit, memaksakan senyum perpisahan pada Rara. ​Di dalam mobil mewah yang sunyi, Arka memecah keheningan. "Anda melampaui waktu yang diizinkan di Yayasan. Dan mengapa Anda menyentuh pensil warna? Itu tidak profesional." "Saya menginspirasi seorang anak. Itu jauh lebih bernilai daripada semua angka yang Anda diskusikan hari ini," balas Luna, kini lelah. "Inspirasi tidak melunasi utang, Luna. Uang melunasi utang. Dan saya tidak ingin Anda terlihat seperti seniman jalanan. Kita sekarang adalah simbol," tegas Arka. ​Luna memalingkan wajah, menatap jalanan yang sibuk. "Anda telah membeli saya, Tuan. Bukan jiwa saya. Dan saya akan memastikan Anda mengingat perbedaan itu selama tiga tahun ke depan." ​Arka merasakan desakan aneh di dadanya—bukan marah, melainkan kekecewaan karena ia tidak bisa mengendalikan energi tak terduga yang dibawa oleh Luna. Baginya, Luna adalah variabel yang paling tidak terkontrol dalam hidupnya yang sempurna. Ia tahu, menjaga Luna tetap dalam batas kontrak akan menjadi tantangan terbesar dalam karier CEO-nya. Dan jauh di lubuk hatinya, ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar ingin menang. ​"Tiga tahun," Arka bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. "Itu waktu yang sangat lama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN