-1. Goodbye Seoul-
Seoul, 2021
Gadis berbalut hijab berwarna coklat s**u motif itu duduk di kursi yang di depannya terdapat sebuah meja kerja dengan sebuah papan nama yang terkesan prestigue bertuliskan ‘Dr. Seo In-Jae’. Gadis itu sedang terdiam penuh kecemasan menunggu hasil cek kesehatannya yang sedang diamati Dokter Seo melalui komputernya.
Berkali-kali Dokter cantik berkulit putih pucat itu membuka dokumen kesehatan pasiennya beberapa pekan lalu, bahkan bulan dan tahun-tahun yang lalu untuk membandingkan perkembangan kesehatannya. Mencatat hasilnya dalam sebuah catatan bertuliskan nama sang pasien, Aireen Zhafira.
Gadis berhijab yang akrab disapa Aireen itu nampak berusaha tegar dan terus menggerakkan bibirnya mengingat Allah, dzikrullah. Aireen sangat berharap ia tak lagi mengunjungi ruangan berbau antiseptik dan obat-obatan yang harus diminumnya. Itu sudah cukup menyiksa selama hidupnya.
“Aireen-ssi[1]” Panggil Dokter nan cantik, itu lantas membuat Aireen spontan menjawab.
“Ne[2]?”.
“Sejauh ini semua perkembangan kesehatan anda dari hiperventilasi[3] sangat baik karena sudah jarang kambuh. Dari pertama anda mendaftar sebagai pasien saya di tahun 2015, sekarang jauh lebih baik” Tukas Dokter Park dengan senyum lembut yang menenangkan hati.
Aireen tak lagi bisa menyembunyikan rasa bahagianya “Alhamdulillah”.
“Tapi--” Lanjut sang dokter disambut dengan perubahan air wajah Aireen yang mendadak tegang “Anda tidak boleh banyak memikirkan hal-hal yang tidak perlu, terutama hal-hal yang membuat anda cemas”.
Aireen mengangguk datar seperti sesuatu mengganjal, detik kemudian ia tersenyum kembali “T-tapi bukankah dokter selalu berpesan seperti itu pada saya?”.
Dokter Seo menghentikan aktifitas mengamat komputernya “Betul. Tapi kali ini anda sudah benar-benar membaik, jadi saya harus mengingatkannya terus. Yang jelas, Aireen-ssi tidak perlu repot-repot kontrol seperti sebelumnya. Aireen-ssi juga bisa membeli obat yang saya resepkan di apotek, tanpa perlu kontrol”.
“Kamsahamnida[4]” Gadis pemilik kulit kuning langsat menunduk sebagai sebuah penghormatan, sebelum ia meninggalkan ruangan berdinding putih tersebut.
Aireen berkali-kali mengucap syukur pada Allah atas kabar baik ini. Tentu saja, ia sudah mengidap gangguan ini sejak kecil, namun tak sempat untuk mengobatinya. Barulah di tahun 2015 saat ia berhasil meraih beasiswa kuliah di Korea Selatan, ia disarankan temannya untuk berobat sebelum penyakitnya itu semakin mencekik dan mengganggu proses belajarnya di Korea yang tentunya jauh lebih ketat daripada di Indonesia.
Aireen melambaikan tangannya untuk memberhentikan taksi. Ia buru-buru kembali ke kediamannya di distrik Itaewon sebelum hujan turun. Ya, langit sudah mulai berubah menjadi abu-abu.
Sebenarnya kebanyakan dari sopir taksi di Korea ini sangat sensitif dengan orang asing. Bukan karena perbedaan fisiknya saja, namun karena bahasanya juga. Lima tahun berkelana di Negeri Ginseng sudah membuat Si mungil—Aireen fasih berbicara bahasa Korea, apalagi ia mengambil jurusan Bahasa Korea.
Masalah hijab? Ah, tidak begitu masalah, karena islam sudah lumayan berkembang di negeri minoritas itu. Sesekali ada sebagian yang masih belum terbiasa melihat hijab. Tapi mereka tak terlalu menggubris, kecuali dalam mencari pekerjaan. Muslimah berhijab agaknya tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Seperti Aireen yang akhirnya memilih platform youtube sebagai ladang mencari rejeki.
Aireen buru-buru keluar dari taksi karena hujan sudah semakin deras. Ia tak semerta-merta langsung masuk ke dalam rumah, ia harus melalui jalan menanjak untuk sampai dirumahnya yang terletak di jalanan kecil. Terpaksa tas ranselnya menjadi pelindung kepala.
“Assalamu’alaikum” Aireen membuka pintu.
“Waalaikumussalam” Seru dua orang dari dalam. Mereka adalah room mate Aireen. Dewi dari Jogja dan Sarah dari Kuala Lumpur, Malaysia.
“Ya Allah, kamu kehujanan?” Kaget Dewi melihat pakaian Aireen yang basah kuyup. “Buruan mandi, Si Sarah lagi bikin teh tarik hangat loh”.
Sambil melepas sepatu, Aireen berucap “Iya Dew, aku mau mandi dulu”.
^^^
Ketiga gadis itu duduk santai diatas sofa sambil menikmati teh tarik hangat buatan tangan orang Malaysia asli. Sambil memandangi jendela maha besar yang menampilkan hujan sedang membasahi ibu kota Korea Selatan. Aireen dan teman-teman tinggal di sebuah rumah atap, yang mana mereka hanya menyewa rumah bagian atas. Mereka juga saling berbincang mengenai banyak hal.
“Eh iya. Lusa kontrak rumah kita habis nih, udah dua tahun” Ceplos Dewi.
“Iye betul betul. Saye nak pindah ke tempat kawan di distrik Hannam” Sambung Sarah.
“Hah?! Hannam-dong?!” Sebegitu terkejutnya Aireen dan Dewi kompak. Pasalnya, Distrik Hannam bukan distrik kaleng-kaleng. Itu distrik mewah tersembunyi yang sudah tak perlu dipertanyakan harga sewa rumahnya. Banyak selebriti yang menetap disana.
Aireen meletakkan cangkirnya ke meja “Kamu yakin mau pindah ke Hannam-dong?”.
Sarah mengangguk “Iye. Lagi pule satu bulan lagi Sarah nak wisuda. Tak perlu lagi susah-susah cari rumah lah. Buat penat je”.
“Ah, wisuda!” Dewi menepuk dahinya frustasi “Ujian aja belum”.
“Makanya cepetan selesai-in” Kata Aireen sambil mengunyah biskuit. “Emangnya kamu rencana mau pindah kemana?”.
Dewi mendengus kasar “Aku mau ke tempat Mbak Selfi, tapi jauh banget dari kampus. Piye ya?” Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal “Wes ndak apa-apa lah. La kamu mau langsung pulang ke Indonesia? Kan udah wisuda” Tanyanya penuh dengan aksen jawa yang sangat kental.
“Aku mau ke tempat Lily di Busan dulu sampe visaku habis” Jelas Aireen sambil men-charge kamera.
“Ealah. Nek aku jadi kamu to, aku langsung pulang wae. Cari kerja. Opo belum puas to muter-muter disini?” Celoteh Dewi heran.
“Kamu tau kan, aku kerja disini. Nih!” Aireen menunjukkan layar ponsel yang menampilan laman youtube “Makanya aku mau banyak eksplor Busan dulu, setengah tahun lagi aku baru pulang ke Indonesia” Aireen melunturkan senyumnya, terdiam sejenak. “Mungkin, kalo nggak aku perpanjang” Kemudian matanya berkaca-kaca.
Melihat ekspresi tak bersahabat dari Aireen, Dewi dan Sarah langsung merangkul kawannya itu. Membuatnya lebih tenang dengan memberikan sentuhan lembut. Aireen bukannya tak cinta negaranya, hanya saja ada banyak ketakutan ketika ia harus kembai ke Tanah Air. Itulah mengapa di Korea, ia merasa lebih tenang, meski tak seutuhnya.
^^^
Aireen mengeluarkan barang-barangya dari rumah setelah saling berpamitan dengan pemilik rumah, juga dua room mate-nya. Satu koper dan satu ransel. Ia membawa sampai ke pinggir jalan raya, menunggu taksi yang akan mengantarnya ke stasiun Seoul. Seperti keinginannya, ia ingin menjelajah Busan.
Tak perlu menanti lama, taksi yang dikendarainya telah sampai di stasiun terbesar di Kota Seoul. Kebetulan Aireen mendapatkan sopir taksi yang ramah. Sopir paruh baya itu dengan gesit menurunkan barang-barang dari bagasi.
“Kamsahamnida, Ahjussi[5]” Kata Aireen sembari menunduk setelah memberikan tip padanya.
“Baiklah. Semoga hari anda menyenangkan!”.
Kemudian Aireen menyipitkan matanya menatap matahari diatas sana yang tidak terlalu menyengat, bersamaan dengan hembusan angin di awal musim semi yang menerpa.
“Wah.. dingin!” Pekik Aireen mengedikkan kedua bahunya, merapatkan cardigan. Ia segera membawa barang-barangnya ke dalam stasiun.
Aireen mengusap layar ponsel yang menunjukkan pukul 10.30 KST dengan suhu 18 derajat celcius. Gadis berperawakan mungil itu duduk di sebuah ruang tunggu karena kereta menuju Busan akan berangkat sekitar satu jam lagi.
Drrt... Drrtt..
Sebuah panggilan masuk. Aireen, si gadis berhijab dengan pesona nayanika itu bergegas mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum, Ly”.
“Wa’alaikumussalam. Lo dimana sih?”.
“Barusan sampe distasiun”.
“Gua nggak bisa jemput ada kuliah siang, ntar lo naik taksi aja ya, gua sherlock”.
“Ih gimana, sih? Sherlock juga suka salah Ly”.
“Oke, pokoknya gua ngga bisa jemput ya, bye!”.
Tut tut tut! Panggilan diputus sepihak.
Aireen terkekeh kesal. Pasalnya Lily sudah berjanji akan menjemputnya dengan aman di stasiun. Mau apalagi, mungkin ia benar-benar mendesak. Tiba-tiba fokus Aireen beralih pada sebuah suara dari seorang reporter. Ia menoleh ke arah televisi besar untuk memastikan apa yang di dengarnya tidak salah.
Penyanyi solo, Louis Kim memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia hiburan lantaran masalah kesehatan dalam waktu yang belum ditentukan. Hal itu kemudian di konfirmasi oleh agensinya, Story Entertainment. Penggemar berharap Luois Kim bisa segera pulih dan kembali menghibur masyarakat dengan karya-karyanya.
Mata Aireen yang teduh bak telaga, kini beriak saat ada kerikil yang terlempar, membuat kecipak disana “Wah?! Tiba-tiba banget?”.
Ada sedikit kecewa dari air muka Aireen atas pengumuman ini, lantaran ia sering mendengarkan lagu-lagu milik Louis Kim. Di saat kepopuleran idol group semakin menduina, nyatanya Aireen tak tertarik. Ia lebih suka penyanyi dengan penampilan yang sederhana, serta lagu-lagu yang mudah diterima, sebab Aireen tidak terbiasa dengan gaya hip-hop dan musik EDM yang digaungkan idol group.
“Ya udahlah ya, itu urusan dia. Semoga cepat sembuh” Gumam Aireen tak ingin terlalu mempedulikan.
KTX merupakan kereta tercepat di Korea. Perjalanan dari Seoul ke kota terbesar kedua di Korea—Busan, menempuh jarak 325km. Layaknya dari Jakarta ke Pekalongan. Dengan kereta KTX hanya butuh waktu 2 jam 15menit. Kereta ini berlari antara 260-305km/jam. Di dalam kereta sangat nyaman. Hanya ada sedikit guncangan terasa. Namun jika kita melongok ke jendela, baru terlihat bagaimana kerennya kereta buatan Korea Selatan yang bisa dibilang cukup bersaing dengan Shinkansen di Jepang atau TGV di Perancis. Jadi, ketika sudah sampai di Busan, para penumpang tetap fresh dan bisa langsung melanjutkan aktifitas kembali.
___________________