Aireen sudah sampai di daerah dimana Lily tinggal. Suasananya tak terlalu bising meski masih terbilang di tengah kota. Seturunnya dari taksi, Aireen menarik kopernya sembari mengais hipotesa. Langkahnya terhenti kala melihat sebuah rumah nan luas bergaya minimalis sederhana berbalut warna-warni pastel khas Gamcheon Culture Village dengan sebuah plang yang membuatnya kembali memastikan informasi dari ponsel.
“Ya, bener. Ini ‘Dongki Global House’ ”.
Aireen kembali menghubungi Lily yang ternyata sudah kembali dari kampus. Gadis berambut panjang itu keluar dari kawasan itu dan menyambut kedatangan sahabatnya.
“Unchh.. Aireen ku sayaaaang!” Lily memeluk sahabatnya manja. Pun gadis bertudung islami itu mengeritingkan bibirnya. Ia tidak terlalu suka skinship.
“Udah.. udah. Buruan anterin gue registrasi ke bosnya” Aireen mengurai pelukan itu.
Lily menyeringai yang dibalas tatapan pedang Aireen. Sontak Lily si cerewet itu langsung mengambil alih barang bawaan Aireen, membawanya ke dalam rumah.
Rumah yang disinggahi Lily bukanlah rumah sewaan seperti yang Aireen tinggali di Seoul. Lily bermukim di sebuah rumah berbagi, atau bisa dibilang seperti kost. Namun perbedaannya para penghuni rumah berbagi ini memakai dapur yang sama. Dan sebagian besar rumah berbagi juga mengadakan makan pagi, siang dan malam bersama. Jadi para penghuni disini sudah seperti saudara. Lebih serunya lagi, mereka berasal dari berbagai negara di dunia karena mengusung konsep global house.
Pemiliknya juga membedakan kamar laki-laki dan perempuan pastinya. Dari dua lantai, bagian kanan dihuni oleh para laki-laki dan di sebelah kiri disinggahi perempuan.
“Katanya sih sajangnim[1]-nya hari ini mau dateng. Dia jarang tinggal disini” Jelas Lily.
Aireen mengangguk paham sambil menerawang ke segala sudut ruang tunggu. Penataan perabotannya juga sangat rapi. Warna dindingnya juga sederhana dengan warna dasar, putih dan abu.
“Oh?! Seo In-Hyuk Sajangnim!” Seru Lily buru-buru menunduk dihadapan bosnya, atau bisa dibilang bapak kost—eh paman kost, dia 34 tahun. Pria berbalut hoodie berwarna hijau botol pemilik mata sipit itu serta rambut bergaya curtain hair belah tengahnya mengangguk dengan senyum tipis, bersamaan dengan Aireen yang datang mendekat.
“Annyeong Haseyo[2]” Aireen menunduk tanpa menatap sosoknya terlebih dahulu.
“Ini teman saya yang berkasnya sudah dikirim ke surel global house” Lanjut Lily memperjelas kedatangan sahabatnya.
Sajangnim hanya mengangguk datar, kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Aireen sambil tersenyum “Selamat datang di Dongki global house!”.
Mata sipit tajam serta bibir berwarna merah jambu, keduanya menyempurnakan visual si pemilik rumah berbagi itu. Setiap senyum itu tersungging, matanya nampak memancarkan sinar. Dan terdapat sebuah telur naga dibawah mata, itu semakin membuatnya nampak manis dan maskulin.
Alih-alih membalas jabatan tangan itu, Aireen justru menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a sambil menunduk lagi sebagai penghormatan. Itu lantas membuat sajangnim mengerutkan keningnya.
“Kau tak mau berjabat tangan denganku?” Tanyanya bingung.
Aireen mendongak menatap wajah pria tampan yang jauh lebih tinggi darinya itu sambil tersenyum.“Dalam kepercayaan saya, laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan apapun, memiliki batasan demi menjaga kehormatan masing-masing”.
Keheningan terjadi beberapa saat, Aireen dan Lily tak memahami respon apa yang akan dibuat oleh sajangnim. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, selanjutnya terkekeh dengan mengangkat satu sudut bibirnya saja. Lalu menyeringai.
“Aku tak peduli kepercayaanmu. Aku hanya ingin memastikan kita akan bekerja sama dengan baik antara tuan rumah dan tamu” Celetuknya dengan intonasi yang kurang mengenakkan. Senyum tulus yang semula ditawarkannya berubah menjadi mengerikan.
Aireen mendengus pelan “Kenapa harus seperti itu?”.
Sajangnim melangkah lebih dekat ke hadapannya, sontak gadis itu tertegun mencoba untuk tetap menjaga jarak “Tentu harus. Karena ini global house, yang mana para tamu berasal dari banyak negara. Mereka bisa mempunyai tujuan lain, bukan?”.
Aireen tersenyum sekilas “Anda sudah melihat berkas saya, kan? Semua lengkap. Bahkan sekarang saya membawa dokumen aslinya. Dari paspor, visa, KTP, KTM, jaminan. Semuanya ada. Kenapa berjabat tangan itu terkesan lebih penting?”.
“Tentu saja kau harus membawa berkas itu karena kau orang asing, tapi untuk bisa tinggal disini, yang terpenting adalah jabat tangan!” Ucapnya tegas sambil menatap Aireen dengan tatapan tajam, ujung matanya nampak menukik “Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari tanganmu?”.
Rasanya kepala Aireen ingin pecah. Biasanya orang Korea yang lain akan mengiyakan penjelasannya ketika ia tak ingin berjabat tangan dengan lawan jenis, meskipun tak memahami seluruh maknanya. Tapi tidak bagi k*****t satu ini yang ingin sekali berjabat tangan, bahkan memaksa.
“Jika memang tidak mau melakukannya, meski dokumenmu lengkap---” Sajangnim menghentikan kalimatnya sejenak “Maka pintu keluar terbuka lebar”.
Aireen menghembuskan napasnya pelan “Okey, aku akan cari tempat lain selain disini” Ia menarik kembali barang-baranya keluar rumah.
Kalimat itu sontak mengejutkan Lily yang sejak tadi bingung harus bereaksi seperti apa. Gadis itu mengejar Aireen yang melangkah penuh kekecewaan.
“Reen! Aireen!!!” Lily menarik satu lengan Aireen “Lo mau kemana?”.
“Gue mau cari tempat lain aja lah kalau gini”.
“Aisshh! Mau kemana? Tinggal ikutin aja apa kata dia. Nggak semua orang bisa memahami apa itu mahram, kan?” Desak Lily “Emangnya lo nggak pernah pegangan tangan ama cowok di Korea?”.
“Nggak pernah, kecuali kalau kesenggol. Tetep aja Ly, kita udah tau hukumnya” Sambung Airee tak mau melanggar aturan agama, serta kebiasaan yang sudah ia tanamkan dalam hidup “Emangnya ada syarat khusus kalau mau stay di rumah, harus jabat tangan dulu?”.
“Ya mana ada sih, Reen. Namanya jabat tangan kan lumrah buat orang awam”.
Aireen berdecak kesal. “Ya gue tau. Tapi kenapa dia ngotot banget, sih?” Suasana terhadi sekonyong hening “Jangan-jangan modus yang enggak-enggak lagi”.
Lily memukul bahu kiri Aireen “Ngaco lo ah. Gue udah setahun pindah ke sini, gak ada apa-apa. Makanya lo balik lagi deh. Mumpung ada tempat tinggal murah tapi fasilitasnya oke. Worth it lah”.
“Ah bodo. Gue nggak mau, titik! Gue mau cari penginapan sementara di sekitar sini, ntar baru nyari rumah sewaan” Tegas Aireen masih kekeuh dengan pendiriannya.
Lily mengerucutkan bibirnya kecewa. “Ih, gue nggak enak sama lo kan jadinya. Tapi asal lo tau aja ya, sajangnim itu sebener---”.
“Auuhh! Nggak usah ngomongin sajangnim lagi deh. Gue jadi suudzon kemana-mana. Bye!” Pungkas Aireen langsung bergerak membawa barang bawaannya “Gue mau nginep di penginapan depan buat sementara” Lanjutnya agak mengerasakan suara.
Lily hanya bisa memandangi punggung sahabatnya itu sambil termenung. Ia tak tau harus berbuat apalagi. Terkadang Aireen memang terlalu keras. Jika sudah punya pendapat, tak bisa dipatahkan begitu saja. Lily juga khawatir bilamana terjadi hal yang tak diinginkan jika sahabatnya itu tinggal di tempat lain, sebab Aireen tak pernah tinggal di Busan.
Lily mendengus kasar “Andai lo mau dengerin gue, kalau sajangnim itu---”.
^^^
Dengan sweater thick berbahan wol dengan warna lilac, serta rok plisket coklat tua membungkus kakinya dan kerudung senada, Aireen melangkah ke sebuah kafe yang terletak di Haendeu-Gu di siang hari dibawah musim semi. Ia memesan beberapa menu pamungkas dari ‘Coffee Madalay’. Juga mengambil tempat dilantai dua, samping jendela raksasa yang menampilkan keindahan pemandangan Kota Busan, sebuah kota pelabuhan nan cantik, tak kalah dari Seoul.
Aireen hobi sekali mengunjungi tempat makan nan unik. Pertama, ia suka makan. Kedua, di kafe atau tempat apapun yang unik, ia bisa saja mendapatkan ide baru untuk membuat konten dan juga novel.
Pramusaji telah membawakan pesanan dan lekas menatanya dimeja. Nayaka berbinar melihat penyajian makanan yang dibuat seunik mungkin. Aireen ini pecinta ice cream, meskipun awal musim semi, yang mana suhu masih cukup rendah, ia tetap saja menikmati makanan dingin itu.
“Wah! Tempat ini sempurna banget buat nyari inspirasi” Gumamnya kagum menerawang jendela maha besar itu dengan kedua tangannya beserta jemari lentiknya melayang di udara sambil tersenyum riang.
“Oh iya. Gue mau bikin video QnA dulu, ah” Pungkasnya, mengambil kamera dan perkakas lain dari dalam ransel. Pun Aireen berdeham beberapa kali sebelum syuting dimulai. “a-a.. Okey”. Ia sudah memastikan tak ada masalah di tenggorokan dan memulai kalimat sapaannya “Haiii cingudeul[3] !!! Assalamu’alaikum. Kali ini gue mau jawab Qn---” Seketika kalimatnya terhenti lantaran sebuah cup minuman hangat berjalan ke mejanya.
“Kopi supaya kau tetap hangat”.
Ternyata ada orang yang menggeser cup kopi ke mejanya. Suara bass yang mengalun halus itu membuat Aireen mendongak untuk memastikan siapa dibalik semua ini, pasalnya ia tak punya kenalan di Busan selain Lily.
Lantas menengok ke kanan dan kiri. Apa ini benar kopi untuknya? Apa dia tak salah orang? “Kopi ini untukku?” Aireen menunjuk dirinya.
Pria itu mengangguk.
Aireen menyatukan kedua alisnya, sesekali menyipit untuk menerka siapa pria dibalik topi dan masker itu. Detik selanjutnya, sosok misterius itu membuka masker hitam yang menutupi wajah tampannya. Saat itu juga Aireen membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar-lebar akibat refleks atas keterkejutannya.
“Seo In Hyuk-ssi?” Kagetnya. Pria itu tak menjawab ataupun mengangguk, ia hanya tersenyum perlahan.
“Ryn-ssi, annyeong!” Seo In-Hyuk melambaikan tangan “Selamat datang di Dongki Global House. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik” Dari senyum tipis yang semakin lama semakin luas hingga menampakkan barisan giginya yang rapi. Sementara Aireen masih membeku berbalut bingung.