-3. Welcome Busan -

1924 Kata
Seolah matahari terbenam memahami kami. Kami lahir di tempat yang berbeda, menjalani kehidupan yang berbeda, tapi kini, kami menghadapi kehidupan yang sama–Seo In Hyuk. Seo In-Hyuk dan kedua sahabatnya, Ong Song Wu model berdarah campuran Korea- Belanda, lalu ada Jackson seorang influencer dari Kanada yang sangat tertarik dengan Korea dan sudah fasih berbicara bahasa Korea. Mereka bertiga hobi sekali pergi bersama jika In-Hyuk ada waktu, karena pria satu ini agaknya memang paling sibuk dan jarang mengunjungi Dongki global house. Mereka biasa menyambut lembayung nan cantik di ufuk barat cakrawala Kota Busan. ^^^ “Islam?” In-Hyuk membelalakkan matanya. “Iya. Jadi, seorang perempuan islam atau yang biasa disebut muslimah itu harus mengenakan hijab yang menutupi rambutnya, begitu juga dengan pakaiannya yang harus tertutup. Dan banyak batasan antara laki-laki dan perempuan yang harus dijaga demi menjaga kehormatan, baik lelaki maupun perempuan” Jelas Lily panjang lebar menggunakan bahasa se-sederhana mungkin agar bisa dimengerti. Dalam hati gadis berambut panjang itu sibuk memaki dirinya yang tau akan aturan sebenarnya, tetapi ia belum menjalankannya dengan baik. In-Hyuk menopang dagunya dengan tangan kanan sambil terus mengais hipotesa “Aneh. Tapi masuk akal”. “Kalau begitu, Aireen boleh tinggal disini, kan?” Tanya Lily penuh harap-harap cemas. In-Hyuk menjauhkan wajahnya bersama kening yang berkerut “Siapa bilang?. Kembali ke kamarmu!” Kalimat itu hanya dibalas anggukan lesu dari Lily yang langsung menghilang dari ruang tamu. Pria tampan bermata sipit nan tajam itu terus saja memutar otaknya, sesekali membuka aplikasi Naver atau semacam google versi Korea untuk mencari lebih dalam tentang islam. Sesekali mengangguk paham, sesekali terkejut dan sesekali bingung. “Tunggu!” Ucapnya menghentikan aktifitas membaca artikel “Kenapa aku jadi penasaran? Seharusnya biarkan saja dia pergi dan aku tak usah repot-repot mencari tau” Hening sesaat sambil menimbang banyak hal “Aissh!” Ia membenarkan posisi duduk yang semula tegap dengan kaki kanan menopang di atas kaki kiri menjadi lebih santai dan bersandar di punggung sofa. Cklek!. Suara pintu utama terbuka, seorang pria berwajah manis dengan berewok tipis beserta ransel dan kamera ditangannya itu memasuki rumah. Ia terkejut saat melihat In-Hyuk berada disana. “Oh?! Sejak kapan anda disini? Saya baru saja mendengar kabar tentang anda di media” Celotehnya. “Ah~ lumayan lama”. “Saya masuk dulu, sajangnim”. “Hamdan!” Seru In-Hyuk membuatnya menghentikan langkah dan berbalik “Kau beragama islam, kan?”. “Iya” Jawabnya antusias. Kebetulan Hamdan ini salah satu penghuni Dongki global house yang baru datang beberapa pekan lalu. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan”. ^^^ Penginapan yang dilihat Aireen ternyata sudah penuh. Ia sempat kebingungan, haruskah ia menginap di hotel? Bukankah lebih mahal? Terlalu lelah berjalan sembari membawa barang, gadis pemilik tinggi badan 155 sentimeter itu menempatkan diri di kursi yang tersedia di depan mini market. Dewasa ini semua bisa lebih mudah dengan berbagai platform yang membantu mengatur perjalanan. Ia mencoba mencari sebuah homestay murah untuk tempat tinggalnya selama beberapa hari sampai ia mendapatkan rumah sewaan. Di tengah aktifitasnya memesan homestay online, tiba-tiba kejadian siang itu terputar lagi di benaknya. Pun itu menjadikannya kenangan yang menyebalkan. “Uyeuu! Nyebelin banget sih tu orang!” Gerutunya, kemudian diam sejenak mengingat kembali wajah masam sajangnim “Kok kaya nggak asing gitu sih mukanya? Apa pernah ketemu sebelumnya?” Aireen menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sambil menerka-nerka “Auuh! Au ah. Ngapain juga gue harus inget muka dia. Sabar.. sabar”. Drrt..drrtt.. Nampak sebuah kontak dengan nama ‘Lily bawel’ yang terpampang dilayar ponsel. Aireen buru-buru mengusap ikon berwarna hijau. “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalam. Lo tidur dimana? Apa jangan-jangan lo nge-gelandang?”. “Nggak lah. Gue pesen tiket di homestay lewat traveloka. Udah, ya. Besok gue samperin di depan global house”. “E-eh---”. Aireen memutus panggilan sepihak. Ia melirik jam yang bersarang ditangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sementara ia belum sholat isya lantaran belum menemukan tempat tinggal. Untuk sholat maghrib ia sempat menyambangi salah satu masjid yang dikelola oleh warga Indonesia yang ada di Busan. Dengan sisa tenaganya, Aireen kembali membawa barang bawaannya yang tidak sedikit itu untuk berjalan ke sebuah homestay. ^^^ Hidup adalah pilihan, dan pilihan disertai dengan tanggung jawab. Sebagai seorang influencer ia harus memberikan pengaruh yang baik bagi para penontonnya di youtube dan juga memiliki tanggung jawab dan konsekuensi untuk senantiasa membuat konten pada jadwal yang telah dibuatnya sendiri. Dengan sweater thick berbahan wol dengan warna lilac, serta rok plisket coklat tua membungkus kakinya dan kerudung senada, melangkah ke sebuah kafe yang terletak di Haendeu-Gu di siang hari dibawah musim semi. Bunga-bunga bermekaran cantik disetiap sudut, menemani dahan dan ranting yang sempat kesepian di musim gugur dan musim dingin. Aireen memesan beberapa menu pamungkas dari ‘Coffee Madalay’. Ia juga mengambil tempat dilantai dua, samping jendela raksasa yang menampilkan keindahan pemandangan Kota Busan, sebuah kota pelabuhan nan cantik, tak kalah dari Seoul. “Wah! Tempat ini sempurna banget buat nyari inspirasi!” Gumamnya berdecak kagum menerawang jendela maha besar itu dengan kedua tangannya beserta jemari lentiknya yang melayang di udara sambil tersenyum riang. Setelah makanan tersaji, Aireen buru-buru menyalakan kamera untuk memulai syuting dengan menjawab beberapa pertanyaan dari followers-nya di i********: dan juga subscriber di youtube. “Haiii chingudeul. Assalamu’alaikum!” Ia menyapa dengan jargon khas-nya. Kali ini gue mau jawab Qn---” Seketika kalimatnya terhenti lantaran sebuah cup minuman hangat berjalan ke mejanya. “Ini kopi supaya kau tetap hangat”. Ternyata ada orang yang menggeser cup kopi ke mejanya. Suara bass itu membuat Aireen mendongak untuk memastikan siapa dibalik semua ini, pasalnya ia tak punya kenalan di Busan selain Lily. Aireen menengok ke kanan dan kiri. Apa ini benar kopi untuknya? Apa dia tak salah orang? “Kopi ini untukku?” Ia menujuk dirinya sendiri. Pria itu mengangguk. Aireen menyatukan kedua alis, membaca sebuah nama yang tertera di cup tersebut “Ryn?! Aku bukan Ryn?” Lantas menyipit untuk menerka siapa pria dibalik topi dan masker itu. Detik selanjutnya, sosok misterius itu membuka masker hitam yang menutupi wajah tampannya. Saat itu juga Aireen membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar-lebar akibat refleks atas keterkejutannya. “Seo In Hyuk-ssi?!” Kagetnya terbelalak. Pria itu tak menjawab ataupun mengangguk, ia hanya tersenyum perlahan dengan bibir tipisnya. “Ryn-ssi annyeong!” Sapa In-Hyuk melambaikan tangan “Selamat datang di Dongki Global House. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik” Dari senyum tipis yang semakin lama semakin luas hingga menampakkan barisan giginya yang rapi. Sementara Aireen masih penuh kebingugan. Detik-detik itu berlalu sekonyong hening, bahkan mulutnya terus saja terbuka. Ia masih melongo mencerna kalimat In-Hyuk dan kedatangannya yang tiba-tiba. “Ini sungguhan?” Selidik Aireen penasaran “Tidak.. masalahnya aku bukan Ryn? Apa kau mabuk?”. In-Hyuk menggeleng segera. Menarik satu kursi disamping Aireen “Aku tidak mabuk. Tentu, kau boleh tinggal di global house”. “Ryn...” In-Hyuk menatap wajah bingung Aireen yang masih menyimak “Kamu adalah Ryn, Airyn”. Seketika Aireen terkekeh “Berani-beraninya kau mengganti namaku? Di Indonesia, kau harus mengadakan perayaan, tau!”. “Ok.. anggap saja kopi pertama dariku adalah perayaan untuk mengganti namamu yang sulit, Ryn-ssi”. “Fix! Nama gue ganti, nih. Ryn?” Gumam gadis itu memijat keningnya yang berdenyut “Ya.. ya.. lakukanlah semaumu! Terima kasih kopinya” Ryn menyeruput kopi pemberian In-Hyuk sejenak “Ngomong-ngomong---” Nada bicaranya menjadi lebih berhati-hati “---saya benar diizinkan untuk tinggal di global house?”. In-Hyuk meletakkan cangkirnya ke atas meja, menatap nayanika itu yang nanar penuh harap untuk beberapa detik “Uhmm”. Ryn tak bisa menyembunyikan ekspresi girangnya. Ia kembali membelalakkan matanya sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara “Yes..yes!.” Lalu tertawa menggemaskan seraya memainkan kedua bahunya. Ia seperti tak sadar jika In-Hyuk tak hentinya tertawa melihat tingkah konyolnya. Detik selanjutnya ia baru tersadar akan mata tajam pria itu dan langsung berdeham, memasang wajah datarnya lagi. “Hmm...hmm.. Kamsahamnida” Ryn menunduk sebagai penghormatan, kembali membenarkan posisi duduknya dan tak ingin melihat wajah pria itu demi menjaga reputasi “T-tapi, kalau boleh tau apa yang membuat anda berubah pikiran?”. Uhuk..uhuk.. In-Hyuk yang sedang meneguk kopi dengan santai mendadak tersedak mendengar pertanyaan itu “Aku sudah banyak me-riset tentang kepercayaanmu. Kau tak boleh bersentuhan dengan laki-laki yang tak ada statusnya denganmu. Aku sudah tau itu” Jelasnya disambut dengan anggukan kepala gadis itu datar sambil menyendok es krim-nya. “Jika sudah menikah apa berjabat tangan itu boleh? Dia sudah mempunyai status sebagai suami” Tanya In-Hyuk lagi membuat Ryn yang sedang mempersiapkan konten harus kembali menghentikan aktifitasnya sembari menahan emosi. Pria ini benar-benar mengganggu planing-nya. “Tentu saja” Jawabnya sambil sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Dalam hati ia sudah tak lagi bisa berkonsentrasi untuk melakukan syuting siang ini lantaran kedatangan pria asing yang tak diundang “Kalau begitu saya pamit saja, terima kasih kopinya, In Hyuk-ssi” Ryn membungkukkan setengah badannya dengan sebuah senyum yang tak bisa diartikan, bahkan ia selalu mengucapkan bahasa Korea formal demi mengormatinya. Pun ia berbalik, meninggalkan si mata sipit. “Uri gyeolhon haja[1]?! (우리 결혼 하자?!)”. Kalimat In-Hyuk berhasil membuat Ryn mengerem langkah. Jantungnya bergumuruh tak terkendali, tapi ia berusaha untuk tenang dan membalikkan badan lagi menghadapnya. Ia menemukan bola mata In-Hyuk yang terus menatapnya lurus. Gadis itu nyaris kehilangan akal, namun berusaha untuk tetap kuat. Ryn melangkah lagi lebih dekat seraya terkekeh “Sebegitu inginnya kau menggenggam tanganku?” Bahasa yang digunakan setingkat lebih rendah menjadi semi formal. In-Hyuk tertawa geli “Apa maksudmu? Itu hanya sebuah pertanyaan bukan pernyataaan. Bisa tidak sih membedakannya? Atau jangan-jangan pikiranmu memang terlalu jauh?”. Ryn terkekeh sambil menahan emosi menghadapi pria aneh satu ini “Jangan pernah berpikiran seperti itu, In Hyuk-ssi! Dasar tukang nguntit!”. “Apa katamu?!” In-Hyuk bangkit dari kursinya. Tatapan itu nampak tajam. “Stalker. Apa lagi jika kau bukan tukang nguntit? Kau bahkan mengikutiku sampai kemari” Ryn terus menantang, sembari bersiap untuk berlari. “Ya[2]! Ini memang kafe langgananku. Aku tak sengaja menemukanmu disini” Gertak In-Hyuk, kemudian mengejar Ryn yang sudah berlari terbirit-b***t keluar dari kafe. Keduanya sempat menjadi tontonan banyak orang, itu sebabnya In-Hyuk buru-buru untuk keluar sambil menurunkan topinya sebelum banyak orang menyadari siapa dirinya. Ryn terus berlari menjauh dari kafe sambil tertawa. Entah apa yang mendasarinya untuk tertawa, yang jelas melihat ekspresi wajah In-Hyuk yang kesal itu membuatnya puas, karena sejak awal ia yang selalu dibuat kesal oleh tingkah aneh pria tinggi itu yang ingin sekali berjabat tangan hingga tak menerimanya sebagai tamu di global house. Pim pim! Ryn tersentak saat sebuah mobil berlambanggakan jaguar dengan warna biru dongker metalic itu berhenti tepat disampingnya. Jantungnya semakin melompat kala kaca mobil itu terbuka dan menampilkan wajah pria yang sejatinya tak ingin dilihatnya. Ia menampakkan wajah datar sambil mengulas sebuah senyum sederhana. Ryn menghela satu napas berat “Ada apa lagi? Aku bisa jalan sendiri tak usah diantar”. In-Hyuk tertawa tanpa suara “Siapa juga yang mau mengantarmu? Ini!” Ia memberikan sebuah kartu pada Ryn begitu saja dan langsung memelesat meninggalkan gadis itu tanpa bahasa. “Aissh!” Sarkas gadis itu kesal. Selanjutnya ia membaca sebuah tulisan yang terpampang di kartu tersebut. Sebuah kartu identitas “Story Company?!” Kagetnya saat melihat simbol salah satu perusahaan managemen artis terkenal di Korea Selatan. Mulutnya semakin terbuka bersama mata yang membelalak lagi “J-jadi k*****t itu--- Louis Kim?”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN