-6. Is He Psychometric? 2 (사이코메트리 그 놈? 2) -

1500 Kata
            “Astaghfirullah!” Ryn tersentak saat mendengar suara gaduh “Suara apaan tuh? Kocheng oren nubrukin pot bunga?” Kemudian ia menggeleng seolah tak peduli dan kembali fokus pada aktifitas menata meja makan.           Menyiapkan gelas masing-masing. Namun matanya bergerak ke sana kemari melihat ada banyak gelas dengan warna berbeda di dalam rak. Ia menimbang banyak hal.           “Kayanya biar mereka ambil sendiri aja kali, ya” Gumamnya “Ntar gue mau kasih usul supaya dikasih nama tiap gelas.           Sebuah suara kursi yang ditarik itu membuat Ryn berbalik, lalu melangkah menuju meja makan, menarik satu kursi didepannya “Oh?! Seo In Hyuk-ssi? Kau sudah bangun rupanya”.           Alih-alih segera duduk, In-Hyuk masih saja berdiri dengan tatapan kosong, serta ada bengkak di sekitar matanya. Itu semakin membuat Ryn menaikkan sebelah alisnya “Kenapa kau tidak dul---” Gadis bermata lentik itu melebarkan mata dan mulutnya saat melihat ada luka di pergelangan tangan In-Hyuk. Kebetulan lengan hoodie yang dikenakannya agak terangkat “Ada apa dengan tanganmu?” Ryn mendekat.           “B-bukan apa-apa” Jawab Seo In-Hyuk datar, memalingkan wajahnya.           Ryn menarik satu lengan hoodie milik pria bermata tajam itu agar dirinya berbalik “Itu luka. Aku yakin. Coba biar ku lihat” Ia menarik satu lengan hoodie lainnya dan menemukan luka yang tak biasa. Sementara pria itu hanya pasrah.           “Percuma diobati” Celetuk In-Hyuk.           “Kenapa percuma? Ayo duduk disana!” Ryn menarik satu lengan In-Hyuk, menuntunnya agar duduk di sofa, sementara ia mencari kotak obat.           Normalnya, In-Hyuk selalu menghempaskan tangannya bilamana ada orang yang berniat untuk melihat ataupun membantunya membersihkan luka itu, sekalipun Song Wu dan Jackson. Ia memilih mengobatinya sendiri dengan obat merah, terkadang juga tak diobatinya, karena luka itu akan selalu muncul bilamana In-Hyuk menggaruknya saat gatal, lebih tepatnya saat pikirannya sedang kacau. Jadi, ia pikir diobati akan percuma. Tapi, entah dorongan dari mana yang membius pria tampan satu ini hingga mampu menuruti titah gadis yang masih terbilang asing dimatanya.           “Ya! Bukan di situ kotak obatnya” Sahut In-Hyuk saat menyadari gerak-gerik Ryn yang kebingungan mencari kotak obat “Tapi disana!” Ia menunjukkan arah berlawanan.           Ahahaha... Tawa Ryn menyadari dirinya yang hanya berlagak sok tahu tanpa menanyakan apapun sebelumnya “Tetap disitu, jangan kemana-mana!”.           In-Hyuk berdecak heran sembari mengulas senyum tipis, lebih tepatnya menahan senyum “Emangnya kau ibuku?”.           Ryn kembali tak lama setelah itu bersama perkakas perangnya (kotak obat beserta alat-alatnya). Dengan sigap namun tetap hati-hati, gadis berbalutkan hijab berwarna merah bata itu membersihkan lukanya terlebih dahulu dengan kapas beralkohol dan mengusapnya perlahan.           “Akhh!” Pekik In-Hyuk saat mulai merasakan perih.           “Tak apa, nantinya akan jauh lebih baik” Pungkas Ryn fokus pada aktifitasnya, tak menatap pria itu sedetikpun.           Semua yang dilakukan gadis itu bagaikan magnet yang membuat mata tajam In-Hyuk tak ingin berpaling dari sosoknya. Ia bahkan bisa mengerti seberapa fokusnya gadis itu dalam mengobati lukanya. Getaran-getaran tak biasa mulai mengalir di dalam aliran darahnya. In-Hyuk juga bisa merasakan betapa teduh dan tenang hatinya saat melihat sosok Ryn.           Terlepas dari sikap ceroboh dan keras kepala, yang dikatakan Song Wu benar adanya, dia cantik dan terkadang juga terlihat imut, tapi bukankah diluar sana masih banyak gadis yang memiliki visual melebihi dirinya? Yang jelas keteduhan dari dalam dirinya tak dimiliki gadis lain.           Ryn mengoleskan kapas itu mulai dari tepian luka, membersihkan terlebih dahulu darah yang mengalir kecil.           “Kau tau? Luka itu harus cepat diobati sebelum bernanah yang nantinya akan membekas dan terasa sangat sakit” Ungkap Ryn sambil memberikan obat merah pada luka dan menutupnya dengan plester. Ungkapan itu seperti terdengar dari dalam hatinya yang terdalam, seolah sesuatu tersembunyi dibalik kalimatnya yang secara tak sengaja menyentil hati kecil In-Hyuk.           “Sudah!” Seru Ryn, kemudian tersenyum dan matanya tak sengaja membidik bola mata hitam milik In-Hyuk.           Ia sempat tercengang dan mati gaya saat kedua pasang mata itu saling bertemu. Normalnya, baik Ryn maupun In-Hyuk, keduanya akan saling berdebat dan menghardik satu sama lain, tapi tidak untuk kali ini. Dunia mereka seolah hening dan berhenti berputar, namun tetap ada rasa canggung dan aneh yang keduanya rasakan. Dalam hati masing-masing sibuk merangkai kata-kata yang pada akhirnya tak bisa terucap.           “Ryn? Lo ngapain disana?”.           “Hah?!” Seketika suara itu memecah keheningan yang menggila itu. Dengan spontan, Ryn langsung berdiri dari sofa, melempar kotak obat yang ada dipangkuannya sembarang, dan sebagian terlempar mengenai wajah tampan Seo In-Hyuk.           “W-wae[1]?!” Ryn membuat alibi. Entah apa yang ada dipikirannya ia langsung mendekati meja makan dan menata kembali piring yang sebenarnya sudah ditatanya untuk menutupi keberadaan In-Hyuk. Itu lantas membuat Lily semakin heran.           Sementara In-Hyuk yang tadinya sempat memuji sosok Ryn dalam benaknya kini menjadi berapi-api lantaran gadis itu melemparkan isi obat-obatan itu padanya. Sesekali pria itu mengusap wajahnya yang kesakitan karena terbentur botol obat merah.           Lily mendekat penasaran “Hmmm...” Selidiknya saat menemukan In-Hyuk dibelakang meja makan “Selamat pagi, sajangnim!”.           “O-oh, selamat pagi” In-Hyuk juga kehilangan akal. Ia asal membalas sapaan Lily sambil melambaikan tangan.           “Jadi, apa yang kalian lakukan?” Lily tak hentinya membuat Ryn dan In-Hyuk mati gaya “Kalian masak bersama?”.           “Tidak!”.           “Iya!”.           Keduanya menjawab dengan jawaban yang berbeda.           “Kalian masak bersama atau tidak?” Tanya Lily lagi penasaran.           “Iya!”.           “Tidak!”.           Ryn dan In-Hyuk saling menghardik lewat bahasa isyarat, namun semua kecanggungan itu berubah saat Song Wu dan Jackson datang untuk makan pagi, lalu disusul dengan Hamdan dan dua lainnya, sementara sisanya melewatkan sarapan karena buru-buru ke kampus dan sebagian ke kantor.           Semuanya menikmati sarapan dengan begitu lahap, Song Wu juga tak henti-hentinya memuji soal cita rasa dari masakan sederhana yang dibuat Ryn. Sebuah pepatah memang benar adanya, yang terpenting bukan dengan apa kita makan, tetapi dengan siapa kita makan. Apabila makan bersama, semua akan terasa hangat dan menyenangkan.           Di momen itulah, Ryn memperkenalkan dirinya dengan sangat ceria dan penuh semangat “Annyeong haseyo[2], saya Aireen Zhafira biasa dipanggil Aireen dari Jakarta, Indonesia. Usia saya 23 tahun. Kebetulan saya sudah menyelesaikan wisuda departemen Bahasa Korea di Universitas Yonsei. Jadi saya ingin menghabiskan waktu di Busan untuk beberapa bulan kedepan. Salam kenal semuanya”.           “Tapi kalian boleh memanggilnya, Ryn” Tambah Liliy yang dihadiahi tatapan mengintimidasi dari Ryn “Hahaha.. supaya lidah kita yang berbeda-beda ini lebih mudah dalam menyapa teman sendiri. Betul begitu, sajangnim?” Lily mengedipkan sebelah mata pada In-Hyuk yang seketika mengerjap.           “O-oh..” Jawabnya masih canggung “Lagian namamu sulit sekali” In-Hyuk berusaha menetralkan suasana. Bersandar santai ke punggung kursi makan sambil melipat kedua tangan depan d**a.           “Ok. Aku juga setuju dia dipanggil Ryn” Sambung Song Wu, diikuti yang lainnya “Karena kau lebih muda dariku, boleh kita bicara santai?”.           “Silakan” Kata Ryn dengan senang hati. Sikapnya yang santai dan suple membuatnya tak mempermasalahkan cara bicara. Sebab, di Korea perbedaan tata bahasa dan cara bahasa sangatlah sakral.           “Wah! Kau beruntung, Ryn-ssi. Kedatanganmu langsung disambut oleh bintang global, Louis Kim”. Ceplos Jackson heboh.           “Iya benar. Sajangnim hanya datang kemari sesaat dan kita tidak pernah makan pagi bersama seperti ini karena kesibukannya” Celoteh Lily.           “Tapi kau jangan menyebarkan ke banyak orang! Atau kau akan tau akibatnya berurusan dengan fans fanatik” Tambah Jackson sambil sedikit berbisik “Bahkan tidak ada yang tau jika global house ini milik superstar. Dia hanya menyeleksi tamunya lewat dokumen” Kalimat demi kalimat yang dilontarkannya dihadiahi anggukan paham Ryn.           “Apa kau tau lagu-lagunya?” Tanya Song Wu penasaran.           Tanpa ragu, Ryn langsung mengangguk “Tentu saja” Hmm.. Ia berdeham sejenak “Han ib mint chocolate.. lip lip.” menirukan sedikit bagian pamungkas dalam lagu milik Seo In-Hyuk atau yang lebih dikenal Louis Kim yang berjudul Mint Chocolate. Karena lagunya ber-genre techno yang mengandung musik elektro, Ryn menyanyikannya dengan semangat sambil memutarkan tangan ke udara. Aksinya tersebut langsung disambut tawa yang lainnya. Gadis itu tak peduli dengan suaranya yang tak ada bagus-bagusnya sama sekali.           “Aku tak menyangka, Ryn memiliki jiwa yang kuat” Pungkas Song Wu ditengah tepuk tangannya.           Di seberangnya ada In-Hyuk yang senantiasa menutup kedua telinga seraya meringis ngeri saat suara Ryn menghancurkan lagunya. Gadis itu terlalu percaya diri.           Diam-diam Ryn mencuri pandang, membidik In-Hyuk yang kini justru menggurat rona canggung di wajahnya, tapi In-Hyuk justru membuang sinis. Pun Ryn terkejut dengan sikap konyol pria tersebut, lalu kembali bernyanyi saat Jackson ikut menyambung lagu.           Tapi sejatinya tak ada yang pernah tau isi hati seseorang, alasan sang super star membuang muka bukan karena membencinya, tapi karena hati itu tak akan tenang jika terus-terusan bertemu dengan nayanika milik Ryn yang membuat jantungnya tiba-tiba bergemuruh. Terlebih Ryn-lah yang mulai meliriknya terlebih dahulu.           “Andai aku benar-benar memiliki kemampuan psychometry seperti sosok Lee An dalam drama, aku akan tau segalanya tentang dia tanpa harus bertanya maupun bersentuhan” Gumam In-Hyuk. [1] Wae : Kenapa. [2] Annyeong Haseyo : Hai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN