Seo In-Hyuk sedang memainkan jemarinya diatas tuts hitam putih piano. Ia memainkan nada-nada dengan sangat lihai sambil terpejam seperti menghayati iramanya. Jemarinya tak hentinya menari lincah. Ia sangat pandai memainkan piano dan membuat lagu.
Hhh.. Napasnya berhembus kasar setelah mengakhiri permainannya. Ia menatap jendela kamar. Pikirannya masih menimbang banyak hal, sesekali berkerut dan sesekali tersenyum. Rasanya sungguh abstrak.
Sholat? Lima kali dalam sehari?.
Semalam, ia sempat menemukan si gadis berkulit kuning langsat sedang mengenakan kain serba putih dan bergerak dari berdiri, lalu membungkuk, bersujud, duduk lagi. Dan sekarang ia paham, bahwa sholat adalah ibadah wajib yang dilakukan umat islam. Ia sudah mendapatkan penjelasan dari Hamdan. Tapi ia masih bingung, bagaimana bisa semua itu dilakukan lima kali dalam sehari?.
Penasaran, ingin tau dan kepo, semua itu menjerat benaknya. Ia tak pernah melihat hal semacam itu sebelumnya. Ia juga tak ingin banyak bertanya pada Ryn, rasa gengsinya terlalu besar atau mungkin nyalinya terlalu kecil untuk bertanya alih-alih secara langsung? Gadis itu selalu membuatnya membiru di tempat dengan kalimat-kalimat yang menyengat, dia gadis antik yang tampak tangguh.
Drrt..drtt..
Sebuah pesan tertera dilayar. In-Hyuk sempat menarik satu napas berat sebelum membacanya. Benar saja, pesan tersebut dari manager yang memintanya untuk datang ke Seoul, tepatnya ke gedung Story Company, tempat dirinya bernanung kurang lebih sepuluh tahun lamanya, bukan waktu yang singkat bukan? Kiprahnya di dunia hiburan sudah terbilang legendaris.
Dengan berat hati, ia mengambil jaket denim bergegas menuju tempat tujuan, sepertinya sesuatu penting terjadi berkaitan dengan keputusannya untuk hiatus. Ia bergegas keluar kamar sembari mengenakan mantelnya, pun ia tak melihat jalan hingga langkahnya terhenti karena ada seseorang dihadapannya. In-Hyuk memilih berjalan di bagian kiri agar sosoknya bisa melanjutkan langkah, alih-alih berjalan dengan lancar, keduanya memilih bagian yang sama.
In-Hyuk memasukkan lengan kirinya ke mantel sambil memilih jalan bagian kanan, sosok tersebut juga ikut melangkah di kanan. Mereka melangkah di jalan yang sama.
“Tolong dilihat jalannya, Louis Kim-ssi!”.
Suara perempuan yang terdengar berat itu sangat familiar di telinganya. Setelah memasang jaket dengan benar, In-Hyuk mulai mengerahkan matanya dan membidik gadis mungil berbalut hijab bersama tas yang digendongnya.
Cih! In-Hyuk berdecak kesal melihat sosoknya “Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, minggir!” Celetuknya, lalu berjalan menabrak satu bahu kecil Ryn.
“Wah?!” Ryn menyeringai heran. Ia berbalik “Aku juga tidak ingin berdebat, aku hanya mengingatkanmu agar berjalan menghadap depan, bukan ke bawah”.
In-Hyuk mengerem langkah, menoleh ke belakang “Okey... tunggu sampai aku kembali”.
Ryn menyatukan kedua alis tebal hitam pekatnya “Kenapa aku harus melakukannya? Aku bukan ibum---”.
“Cheongsapo daritdol observatory” Belum sempat In-Hyuk menamatkan kalimatnya, Ryn buru-buru menyela.
“M-maksudmu?” Ryn mengerutkan keningnya.
“Tidak, tidak. Aku tunggu kau disana pukul empat sore” Pungkasnya melirik jam yang bersarang ditangannya “Tak boleh terlambat sementipun!” Tegas In-Hyuk langsung menghilang dari hadapan Ryn yang masih mematung ditempat.
Ryn bergeming sembari mencerna kalimat pria bermata tajam tersebut “Kenapa dia ngajak gue ke tempat itu?” Selanjutnya ia memegangi dadanya yang tiba-tiba bergemuruh dahsyat. Ini aneh. Ia belum pernah merasakan hal-hal semacam ini sebelumnya—mungkin pernah, tetapi ia tak pernah mengaggapnya serius. Semakin lama, perlahan senyumnya mulai merekah.
“Astaghfirullah hal-‘adziim” Sadar Ryn mengerjapkan matanya berkali-kali sembari mencaci dirinya sendiri agar terbangun dari mimpi.
^^^
Di sebuah ruangan tertutup berlapis warna biru dan putih, In-Hyuk duduk bersebalahan dengan sang manager di sofa maha empuk yang tersedia disana. Keduanya terlihat berbincang intens.
“Kami hanya ingin mengetahui detail keadaanmu. Sebenarnya apa yang sedang kau rasakan? Kami bahkan tak tau kau tinggal dimana” Selidik Manager Jang.
In-Hyuk membuka hoodie yang membungkus kepalanya. Membuat duduk senyaman mungkin “Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Bukankah kalian sudah memberiku izin untuk hiatus?”.
“Tapi kami juga butuh kejelasan sampai kapan kau akan rehat? Kau punya banyak jadwal yang harus di-reschedule. Ingat! Kau ini bukan selebriti biasa. Kau ini superstar”.
In-Hyuk bergeming sejenak sembari menerawang banyak hal “Apa aku benar-benar tak bisa beristirahat dalam setahun, setidaknya setengah tahun?”.
Manager Jang terkekeh “Tentu saja tidak bisa, Hyuk-ah[1]. Kau bukan bekerja untuk dirimu sendiri, kau sudah otomatis bekerja untuk perusahaan juga. Jika kau banyak mengulur waktu untuk istirahat, maka semuanya akan berantakan” Pria berkepala empat itu menarik napas sejenak “Maka dari itu, katakan apa yang sedang mengganggumu, sehingga kami bisa membantumu dalam masa pemulihan, baik itu sisi kesehatan jasmani ataupun mentalmu”.
“Manager-nim[2]” Panggil In-Hyuk “Aku tau semua resikonya. Tapi bisakah kalian benar-benar memberikanku waktu. Jika memang tidak bisa rehat dalam waktu lama, aku hanya ingin sendiri selama tiga bulan, jangan temui aku, jangan mencariku dan jangan hubungi aku. Hanya itu yang kuinginkan”.
“Hyuk-ah” Manager Jang menyentuh satu bahunya “Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, aku tidak ingin hal buruk terjadi. Dan ini adalah hal pertama yang paling membuatku khawatir terhadapmu, selama ini kau selalu ceria dan aku terkejut, tiba-tiba kau memutuskan untuk rehat”.
Hanya seulas senyum yang terpancar dari wajah tampannya “Jangan khawatir, semua orang pasti punya masa penat, bukan?”.Kalimat itu dihadiahi anggukan dari Manager Jang.
“Kemarin noona-mu menanyakan keberadaanmu, maka dari itu aku agak cemas” Lanjut Manager Jang.
In-Hyuk menaikkan sebelah alisnya “Noona-ku?”.
Pun Manager Jang mengangguk “Aku hanya penasaran, apa noona dan keluargamu tidak mengetahui keberadaanmu?”.
“Aaah~” In-Hyuk menyelidik sejenak, selanjutnya ia tertawa seolah tak terjadi apapun “Ayahku membebaskanku untuk melakukan apapun. Jadi, kurasa aku tidak perlu memberitahu noona juga, lagi pula dia sibuk dengan pekerjaannya, aku tak mau mengganggu”.
“Syukurlah tidak ada hal buruk” Ungkap Manager Jang lega yang disambut senyuman lebar In-Hyuk yang semakin lama semakin redup saat ia berhasil memalingkan wajahnya dari sang manager.
Setidaknya In-Hyuk menyusun kalimat yang tak membuat manager dan staff lainnya khawatir akan kondisinya yang mendadak minta rehat. Selama ini In-Hyuk selalu terlihat semangat dalam berkarier, ia juga tak pernah mengeluh terhadap apapun, apalagi tentang keluarganya.
“Hyuk-ah” Panggilan itu berhasil menghentikan langkah pria 34 tahun tersebut. Ia berbalik “Selama ini kau telah berlari sedikit terlalu jauh. Kau benar-benar terlalu banyak berlari, lakukan apa yang ingin kau lakukan di waktu sendirimu. Tak usah pikirkan prestasi terlalu keras. Jalani apa yang ada semampumu”.
Pipi In-Hyuk bersemu, matanya berpijar bak bintang sirus. Dalam hati sibuk merangkai kata-kata hingga pada akhirnya, senyum adalah balasan yang terbaik untuk sang manager sebelum ia pergi.
Sebelum In-Hyuk benar-benar meninggalkan gedung, ia masih terus mengulang kalimat indah sarat akan makna yang tersemat dari bibir Manager Jang. Semua yang dikatakannya benar, belakangan ini In-Hyuk memang tak terlalu mengejar prestasi seperti awal karirnya. Bukan tanpa alasan....
“Abeoji, aku berhasil mendapatkan 3 trophy di tiga acara musik sekaligus. Laguku juga berturut-turut berada di posisi teratas di berbagai platform musik”.
“Lantas? Bernyanyi hanya akan membuat otakmu berdebu!”.
Hati In-Hyuk muda semakin hancur saat kakaknya datang...
“Abeoji, Dokter Hwang kelak menginginkan aku bergabung di timnya karena nilai IPK sempurna-ku”.
“Benarkah, putri ayah? Abeoji akan mengajak Dokter Hwang sekeluarga untuk makan malam bersama”.
Hhhh... In-Hyuk mengeram kencang sembari menggaruk pergelangan tangan kanannya yang semakin gatal tak tertahankan. Wajahnya memerah berapi-api. Rahangnya membeku. Sepertinya ia memang tak benar-benar butuh yang namanya prestasi. Ia sudah cukup menahan luka itu, berharap waktu akan mengubah pikiran ayahnya agar lebih terbuka, tapi nyatanya tak sedikitpun harapan itu ada.
Rasa gatal itu benar-benar mengganggu meski sudah diobati bahkan sudah ditutup plester. In-Hyuk masih terus menggaruknya, hingga ia teringat satu nama.
“Ryn?” Ucapnya nyaris tanpa suara saat melihat plester yang menutup lukanya. Sepenggal ingatan tempo hari kembali terputar di benaknya.
Perasaan tenang itu kembali membungkusnya. Rasa gatal yang tak tertahankan itu perlahan-lahan mulai sirna. Terkadang In-Hyuk bertanya pada dirinya sendiri, kenapa harus dia? Kenapa dia selalu membuatku tenang meski tak ada wujudnya disini?.
^^^
Lembayung senja menyapa di langit Busan. Sore akan berganti malam. Langit yang semula berwarna jingga akan berubah menjadi gelap. Kehidupan silih berganti. Tragedi dan ironi selalu mengiringi kehidupan, dari pagi hingga malam.
Gadis mungil berbalut puffy blouse berwarna putih yang membalut overall kuning dan cokelat. Tak pernah tertinggal identitasnya dengan hijab. Ia sedang terduduk manis di sebuah bangku tepat di samping pohon bunga sakura. Matanya sejak tadi tak hentinya menengok ke kanan dan kiri menanti seseorang yang sebenarnya tak ingin dijumpainya.
“Dia yang telat, kan” Sarkasnya kesal. Ia memasukkan kedua tangan ke overall karena hari semakin dingin “Mobilnya apa ya? Gue nggak tau juga”.
Drrt...drrtt..
Ryn mengambil ponsel yang ada di dalam sling bag berwarna kuning gemas. Ia sedikit menyipit saat menemukan barisan nomor Korea yang tak dikenalnya. Tapi ia tetap mengangkatnya.
“Yeoboseyo[3]” Sapanya.
“Kau sudah disana?”.
“S-seo In Hyuk-ssi?”.
“Tunggu aku disana. Sebentar lagi aku sampai”.
Tut!
Ryn sempat terperangah, menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat, tak percaya bilamana pria itu langsung menutup panggilannya.
Tak perlu menunggu lama, si tampan bermata tajam itupun datang. Ia keluar dari mobil dan berjalan gagah penuh damage yang tak terobati, sesekali mengacak rambut messy-nya dari tempat parkir menuju observatory mengenakan masker hitam sebagai penyamaran agar para penggemar tidak mengetahui keberadaannya. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Pemandangan seperti itu membuat Ryn sempat melongo “Yah.. dia emang cakep” Detik setelahnya ia merutuki diri “Namanya juga artis!”.
“Stop!”.
“Aissh kamjagi-ya[4]!” In-Hyuk terkejut bukan main. Ia menemukan sosok mungil yang menghadang langkahnya dengan meregangkan kedua tangannya “Ryn-ssi?”.
“Apa? ---ssi? Kau bahkan selalu berbicara santai padaku, kenapa seenaknya sekali, sih! Kau bahkan tak melihatku sejak tadi?” Keluh Ryn banyak memperotes saat pria itu memanggilnya dengan panggilan cukup formal.
In-Hyuk terkekeh selama gadis itu berkicau, lalu melebarkan matanya “Benarkah? Aku tak melihatmu”.
Pun Ryn mengerucutkan bibirnya sembari meniup udara sangat kencang, hingga ujung hijab segi empatnya bergetar “Aku duduk disamping tempat parkir, dibawah pohon sakura. Kau tak melihatku juga?”.
“Sepertinya adik kecilku harus minum peninggi badan” Celoteh In-Hyuk menepuk satu bahu Ryn sambil tersenyum menyebalkan dibalik maskernya. Ia melangkah lebih dulu.
“Apa? Adik?” Ryn tertawa menghentikan pergerakan kaki In-Hyuk dan berbalik. Gadis itu menghampiri “Sepertinya aku lebih pantas menjadi keponakanmu”.
Kening In-Hyuk berkerut “Yang benar saja. Apa aku setua itu?”.
“Uhmm” Ryn mengakuinya “Kau bahkan 11 tahun lebih tuda dariku, seharusnya kau sadar diri”.
“Uyeuu. Adik-adik jidadmu!!”. Ryn mengepalkan tangan ke depan seolah ingin memberikan pukulan pada Jin Yeon. “Untung dia bos gue, coba kalo gak udah gue sikat dari kemaren”.
“Ya!” Teriak In-Hyuk tak terima. Berusaha mengejar Ryn yang sudah berlari terbirit-b***t sambil tak hentinya tertawa dan meledek pria itu.
“Samchon[5], saya duluan, ya!”.
In-Hyuk menyeringai “Samchon? Tunggu! aku akan membalasmu!” Ia mengejar Ryn lagi, namun ternyata gadis itu berlari sangat cepat.
Sesekali In-Hyuk kelelahan. Mengambil napas sejenak “Apa? Samchon? Cih!” Lantas pria itu terkekeh mengulas tingkah menyebalkan Ryn yang menurutnya lucu. Untung saja ia memakai masker, jadi ia bisa menyembunyikan senyum dan pipinya yang merona setiap ia melihat gadis antik satu ini.
Observatorium Daritdol dibuka pada 17 Agustus 2017 di Cheongsapo distrik Haendae, Busan. Observatorium tersebut membentang diatas samudera menuju cakrawala yang menggertakkan hari dan juga cocok untuk menikmati matahari terbit dan terbenam di sepanjang pantai.
Observatorium ini terletak di titik tengah antara pelabuhan Mipo di Haeundae dan Songjeong di sepanjang jalur kereta Donghaenambu yang telah ditutup. Observatorium terus berlanjut hingga 72,5 meter pada jarak 20 meter diatas permukaan laut. Ini adalah observatoriumsamudera ketiga di Busan atau semacam sky walk, seperti ikon Busan lainnya, yakni Oryukdo sky walk dan Songdo sky walk.
Seluruh sky walk di desain dengan motif naga biru yang turun untuk melindungi desa Cheongsapo. Observatorium ini memiliki lantai kaca setengah bulan untuk melihat laut yang menarik. Namun lantai kaca di obseravtorium ini tak menyeluruh, hanya bagian tengahnya saja, sisanya dipinggir kanan dan kiri menggunakan lantai kayu. Jadi, cukup amanlah untuk para phobia ketinggian seperti Ryn.
Selain itu, Observatorium Doritdol ini akan sangat cantik di waktu senja. Menikmati lembayung senja nan cantik di cakrawala Busan bersamaan dengan menyalanya lampu-lampu yang memanjakan mata.
“Maashaa Allah” Ungkap Ryn tak bisa memungkiri keindahan alam yang luar biasa. Ia tak lupa untuk mengambil kamera untuk vlog terbarunya.
Dengan girangnya, ia menyapa para penonton youtube-nya sambil menunjukkan keindahan Observatorium Doritdol di waktu senja. In-Hyuk bahkan bisa melihat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Ryn, serupa bunga sakura merah jambu nan manis di setiap sudut kota saat musim semi. Lagi-lagi pria itu tersenyum lepas dibalik maskernya. Entah mengapa gadis yang terkadang menyebalkan itu membuatnya tak pernah berhenti tersenyum.
“Ya! Sini biar aku yang mengambil videomu” In-Hyuk menawarkan diri karena Ryn terlihat kurang leluasa saat proses syuting yotube-nya.
Awalnya gadis itu hanya bergeming tak percaya. Bagaimana bisa seorang bintang melayani butiran rinso sepertinya, bukankah ini terbalik? “Benarkah? Kau ingin mengambil videonya untukku?”.
“Kata siapa? Aku mengambil video bukan untukmu, tapi untuk para penontonmu!” Sarkas In-Hyuk “Jika tangan pendekmu tak bisa mengambil video dengan sempurna, bagaimana penontonmu bisa menikmati?” Ia meraih kamera dari tangan kecil Ryn.
“Aisshh.. baru aja gue touched. Ngajak berantem mulu sih tu orang, dasar o***g!” Gerutu Ryn geregetan sendiri.
Setelah proses syuting berakhir, keduanya menyempatkan diri untuk saling menatap langit jingga diujung jembatan observatorium tersebut bersama menit-menit nan menenangkan bersama kesiur banyu laut oranye yang menggulung tenang. Sesekali mata In-Hyuk memperhatikan paras antik dari senyum teduh milik Ryn yang terlihat semakin indah dan mengagumkan bersama indah senja diufuk barat.
Lembayung di ufuk barat Kota Busan memberikan sejuta warna tersendiri Dia bukan fatamorgana yang hanya datang sesaat. Dia nyata. Cukup dengan diam, semesta seolah menjadi milikku. Terima kasih semesta, kau telah mempertemukanku dengan sang pelipur lara dikala hati gundah.. terima kasih senja, kau telah membuatku semakin jatuh padanya—Seo In Hyuk.
[1] ---ah : Suffix nama belakang berbentuk konsonan untuk seseorang yang sudah akrab/seumuran/lebih muda
[2] --nim : Sufix nama untuk menghormati orang lain.
[3] Yeoboseyo : Halo (Dalam telepon).
[4] Kamjagi-ya : Kaget aku!
[5] Samchon : Om.