Senja sudah sejak tadi beranjak pulang. Yang tersisa hanyalah kegelapan bersama air yang terus berjatuhan dari langit tanpa ampun. Sebagian orang menafsirkan hujan sebagai penenang, sekalipun pengingat kenangan yang berkahir luka. Kendati bagi In-Hyuk, hujan di malam ini membuatnya gelisah. Hatinya berkecamuk membayang gadis rapuh yang selalu berpura-pura bisa melakukan segalanya sendiri seolah tak membutuhkan orang lain. Pria pemilik wajah tampan nan dingin itu segera meijak pedal rem kala bangunan Masjid Al-Falah sudah tampak di ujung sana. Dibawah guyuran hujan, tanpa ragu, In-Hyuk keluar mobil masih dengan penampilan basah kuyup. Bahkan jaket yang dikenakan sudah tak ada gunanya lagi. Ia berjalan cepat, namun langkahnya sempat terhent

