“Kenapa abeoji melakukan itu?!” In-Hyuk bertanya penuh penekanan. Menatap lurus sang ayah yang sedang duduk diats singgahsananya. Memberikan tanda tangan ke atas laopran yang sudah disispkan di dalam map. Kemudian diberikannya pada Jimin—sang sekertaris. “Kau takut?” Kekeh Presedir Seo menutup penanya. Diam-diam, napas In-Hyuk melena cukup berat “Tidak! Sama sekali! Aku hanya heran kenapa anda melakukan permainan konyol ini. Mengancam pihak agensi?”. “Aku tidak megancam agensimu. Aku hanya memberi peringatan pada anak durhaka sepertimu”. “Kenapa kau melimpahkannya pada mereka!” Pria pemilik telur naga di bawah matanya itu berusaha mengelola emosi dengan baik. “Itu karenamu! Dasar anak nakal!” Teriak Presedir Seo “Jika kau tidak membuat sulit, maka aku tidak akan maju”. Kalimat-kalima

