Bab 6

1693 Kata
Setelah kejadian tadi yang membuat heboh di koridor maupun di kelasnya, Fani segera masuk ke dalam kelas. Diiringi teriakan 'ciee' yang membuat dia hanya bisa memutar bola matanya malas. Kejadian beberapa saat lalu tentu saja membuat mereka senang menggoda Fani, apalagi mereka tahu sikap Fani yang lebih ekspresif. Fani tidak mengidahkan godaan teman-temannya, ia justru memikirkan sikap Ardi kepadanya. Jujur saja perasaannya semakin tidak karuan, di satu sisi dirinya senang akan perhatian Ardi yang seperti dulu kepadanya, di sisi lain dirinya merasa sakit hati karena Ardi mengatakan jika dirinya 'jelek' saat memakai makeup. Padahal dia ingin mendengar Ardi memujinya seperti teman-temannya yang lain, tapi cowok itu justru sebaliknya. Dia merasa Ardi tidak menyukai penampilannya yang seperti ini, apa dirinya memang tidak pantas berdandan layaknya seperti seorang 'cewek' dan itu tentu saja membuatnya sedih. Sedangkan Shela sendiri, cewek super feminim itu sepertinya tidak mendapat protes apapun dari Ardi. Malah sepertinya Ardi biasa-biasa saja, tidak berkomentar apapun, padahal saat mereka berdua bertemu di rumah Ardi. Shela memakai dress yang begitu seksi menampakkan lekuk tubuhnya, dan Ardi tidak mengomentarinya sama sekali itu membuat dirinya semakin sedih dan terpojok. Fani bersyukur guru yang mengajar pada jam pelajaran kedua tidak bisa hadir, dikarenakan tengah menghadiri seminar. Jam kosong itu mereka gunakan untuk mengerjakan tugas yang telah di berikan Pak Rayan. Fani yang memang dasarnya rajin selalu mengejarjakan tugas sebelum guru memberitahu mereka, membuat keuntungan tersendiri bagi Fani karena dirinya bisa diam menunggu teman-temannya yang lain mengerjakan tugasnya. Lagi pula untuk saat ini otaknya tidak akan pernah bisa untuk mengerjakan tugas, pikirannya sedang entah berada di mana. Jika Fani mengerjakan tugas dengan pikiran kacau, dapat di pastikan nilai tugas itu di bawah angka 5. Separah itu lah jika Fani terpaksa mengerjakan tugas dengan pikiran yang terpecah. Rara mengikuti jejak Fani yang telah menyelesaikan soal yang diberikan oleh Pak Rayan. Dia memutuskan untuk mengajak Fani ke kantin, pikiran sahabatnya itu perlu di refresh. Dan dia tidak ingin Fani menjadi orang bodoh dalam sekejap. Awalnya Fani ogah-ogahan menerima ajakan Rara karena sudah dipastikan, jika adegan tadi saat dirinya dan Ardi berada di depan pintu kelasnya sudah menjadi buah bibir satu sekolahan. Namun bukan Rara namanya yang menyerah begitu saja, dia terus memaksa Fani agar ikut dengannya. Dan di sini lah mereka berada, di kantin kelas 11 kantin yang terkenal dengan mie ayam enaknya. Rara pecinta mie sedangkan Fani biasa-biasa saja, meskipun awalnya terpaksa ikut. Tapi jika dipikirkan dirinya membutuhkan asupan juga setelah otaknya dipaksa berpikir. Fani bersyukur jika kantin yang mereka tempati masih sepi karena dirinya bisa tenang, namun sepertinya ketenangannya akan segera sirna begitu mata indahnya melihat Shela yang berjalan ke arahnya dengan senyum menyebalkan. Pandangannya ia arahkan ke belakang, dilihatnya Rara yang masih mengantri mie ayamnya.  Hrus Fani akui jika Shela cantik untuk seukuran musuhnya, tubuh cewek itu kurus tidak seperti dirinya yang berlekuk. Bibir cewek itu tebal, sedangkan dirinya kecil dan tipis, dan banyak perbedaan lainnya antara dia dan Shela. "Gue baru tahu, cewek yang kata orang-orang cerdas ternyata bisa bolos juga." seru Shela dengan senyum miringnya begitu cewek berdada rata itu berdiri di samping mejanya. Fani melirik Shela dengan seringainya. "Well kalau begitu elo mengakui otak gue cerdas di banding elo?" balasnya masih dengan seringai yang membuat Shela memandangnya marah. Tapi sedetik kemudian wajah cewek itu digantikan dengan senyum penuh arti. "Yeah gue akui, setidaknya gue jago masak dan elo nggak. Terlebih gue bisa masakin makanan kesukaan Ardi dan elo jelas-jelas nggak bisa." Skakmatt Jawaban Shela begitu menohok perasaannya, sehingga membuat Fani terdiam seribu bahasa sampai-sampai dia tidak mengetahui jika Rara sudah duduk di hadapannya dengan dua mangkuk mie ayam. Dan musuhnya pun entah sudah pergi kemana, dan dia sama sekali tidak peduli. Jika mood orang lain seperti Fani mungkin tidak akan nafsu untuk makan atau melakukan apa-apa. Lain halnya dengan Fani cewek itu malah semakin menjadi nafsu makannya, sekarang saja mie ayam yang berada di mangkuknya sudah habis setengah, dan dirinya kembali memesan satu porsi lagi membuat Rara yang duduk di depannya menatap Fani tidak percaya. "Gue heran deh, sama lo. Makan kayak Kuli tapi berat badan lo masih segitu-segitu aja, naik beratnya juga paling sekilo. Lah gue? Naiknya cepet, turunnya lama." sahut Rara iri. Yang Fani lakukan hanya mendengus sebagai jawaban dan kembali memakan mangkuk kedua mie-nya. _ _ _ _ Fani menggerutu begitu kedua temannya tidak bisa mengantarnya pergi ke toko buku. Rencananya dia ingin membeli majalah masak-memasak, agar ia bisa mengalahkan Shela. Sisa jam pelajaran tadi ia gunakan untuk berpikir untuk mengalahkan Shela memasak, atau setidaknya ia bisa memasak masakan yang enak. Dan caranya tentu dengan belajar, karena Rara tidak mungkin bisa setiap hari membantunya, maka dari itu lah jalan satu-satunya ia membeli majalah tersebut. "Hei Fan tumben sendiri, yang lain kemana?" sapa Radit begitu cowok itu menghentikan motor sportnya di depan Fani diikuti Ardi di belakangnya. "Mereka berdua sibuk, udah pulang juga dari tadi." balasnya sambil tersenyum tipis, lewat ekor matanya ia melirik Ardi. Tapi cowok itu tidak meliriknya sedikitpun membuat perasaannya sedikit kesal, meskipun begitu dadanya selalu menggila jika bertemu dengan Ardi. Sejak dirinya menyukai cowok itu sampai dirinya jadian kemudian putus, jantungnya tetap sama. Selalu berdetak lebih cepat, apalagi jika cowok itu menatapnya intens membuat kerja jantungnya semakin gila. "Terus sekarang lo mau kemana? Tumben masih di sini?" tanya Radit lagi yang diam-diam di syukuri oleh Ardi karena bertanya begitu kepada Fani. "Ah itu, gue lagi nunggu Driver gojek." balasnya tidak menjawab secara rinci, takut mereka berdua bertanya lebih lanjut. "Udah dapat Driver-nya?" Fani menggeleng. "Kebetulan yang pas, Ar. Lo anterin Fani sana bentar lagi mau ujan, rumah lo kan berlawanan arah sama Fani jadi bisa lah, lo anterin dia." ujar Radit kalem berbeda dengan Fani yang sudah menampilkan wajah merah. Sedangkan Ardi sendiri berpikir keras dengan ucapan sahabat sintingnya. Berlawanan arah bisa anterin Fani? Bagaimana ceritanya??? "Nggak bisa, gue ada acara." sahut Ardi cepat kemudian melajukan motornya pergi meninggalkan mereka berdua. Fani yang melihat sikap Ardi yang seperti itu tak ayal membuat perasaannya kembali sakit. Ardi benar-benar berubah tidak seperti dulu, cowok itu semakin dingin saja, dan tingkahnya semakin membingungkannya. Radit yang melihat tingkah laku Ardi terhadap Fani yang membuat cewek itu sedih seketika mengutuk Ardi. Dia merasa bersalah karena berbicara seperti tadi kepada Fani, ia pikir Ardi mau mengantar sang mantan kekasih dilihat dari perasaannya yang masih sama. Namun ternyata dugaannya salah, Ardi ternyata lebih bodoh dari dirinya sahabatnya itu malah terus menerus menarik-ulurkan perasaan Fani. Jika kelakuan Ardi yang masih seperti itu, dia tidak bisa menjamin jika Fani---mantan pertamanya lelah dan pergi dengan cowok lain, dan ia tidak bisa bebuat apa-apa jika sudah seperti itu. "Sorry, Fan. Gue...." "It's oke, gue nggak apa-apa elo nggak perlu ngerasa nggak enak. Gue duluan yah, Driver gue udah dateng tuh." sahut Fani cepat kemudian berjalan menuju Driver gojek yang telah berada tak jauh dari tempannya berada. Meninggalkan Radit dengan wajah bersalah, ini semua gara-gara Ardi sahabatnya itu benar-benar keterlaluan. _ _ _ _ Tanpa Fani dan Radit ketahui jika Ardi mengikuti motor Fani secara diam-diam, ia ingin tahu sebenarnya tujuan Fani itu pergi kemana, karena dia tahu jika mantannya itu pasti tidak langsung pulang melainkan pergi ke tempat lain. Maka dari itu lah dirinya mengikuti Driver gojek yang memboncengi Fani. Onyx hitam Ardi menyipit melihat sang mantan berhenti di depan sebuah toko buku, ia tidak salah melihat seorang Fani yang masuk ke dalam toko buku? Bukan apa-apa dia tahu dengan pasti Fani tipe cewek yang malas berkaitan dengan buku-buku, meskipun begitu mantannya itu tetap saja cerdas. Baru saja ia akan menyusul Fani ke dalam sana, ceweknya itu sudah keluar dengan sebuah paperbag yang berlogo toko buku tersebut. Dia penasaran apa yang dibeli Fani tidak mungkin buku pelajaran, karena buku pelajaran sudah disediakan di sekolah mereka. Lalu apa yang cewek itu beli jika bukan buku pelajaran? Ardi menatap punggung Fani yang berdiri di pinggir jalan besar, entah apa yang dipikirkan cewek itu untuk berdiam lama di sana. Tak lama kemudian ia melihat seorang cowok yang menghampiri Fani dengan seragam dari SMA lain. Onyx nya berkilat tajam begitu melihat cowok itu yang mengajaknya berkenalan, terlihat dari cowok yang ia tetapkan sebagai musuhnya menyodorkan tangan kepada Fani. Yang semakin membuatnya marah ketika tangan Fani membalas jabatan tangan cowok tersebut. Rahang Ardi mengeras melihat Fani yang sepertinya tidak keberatan dengan cowok yang baru dikenalnya. Tapi ia jelas tidak suka, ia lalu menelepon taksi langganannya untuk segera datang kemari. Dan tidak membutuhkan waktu lama taksi yang dipesannya kini sudah berdiri di hadapan Fani. Sebelum Fani menolak, Ardi secepat kilat menghampiri sang mantan. Tanpa berkata-kata kepada Fani ia membukakan pintu penumpang untuk menyuruh Fani segera masuk. "Masuk." titahnya yang mendapat pandangan bingung bercampur kaget dari Fani. "Eh a-aku kan nggak pesan taksi." balasnya yang seketika mendapat desisan tajam dari Ardi. "Sebentar lagi hujan, sebaiknya kamu pulang sekarang." titahnya lagi dengan nada yang tidak ingin dibantah sedikitpun. "Ta-tapi..." "Faniii..." Menghela napas dengan berat ia pun masuk ke dalan taksi sesuai yang diperintahkan Ardi. Sebelum pintu penumpang tertutup cowok yang berdiri di samping Ardi seketika berseru. "Eh tunggu, kontak kamu Fan. Kamu belum kasih aku kontak w******p kamu." Wajah Ardi semakin kaku dengan rahang yang mengeras terlihat sekali jika dirinya sedang menahan amarah. Ia segera menutup pintu penumpang sebelum Fani menyebutkan nomor teleponnya. "Jalan Pak, tolong anterin cewek saya ke alamat yang sudah saya kirimkan tadi." ucap Ardi yang diangguki sang sopir. Cowok yang berdiri di samping Ardi memandang taksi yang ditumpangi Fani telah pergi dengan wajah nelangsa. Jelas saja karena dirinya gagal mendapatkan nomor kenalan cantiknya itu. Mata cokelat gelapnya ia alihkan menghadap Ardi dengan raut tidak suka. "Jangan berani deketin cewek gue lagi, atau elo akan tau akibatnya." desis Ardi dingin dengan wajah yang masih kaku. "Ck kita lihat nanti, dan menurut cewek tadi, dia singel dan nggak punya cowok. Jadi lo nggak berhak buat nyuruh gue jauhin dia. Dan lo siap-siap aja buat lihat gue dapetin Fani." balas cowok itu sambil tersenyum remeh kemudian pergi menuju motornya yang ternyata terparkir tidak jauh dari mereka berdiri. Ardi memandang tajam punggung cowok yang mengibarkan bendera perang kepadanya, wajahnya semakin kaku dengan kedua tangan yang mengepal erat. Dia tidak akan membiarkan Fani jatuh kepelukan cowok itu atau cowok manapun, tidak akan pernah. _ _ _ _ Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN