Aish, sialan sekali si Eleanora Aulia itu. Karena satu pernyataan suka Aul kemarin, hidup seorang Fahri jadi gonjang-ganjing.
Hei, mereka sepupu! Meski bukan saudara sedarah, tapi tetap saja mereka seharusnya tidak boleh memiliki perasaan ke arah romantis. Apa kata keluarga mereka? Bagaimana reaksi orang-orang? Mereka akan dicap i***s kah? Lebih parahnya Fahri berisiko dilabeli p*****l lantaran Aul yang masih kelas tiga SMP itu.
Ah, sudah lah. Tidak perlu meladeni omongan ngelantur bocah kematian macam Aul. Fahri berusaha biasa saja. Bangun pagi-pagi, tanpa sarapan, tanpa pamit, langsung berangkat ke sekolah. Pulang saat menginjak senja lalu mengurung diri di kamar. Weekend Fahri habiskan dengan kelayapan bersama gengnya. Tidak ikut makan malam, pura-pura tidur... and repeat. Itulah 'biasa saja' versi Fahri.
Sebisa mungkin menghindar.
Beruntung keluarga memang sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan Bang Fahmi. Jadi ketiadaan Fahri di tengah kesibukan itu, 'yang memang nggak ada gunanya', bukan masalah besar. Yang penting selalu hadir saat butuh duit.
Genap seminggu Fahri main petak umpet. Sore itu, samar-samar terdengar tawa renyah dari halaman belakang rumah Om Gilang.
Karena rumah mereka sebelahan, bahkan dapur bisa nyambung satu sama lain, jadi kegiatan riuh di luar rumah pasti terdengar jelas meski Fahri baru menginjak teras depan.
"Sialan betul itu betina. Bisa-bisanya Dia senang-senang, ketawa-ketiwi. Lah Gue, tidur aja hampir nggak bisa merem!" Fahri dongkol setengah mati, melihat keluarga bahagia itu - orang tuanya, nenek, om-tante, Bang Fahmi, dan sudah pasti Aul, minus dirinya, menikmati daging panggang sambil tersenyum cerah.
"Lo kenapa deh, Ri? Omongan asal bocah kematian Lo tanggepin, anying!" sepanjang jalan menuju kamarnya Fahri menggerutu.
"Playboy apaan yang ditembak bocah! Udah gila kali Gue," katanya sambil mengacak-acak rambut. Kesal sendiri.
Hish, Fahri rasanya mau makan orang saja. Makan Aul boleh nggak sih?
***
Dua minggu berlalu dari pernyataan suka Aul. Dan anehnya si d***o Fahri, masih melakukan aksi petak umpet.
Malam itu, sekitar pukul dua belas malam, Fahri mengendap-endap layaknya maling di rumah sendiri. Masuk kamar, langsung mandi, kosplay jadi anak baik dengan kostum rumahan - celana kolor plus kaos kutung. Menenggak sebotol air hingga tandas sampai tumpah-tumpah membasahi kaos.
"Gila tuh si Aul!" sempat-sempatnya menyumpahi bocah sambil mengelap mulutnya yang basah.
Baru akan merebah di kasur, matanya menangkap penampakan seseorang yang tiduran cantik dengan wajah polos di atas singgasananya. Mana selimut yang dipakai melorot sampai perut. Menampilkan gumpalan daging yang tak seberapa itu dengan jelas.
"Ngapain Lo di kamar Gue?!" teriak Fahri tak kira-kira. Macam perawan yang mau diperkosa.
Aul mengerjap beberapa kali sebelum menyahut. "Tidur," katanya tanpa rasa bersalah.
"Lo kan punya kamar sendiri. Ngapain tidur di sini!" Fahri masih ngegas. Coba tebak, mana yang bocil sekarang?
Perlahan Aul duduk sambil membenarkan piyama keropinya yang awut-awutan. "Santai aja lah Bang, nggak usah teriak-teriak."
"Gimana mau santai, Lo ngapain malam-malam di kamar Gue? Balik kamar Lo sono!"
Fahri menarik-narik tangan Aul agar segera bangun dan pergi dari kamarnya. Tapi beberapa detik kemudian dia baru sadar, "Badan Lo panas, Lo sakit Cil?"
Aul kembali rebah di kasur tak berdaya. "Papa Mama lagi pergi ke luar kota. Nenek sudah tidur. Tante Rita pasti juga kecapean," lirih Aul.
Fahri menghela nafas, kasian melihat kondisi bocil. Lagipula sejak masih mainan ingus, kalau sedang sakit, Aul memang sukanya nempel Fahri.
"Gue cariin obat dulu, sama ambil kompres."
Beberapa menit berlalu, Fahri datang dengan baskom berisi air hangat juga obat. "Bangun bentar, minum dulu obatnya."
Patuh, Aul minum obatnya, lalu rebahan lagi sambil dikompres dengan telaten oleh Fahri. Hilang sudah rasa kesalnya pada Aul yang dua mingguan ini dia sumpahi.
"Kenapa Bang Ai ngehindarin Gue?" lirih Aul dengan mata terpejam.
Sempat melirik Aul sebentar, Fahri menyumpahi 'lagi' si bocil dalam hati. "Kenapa harus dibahas blok?"
"Siapa yang ngehindar?"
"Lo!"
"Biasa aja," jawab Fahri pura-pura santai.
"Kenapa Lo nggak suka sama Gue?"
"Fix, Lo beneran demam. Ngomong Lo ngelantur gini," kata Fahri sambil meraba-raba dahi Aul yang beneran panas.
Aul menyingkirkan tangan Fahri dari dahi namun mengapitnya di antara pipi dan bantal. "Nggak usah ngalihin pembicaraan."
Fahri berdecak, tapi tak menarik tangannya. "Lo itu masih bocil Aulia! Ngapain mikirin suka-sukaan sama cowok. Mana cowoknya Gue lagi! Mau Lo, Gue di gantung Om Gilang?"
Aul meringis, "Nggak usah pakai marah-marah bisa nggak si?!"
"Kalau sama Lo nggak bisa! Bawaanya urat leher Gue langsung kenceng!"
Fahri akhirnya menarik tangannya. Membenarkan letak selimut Aul lalu memerah lagi handuk untuk dikompres ke dahinya.
"Lo belum jawab pertanyaan Gue, Bang."
"Dapet seratus nggak kalo Gue jawab?"
"Jangan bercanda, serius ini."
Ya Tuhan, ini bocil, sungguh menguras emosi Fahri yang memang setipis tisu. "Kita ini se.pu.pu Aul! Ngerti nggak si Lo?"
"Gue baca-baca di google, boleh kok nikah sama sepupu," si bocil masih saja menyahut.
"Au ah, males Gue ngomong sama pengikut aliran google."
"Lah, mau kemana?" Aul mencekal tangan Fahri yang mau beranjak.
"Tidur," jawab Fahri sambil menunjuk sofa dengan dagunya.
"Di sini aja, puk puk Gue," pinta Aul memelas.
"Big No!"
Fahri melotot sadis. Dia tak menghiraukan lagi Aul yang merengek. Terserah, mau guling-guling, mau kayang, mau nangis, Fahri cuek. Dia ambil selimut dan rebah di sofa. Malam sudah hampir subuh, bisa-bisa mereka tak tidur semalaman jika terus meladeni bocah.
"Ck, katanya nggak percaya google. Berarti boleh bobo bareng kan? Kan sepupu."
Fahri mengusap wajahnya frustasi, apa jadinya jika Aul tau kalau mereka memang bukan saudara. Jangan-jangan bukannya sedih, bocil satu ini malah kesenangan.
"Ya Tuhan ini bocil. Tidur nggak Lo! Kalau Lo nggak mau, Gue yang tidur di luar!"
"Galak bener!"
"Tidur!" geram Fahri.
"Iyaaa."
Hening
Satu menit
"Bang Ai..."
Habis sudah kesabaran Fahri. Dia bangkit, mematikan lampu hingga kamar benar-benar gelap. Hanya cahaya bulan dari sela-sela gorden.
"Tidur Aulia," kesal Fahri.
"Nenek ajakin Gue ikut pulang kampung."
Hening
"Ya... kenapa enggak? Itung-itung liburan," jawab Fahri setelah sekian menit.
"Kata Nenek Gue ikut pindah ke sana. Sekolah di sana sampai kerja juga di sana. Toko swalayan mendiang Kakek mulai nggak ke urus."
Hening
"Lo kan masih SMP, masa udah disuruh kerja. Eksploitasi anak itu namanya," Fahri nyolot sendiri.
"Papa yang bakal urus maksudnya."
Hening
"Gue harus ikut atau nggak, Bang?"
Aduh, Fahri bingung harus jawab apa. Haruskah dia senang karena sudah tak ada lagi yang akan mengganggu dirinya? Predikat anak bungsu kesayangan akan kembali dia sandang. Atau mungkinkah Fahri akan kesepian tanpa perusuh ini?
Jadi, dari sekian banyak kalimat, hanya kata "Terserah." yang akhirnya Fahri jadikan jawaban.
Hening
Dalam kegelapan kamar yang dingin, Aul sekarang yakin akan satu hal.
"Hm, ternyata Lo beneran nggak suka Gue, Bang."