Seminggu jelang pernikahan Fahmi, para tetua makin sibuk saja. Bahkan urusan antar jemput sekolah Aul si anak kesayangan, diserahkan pada Fahri. Dua orang yang tidak memiliki kontribusi dalam kesibukan pernikahan itu. Maklumlah pernikahan cucu pertama, anak pertama pula, sudah pasti juga pengalaman pertama Mama Rita yang hebohnya menular-nular ke seluruh keluarga.
"Lama bener Lo, Cil! Gue tinggal ya, Lo pesen taksi aja dah," pagi-pagi Fahri sudah mengomel.
Waktu masuk sekolah tersisa lima belas menit, dan Aul baru muncul di teras rumah setelah balik lagi karena merasa tasnya kurang matching dengan rok yang dipakai hari ini.
Apa-apaan coba? Wajarkan Fahri senewen?
"Iya iyaa," sahut Aul sambil lari pontang panting mengejar Fahri. Baru mau naik ke boncengan Fahri, Mama Inge menahan pergerakannya.
"Eits, makan dulu sayang. Sedikit aja, ayo cepet aaaa..."
Hedeh, tipe-tipe emak-emak rempong yang kasih sayangnya sepanjang masa.
'Happ'
"Pinter!" Mama merapikan poni Aul yang ngintip dari balik helm dengan bangga.
"Kamu juga, makan Ri. Aaaaaa..."
Fahri mau menolak, tapi sendok berisi nasi dan lauknya itu keburu memenuhi mulutnya. "Telan saja lah," pasrah Fahri. Setidaknya urusan dihukum karena terlambat bisa dihadapi dengan perut kenyang.
Si bocah kematian malah senyum-senyum tak jelas. Tersipu malu dengan rona merah di pipi. Beberapa suapan lagi sampai nasi di piring tandas.
"Habis ini, Tante mau anterin Mama kamu milih catering. Jadi pulangnya adek kamu di jemput lagi ya," pesan Inge.
Fahri mengangkat dua jempolnya tanda setuju. Emang ada pilihan lain selain mengiyakan?
"Ya udah berangkat sana. Hati-hati ya, Ri," Inge menepuk bahu Fahri lalu melambai pada sang buah hati.
"Bye sayang," katanya tulus.
Motor mulai melaju meninggalkan halaman rumah. "Kenapa Lo senyum-senyum?" tanya Fahri sambil melirik Aul dari kaca spion.
"Hmm? Anu... tadikan kita makan satu sendok. Sama nggak si dengan ciuman?" katanya malu-maluin. Dasar bocah.
Fahri tak mau menanggapi dia benar-benar diburu waktu. Jarak sekolah Aul dengan sekolahnya lumayan muter-muter. Tapi jangan panggil dia raja jalanan kalau begitu saja nyerah.
"Pegangan, Cil!"
"Hhm?"
'Wushhh'
Tepat di pertigaan jalan, Fahri menarik gasnya dengan kencang. Motornya dengan lihai menyalip kendaraan kiri lalu kanan. Gas lagi. Manuver. Salip. Gass teross!
Di belakang Aul memeluk pinggang Fahri sambil berteriak lantang, "AAAA MAMAA!"
***
'Huek'
Habis sudah nasi yang disuapkan Mama Inge sebelum berangkat tadi. Fahri sialan. Untung Aul suka. Gila, Aul berasa terbang ke alam barzah diboncengi Fahri.
"Gue aduin Papa Lo... Huek," sempat-sempatnya ngancem.
"Ck, cemen Lo, Cil!" Fahri menyahut sambil menepuk-nepuk ringan bahu Aul.
Aul memukul tangan Fahri kesal. "Cemen pala Lo! Roh Gue rasanya masih ketinggalan, Bang!"
"Iya iya udah ah. Gue cabut dulu!"
"Eh, tanggung jawab dulu. Ini Gue gimana, kaki Gue masih gemetaran!"
"Ya Tuhan, ni bocil ngerepotin bener dah! Lo nggak punya temen apa? Noh, panggil satu, minta anterin ke kelas," sahut Fahri sambil menunjuk ke arah kumpulan bocil berseragam sama dengan Aul yang dari tadi terang-terangan nontonin mereka.
"Pokoknya Gue nggak mau tau, Gue mau ikut kemanapun Lo pergi Bang! Sore ini mau ke arena lagi kan? Gue ikut!" putus Aul sendiri tanpa persetujuan Fahri.
Aul paling tau caranya memanfaatkan situasi. Pengalaman jadi anak kesayangan selama bertahun-tahun mengajarkan dia cara menang.
"Gue aduin Om Gibran, mau motor Lo di sita?"
Fahri menoyor kepala Aul, "Ngancem Gue, Lo?"
Aul mengeluarkan ponselnya, siap mendial kontak 'Om Gibran' nya. Baru mau memencet ikon hijau, Fahri sudah kalang kabut. "Iya iya Lo boleh ikut! Tapi jan ngadu kalo Gue ajakin ngebut!"
"Deal!"
***
Dan disinilah Aul sekarang. Berdiri di area balap liar bersama para pemuda tersesat dalam mencari jati diri. Paling cantik di antara teman-teman Fahri yang merupakan para pengendara motor. Masih memakai seragam SMP yang disamarkan dengan cardigan soft pink, Aul sukses jadi primadona diantara geng Fahri.
"Eh, ada dedek gemesh," celetuk Dika.
Ardi ikutan menimpali, "Tambah semangat Abang, Dek. Kalau ada Dek Aul."
Raihan menepuk pudak Fahri, ikutan komentar, "Adek Lo nggak mirip sama Lo, Ri. Kok bisa, Aul bening macam boneka, Lo-nya burik gini. Jauuhh cakepan adek Lo kemana-mana!"
Cih, Fahri menempeleng kepala Raihan kesal. Fahri kehilangan respek teman-temannya sejak kedatangan Aul. Mana si bocah welcome sekali dapat pujian dari segala penjuru.
"Kenapa baru dipamerin sekarang kalau punya Adek segemesh ini si, Ri?!" mata Andre berbinar lihat yang muda-muda begini. Bening lagi. Mendadak teman satu jalanan dengan Fahri itu berubah ganjen.
"Jan macem-macem Lo semua! Jagain bentar," pesan Fahri sebelum dia pergi mengundi koin. Dia bakal ikut balapan lagi. Kepergiannya disusul Dika.
"Serius Lo Ri, Aul boleh Gue pepet?"
Fahri tersenyum miring, "Coba aja. Kalau dia mau, go head. Kalau nggak, jan coba-coba deketin dia lagi!" Fahri percaya diri sekali. Dia sudah tau kalau Aul cuma suka dirinya.
"Jan nyesel Lo ya, banyak yang antri modelan Aul gitu mah!" Dika memainkan rambut lalu mengedipkan mata dari jauh ke arah Aul. Entah si bocah ngeh atau tidak. Pasalnya dia masih di kerubungi pejantan lain.
Fahri ikut menoleh ke arah Aul, sedikit menyipitkan mata,
"Antri apaan? Gendut, kuntet, mana masih main Barbie gitu. Bukan selera Gue!" gumam Fahri tak sadar diri. Dia saja masih main gundam.
Sehabis mengundi, mereka balik ke tribun tempat Aul masih setia duduk dan masih di kelilingi cowok-cowok kece temannya Fahri.
"Oi, Cil! Mau foto nggak Lo? Ntar kalau habis tanding pasti susah, Gue udah dikerumunin fans," sombong kali anak bungsunya Ayah Gibran ini. Dika saja sampai memperagakan gaya orang muntah. Sedangkan Aul, cuma mencibir tapi tak urung mengeluarkan ponselnya.
"Foto'in, Bang," katanya sambil menyerahkan ponsel pada Dika.
"Anying, nempel bener! Bukan muhrim woi!" protes Dika melihat pose Aul yang melingkarkan tangan Fahri ke perutnya sendiri. Tinggi Aul hanya sebatas d**a pemuda itu.
Aul tak ambil pusing, "Udah foto aja. Abang Gue ini!"
Fahri garuk-garuk pipi, "Jan Lo jadiin stories, Cil! Sama aja laporan Bang Fahmi Gue ikut balap," peringatnya.
"Iya, bawel!"
Dibelakang mereka, ada Ardi, Raihan dan Andre yang ikutan nimbrung foto. Dasar katro!
***
"WOAH... WOAH...!" Aul teriak paling heboh saat kuda besi yang dikendarai Fahri mencapai garis finish pertama.
Dan benar saja, begitu pertandingan usai, deretan gadis-gadis antri minta foto. Pesona seorang Ilyasa Al Fahri memang bukan kaleng-kaleng. Puluhan gadis menjerit histeris saat dia turun dari motor lalu menebar senyum sambil menyugar rambut. Apalagi wajah seriusnya saat menunggangi motor merah kesayangannya tadi, bech... tak kalah damage jika disandingkan dengan Marc Marquez.
Mata Aul memicing saat seorang gadis dengan pakaian cukup terbuka bergelayut manja pada Fahri. Dan biadabnya, cowok itu tampak welcome saja saat dua melon milik gadis itu menempel di lengannya. Ralat, tabung LPG kalau kata Aul mah, lebih cocok.
Dia kemudian melirik dadanya sendiri, minder dengan miliknya yang hanya sekepalan nasi fried chicken. Hedeh, pantas saja Fahri tidak suka Aul.
"Seleranya Bang Ai yang modelan gitu ya, Bang?" Aul agak berteriak di telinga Dika karena suasana yang memang semakin riuh.
"Yang kayak gimana maksud Lo?"
"Itu, cewek yang kaya model beha," tunjuk Aul dengan dagunya.
Dika melihat ke arah yang Aul maksud lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Itu namanya Desi. Piala bergilir dia mah!"
Sebelah alis Aul menukik, "Maksudnya?"
"Bocil nggak usah ngerti yang begituan."
Aul mencebikkan bibir lucu, Dika teguk liur karenanya. Cantik sekali boneka hidup satu ini. Bolehkah Dika bawa pulang saja?
"Udah sabar aja. Ntar juga punya Lo numbuh."
Sekali lagi Aul bingung dengan maksud sahabat sepupunya ini. Dan tanpa berdosa, Dika menunjuk ke arah d**a Aul, "Itu maksud Abang, Dek."
"IIIHHHH BANG DIKA m***m!" teriak Aul sambil menggeplak bahu Dika kencang-kencang. Bukannya kesakitan Dika malah tambah ngakak.
Aul membuang muka, melipat tangan di d**a kembali mengawasi Bang Ai. Sial, adegan selanjutnya yang Aul lihat sukses membuatnya menggigit keras bibir bawahnya sampai mata berkaca-kaca.
Di seberang sana, dengan santai gadis yang di sebut Desi tadi bergerak maju ke hadapan Fahri. Gadis itu berjinjit dan menghadiahkan sebuah ciuman di bibir si ganteng.
Tolong, Aul harus apa untuk menghentikan perasaan yang gila ini?