Ini adalah hari yang apes buat Fahri. Setelah kemarin Desi ngambek 'lagi' gara-gara batal jalan lagi. Hari ini gadis itu malah memanas-manasinya dengan makan di kantin sama Dante, teman satu geng Fahri juga. Mana sengaja banget suap-suapan pas Fahri lewat. Fahri sih nggak cemburu, hanya egonya sebagai laki-laki terasa disentil.
Jadilah, satu jam sebelum waktu pulang, cowok kekar itu memilih bolos. Duduk jongkok di belakang perpustakaan lama yang jarang sekali di datangi orang.
"Gue bilang juga apa! Biar Aul Gue yang antar pulang, Lo jalan sama Desi, ngeyel si Lo! Ngambek lagi kan gebetan Lo," datang-datang Dika mengomel merebut rokok Fahri lalu ikutan jongkok.
Fahri menoyor kepala Dika enteng, "Cari mati Gue percaya sama buaya darat modelan Lo!" lalu merebut lagi rokok miliknya dari jepitan jemari Dika.
Iyyack, kalau ada Aul pasti bocil itu akan teriak "Bang Ai jorok!"
"Gimana caranya biar Gue dapat restu dari Lo?" Dika menatap Fahri serius.
"Jan ngayal Lo. Dia masih bocil!"
Dika mendesah berat, "Tahun depan Aul juga udah SMA."
"Enggak Dika! Lo nggak ngaca? Tiap kali ngomong soal Aul, muka Lo kayak om-om m***m tau nggak?"
Dika menggeplak bahu temannya sambil melotot, "Lo yang m***m! Sosor-sosoran di depan umum. Diliat anak dibawah umur sadar nggak Lo!"
Fahri diam terhenyak. Oh ya? Aul melihat adegan ciumannya dengan Desi? Gimana reaksinya? Padahal hanya kecupan sekilas karena Desi yang mau pamer dengan cewek-cewek yang antri foto.
Aul terang-terangan menyatakan suka pada dirinya. Lalu bagaimana perasaannya melihat adegan tak senonoh itu? Pantas saja dalam perjalanan pulang Aul diam saja. Fahri kira karena bocah itu sudah mengantuk. Ah, Fahri jadi merasa aneh. Seperti perasaan bersalah karena ketahuan selingkuh.
"Mepet Dante noh dia!"
Fahri melirik Dika sekilas lalu mengisap lagi rokoknya. Tatapannya lurus ke arah dahan pohon mangga yang biasa dijadikan pijakan anak-anak bolos.
"Lo jangan salah paham, Bro. Desi yang tiba-tiba mepet Gue."
Eh? Si Dante ikut-ikut nongol. Tampaknya tiga pelajar SMA ini sama-sama lagi gabut di jam-jam genting menjelang pulang sekolah.
"Gue absen pas tanding kemaren. Lo menang lagi, Ri?" tanya Dante sambil merebut rokok di tangan Fahri.
"Sans lah, Bro. Gue nggak ngebet-ngebet ini sama Desi. Terserah dia kalau mau sama Lo," sahut Fahri.
"No! Aturan nomor satu dalam pertemanan; nggak ada rebut-rebutan cewek!" tolak Dante.
Dika manggut-manggut setuju. Gentleman sekali temannya yang satu ini. Ada jutaan cewek cantik di dunia ini, untuk apa memperebutkan satu.
"Kalau Lo yang pertama deketin Desi, sikat aja lah," tambah Dante lalu membuang asal puntung rokok. Angin berhembus membelai rambut tiga pemuda itu menambah tenang perbincangan mereka yang serius.
Lalu tiba-tiba, "OWHH, DI SINI KALIAN RUPANYA! teriak Pak Taufik, guru BK.
Bertiga sama-sama melotot karena kaget. Dika hampir lompat ke dahan pohon mangga. Dante gegas menginjak barang bukti a.k.a puntung rokok. Fahri yang masih jongkok hampir nyungsep. Belum sempat kabur, kerah baju Dika sudah ditarik Pak Taufik yang hampir mencekik nya, "Yah apes!"
***
Muka Aul sudah berlipat-lipat saat Fahri menyambanginya di halaman belakang. Masih memakai seragam, si ganteng masih keringatan waktu nanya, "Lo pulang sama siapa, Cil?"
Aul memalingkan muka, masih merajuk ceritanya. Dia menerapkan jurus silent treatment.
"Di jemput sama Fahmi. Kamu kemana emang, Ri? Di telpon nggak aktif," sahut Inge yang tiba-tiba muncul dengan potongan buah pir.
"Hape Aku drop tante. Trus tadi Aku dihukum guru BK suruh nyapu lapangan. Makanya telat jemput Aul," Fahri berkilah sambil ikut mencomot buah.
"Emang kamu ngapain sampai kena hukum?"
"Paling juga bolos, Ma," celetuk Aul manyun. Mata dan tangannya masih fokus menganyam rambut pirang Barbie kesayangan, malas melihat tampang Fahri.
Inge langsung melotot ke arah Fahri. Mau ngomel tapi keburu dipotong pemuda itu, "Nggak kok, Te! Nggak salah," katanya sambil cengengesan di ujung kalimat.
Diluar ekspektasi, Inge ikutan tertawa. "Masa muda emang seru, ya!" seloroh Inge.
"Tapi kamu jangan kayak Bang Fahri ya, Dek!" peringat Inge sambil mencolek hidung Aul. "Bisa ngamuk Papa kamu."
"Ish, siapa juga yang mau kayak Bang Ai. Udahlah jahil, suka balmmphhhh," mulut Aul di bekap Fahri. Bocah itu berontak tapi belum bisa lepas dari Abangnya yang jahil.
"Enggak kok, Te. Baru juga sekali ini Aku bolos," seru Fahri.
Bekapan tangan Fahri baru terlepas saat Aul mendapat kesempatan menggigit tangannya.
"AAA SAKIT!"
***
Malamnya, Fahri merasa lelah sekali. Seharian ini rasanya dia kena sial melulu. Sudahlah dicueki Desi, dihukum guru, digigit Aul, malah kena omel Bang Fahmi lagi gara-gara dianggap nelantarin Aul. Padahal Fahri cuma telat setengah jam, tau sendiri Fahri ngebut kayak dikejar polisi.
Fahri duduk di balkon kamarnya di lantai dua sambil mengeluarkan bungkus rokok. Baru mau menyalakan api, matanya melihat si bocah kematian jalan mengendap-endap, sambil tengok kanan kiri.
Berjalan jinjit, tengok belakang, menunduk, jalan lagi pelan.
"Oi, mau kemana Lo?"
Aul kaget setengah mati. Sambil memegang dadanya, Aul melotot kesal pada Fahri yang menegurnya. Gila nih cowok, kenapa bisa ada dimana-mana? pikir Aul.
"Bukan urusan Bang Ai!" jawab Aul tapi suaranya sambil ditahan-tahan.
"Tunggu di situ. Jan kemana-mana!" titah Fahri lalu bergegas turun.
Larangan Fahri adalah perintah, Aul malah lari terbirit-b***t menuju jalan raya. Bisa kacau rencananya kalau Fahri mau menghalangi.
Sudah ketemu dengan ojek online yang dipesannya, Aul mau naik ke boncengan. Elah dalah, si Fahri keburu menarik sling bag-nya. "Kabur kemana Lo, Cil?"
"Ish, Bang Ai jan ikut campur deh. Sana pulang!"
"Heh, ini udah malem. Bahaya buat bocil masih ngayab jam segini."
"Gue udah gede Bang. Minggir ah, Gue udah janjian sama temen-temen!"
Aul menepis tangan Fahri dan duduk lagi di boncengan ojek pesanannya. "Bang, ini bocah kabur dari rumah. Cancel aja, Bang. Ini saya bayar kerugiannya!"
Untung Fahri sempat meraih dompetnya saat menyusul Aul tadi. Emang ada gila-gilanya nih bocah satu. Bisa-bisanya pesan ojek online malam-malam begini, padahal seumur-umur belum pernah keluar rumah tanpa diantar Papa Mamanya, atau Fahri juga Fahmi.
Abang tukang ojek menatap ragu antara lembaran uang di tangan Fahri dan muka Aul yang nampak nelangsa.
"Plis Bang, Gue udah janji sama temen-temen Gue," katanya memelas. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap lucu.
"Oke," mana tahan Fahri melihat mata selucu itu.
Senyum merekah di bibir Aul lenyap lagi saat Fahri bilang, "Tapi Gue ikut!"
***
Fahri mengucek matanya berkali-kali. Rasa tidak percaya dengan tempat yang di tuju Aul. Bocah itu sudah menemukan teman-temannya di antara gumpalan manusia di stadion.
Dari perkenalan singkat, Fahri tau teman-teman yang di maksud Aul sejak tadi itu adalah Sintia, Reva dan Anna. Tampangnya innocent semua, tapi tongkrongannya alamak... Fahri keringat dingin.
"Bang Ai kenapa keringetan gitu?" tuh Aul aja notice.
Sintia menutup wajahnya malu, "Gila Abang Lo, Ul! Ganteng parah!"
"Tambah keringetan tambah ganteng!" timpal Anna.
Hanya Reva si tomboy yang tidak terpikat pesona sepupu Aul itu.
"Lo beneran mau nonton ginian, Cil? Pulang aja yuk, Dek," bujuk halus Fahri. Jarang-jarang dia panggil Aul 'adek.'
"Hish, Bang Ai aja pulang sana. Seru tau Bang nonton konser gini!" ngotot Aul sedikit teriak karena manusia semakin berjubel.
Fahri menuntun ke empat bocah itu ke pinggir lapangan, biar tidak maju-maju sekali dengan panggung. Takut gencet. "Sini aja, biar cepat nanti pas mau keluarnya!" Meski cemberut, tapi Aul nurut.
Tak lama, musik membahana diiringi teriakan penonton menyambut penyanyi idola mulai mengusik telinga. Di panggung sana, King Nassar muncul dengan gaya spektakuler. Lalu musik pun mengalun.
Aul beserta temen-temennya teriak heboh. Keempatnya mulai mengangkat jempol dan bergoyang ikut lagu. Geol kanan geol kiri. Geleng kepala.
"Seperti mati lampu ya sayang... seperti mati lampu... cintaku tanpamu ya sayang... bagai malam tiada berlalu..."
"HOBAHH!"
Aul bergoyang dan tertawa lepas. Bodo amat dengan mata Fahri yang melotot itu, biar copot sekalian.
Dangdut dan suara yang mendayu, lama-lama kaki Fahri yang berdiri tegak mulai goyah. Tangannya yang masih dilipat di d**a, di tarik Aul dan dibawa bergoyang. "Hm enak juga." batin Fahri.
"Udah Bang jogetin aja!! Nggak usah ditahan!"
Alhasil jadilah Fahri yang awalnya mirip tugu perdamaian, jadi yang paling heboh joget. Berputar-putar dan sengaja menyenggol Aul. Melayang ikut lagu dan tertawa lepas bersama Aul. Mengangkat Aul di bahunya, lalu joget lagi.
"ASEEK!"
"ASEEK!"
"HEYY!"
Hari yang kata Fahri sial, nyatanya adalah hari paling seru sepanjang hidupnya.