6. Bukan Perpisahan

1363 Kata
Alunan lagu 'Aku Memilihmu' memenuhi ballroom salah satu hotel di Banjarmasin. Akad nikah sudah terlaksana pagi tadi, dan sekarang tiba waktunya resepsi. Eleanora Aulia berjalan percaya diri dengan gaun cantiknya sambil menabur bunga di jalan yang akan di pijaki oleh sepasang pengantin menuju singgasana. Di belakangnya, Sarah menggamit mesra tangan Fahmi mengikuti langkah Aul ke pelaminan. Pasangan cantik dan tampan yang sungguh sangat serasi. No debat. "Dek, jangan cepat-cepat jalannya. Kak Sarah susah gerak ini, bajunya berat," tegur Fahmi pada sang adik yang keliatan sekali buru-buru. Aul menoleh sekilas sambil nyengir, "Ehe sorry Bang Ami, Kak Sarah." "Iya, Dek." Senyum di wajah Fahmi menyita perhatian sang istri. Oh, sekarang Sarah paham kalau pengiring pengantin di depannya ini bukan bocil sembarangan, dia adalah ratu di keluarga suami. Sarah sendiri juga gemas melihat boneka hidup satu ini. Cantik, enerjik, lucu, paket komplit untuk disayang-sayang. Usai menjalankan tugas negara, mengantar pengantin ke pelaminan, Aul kembali pada misi awal. Ya, apalagi kalau bukan Fahri. Penyebab yang membuatnya tidak tenang dari tadi. Di meja sana, ada kedua orang tuanya, Nenek Ane, Fahri dan juga... Astrid. Tentu saja Astrid hadir di acara penting ini, karena nyatanya Astrid sendiri adalah keponakan dari Sarah, istri Fahmi. Astrid adalah anak pertama kakak tertua Sarah. Aul mencebik tak suka. Seharusnya kursi yang di duduki Astrid saat ini adalah kursinya. Namun malah di isi oleh orang lain yang menurut Aul sedang caper dengan Fahri. Lihatlah mereka sedang tertawa-tawa. Sudah terlihat sangat akrab. Mana tangan Fahri dengan enteng bertengger di atas sandaran kursi Astrid. Macam pasangan baru jadian saja. Datang-datang Aul menghentakkan kaki. Mau mewek di depan sang papa. "Ck ratu drama dateng." Itu sudah pasti cibiran Fahri yang memang tak akur dengan sepupu satu-satunya ini. "Fahri," tegur Papa Gilang spontan, sebelum sang anak tambah mewek. "Kenapa cantik?" Mama Inge sudah bawa tisu untuk menghapus jejak keringat di dahi putri kesayangan. Mata Aul mendelik sinis ke gadis di samping Fahri, "Capek, mau duduk!" Seketika suasana jadi canggung. Semua orang paham maksud Aul yang terang-terangan tak suka tempatnya di duduki. "Sini Dek, pangku sama Nenek mau?" Bukannya di tegur, malah makin di manja, sama petinggi langsung pula. Mana ada yang berani mengusik Aul. "Biar Aku ke Mama Papa dulu, Om Tante," Astrid yang sadar diri langsung berdiri tapi buru-buru tangannya di tahan Fahri. Tadi dia yang mengajak Astrid berkenalan dengan Om dan Tantenya, mana sampai hati Fahri kalau Astrid pergi sendiri. "Gue temenin ambil dessert aja yuk," suara lembut Fahri tapi mata melirik sinis Aul. "Nggak usah, kalian lanjut ngobrol di sini. Om mau ajak Aul kenalan sama teman Om. Itu dia baru datang orangnya," tunjuk Gilang dengan dagu ke arah pintu ballroom. Sementara tangan kirinya menggiring lembut anak gadis mengikuti langkahnya. "Sini Dek, Papa mau ajak kenalan sama temen Papa," katanya yang tidak bisa di tolak sang putri. "Males kenalan sama om-om," Aul bersungut-sungut. "Ish, kamu belum tau anaknya. Paling ganteng di sekolah katanya," canda sang Papa sambil mencubit hidung Aul. Aul merotasi mata, tapi patuh mengikuti langkah papanya, "Trus? Aul harus bilang wow gitu?" Papa Gilang tertawa geli, anak gadisnya kalau sudah merajuk, malah tambah imut. Walau bagaimanapun, Astrid adalah keluarga baru juga sekaligus teman Fahri. Gilang tak ingin sampai ada salah paham di awal hubungan antara dua keluarga ini. Gilang hafal betul watak anaknya, makanya dia ajak menjauh, cari aman. "Kamu bisa aja kalau nyahut kata-kata Papa, Dek," katanya sambil acak rambut Aul yang masih di sanggul rapi. Tiba di depan orang yang di tuju, Papa Gilang langsung memperkenalkan Aul sebagai putri satu-satunya di keluarga mereka. Gadis itu mulai lupa dengan kekesalan hatinya. Walaupun sudah bisa mengungkapkan rasa 'suka' dengan Fahri, tapi sewaktu dipuji-puji dan diimingi hadiah lucu, bocil itu langsung mau. Sementara itu, di meja yang kursinya tadi diperebutkan, kini tersisa Fahri dan Astrid yang tengah menikmati dessert lezat, Mama Inge dan Nenek Ane di ajak menemui kolega Gibran, ayah Fahri Fahmi. "Keluarga kamu harmonis ya," komentar Astrid. Fahri mengedikkan bahu, "Kecuali bocil satu tadi. Tukang rusuh! Nggak bisa dia kalau nggak drama, sehariii aja. Maag dia kambuh kalau nggak bikin orang senewen!" Fahri urusan maki-maki Aulia, memang sudah terlatih sejak dini. Astrid tertawa lebar, gemas liat ekspresi Fahri yang misuh-misuh. "Gitu-gitu adek kamu dia, Ri!" "Nanti kalau orangnya nggak ada kamu cariin," lanjut Astrid tanpa sadar sudah membuat ekspresi Fahri kaku. Cowok ganteng itu teringat kalau sebentar lagi Aul, juga Om dan Tantenya akan pindah ke kampung halaman nenek. "Eh eh dance party. Yuk, Ri ikutan!" ajak Astrid semangat. Di tengah lantai dansa sudah ada pasangan pengantin baru yang jadi raja dan ratu hari ini. Gadis itu menarik tangan Fahri lalu mulai mendekatkan tubuh untuk gerakan dansa. Sejenak Fahri tahan nafas akan jarak mereka yang hampir tidak ada. Mana tangan saling bertaut mata terus menatap. Awalnya gerakan kaku, lama-lama Fahri bisa menyesuaikan dan mulai menikmati gerakan teratur dansa mereka. Senyum mengembang di wajah keduanya. Atensi tak hanya untuk pasangan pengantin, tapi juga pasangan Fahri dan Astrid yang memang serasi. Gibran dan Rita yang juga melihat kedekatan mereka hanya mengulum senyum. Nenek Ane malah tepuk tangan. Pun dengan orang tua Astrid sendiri. Tak ada yang tak merestui. Kecuali satu manusia, Aulia. Matanya kembali berkaca-kaca, melihat tawa bahagia Fahri di pelukan gadis lain yang sialnya memang sangat cocok. Satu ganteng, satunya anggun dan cantik. Kembali Aul harus menelan perasaannya yang kalau dipikir pakai logika, memang tidak akan berhasil. Hanya orang bodoh seperti dirinya yang bisa-bisanya terjebak dalam perasaan 'anying' seperti ini. *** Berulang kali Aul memeriksa ponselnya. Namun berulang kali juga dia harus menerima kekecewaan yang sama. "Sudah yuk berangkat aja. Pesawatnya udah mepet ini," buru Inge sambil menggandeng tangan sang putri. "Tapi Bang Ai belum pulang, Ma," gadis itu masih coba merayu. "Nanti kalau sudah sampai di telepon aja, Dek." Papa Gilang ikut menyahut. Sementara Nenek, Tante Rita juga Om Gibrannya sudah duduk manis di mobil. "Si Fahri emang kelewatan. Udah tau Neneknya mau pulang hari ini, malah keluyuran," gerutu Gibran. Aul diam sebentar, mengetik beberapa kalimat di ponselnya meski nomor yang dituju tidak aktif. Dengan berat hati, Aul mengikuti kedua orangtuanya masuk mobil. Mengamati rumah masa kecilnya lamat-lamat dan melambaikan tangan pada Fahmi juga Sarah yang kini akan menempati rumah kenangan itu. "Aul nggak apa-apa kan temenin Nenek? Sampit itu bukan desa loh, Dek. Memang tidak sepadat di sini, tapi suasananya lebih adem lebih tenang. Nenek jamin kamu pasti betah di sana." "Iya Nek, Aul seneng kok di mana aja, asal bisa sama-sama Nenek." Nenek Ane mencium pipi sang cucu gemas. Manis sekali mulut gadis kecilnya itu. "Kalau sama Papa nggak seneng, Dek?" protes Gilang. Senyum Aul merekah, "Sama Papa Mama juga dong!" Semua orang di mobil itu tertawa, lalu mulai melanjutkan serba serbi pembicaraan tentang kepindahan Aul dan kedua orangtuanya, pembagian bisnis, sampai balik nama rumah mereka yang resmi diambil alih Fahmi. Aul mengamati setiap jalan yang biasa dia lewati, bangunan berjejer rapi sampai yang semrawut. Kendaraan yang padat merayap. Juga kenangan yang berputar di memori. "Selamat tinggal Banjarmasin. Selamat tinggal Bang Ai." *** "Dari mana?" Fahri berjingkat kaget mendengar suara keras sang kakak yang tau-tau ada di samping tangga. Fahri cengengesan, "Habis dari rumah temen," jawabnya sambil garuk-garuk pipi. "Lo lupa hari ini Om Gilang dan Tante Inge pindahan?" Fahri mengernyit heran, "Bukannya tunggu Aul lulus SMP?" Fahmi berdecak kesal, si Fahri memang selalu tak peka dengan apapun dalam keluarga, "Lo telepon Aul, dia nungguin Lo dari pagi!" katanya ketus lalu balik kanan menuju rumahnya. Bukan langsung membuka ponsel, Fahri melanjutkan jalan ke kamarnya. Mencolok charger baru mengaktifkan ponsel yang kehabisan daya. Banyak pesan masuk juga beberapa panggilan tak terjawab. Notifikasi paling atas dari 'sepupu rese', "Bang Gue pergi, jangan kangen! Jaga diri baik-baik tanpa Gue ya!" Fahri berdecak. Sudah pergi pun sempat-sempatnya mengetik pesan yang kepedean begini. Fahri merebahkan diri di kasur empuknya. Menatap langit-langit lalu meraih lagi ponselnya. "Berarti Gue udah bebas sekarang!" katanya semangat. "Yes yes sekarang Gue anak bungsu di rumah ini!" Fahri menepuk-nepuk bantal sambil ketawa joker. Lalu tanpa mikir lagi, nomor Aul dia blokir. Tertawa terbahak sampai mata berkaca-kaca hingga diam tanpa suara. Matanya menatap langit-langit kamar tapi pikiran mengawang entah kemana. Cukup lama melamun, satu notifikasi masuk dan langsung mencetak kembali senyum di wajah gantengnya. Dari 'Astrid', "Makasih untuk hari ini, Ri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN