7. Kelahiran

1622 Kata
Tiga tahun waktu berjalan seperti merangkak. Walaupun begitu terlambat, semua manusia tetap akan tiba di masanya. Waktu berubah, keadaan ikut berubah. Kini Fahri bukan lagi remaja gabut yang hobi balap. Dari hobi itu dia mendapat ide untuk buka usaha bengkel kecil-kecilan. Sembari sibuk kuliah, Fahri merintis usaha dari nol, walaupun modal masih dari orang tua. Fahri lebih memilih berwirausaha seperti Om Gilangnya daripada menjadi b***k korporat macam Bang Fahmi dan Ayah Gibran. Jatuh bangun Fahri lalui sembari menyelesaikan studi. Sampai sekarang bengkel itu mulai menjual sparepart juga ada showroom motor kecil di samping bengkel. Semua adalah jerih payah Fahri sendiri. Lalu ada satu orang lagi yang menempel di sisinya, Astrid. Mereka tidak jadian alias tidak ada kata-kata cinta atau ungkapan sayang. Semua mengalir begitu saja. Ditambah mereka sering dijodoh-jodohkan oleh keluarga, jadilah mereka seperti sepasang kekasih dimata orang-orang. Hari ini hari bahagia di keluarga kecil Fahmi. Setelah penantian tiga tahun, lahir bayi mungil hasil kerja enak Fahmi dan Sarah, Fabian Bayu Nugraha. Bayi itu tidur nyenyak dalam box bayi, di kelilingi nenek dan kakeknya, Rita dan Gibran. Tentu hadir juga Fahri Astrid disitu. "Biar kamu cucu pertama, belum mengalahkan tahta tertinggi di keluarga," Fahri mencolek pipi merah ponakannya, sengaja biar nangis. "Ri, jangan digituin. Nanti bangun," tegur Mama Rita, tapi si om ganteng seperti tidak terpengaruh. Astrid ikut tertawa melihat interaksi Fahri dan mamanya. "Emang tahta tertinggi dalam keluarga siapa?" tanya Astrid polos. "Ya anak bungsu lah," sahut Fahri masih fokus pada misi mengganggu bayi. "Kamu maksudnya?" Fahri belum sempat menjawab, Fahmi tiba-tiba datang lalu menggendong bayinya. "Jangan didengerin ya, Dek. Om kamu itu sesat!" Fahri mencebik kesal diiringi tawa geli dari yang lain. Fahmi menyerahkan bayi mungilnya pada sang istri yang sudah duduk di ranjang pasien. "Sore ini jadi pulangkan, Bang?" tanya Mama Rita jalan di belakang Fahmi. "Jadi, Ma. Alhamdulillah baby dan mommynya sehat, jadi dokter kasih izin pulang." 'Tok tok tok' Pintu diketuk. Tanpa menunggu jawaban pintu terbuka disusul teriakan gembira dari seorang gadis cantik dengan rok selutut. Cardigan yang sedikit melorot menampilkan bahu putihnya yang bening. "Assalamualaikum everybody..." Semua mata di ruangan itu mengalihkan atensi pada sumber suara. "Aul!" pekik Rita. Senyum mengembang di bibir Ibu Fahri dan Fahmi itu. Disusul pelukan hangat sang gadis padanya. "Sehatkan, Te?" "Sehat sayang. Kangen banget sama kamu," Rita mengeratkan pelukan. "Ya ampun, Dek. Kamu datang nggak bilang-bilang! Kemarin nelpon cuma nanya kabar Kak Sarah, eh sekarang orangnya nongol. Mana cantik banget kamu sekarang, Dek!" Fahmi ikutan dalam acara pelukan itu. "Surprise..." Aul tertawa menampilkan gigi putihnya. Sudah tidak ada behel pink seperti dulu. Sekarang bibirnya sudah dipulas lipstik warna cerry. "Nakal kamu ya," Gibran mengusak rambut ponakannya. "Ka Sarah, mana ponakan aku?" setelah puas pelukan, Aul mendekati bayi yang jadi alasannya tak sabaran sejak di bandara. "Kamu tambah cantik, Dek. Kakak pangling liat kamu, kayak artis!" "Kak Sarah bisa aja. Ya ampun ponakan Gue, lucu banget," seru Aul mencolek pipi bayi. "Kamu masih menempati tahta tertinggi di keluarga," celetuk Sarah. Semua orang di ruangan melihat Aul menampilkan wajah malas. Dia sudah dewasa sekarang, tentu tidak akan dimanja lagi seperti dulu. Dua orang di ruangan itu yang hanya diam sejak tadi seolah tak disadari Aul kehadirannya. Astrid menyikut perut Fahri untuk mengembalikan kesadaran si ganteng. Usai teguk liur, Fahri mendekat. Karena entitasnya yang semakin dekat, Aul mengalihkan fokus dari bayi ke sosok Fahri yang berdiri di depan. Suasana sedikit canggung di antara mereka, "Hai, Bang Fahri." Sial Aul kelewat kikuk karena lama tak bertemu. Oh, jangankan bertemu, selama tiga tahun bertukar kabarpun tidak. "Gimana kabar kamu, Ul?" Astrid di sebelah Fahri yang lebih dulu buka suara. Aul senyum manis, "Baik, Kak." "Kamu jadi kuliah di sini kan, Dek? Nggak usah ngekos, tinggal sama tante aja." Atensi Aul kini teralih lagi pada Tante Rita. Oh, dia memang masih jadi kesayangan semua keluarga rupanya. Mereka semua antusias ingin ngobrol dengan gadis yang tiga tahun belakangan pindah kota itu. "Jadi, tante. Aul keterima di fakultas ekonomi," katanya sambil senyum bangga. Aul menyibak rambut panjangnya yang tergerai lalu kembali berujar, "Aul apa kata Mama Papa aja, Te. Mama nyusul dua minggu lagi. Nunggu orang yang jagain Nenek balik dari kampung," jelas Aul yang membuat Om Gibrannya ikut bicara. "Ya udah, kamu di rumah Om aja dulu. Kamar Bang Fahmi dulu biar di siapin. Om calling Bibi di rumah buat bersih-bersih." "Makasih Om," jawab Aul tak enak hati jadi merepotkan. Fahmi mengusap kepala Aul lembut, "Kamu sih Dek, datang nggak bilang-bilang." Sementara Fahri masih tak mengeluarkan satu kata pun. Karena semua orang seperti berebut perhatian si cantik. "Permisi..." Seorang pria tinggi juga tak kalah menawan mengetuk pintu. Matanya menemukan Aul di tengah orang-orang, "Kopernya taruh mana?" katanya tertuju pada si gadis. Ah, Aul lupa sekaligus jadi merasa bersalah. Dia mendekat pada si lelaki, lalu menggandeng tangannya untuk masuk. "Om Tante kenalin, teman Aul." Fahri yang baru membalikkan badan, melotot melihat jari jemari dua manusia itu bertaut. "Dante?!" "Loh, Ri?" sahut Dante tak kalah kaget. *** Pesta barbeque dadakan dihalaman belakang rumah untuk menyambut Aul dan si bayi Bian diadakan malam harinya. Bocil yang menjelma jadi gadis super cantik itu masih jadi pusat perhatian. Bahkan Fahri masih belum memiliki kesempatan bicara dengannya. Lagi pula Fahri bingung harus memulai dari mana. Entahlah, mendadak Fahri ingin mereka seperti dulu. Saling hina, sikut kiri kanan, toyor sana sini, lalu berakhir dengan Aul yang merajuk. Bukan suasana canggung seperti sekarang. Mana gadis itu juga berlaku seperti tidak kenal dengan Fahri. Di sebelahnya laki-laki yang dikenalkan sebagai teman oleh Aul, tak pernah jauh-jauh darinya. Aduh, Fahri jadi senewen sendiri. Maunya Fahri langsung ajak ngobrol alias kasih warning ke Dante, berhubung mereka berteman. Tapi teman dekat semasa SMA Fahri itu seperti tidak mau pisah sedetikpun dari Aul. Kampretlah! Agak malam, Fahmi dan Sarah membawa bayi Bian kembali ke rumahnya yang dulu merupakan rumah Aul dan Mama Papanya. Juga di susul Rita yang ingin memastikan kamar Aul sudah siap. Hanya tersisa Aul, Dante, dan Ayah Gibran yang masih ngobrol di gazebo. "Makan dulu, Ri. Dari tadi kamu kebagian manggang mulu, sini Aku gantiin," interupsi Astrid. Fahri mengangguk singkat dan mengambil piring yang diberikan Astrid. Moodnya buruk. Matanya sepet melihat tawa Aul dan Dante yang dimeriahkan ayahnya sendiri. Awas saja, akan Fahri ganggu keharmonisan itu! Baru juga mau jalan ke gazebo, Astrid sudah mengingatkan lagi. "Tangan kamu di cuci dulu!" Fahri memutar matanya malas. Si mahasiswi kedokteran satu itu, memang suka mengatur-atur Fahri. Terutama berkaitan dengan kesehatan dan kebersihan. "Males," sahut Fahri asal. Dia kira Astrid tidak akan dengar, tapi ternyata salah. "Fahri!" gadis itu melotot memperingati. Karena teriakan itu, atensi orang-orang yang duduk di gazebo ikut teralih. Aul yang sejak tadi hanya duduk-duduk, inisiatif membantu Astrid memanggang. Namun begitu melewati Fahri, abang sepupu Aul itu menarik tangannya. "Duduk bentar. Gue mau ngobrol!" titahnya. Akhirnya merasa punya kesempatan. Patuh, Aul duduk di sebelah Fahri yang tidak jadi makan karena hilang selera. Oh, bukan hanya fisik yang berubah. Satu lagi yang mengecoh fokus Fahri. Semilir angin membawa wangi tubuh Aul ke indra penciumannya. Fahri masih ingat bau minyak-minyakan bayi juga parfum anak yang dulu jadi ciri khas Aul kecil. Tapi sekarang jauh beda, harum Aul lebih ke... segar, lembut dan manis. "Lo kenal sama Dante dimana?" Sejenak Aul mengerjap bingung, karena mendadak di interogasi. "Dia abangnya Reva, teman Gue." Oh, Fahri ingat, teman Aul yang rada tomboy itu, tapi urusan joget dangdut paling yahud. "Lo pacaran sama dia?" Aul mengulum bibir, malu-malu ceritanya. Fahri mendengus najis, "Om Gilang, Tante Inge tau?" "Dante itu anaknya temen baik Papa." Fahri hela nafas lagi, "Nenek tau Lo dekat sama Dante?" "Nenek yang nyuruh Dante jemput Gue di bandara." "Kok bisa? Kalian kan beda kota?" cecar Fahri lagi. "Bisa aja. Orang Bang Dante sering ikut bokapnya urusan bisnis sama Papa." Fahri usap rambut kesal. "Sudah berapa lama kalian pacaran?" Aul nampak menghitung dengan jari, "Mungkin tiga bulanan." Fahri gebrak meja, "Nggak boleh pacar-pacaran masih kecil!" protes dari mulut Fahri meluncur begitu mulus. Entah kenapa dia begitu emosi. Sekarang Astrid, Dante bahkan Ayah Gibran melihat ke arah mereka. Aul melotot tak setuju, "Dih, Gue udah gede. Mama Papa aja nggak keberatan. Siapa Lo?" balasnya tak kalah nyolot. "Gue abang Lo, kalau Lo lupa!" "Dih, bodo amat!" Aul berdiri lalu meninggalkan Fahri. Belum sehari ketemu, si sepupu sudah ngajak ribut. "Fahri!" peringat Gibran pada si bungsu. Adiknya baru datang sudah diajak tengkar "Kenapa, Ul?" tanya Astrid melihat wajah Aul yang merengut. "Pacar Lo tuh Kak, ngajak ribut. Kok Lo mau sama dia si?! Ngeselin." Astrid tertawa, sudah biasa jika Fahri dan Aul saling menjelekkan. "Aku ke Fahri dulu ya. Ini yang terakhir, kalau udah mateng langsung taroh piring." "Siap Kak Astrid!" Aul memperagakan gaya hormat ala militer. Astrid menarik tangan Fahri untuk membantu menata meja. Mata si ganteng masih mengawasi gerak gerik Aul yang sudah di pepet Dante lagi. Sementara Ayahnya memanggil orang-orang agar berkumpul. Di lihatnya Dante sedang meniup-niup daging yang baru matang, lalu menyuapkan ke Aul. Setelahnya usap bibir si cantik yang belepotan saus. Aduh, seluruh darah Fahri rasanya mendidih. "Kamu kenapa, Ri? Sakit?" Astrid meraba dahi Fahri, "Makanya Aku sudah bilang, habis dari rumah sakit langsung mandi. Banyak kuman..." 'Brakk' Fahri melempar begitu saja penjepit daging di atas meja. Malas mendengar ceramah calon dokter. "Gue pusing," katanya berjalan masuk ke rumah. Kunci pintu kamar, lalu menghempaskan diri di kasur. Fahri menarik nafas dalam. Selama tiga tahun tanpa melihat ataupun mendengar suara Aul, dia bisa. Kenapa begitu sudah di depan mata, bahkan belum sehari, Fahri seperti tidak bisa mengendalikan diri. Si kampret Aul itu, yang dulu katanya 'suka' dengan Fahri. Sorot matanya tidak lagi memancarkan pemujaan pada dirinya. Tapi malah untuk orang lain. Itu melukai ego Fahri yang setinggi harapan orang tua. Bukan hanya bayi Bian yang lahir, Aulia juga seperti baru lahir kembali. Dengan sikap dan kebiasaan baru. Menyukai Dante.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN