8. Huru-hara

1655 Kata
Entah setan mana yang merasuki Fahri. Sejak setengah jam lalu kupingnya menempel pada dinding kamar, berharap bisa mendengar pergerakan dari penghuni kamar sebelah. Seumur hidup, baru kali ini Fahri kepo setengah mati dengan urusan orang lain. Fahri seperti kerasukan arwah cicak yang menghuni kamarnya. Lehernya memanjang, matanya menyipit, belum lagi pipi dan kuping yang gencet dinding. Cih, ini yang dulu dijuluki raja jalanan? Baru setelah mendengar pintu kamar sebelah terbuka, dia meluruskan badan. Membenarkan kaosnya dan menyugar rambut ke belakang, dia ikut keluar kamar. Dilihatnya punggung mulus yang memang hanya tertutup daster rumahan tanpa lengan sepanjang lutut. Rambut panjang sang gadis hanya di cepol asal. Fahri menahan nafas saat melihat pemandangan indah disaat bidadari kamar sebelah itu meneguk air dingin di depan cahaya kulkas. "Haus banget, Yang? Enak bener kayaknya minum air putih doang." Alis Fahri mengerut tak suka. Rupanya di atas meja dekat kulkas, ponsel si cantik menampilkan wajah laki-laki lain yang menatapnya penuh pemujaan. Fahri melirik jam di dinding. Pukul sebelas malam, dan sepasang manusia itu masih saling bertukar kata dan bertatap mata lewat ponsel. "Namanya juga haus," balas Aul selesai meletakkan gelas ke kitchen sink. Wajah cantik itu kini sepenuhnya menghadap ponsel. "Jadi ngiri sama gelasnya, bisa dicium sama kamu." 'Huekk!' Fahri beneran mual. Ini yang sejak tadi yang mau dia curi dengar, tapi setelah tau kenapa jadi tambah pusing. Mana Aul tanggapi dengan senyum-senyum tersipu ala-ala cewek malu-malu meong. Najis! kata Fahri mah. 'Ekhm' Sengaja jalan santai melewati Aul. Pasang tampang cuek. Membuka lemari kabinet lalu melempar sebungkus mie instan di samping si sepupu. "Gue kira mbak kunti malam-malam cekikikan. Taunya bocil lagi pacaran!" sinis Fahri. Aul hanya memutar mata, malas berdebat. Lagi pula malam sudah sangat larut. Lebih baik dia beranjak menuju kamar. Baru balik badan, tangannya sudah di tahan. "Mau kemana Lo?" Aul hembus nafas, "Kamar lah!" katanya tak kalah ketus. "Masakin Gue mie dulu!" "Idih, siapa Lo nyuruh-nyuruh Gue?" sang gadis kini berkacak pinggang, tidak ada takut-takutnya. "Gue Abang Lo kalau Lo lupa!" "Emang udah lupa!" lanjut Aul berbalik. Masa bodo dengan abang sepupu yang suka cari gara-gara itu. Fahri geram setengah mati, di hadangnya langkah si cantik dengan tubuh besarnya. "Minggir nggak Lo!" geram Aul. "Enggak!" "Ri, udah malam. Plis jangan gangguin cewek Gue." Nah, akhirnya Dante buka suara. Dua sepupu itu memang berhenti debat, tapi selanjutnya dengan tanpa dosa Fahri merebut ponsel Aul lalu membawa kembali duduk di meja makan. "Ihh, balikin hape Gue!" pekik Aul. "Berisik! Ntar Ayah sama Mama kebangun!" peringat si sepupu tak tau diri. Yang cari ribut siapa yang takut dimarahi siapa. "Ri, jangan kayak anak kecil lah. Cewek Gue mau istirahat." Sakit kuping Fahri mendengar frasa 'cewek Gue' yang berulang kali disebut Dante. "Cewek Lo yang anak kecil!" "Abangg..." rengek Aul frustasi sambil menghentakkan kaki. "Tuh, kayak anak kecil kan?" senyum mengejek Fahri tujukan ke layar ponsel. "Plis lah Ri. Cewek Gue udah mau kuliah. Dari sudut mana Lo lihat dia masih kecil?" "Dari dia lahir sampai sekarang, dia adek Gue asal Lo tau!" balas Fahri acuh. Tangannya masih berusaha menjauhkan ponsel dari jangkauan Aul. "Lo masakin Gue mie, baru hapenya Gue kasih," titah Fahri dengan jari telunjuk menoyor bahu si cantik. Dalam hatinya sedikit senang, walaupun cekcok, setidaknya mereka tidak canggung lagi. Si gadis hampir menggigit jari itu jika Fahri lengah sedikit saja. "Oke oke nanti Gue traktir Lo deh, Ri. Pilih tempatnya sesuka hati, tapi hape cewek Gue balikin." Fahri mengorek kuping dengan jari, khas gaya tengilnya. Sumpah, sudah berapa kali pengulangan frasa 'cewek Gue' itu. Jika dengar sekali lagi, kupingnya bisa berdarah. "Gue bilangin Tante Rita, ya Lo!" ancam Aul. Kasian melihat Dante yang seperti memohon-mohon pada Fahri. "Aduin gih sono. Biar sekalian Mama tau kelakuan Lo, tengah malem masih video call sama cowok. Mana pake baju kurang bahan gitu. Sono aduin!" tantang Fahri. Aul hela nafas kesal. Iya juga, dia tidak berani. "Ya udah Gue masakin mie nya. Tapi janji hape Gue balikin!" ketus Aul, kentara sekali wajah tak ikhlasnya. Begitu Aul sudah jalan menuju dapur dengan langkah yang dihentak-hentak itu, Fahri kembali memusatkan atensi pada layar ponsel. "Denger ya bro, meskipun sekarang Om Gilang nggak masalah sama hubungan kalian, tapi asal Gue buka mulut tentang masa lalu Lo..." Fahri sengaja menjeda kalimatnya. Tersenyum songong melihat perubahan wajah Dante. "Lo tau kan harus gimana?" "Oke, damai aja lah kita Ri." Dante mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Tapi Lo harus tau, Gue serius sama adek Lo. Gue bakal jaga dia dan nggak akan mainin dia. Pegang kata-kata Gue, Ri," katanya mantap. Fahri hembus nafas kasar. Tambah nyut-nyutan kepalanya mendengar deklarasi Dante. Susah untuknya percaya mengingat masa SMA Dante yang gonta ganti cewek seperti ganti baju. Fahri tidak akan peduli jika itu gadis lain. Masalahnya ini Aul! "Untuk sekarang Gue masih belum setuju sama hubungan kalian. Sekarang aja Lo nelpon dia sampai tengah malam begini. Lo pikir besok dia nggak ada kegiatan." Fahri mendelik sinis sementara Dante mengulum bibir menahan kesal. Sok jadi 'abang' sekali temannya ini. "Susah buat Gue percaya sama Lo mengingat petualangan kita masa sekolah dulu. Gue harap Lo ngerti!" Tak menunggu jawaban Dante, Fahri mematikan ponsel. Berbarengan dengan matanya yang menatap ke arah makhluk cantik dengan sepiring mie instan di tangan. Meski bibirnya misuh-misuh, tapi imutnya tetap tak tertolong. Ini yang kata Dika 'boneka hidup' itu. Iya, Fahri mengakuinya. "Nih!" katanya meletakkan piring di depan Fahri. "Makasih," Fahri tersenyum manis menyambut si gadis yang cemberut. "Mana hape Gue?" Aul menadahkan tangan yang langsung ditepuk sepupu gendengnya itu. "Duduk, temenin Gue makan." "OGAH!" jawab Aul sambil menyilangkan tangan. Fahri balas dengan melotot. Sambil bersungut-sungut akhirnya, Aul duduk. Sambil meniup-niup mie, Fahri mulai ceramahnya. "Lain kali jangan angkat video call pake baju kayak gitu! Apalagi sampai tengah malam begini. Bagus menurut Lo cewek kayak gitu?" Aul menunduk memperhatikan baju sendiri. Memangnya apa yang salah, dia kan masih berpakaian. Lagipula dia mau tidur, masa iya pake baju kurung. "Lo aja yang piktor, Bang! Nggak ada yang salah sama baju Gue!" "Kalo diomongin yang bener bisa nggak usah nyaut nggak?!" Fahri melotot tak jadi-jadi menyuap mie. "Kayak Lo orang bener aja," cibir Aul. "Lagian Lo nggak tau istilah sleep call apa, Bang? Noh, sama Kak Astrid Lo coba prakmmpphh..." Fahri mencapit bibir Aul yang merepet itu dengan tangan. Antara gemas dan kesal selalu dibantah. "Diem nggak!" ancamnya. Aul angguk-angguk kepala sambil berusaha melepas cengkraman tangan si abang sepupu tukang huru-hara. "Dante itu teman Gue dari zaman sekolah. Luar dalemnya Dante Gue paling tau. Lo juga bisa tanya Dika kalau nggak percaya Gue. Mulai sekarang, jangan deket-deket dia deh Lo!" katanya sambil menyuap mie ke mulut. Diam sebentar meresapi mie masakan sepupu. Baru beberapa detik masuk mulut, Fahri memuntahkan lagi mie itu. Karena lengah, Aul gerak cepat meraih ponselnya dan berlari ke arah kamar. Tapi sebelum benar-benar jauh dia sempat teriak, "Nggak peduli! Bang Dante tetap cowok Gue!" "AULIA!!" teriak Fahri. Sial, sebanyak apa cabe yang dimasukkan Aul dalam masakannya. Lidahnya seperti terbakar, mata Fahri sampai memerah. Belum lagi gaya tengil cewek itu yang menjulurkan lidah mengejek. Baru mau menyusul untuk buat perhitungan. Pintu kamar utama terbuka. "Apa sih teriak-teriak, Fahri!" Mama Rita berkacak pinggang sambil melotot ke arah putra bungsunya. *** Baru dua hari keberadaan Aul di kediaman Gibran, suasana berubah drastis. Pertikaian dengan Fahri yang tak ada habisnya, juga tahta anak kesayangan yang kembali pada si gadis. Hasilnya kembali Fahri yang kena omel atas aduan sekecil apapun oleh si sepupu cantik. Cih, lihat saja sekarang. Si kesayangan itu sedang asyik karaokean dengan nenek satu cucu alias Mama Rita diruang keluarga. Pilihan lagu Aul tidak pernah berubah, dangdut forever. Bulan bawa bintang menari, Iringi langkahku. Malam hadir bawa diriku, berjumpa denganmu. "Asekk!" Sudut bibir Fahri berkedut menahan tawa. Dia benar-benar terhibur tapi gengsi mau ikut nimbrung. Tambah besar kepala nanti itu si anak emas. Meraih ponsel di saku celana, Fahri berniat mengabadikan momen itu dari tempat persembunyiannya. Baru mau buka ikon kamera, panggilan masuk dari Astrid berdering. Fahri akui dia memang b******n. Dulu-dulu dia seperti remaja kasmaran pada gadis keponakan Sarah ini. Tapi seiring berjalannya waktu, bertambah dekat hubungan mereka, Fahri seperti dicekik dengan segala aturan tak tertulis Astrid. Padahal mereka tidak jadian, hanya dekat karena seringnya interaksi antar keluarga, ditambah mereka juga sering dijadikan bahan bercanda perjodohan. Pernah sekali, setelah sekian lama tak ikut nongkrong dengan teman-temannya. Catat, bukan tak nongkrong karena takut dengan Astrid. Hanya kesibukan kuliah dan bengkel yang membuat Fahri sulit membagi waktu. Fahri yang baru 5 menit duduk sudah disusul gadis itu. Salahnya juga sih yang tanpa pikir panjang membagikan lokasinya. Semua supaya Astrid percaya dia tidak sedang balap, karena gadis itu terus merongrongnya. Ehlah dalah, malah disusul suruh pulang, macam anak TK yang dijemput emak dari main kotor-kotoran. Fahri malu bukan main. Hanya saja tak enak hati marah-marah. Tau sendiri Astrid ponakan Sarah, kakak iparnya. Walau sejujurnya Fahri tidak merasa nyaman di sisi gadis itu. "Hmm," akhirnya Fahri angkat panggilan malas-malasan setelah dering hampir mau mati. "Kok jawabnya gitu? Kayak orang nggak ikhlas!" Kalau boleh jujur memang setengah hati. "Kenapa nelepon?" akhirnya Fahri buka suara. "Hape kamu nggak aktif dari kemaren. Jadi Aku khawatir kamu masih sakit kepala. Gimana masih sakit? Sudah minum obat? Kamu sih Aku bilangin jangan begadang terus malah bandel. Aku di rumah Kak Sarah sekarang, nengokin Bian, nyusul kesini gih, biar Aku periksa keadaannya." Astrid terus nyerocos yang membuat Fahri ingin menyentuh ikon merah di ponselnya. "Nggak usah, Gue udah baikan." "Benerkan? Nggak bohong?" "Hmm." "Tuh kan nyautnya gitu lagi!" cerca Astrid. Haduh, Fahri benar-benar bosan. "Iya, Astrid," jawabnya malas. "Ri, kok di sebelah rame banget?" Fahri mengalihkan pandangan ke ruang keluarga. Sekarang Aul dan Mama Rita bukan hanya bernyanyi tapi juga joget-joget asal. Cekikikan kalau salah satu bergaya aneh. Kelihatan lepas, kelihatan bahagianya. "Berisik nggak sih, Ri." "Ya kalau nggak mau dengar, pulang aja sana!" "Kamu usir Aku?" Fahri hembus nafas lelah, "Terserah kalau kamu anggapnya begitu," katanya cuek. Berbanding terbalik dengan Aul yang telponan sampai tertidur dengan Dante. Fahri sendiri mau buru-buru menutup panggilan Astrid.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN