9. Perkara Rok

1461 Kata
"Tumben ikut sarapan," sindir Mama Rita pada anak bontot yang tiba-tiba sudah rapi siap ke kampus. Biasanya pagi begini, Fahri masih bergelung dalam pelukan selimutnya. Fahri hanya membalas ucapan sang mama dengan kecupan di pipi lalu duduk di meja makan di sebelah Aul. Gadis itu wangi sekali juga tampil anggun dalam balutan kemeja dan rok selutut. Rambutnya di gerai biasa, wajahnya yang sudah cantik dari lahir hanya dipakaikan suncream dan lip tint. Haduh, Fahri jadi susah nengok ke meja, walau aroma nasi goreng buatan Mama Rita begitu menggoda. "Ke kampusnya naik apa, Dek?" tanya Gibran. Aul minum dulu baru menyahut, "Di jemput Bang Dante, Om." Kening Fahri langsung menyatu. Otak cepat tanggap berpikir keras cari solusi biar Aul ke kampus tanpa Dante. "Yah, hari ini Aku pinjem mobil ya?" "Motor kamu kenapa?" tanya Ayah Gibran heran, tumben sekali anak bungsunya ini mau pakai mobil. Di rumah ini ada dua mobil, satu yang biasa di pakai ke kantor, satunya lagi untuk Mama Rita kalau mau jalan. "Lagi pengen aja." Singkat, padat, jelas dan tanpa bantahan. Toh, satu mobil itu jarang sekali di pakai. 'Tin' Suara klakson di depan rumah membuat Aul gegas berdiri dan sedikit merapikan penampilan di lemari kaca samping meja makan. "Aul pergi ya Om, Tante," katanya sambil cium tangan pada dua orang dewasa di sana. "Hati-hati sayang," balas Rita tersenyum lembut. "Gue nggak disalamin?" Aul melirik sekilas pada sepupu yang mulai menyalakan api keributan pagi-pagi. "Males!" Di depan, Dante sudah berdiri gagah di samping motor besarnya. Jaket baseball, celana chinos dan kacamata hitam. Memang Aul tak salah pilih kekasih. "Maaf ya ngerepotin Abang," Aul mengulas senyum cantik. Tak segan Dante membalas dengan mencubit pipi si gadis gemas, "Apa sih yang enggak buat pacar." Keduanya tertawa sebelum Dante menyerahkan helm pada si cantik. Sebelum naik ke boncengan, suara menyebalkan dari teras rumah menginterupsi. "Aul pakai rok, ikut Gue aja naik mobil!" teriak Fahri ketus. Spontan Aul dan Dante melihat ke arah rok Aul. Sialan, Fahri jadi tak ikhlas kaki putih nan jenjang milik sepupunya di lihat cowok lain. "Gue ganti dulu deh, Bang," si gadis putar balik menuju rumah. Tapi sampai di teras tangannya di tarik, "Lo ikut Gue. Udah nggak sempat ganti. Lo mau di hukum kating hari pertama ospek?" Aul berbalik melihat ke arah sang pacar. Mau protes tapi Fahri ada benarnya. Dante tersenyum sambil mengangguk tanda setuju. Aul jadi merasa bersalah. Sudah jauh-jauh memutar ke arah rumahnya, mana tidak jadi diboncengi. "Ketemu di kampus ya, sayang." Fahri mendengus mendengar interaksi dua sejoli. Yang penting Aul sudah di sebelahnya, pilih tutup kaca mobil lalu injak gas dalam-dalam. "Lain kali nggak usah repotin orang. Kalian beda kampus, dia Fisip kan? Gue yang satu kampus sama Lo," katanya sambil mengawasi Dante dari spion. "Dih, orang dia nggak ngerasa di repotin kok," balas Aul cuek. "Pokoknya besok-besok Lo pulang pergi ngampus sama Gue!" putus Fahri semena-mena. Aul melotot tak terima, "Idih, kita beda kelas kali, Bang. Mau Lo bolak balik anter jemput Gue. Mending Lo urusin Kak Astrid, dari pada ngerecokin Gue sama Bang Dante mulu!" Fahri mengencangkan genggaman tangan di setir mobil. Kesal juga karena Aul terus ngeyel. "Mulai sekarang urusan Lo, urusan Gue!" lalu sebelah tangannya mencapit bibir Aul semena-mena agar tak menjawab lagi. "Nurut apa kata Abang Lo ini! Dante itu temen Gue dari SMA. Jeleknya Dante tau semua Gue, Aulia." Aul masih meronta minta di lepas. Gila juga si Fahri, anak gadis main bekap saja. Begitu sampai di parkiran kampus, Aul melepas sabuk pengaman dengan kasar. Buru-buru mau keluar mobil sebelum tangannya ditahan. "Putusin Dante!" "Bodo!" *** "Masyaallah, Tabarakallah cuaantik poll si Aulia!" Dika hampir meneteskan air liurnya melihat sosok Aul yang kini tengah mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa baru. Gadis itu memang paling menonjol dengan tubuh yang proporsional dan wajah cantiknya. Tak heran banyak kating yang salah fokus dengan keberadaan Aul. "Nggak pantes Lo ngomong gitu!" sewot Fahri. Biasa juga kebun bintang isi mulut Dika. "Boleh ya Ri, Gue deketin Aul... ya... ya? Gue rela panggil Lo Abang Ipar seumur hidup deh!" Dika mengangkat dua ruas jarinya menandakan janjinya sungguhan. Fahri toyor kepala sahabat lengketnya itu. "Didenger Wina perang dunia Lo berdua, d***o!" Fahri hembus nafas kasar, memang luar biasa pesona adik sepupunya itu. "Gampang urusan Wina mah," balas Dika tak tau diri. Fahri usap kasar wajah Dika, "Jangan liatin dia begitu. Gue colok mata Lo ya!" ancam Fahri pada Dika yang persis anjing lapar. "Galak amat kaya Pit Bulls!" protes Dika sambil menepis tangan Fahri di wajahnya. Matanya tidak beralih dari Aul, "Eh eh Ri, diapain adek Lo noh!" Fahri fokus ke arah yang dimaksud Dika. Di sana Aul seperti siap untuk ancang-ancang squat jump. "Babik!" umpat Fahri lalu lari ke arah si cantik. "Oi, nggak ada main fisik ya! Dia pakai rok, mata Lo nggak liat!" tunjuk Fahri kasar pada Alfi, teman satu angkatannya yang menghukum Aul. Alfi yang tidak bisa membaca situasi, malah mendekat ke arah si singa. "Selow Bro, Gue cuma main-main. Barang bagus ini, liat pahanya dikit boleh lahh..." balas Alfi sambil berbisik di ujung kalimatnya di telinga Fahri. 'Bugh' "Bangsatt, dia adek Gue anjing!" satu pukulan melayang ke wajah Alfi. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian langsung memisahkan Fahri yang mukanya sudah merah. Termasuk Aul sendiri yang sudah berdiri di sebelah sepupunya dan menahan lengannya. "Berani macam-macam sama dia, mampus Lo sama Gue!" ancam Fahri. Alfi gelagapan, rupanya dia salah memilih target. "Sorry sorry Ri. Gue nggak tau dia adek Lo," katanya sambil memegangi pipi yang senut-senut. Malu juga ditampar di depan Maba. Tapi dia tau siapa Fahri, mana berani Alfi melawan balik. "Udah Bang, malu diliat orang!" Aul menarik tangan Fahri menjauh dan mendudukkannya di salah satu kursi di bawah pohon. Disusul Dika yang ikut lari-larian. "Abang kenapa deh? Jangan main pukul juga kali!" peringat Aul. Fahri memicing mata. "Lo nggak suka Gue bela? Mau Lo dihukum kayak tadi?" emosi Fahri masih belum reda. Enak saja mau memanfaatkan situasi. Masalahnya yang mau di manfaatkan 'Aulia'. Sepupunya yang baru beberapa hari ini bertemu setelah tiga tahun dan sudah menjelma jadi bidadari. "Bukan gitu Bang! Auk ah, males ngomong sama orang yang sumbu pendek!" Aul berbalik dan kembali ke barisan. Habis semua mata melihat ke arah mereka yang memang seperti Tom and Jerry dari dulu. "Bentar!" Fahri menyusul langkah Aul dan menahan pergerakannya. Fahri lalu buka jaket dan mengikat di pinggang si gadis. "Berani Lo buka, denda sejuta!" ancamnya. Aul sempat hentak kaki lalu berlalu pergi. Oh, jangan lupa bibir yang komat kamit menggemaskan itu. "Posesif amat Lo jadi Abang," komentar Dika sambil tepuk bahu si sahabat. Fahri hanya berdecak lalu putar balik. Mendinginkan kepala di kantin sepertinya lebih baik. Mendengar ocehan Dika, juga tidak membuat suasana hatinya reda. Baru beberapa langkah jalan, seseorang tiba-tiba mendorongnya. "Apa-apaan?!" teriak Fahri yang memang masih emosi. Melihat wajah orang yang mendorongnya, emosi Fahri semakin tinggi. "Apa maksud Lo dorong Gue, b*****t?!" Dante tersenyum mengejek. Sementara Dika berusaha melerai. "Santai dikit lah, Bray." Dante tunjuk wajah Fahri tak kalah menahan emosi, "Maksud Lo apa ngelarang Aul pergi sama Gue?" Fahri lirik ke arah barisan mahasiswa baru yang sepertinya akan mulai pengenalan keliling kampus. "Kita ngomong di sana," tunjuk Fahri ke arah parkiran. Ketiganya lalu berjalan ke arah yang dimaksud Fahri. Meski bingung dengan ketegangan antara Fahri dan Dante, Dika tetap mengikuti. Begitu Fahri berbalik ke arah Dante, dia seperti mempersilahkan cowok Aul itu bicara lebih dulu. "Aulia cewek Gue!" tegas Dante. Dika cukup kaget dengan informasi yang didengar tapi cukup waras untuk diam mendengarkan sebelum kena amuk ke dua teman satu angkatannya itu. "Lo ada masalah apa sama Gue, Ri? Lo masih dendam soal Desi dulu?" cerca Dante. Fahri tertawa, tapi Dika bergidik melihat raut wajah Fahri yang seperti menahan marah. "Masalah Desi udah kelar waktu itu juga. Dia bukan siapa-siapa Gue. Tapi Aulia, se.pu.pu Gue!" katanya tajam penuh penekanan. "Trus? Gue harus dapat restu dari Lo? Gue bisa jagain dia, Ri. Orang tuanya sudah tau hubungan kita. Bahkan orang tua Lo juga!" "Mereka nggak tau siapa Lo. Gue yang kenal Lo dari zaman Lo suka ngintip daleman cewek!" Anjing, si Fahri. Dika mau ketawa karena kata-katanya tapi takut kena imbasnya juga. "Pliss lah Ri. Itu dulu banget. Sekarang Gue serius sama Aul. Gue beneran sayang sama dia," nada suara Dante melemah ada nada permohonan. Sadar kalau posisi Fahri adalah keluarga dekat sang pujaan hati. "Gue juga sayang sama dia," balas Fahri cepat. Dika dan Dante sama-sama tercengang mendengar balasan Fahri. Bertanya-tanya maksud 'sayang' yang di ucapkannya. "Jangan bilang..." Dante tidak sanggup meneruskan kata-katanya. "Iya, kenapa?" balas Fahri dengan senyum mengejek dan alis terangkat. Dante sudah angkat kepalan tangan, benci melihat wajah songong Fahri. "Wait... wait... Aturan nomor satu dalam pertemanan; nggak ada rebut-rebutan cewek!" teriak Dika menengahi. "Dia bukan cewek biasa. Dia Eleanora Aulia, sepupu Gue!" balas Fahri lalu pergi meninggalkan Dante dan Dika yang bungkam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN