Fahri melirik jaketnya yang masih terpasang rapi di pinggang Aul. Senyum samar tanpa permisi terukir di bibir.
Melihat gelagat sepupunya yang aneh sesaat dia duduk di mobil, Aul cepat membuka jaket dan menutupi lututnya.
"Apa Lo liatin?" katanya galak.
Fahri cengengesan, "Takut amat bayar sejuta."
Tangan Aul enteng memukul bahu sepupu gantengnya. "Gara-gara jaket ini Gue beda sendiri."
"Kating Lo mana ada yang berani sama Gue. Besok-besok pakai celana aja."
"SOP nya suruh pake rok, Bang," bantah Aul.
"Ya, luarnya tetap rok," balas Fahri tak mau kalah.
Aul bergidik membayangkan gaya busana yang dimaksud Fahri. Jadi aneh sendiri nggak si? Dasar cowok nggak tau fashion!
Sebelum injak gas, Fahri sempat melihat keberadaan Astrid yang baru turun dari ojol. Cepat Fahri tancap gas, sebelum gadis itu mengenali keberadaan mobilnya. Tanpa rasa bersalah, Fahri meninggalkan kampus, padahal sebelumnya Astrid sudah kirim pesan akan menemuinya di kampus supaya bisa pulang bareng. Yah, walau Fahri tidak membalas pesan itu.
Sementara itu, fokus si sepupu cantik kini teralih pada ponsel yang baru di aktifkan. Banyak pesan juga miss call dari si pacar, Dante.
Fahri lirik sebentar lalu fokus lagi ke jalan. "Nomor Lo udah ganti?"
Aul mengangkat wajah, "Masih yang lama."
"Hape Lo ganti?"
Aul hela nafas, benar-benar si sepupu rese satu. "Iya, kenapa?"
"Kok Lo nggak pernah kontak Gue? Perasaan tiap hari telponan sama Mama atau Bang Ami."
"Hellooww?" Aul memutar bola mata malas. "Yang blokir nomor Gue perasaan situ," nyinyirnya.
Fahri garuk-garuk pipi. "Oh ya? Hape Gue hang berati."
"Alesan aja Lo, Bang!"
Fahri nyengir, "Iya maaf."
Aul berdecih. Sesaat setelahnya, ponsel gadis itu berdering. "Iya, Bang?" jawabnya segera.
"......."
"Sore ini ya? Kemana?"
Fahri ikut mendengarkan sekaligus menebak-nebak siapa gerangan yang menghubungi si cantik.
"…....."
Aul mendadak semangat dan sumringah, "Iya mau mau. Jemput di rumah ya."
"........"
Aul lirik sebentar muka Fahri yang lurus melihat jalan, "Bye, sayang."
Fahri melotot lalu berhenti ke samping jalan mendadak. Tarik nafas dalam, "Lo masih berhubungan sama Dante? Gue bilang putusin, Aulia," katanya penuh tekanan.
"Dia baik, Bang Fahri. Dia tulus sama Gue. Kenapa si Lo?" Aul tak kalah tantrum menyahuti Fahri.
"Lo nggak bisa menilai laki-laki mana yang tulus atau nggak sama Lo, Aulia. Gue laki-laki, Gue tau sifat laki-laki!" katanya dengan suara tinggi.
"Kayak Lo laki-laki yang paling bener aja. Lo pikir Gue nggak punya perasaan?!" Mata si gadis kini berkaca-kaca saking kesalnya.
Aul tidak habis pikir dengan perilaku Fahri yang semena-mena dan suka mengatur hidupnya. Padahal baru beberapa hari mereka bertemu lagi. Tiga tahun ke belakang, Aul seperti dibuang oleh sepupunya ini.
"Oke oke sorry. Jan nangis!" Fahri jadi panik.
"Huwaaa," Aul tambah-tambah nangis, sengaja.
"Iya iya, Lo mau apa sekarang? Asal jan minta Gue kasih restu Dante. Jan keras-keras nangisnya, dikira orang Gue apa-apain Lo."
Hedeh, sempat-sempatnya Fahri mengajukan persyaratan. Si gadis tambah kesal, dia lampiaskan dengan memukul tangan Fahri.
Suara klakson di belakang mereka, membuat Fahri semakin panik. "Iya iya cep cep, Es krim mau? Atau nonton konser dangdut? Lo sukanya apa?" katanya mulai menjalankan mobil. Tak mempan, si Aul masih menangis.
"Plis Ul. Udah jan nangis. Lo mau apa sekarang, Gue turutin deh."
"Duit."
"Hah," Fahri lirik si cantik sebentar takut salah dengar.
"Gue sukanya duit. TF sejuta sekarang!"
***
Aul masih berputar-putar di dalam bengkel milik Fahri. Tidak besar tapi tidak bisa di bilang kecil juga. Berkenalan dengan tiga orang pekerja Fahri. Lalu putar lagi ke showroom samping bengkel. Bangga dengan pencapaian sepupu yang kelihatannya gabut padahal banyak duit.
"Tunggu bentar, ada kostumer mau ketemu. Lo tunggu aja di ruangan Gue," pesan Fahri sambil menunjuk ke arah yang lebih dalam di ruangan itu.
Aul mengangguk. Netranya memperhatikan sepupu yang merupakan cinta monyetnya waktu kecil. Tinggi, hidung mancung, rambut hitam dengan potongan undercut, kulit coklat, dan mata yang kalau melotot padanya seperti menembus ke ulu hati.
Fahri hanya memakai celana kargo dan kaos polos untuk menemui pelanggannya, tapi sudah damage luar biasa. Aul memukul kepala, membuang semua pikiran tentang sepupu ganteng. "Sadar Ul, Lo udah move on. Ada Bang Dante yang cinta mati sama Lo!" katanya menguatkan diri.
Ngomong-ngomong tentang Dante, Aul teringat akan janjinya sore ini. Karena berada di bengkel Fahri, lebih baik si pacar suruh jemput di sini saja sekalian. Sudahlah di kampus tadi mereka tidak jadi bertemu, jangan sampai sekarang gagal lagi.
Aul buka ponselnya, senyum sedikit melihat saldo rekening bertambah dapat transferan sejuta dari Fahri. Lumayan, buat tambahan kencan sore ini. Yah, walaupun Dante tak pernah mengijinkan kalau Aul keluar duit. Pokoknya lumayan buat beli skincare.
Masuk ke ruangan Fahri, Aul teliti lagi sekelilingnya. Ruangan yang khas Fahri sekali. Tidak ada hiasan, foto atau tanaman palsu yang menghuni ruangan itu.
Hanya sofa, kursi single dan meja, jam dan kalender yang menggantung di dinding. Oke, Aul akan checkout sesuatu untuk menghias ruangan ini nanti. Hitung-hitung pajak dari uang hasil meras Fahri sendiri.
Baru juga selesai mengirimkan lokasinya pada pacar, Fahri sudah masuk ke dalam ruangan. "Laper nggak Lo?" katanya sembari mendudukkan diri di sebelah Aul.
"Emm, sebenarnya laper. Tapi mau jalan sama Bang Dante, jadi tahan aja deh," jawab si cantik tak peduli dengan ekspresi sakit hati sepupu ganteng.
Fahri berdecak. Mau terang-terangan melarang Aul pacaran takutnya si gadis malah mewek lagi. Fahri harus putar otak supaya memisahkan mereka, dengan cara licik sekali pun.
"Makan aja lah dulu, Cil. Gue udah pesen juga."
Aul memukul lengan Fahri, "Gue bukan bocil lagi!"
Fahri terkekeh. Iya, Aul sekarang bidadari.
"Bang Fahri aja yang makan sendiri kalo gitu. Gue makan sama Bang Dante aja."
Sekali lagi Fahri mengerutkan dahinya tak suka dengan kalimat si cantik. "Kenapa Lo panggil Gue Bang Fahri?"
"Trus, mau dipanggil apa kalau bukan Fahri? Ilyas?" tanya Aul benar-benar aneh dengan pertanyaan sepupunya itu.
"Biasanya Lo panggil Gue Bang Ai!"
"Oh..." Aul mengerti sekarang.
"Kenapa emang? Jan oh oh aja!" cecar Fahri tak sabaran.
Aul diam sejenak, menatap lurus lawan bicara. "Dulu Gue masih cadel kali."
Fahri tak terima dengan jawaban itu. "Sama Bang Fahmi, Lo tetap panggil Bang Ami!"
"Ya itukan panggilan sayang buat Bang Ami," jawabnya cepat.
Fahri sungguh tak terima. Apa maksud gadis ini? "Lo nggak sayang Gue lagi kah?" tanyanya sambil melotot.
Mata bulat Aul berkedip beberapa kali. "Mungkin."
'Brakk'
Fahri pukul meja. "Kok Lo gitu sama Gue? Yang biasa anter jemput Lo sekolah siapa? Yang Lo repotin kalo sakit siapa? Kalo PMS Lo ngereog sama Gue, Aulia!"
Sumpah, Fahri sakit hati. Dadanya seperti dicubit kecil tangan berkuku panjang tak kasat mata.
Aul melirik santai tak peduli, "Itungan amat Lo ama jasa di masa lalu, padahal itu juga kan gara-gara di suruh."
"Ya tetap aja Gue kerjain!" Fahri melotot.
Aul mendesah, tatapannya sedikit menerawang. "Cuma Bang Ami yang ada buat Gue sampai akhir. Lo kemana waktu Gue merasa asing di tempat baru? Lo nggak ada pas Gue butuh temen curhat soal Mama Papa? Cuma Bang Ami yang dukung Gue walau nggak ada yang setuju Gue kuliah di sini." Aul tenang dengan tatapan lurus namun penuh penghayatan.
Fahri diam, berpikir juga. Fahri rengkuh tubuh ramping itu dalam pelukan. Dia ciumi ubun-ubun si gadis penuh penyesalan. "What's wrong, hm?"
Fahri elus lembut rambut panjang Aul, sambil menikmati harum tubuh itu. Sungguh, Fahri tidak tahu apa-apa. Dia mengira semuanya baik-baik saja, tak ada yang salah. "Bang Ami nggak pernah cerita apa-apa," katanya lemah.
Aul tersenyum sumbang, "Lo juga nggak tau kan kalo Bang Ami beberapa kali pernah nyusul Gue ke sana."
Fahri semakin mengetatkan pelukannya. Oke, semua memang salahnya yang terlalu pengecut.
Aul melepas pelukan Fahri bersamaan dengan pintu yang di ketuk. Aldo, salah satu pegawai Fahri datang bersama tas kertas bermerk salah satu rumah makan favorit Aul.
"Bos, pesanannya," ucap pemuda itu agak sungkan, takut kalau mengganggu pembicaraan serius Fahri.
"Taruh sini aja, Do. Thanks," Fahri menunjuk ke meja di depannya. Tangannya masih menggenggam tangan si gadis.
Sepeninggal Aldo, Fahri kembali menatap Aul serius. "Apa yang terjadi selama Lo di sana?"
Aul menggeleng lemah. "Udah lewat Bang. Males Gue cerita lagi sekarang," jawabnya sambil melirik ke arah makanan yang masih dibungkus rapi.
Menyadari hal itu, Fahri mengalah. Dia akan cari tau nanti, bahkan jika harus menunggu Aul mau terbuka padanya, Fahri akan sabar.
Fahri membuka tas berisi makanan di depannya. Mengeluarkan chicken teriyaki, mangkok soup, juga jus semangka. Karena asal-asalan, Fahri tidak sadar sudah menjatuhkan sendok plastik dan sedotan ke lantai di depannya.
Aul yang melihat pemandangan itu, inisiatif mengumpulkan barang yang tercecer lalu membungkuk tepat di depan Fahri.
"Ngapain Lo?" agak terkejut Fahri karena Aul benar-benar membungkuk tepat di tengah-tengah pahanya.
"Sedotannya masuk bawah sofa," jawab si gadis tak sadar sedang membangunkan 'sesuatu' yang tidur.
Takut Aul kepentok, Fahri menahan kepala si gadis agar tidak terlalu mengintip ke bawah. Bertepatan dengan itu, pintu tiba-tiba terbuka. Dante mematung melihat pemandangan yang tak wajar di depannya. Fahri yang menyadari kedatangan sang rival tersenyum miring.
"Oh good girl..." katanya mendesis sambil menggigit bibir bawah.
Tak hanya itu, tangannya semakin menekan kepala si cantik agar menepel di paha dalamnya, "Pelan aja Ul... Ahh... pinter... sayang..." katanya menambahi.
'Brak'
Dante tutup pintu. Yes! Fahri tersenyum licik.
'Plak'
"Apaan si Lo, Bang! Kaya orang sinting!" gerutu Aul setelah menghadiahi Fahri pukulan telak di pahanya.