Baru saja dosen yang mengajar Ekonomi Internasional di kelas Fahri keluar, lelaki ganteng itu juga buru-buru meninggalkan ruangan. Tujuannya apalagi jika bukan Aulia. Bahkan panggilan Dika sahabatnya tidak dia hiraukan.
Fahri tahu ada hal yang ingin si sahabat pastikan, tapi rasanya Fahri tidak tenang jika sebentar saja tidak melihat keberadaan si sepupu yang mengacaukan pikirannya. Apalagi sejak curhat singkat Aul kemaren, Fahri menjelma menjadi sepupu posesif.
Fahri sudah bisa melihat entitas Aulia di koridor depan tangga yang sedang fokus melihat ponsel. Senyum lega tersungging di bibir. Terus mendekat, langkahnya di halangi seseorang.
Ah, sial. Astrid berdiri tepat di depannya sambil menyilangkan tangan di depan d**a.
"Kemana aja kamu? Ngilang tanpa kabar. Pesan Aku juga nggak pernah kamu balas," tuding si gadis dengan raut kesal yang tidak ditutup-tutupi.
Fahri hela nafas, "Ada," jawabnya singkat. Kentara sekali malas meladeni Astrid. Matanya masih mengawasi pergerakan Aulia.
Astrid memukul d**a Fahri, "Kamu jangan giniin Aku! Kita udah mau tunangan. Keluarga semua sudah tahu, malu kalau sampai kita putus di tengah jalan."
Fahri mengerutkan dahi, remat rambutnya kesal. "Sejak kapan kita mau tunangan? Kata siapa? Dan... kalau kita nggak pernah jadian, nggak mungkin putus jugakan?"
"Fahri!" Astrid kini hampir menangis. Enteng sekali mulut Fahri mengatakan hal yang menyakitkan itu. Apa dia pikir kedekatan mereka selama ini tidak ada artinya?
"Denger ya, As. Gue menyesal kalau kedekatan kita selama ini Lo salah artikan. Gue cuma anggep Lo keluarga dari kakak ipar Gue, nggak lebih," jelas Fahri mengenyahkan rasa tak enak hati yang selama ini dia tahan. Ada perasaan lega bisa mengatakannya.
Selama ini, Fahri selalu menahan perasaan tidak enak di hatinya sendiri. Astrid selalu mengatur hidupnya. Ikut campur dalam segala urusan. Jujur awalnya Fahri memang suka berteman dengan gadis secantik, sepintar, sesopan Astrid. Namun, kelamaan itu bukan hal yang membuatnya nyaman. Fahri merasa dibatasi.
Gadis di depannya terisak, "Kenapa kamu tiba-tiba gini? Tega kamu sama Aku, Ri," katanya kecewa.
Mau bagaimana lagi, Fahri punya prioritas sekarang, Aulia. Dia tidak mau ada yang menghalangi. "Sorry As," katanya berlalu pergi.
Baru dua langkah Fahri beranjak, Astrid kembali bersuara. "Aku akan aduin kamu ke Kak Sarah dan Bang Fahmi."
Astrid terdengar putus asa. Tak ada cara mengikat pujaan hati yang sudah tak lagi peduli. "Silakan, Gue nggak peduli!" jawab Fahri benar-benar tak mau pusing.
'Bugh'
"b*****t!" Fahri menoleh ke arah orang yang tanpa aba-aba memukulnya, Dante. Dengan wajah merah menahan emosi yang meluap-luap.
Sempat melirik ke arah Aulia yang untungnya sudah beranjak. Terlihat memasuki mobil Bang Fahmi yang parkir tepat di depan lobi. Syukurlah!
Fahri menoleh ke arah Dante dengan senyum meremehkan, lalu meludahkan darah yang berkumpul di mulut.
"Segitu aja kemampuan Lo?" katanya meremehkan.
Astrid yang syok masih diam, tidak tau harus apa. Otaknya memproses pertikaian yang sedang terjadi di depan mata.
"b******n Lo, Ri! Aul milik Gue b******k!" Kembali Dante memukul Fahri membabi buta. Tapi Fahri tidak melawan, menerima semua serangan penuh emosi Dante. Fahri sadar dia salah, dia biarkan Dante memuaskan egonya yang terlukai.
Dante pukul berkali-kali, tendang sekuatnya, lalu banting sampai hancur. Fahri menahan diri. Sampai akhirnya Fahri rebah di tanah, Astrid menghalangi Dante yang masih ingin menginjak Fahri. "Stop stop! Tolong ! Tolong!" katanya berteriak.
Dika yang baru melihat ada ribut-ribut, bergegas ikut membantu Fahri untuk berdiri. "Apa-apaan Lo berdua?!"
"Tanya sama temen Lo! Dia apain cewek Gue? Ngaku-ngaku Abang, tahunya Lo yang paling b******n!" tunjuk Dante penuh emosi ke wajah Fahri.
Dengan kurang ajar, Fahri masih tersenyum mengejek. "Udah puas Lo?"
Dante merangsek maju lagi, namun di tahan oleh beberapa mahasiswa lain, "Belum, kalau Lo belum mati! Anjing! Lepasin Gue!" Dante berontak.
"Kalau dia lebih milih Gue, Lo harus terima!" balas Fahri memancing kemarahan Dante semakin meledak.
Dante terus bergerak melepaskan diri. Fahri belum mati, dia tidak akan puas. Mantan temannya itu sudah berani mengusik miliknya.
Akhirnya, Fahri di bawa menjauh dan Dante yang terus meronta di bawa ke pos keamanan. Tinggal satu orang yang berdiri linglung di tengah kejadian. Apa tadi? Fahri merebut Aul dari Dante? Aulia sepupu Fahri? Aulia yang itu? Yang bahkan dalam bayangan Astrid tidak pernah terpikir akan menjadi duri dalam hubungannya dan Fahri.
***
Dengan langkah gontai Fahri memasuki rumahnya. Seluruh badannya sakit, pikirannya juga penuh. Tapi ada satu magnet yang terus menariknya. Aulia.
Rumah sepi, pasti karena semua sedang berkumpul di rumah sebelah. Menempeli bayi Bian. Fahri terus melangkahkan kaki ke arah kamar Bang Fahmi yang kini ditempati Aulia.
Dia ketuk beberapa kali, tak ada jawaban. Karena tak dikunci, Fahri masuk tanpa permisi. Kosong.
Fahri menuju balkon di kamarnya. Dari situ bisa dia lihat penampakan si gadis yang sedang menggendong bayi Bian di dadanya. Sesekali ekspresi gemas muncul di wajah cantiknya. Senyum di bibir Fahri yang masih sangat perih terukir. Pemandangan itu sungguh indah.
Fahri keluarkan ponselnya, lalu memotret wajah itu lagi. Beberapa jepret dengan beberapa perubahan gerak Aul yang acak. Sungguh, tidak ada gambar yang jelek. Aulia adalah representasi mahakarya Tuhan yang sempurna.
Fahri buka lagi galeri foto di ponselnya yang sengaja dia sembunyikan. Buka password dengan tanggal lahir si cantik. Terbukalah ratusan foto Aulia dalam berbagai momen. Dari gadis itu melamun, menangis, merajuk, juga tertawa. Sejak masih berseragam TK, hingga yang sekarang.
Fahri usap lembut wajah di gambar itu dengan penghayatan. Dia tersenyum lagi. Fahri merasa menjadi t***l lagi. Apa mungkin mereka akan berhasil? Apa ini akan melukai Aul? Apa semua orang akan merestui mereka? Ah, Fahri tak ingin memikirkan itu, untuk sekarang dia ingin egois sekali saja tunduk pada perasaannya.
***
Puas bermain dengan bayi, sore itu Aulia rebahan di kursi panjang balkon kamarnya. Usai menerima telepon dari mamanya, Aul membuka sekali lagi room chat di ponselnya. Masih belum ada jawaban dari pesan-pesan yang dia kirimkan ke Dante. Sejak gagalnya rencana kencan mereka kemaren yang masih belum ada penjelasan, sampai sekarang belum ada kabar dari pacarnya itu.
Aulia khawatir, takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Tidak pernah sekalipun Dante tak mengabarinya. Mungkinkah Aul sudah membuat kesalahan hingga laki-laki itu kesal. Gadis itu terus bertanya-tanya dalam pikirannya sehingga tanpa sadar dia melamun.
Lalu tanpa aba-aba sesuatu yang besar dan hangat tiba-tiba saja menimpanya. "Ah, nyamannya..."
Aul yang tersadar memukul bahu orang yang tanpa permisi menguasai tempatnya tiduran. "Bang, awas ah, sempit ini!" omel Aul bergerak tak nyaman karena Fahri terus membenamkan wajah di leher putih si gadis.
"Diem. Gue numpang istirahat," katanya tak tau malu. Rasanya benar-benar nyaman. Wangi Aulia bercampur dengan bau bayi sungguh relaksasi mujarab.
"Ish, di kamar Lo kan bisa," protes Aul masih tak terima.
Tak ada sahutan, nafas teratur Fahri akhirnya membuat Aulia diam. Merasakan detak jantung yang terus menggedor-gedor dadanya semakin gila. Sudah lama mereka tak sedekat ini, tapi rasanya masih semendebarkan dulu.
Untuk mendistraksi perasaannya yang kacau, Aul memasang headset dan memutar lagu. Baru beberapa menit, tangan usil yang memerangkap tubuhnya menarik sebelah headset dan memasang di telinganya sendiri.
Atu titat titut atu tutuh tatih tayang
Kasih sayang darimu yang semakin menghilang
Fahri terbahak, sungguh selera yang unik di tengah gempuran musik-musik k pop dan barat yang menggempur remaja Indonesia.
Lama-lama dua anak manusia itu menikmati lagu dan tanpa sadar ikut menggoyangkan tubuh. Lalu sama-sama terbahak di akhir lagu.
"Lagi Ul lagi," pinta Fahri semangat.
"Oke... Bang, muka Lo kenapa?!" pekik Aul saat menyadari memar di wajah sepupu. Bukan hanya di pipi, bibir bahkan pelipis, semuanya masih ada bercak darah.
Aulia melepas headset, dan fokus pada Fahri. Dia memeriksa tangan, mengangkat kaos yang di pakai Fahri, sampai kaki si lelaki juga tak luput dari pemeriksaan.
"Lo berantem ya?! Bonyok gini!" marah Aul.
"Stt, jan keras-keras ntar di denger Ayah sama Mama," tegur Fahri.
Aul berdecak lalu beranjak ke dalam kamar mencari sesuatu. Dalam beberapa menit Aulia kembali dengan peralatan P3K.
"Ini besok pagi paling udah ketahuan tante Rita!" Aul mulai mengolesi salep ke luka di wajah Fahri.
"Nggak akan, kalo Lo nggak cepu. Gue bisa tutupin pake masker," sahut si lelaki sambil menikmati usapan ujung jari mungil Aul di wajahnya.
Si cantik hela nafas. "Bandel si, udah gede juga masih berantem!"
"Wajar lah laki-laki.... AAA!" teriak Fahri karena Aul sengaja menekan lukanya.
Aulia senyum mengejek, "Tahan lah, kan laki-laki!"
"Kasar banget jadi suster," dumel Fahri sambil mengipasi wajah dengan tangan.
"Gue bukan suster Lo ya! Pacar Lo noh, dokter! Gih, minta obatin dia!" kan Aul jadi terpancing emosinya.
"Dia bukan pacar Gue, Aulia," tekan Fahri.
Aul berdecih, "Mulut laki-laki memang nggak bisa dipegang! Kemana-mana jalan berdua, apa namanya kalau bukan pacar?!"
Tanpa aba-aba, Fahri mengarahkan tangan Aul dan dengan sengaja meletakkan di mulutnya, "Nih pegang mulut Gue. Bisa kan?"
Astaga Tuhan, Aul syok nggak tuh! Mereka bertatapan dalam beberapa menit sebelum Aul mengalihkan pandangan terlebih dahulu ke tangan si lelaki. Wajahnya mendadak bersemu merah. Aulia tepuk paha Fahri dengan tangan yang tadi bertengger di mulut.
Disuguhi pemandangan menggemaskan, Fahri tidak tahan diam saja. Wajahnya spontan maju, lalu tanpa aba-aba mengecup pipi merah si sepupu.
Keduanya nampak sama-sama kaget dengan apa yang barusan terjadi. Tak terkecuali Fahri sendiri. "Lo apaan si Bang!" protes Aul sambil memegangi pipinya yang panas.
Berusaha santai, padahal sendirinya juga berdebar, Fahri terkekeh sambil mengusap kepala sepupu, "Cantik banget adek Gue," katanya yang menambah-nambahi merah di wajah Aulia.
"Udah, sana Lo!" usir si cantik.
Fahri gelagapan, "Eh eh belakangnya belum," katanya lalu sekonyong-konyong membuka kaos.
Aulia sempat kaget disuguhi badan sebagus dan kulit seseksi milik Fahri di depan mata. Teguk liur, dia berusaha tegar, "Madep sana Lo!" perintahnya.
Patuh, Fahri berbalik dan menghadiahi pemandangan punggung kekar miliknya pada si cantik. "Ya ampun Bang. Lo berantem apa jadi samsak si? Kok luka Lo banyak bener!" komentar Aul tak jadi terpesona dengan pahatan tubuh si ganteng.
"Gue menang tau!" sanggah Fahri. Iya, pikirnya dia memenangkan Aulia. Setelah ini, Fahri harap Dante akan mundur teratur.
Aul terus mengolesi salep di luka-luka Fahri, meski sambil terus mendumel. "Siapa si yang mukulian Lo? Biar Gue bales. Enak aja mukulin sepupu Gue!"
Fahri terkekeh. Senang dan merasa dibela. Dia memejamkan mata merasakan sentuhan halus Aul di pundaknya, lalu merinding saat gadis itu meniup-niup luka itu.
"Lo masih belum mau cerita soal Om Gilang dan Tante Inge?" tanya Fahri coba mengalihkan topik.
Fahri yakin si gadis menggeleng, "Nanti juga Lo tau." jawab Aul.
Fahri menangkap tangan Aul yang tengah mengoles salep di pinggang lalu melingkarkannya di perut. "Lo nggak cape simpan beban sendiri? Bagi sama Gue, Ul."
Aul hela nafas, lalu maju menyenderkan kepala di pundak lebar itu. Hangat, nyaman. Mereka sama-sama diam menikmati momen ini. Sampai Fahri melontar kalimat yang mengguncang dunia Aul.
"Aulia..."
"Hmm?"
"Jadi cewek Gue?"