Aulia ketar ketir. Sebentar-sebentar lirik ke arah tangga. Takut si sepupu ganteng keluar kamar. Dia juga jadi kagetan. Seperti sekarang, hampir saja Aul menjatuhkan ponselnya saat satu notifikasi pesan muncul.
Bang Fahri: Ke kampus bareng, tunggu Gue di parkiran.
Buru-buru Aulia minum susunya, lalu menyuap setangkup roti yang tersaji di depannya.
"Pelan-pelan Dek, nggak ada yang mau ngerebut makan kamu," tegur Rita, mamanya Fahri.
'Uhuk uhuk uhuk'
Tuh kan, Aul kaget juga padahal itu suara Tantenya. "Apa Tante bilang," buru-buru Rita menyuguhkan lagi segelas air ke hadapan ponakan.
Gibran yang menyaksikan interaksi keduanya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum singkat. Sejak ada Aulia rumah ini kembali berisik. Gibran suka suasana rumah yang seperti ini.
"Makasih Tante," ucap si keponakan usai menenggak segelas air.
Rita menggangguk tapi tangannya gemas mengusap rambut si cantik, "Mama kamu kapan ke sininya, Ul?"
Aulia meneguk makanan di mulut baru menyahut, "Katanya dua hari lagi, soalnya nenek mau ikut. Jadi, orang yang biasa jagain nenek biar jaga toko di sana."
Gibran manggut-manggut, "Mau liat cicitnya itu pasti," sahutnya sambil menghirup kopinya.
Rita mengangguk setuju, "Fahri nggak sarapan, apa?" katanya setelah ikut duduk.
Aulia beruntung, karena bonyok di wajah Fahri yang berusaha disembunyikan, cowok itu tidak bisa ikut sarapan bersama. Tapi bagaimana selanjutnya? Mereka satu kampus, satu rumah pula! Aulia belum siap bertemu Fahri lagi setelah ajakan pacaran si sepupu sinting itu kemarin sore.
Gila saja! Aulia kan masih pacarnya Dante. Lagipula mereka se.pu.pu. Tolong lah karma itu jangan berlaku pada Aulia. Dulu Fahri yang ketar ketir, sekarang Aulia mau kabur tunggang langgang.
Dulu memang Aulia akui, dia gila. Sekarang Aulia sudah tobat. Yah, meski tidak bisa menampik saat Fahri confess, ada kupu-kupu beterbangan di perutnya. Lucu sekali perasaan ini mempermainkan mereka.
"Coba kamu bangunin Abangmu, Dek," titah Rita tanpa melihat wajah kaget keponakan.
"Aduh tante, temen Aku udah di depan. Maaf ya..." katanya buru-buru berdiri dan meraih ponsel juga tas.
"Bi, tolong beresin piring Aul yaa!" teriaknya sambil melipat tangan di depan d**a. Gadis itu lalu tergesa-gesa salim dengan Tante Rita dan Om Gibrannya. "Aul pergi dulu. Assalamualaikum!"
Pasangan suami istri itu takjub, sama-sama melongo melihat kelakuan si cantik yang kaya di buru-buru dosen galak. Keduanya saling pandang lalu tertawa.
Sementara di luar rumah, Aula bisa bernafas lega. Terpaksa bohong, dari pada sibuk menahan perasaan ambigu di d**a.
"Hish, waktu ditembak Bang Dante rasanya nggak gini-gini amat," Aulia misuh-misuh.
'Tinn'
Aulia kaget, hampir menyumpah. Tapi saat melihat Fahmi yang melambai dari kaca mobil yang di turunkan, Aulia merasa diselamatkan. Tanpa disuruh gadis itu, naik ke kursi penumpang dan segera melemaskan tubuhnya.
"Sakit kamu, Dek?" tanya Fahmi mulai menjalankan mobil. "Enggak," jawab si cantik sambil melirik ke arah spion. Ada Fahri baru keluar dari rumah dengan memakai masker dan topi hitam. "Bang, cepetan!" katanya menepuk-nepuk lengan Fahmi.
Fahmi mengerutkan dahi, "Kenapa si, Dek?"
Sementara itu, Fahri yang menyadari keberadaan Aulia di mobil Abangnya, buru-buru ingin mencegat. "Cepetan Bangg! Aduh," Aulia frustasi.
"Iya iya... kenapa si kamu, diburu dosen apa hantu?" tanya Fahmi sambil melajukan mobil sesuai perintah.
"Hantu!"
***
"Jadi, abang Lo nggak pulang sejak dua hari lalu?" bisik Aulia di telinga Reva. Mereka masih mengikuti kuliah Ekonomi Mikro dengan dosen ganteng yang membuat semua mata betah melihat ke depan. Pak Bintang Segara namanya.
"Iya Kakak ipar," jawab Reva malas. Pasalnya sudah lebih sepuluh kali gadis itu bertanya hal yang sama.
Aulia masih berharap akan hubungannya dan Dante. Dia ingin membuang perasaan aneh yang kembali dia rasakan pada Fahri. Aulia yakin, Dante bisa membantu. Toh, selama pacaran hubungannya dengan Dante bisa dikatakan harmonis, manis nan romantis.
"Trus orang tua Lo nggak nyariin?" cecar Aulia lagi.
Reva menggeleng, matanya masih fokus pada dosen good looking di depan. "Kok kalian gitu si?! Itu kan Abang Lo!" tuh kan Aulia keceplosan.
Semua mata mengarah padanya. "Mampus Lo!" Reva malah mengejek.
Anehnya si dosen ganteng seperti tidak terpengaruh. Dia terus bicara sehingga fokus mahasiswa lain kembali padanya. Aulia elus d**a merasa beruntung.
"Bang Dante udah gede, Ul. Udah biasa dia nggak pulang. Palingan di apart pribadinya," sahut Reva akhirnya.
Aulia tidak menanggapi lagi. Takut keceplosan lagi. Tapi kepalanya berisik memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Satu-satunya hal yang kemungkinannya paling besar adalah Dante sengaja menjauhinya.
"Eleanora Aulia!"
Aulia gelagapan, "Saya Pak!"
"Antar semua tugas-tugas ini ke ruangan Saya," perintah si dosen lalu keluar ruangan lebih dulu.
"Baik Pak," muka Aulia sudah pucat saja.
Reva mendorong bahu sang sahabat, "Buru Lo bawa tugasnya, sebelum Lo kena hukuman yang lebih parah. Ngelamun mulu si dari tadi." Bukannya simpati malah mensyukuri, memang sahabat sejati.
Dengan langkah cepat Aulia berjalan ke arah ruangan sang dosen. Baru keluar dari ruangan, langkahnya sudah dicegat oleh seseorang yang sejak kemaren dia hindari, Abang sepupunya a.k.a Fahri.
"Lo sengaja ngehindar ya? Kenapa?" cecar sepupu Aulia itu to the point.
Haduh, jantung Aul rasanya hampir melorot ke perut. "G gue nggak ngindarin Lo kok, Bang. Awas Gue anter ini dulu," katanya berusaha kabur.
Fahri merebut paper bawaan Aulia dan jalan lebih dulu. "Apaan si Bang. Itu tugas anak-anak disuruh kumpulin ke ruang dosen," Aulia berusaha mengambil lagi tugas-tugas itu.
Fahri terus jalan, membiarkan Aulia yang memegang lengannya berusaha meraih kertas-kertas di tangan. "Biar Gue yang bawa, Lo tunjuk aja ke ruangan mana."
Aul pasrah, biar dia selesaikan dulu tugas dari dosennya ini, baru berperang melawan Fahri.
"Gue tunggu di sini," kata Fahri begitu mereka sampai di ruangan dosen yang di tuju. Aulia ambil lembaran tugas dari tangan si sepupu lalu mengetuk pintu.
'Tok Tok Tok'
Begitu terdengar perintah masuk, Aulia buka pintu, membiarkannya terbuka lalu masuk menuju meja kerja besar di ruangan itu.
"Taruh di situ aja," perintah Bintang menunjuk dengan dagu. Matanya menatap lekat pahatan wajah sempurna mahasiswinya.
"Permisi Pak," begitu selesai meletakkan tugas, Aulia menunduk sebelum berbalik pergi.
Namun langkahnya terhenti saat sang dosen tiba-tiba menunjukkan sesuatu padanya. "Kamu kenal sama orang-orang ini?" tanyanya sambil menyerahkan sebuah bingkai foto.
Aulia ambil bingkai itu lalu menatap lekat-lekat foto yang nampaknya sudah usang itu. Foto pernikahan biasa tapi sukses membuat Aulia merasa de javu.
Ada sepasang pengantin yang diapit oleh sanak keluarganya. Salah satunya ada Pak Bintang itu sendiri yang terlihat lebih muda. Lalu mata Aulia melotot ketika mengenali seseorang dalam jejeran pagar ayu di frame itu.
"Ini mama Saya, Pak!" katanya tersenyum, ternyata Mama Inge memang cantik dari dulu. Pantas saja Aulia cantik, walaupun mereka tidak mirip, begitu pikirnya.
"Bapak kenal mama Saya?"
Bintang mengangguk dan tersenyum samar. "Inge teman baik si pengantin wanita, dia kakak Saya."
Mulut Aulia membulat membentuk O, dia lihat sekali lagi foto pasangan pengantin itu. Ada perasaan aneh yang Aulia sendiri tidak mengerti. Dia tidak curiga apapun pada sang dosen yang tiba-tiba saja bertanya.
Dalam beberapa menit Aulia hanya diam dan si dosen benar-benar tak berkedip menatap gadis muda di depannya. Wajahnya sungguh mengingatkan dengan seseorang.
'Tok Tok Tok'
Itu Fahri, yang sudah tidak sabar menunggu si sepupu untuk bicara. Dengan kikuk Aulia meletakkan frame foto itu di meja lalu tersenyum canggung. "Dia sepupu Saya, Pak," katanya menjelaskan. Entah untuk apa penjelasan itu, Aulia hanya merasa sungkan saja.
Bintang mengangguk, "Kamu boleh pergi," katanya mempersilakan.
***
"Dia ngomong apa?" tanya Fahri begitu Aulia keluar dari ruangan si dosen.
Si gadis menggeleng, "Nggak ada, Pak Bintang kayaknya kenal sama mama. Ada foto mama di pernikahan kakaknya Pak Bintang."
Fahri manggut-manggut, "Dia nggak suka sama Lo kan?" tanya Fahri penuh selidik.
Aulia pukul lengan Fahri, "Ish, apa an si Lo!" bibir Aul mencebik.
Mana mungkin dosen yang hampir seusia papanya itu menyukainya. Lagi pula di jari manis pak dosen sendiri melingkar sebuah cincin. Aulia yakin Pak Bintang bukan pria lajang.
"Ya kali aja. Lo cantik gini!" sahut Fahri sambil meraih tangan Aulia dan menyatukan jari-jari mereka. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan.
Sekali lagi Aulia memukul lengan Fahri dengan tangannya yang bebas. Fahri malah kesenangan dipukul, "Salting Lo?"
"Enggak!"
Aduh, Fahri sebenarnya gemas sekali melihat wajah menunduk Aulia yang sudah pasti memerah. Tapi dia tahan-tahan takut si cantik merajuk lalu kabur lagi.
Fahri memasangkan helm di kepala Aulia dan memasangkan jaket miliknya. "Kita mau kemana? tanya si gadis bingung.
"Kencan lah," balas Fahri cuek seolah itu hal biasa.
Sekali lagi Aulia pukul d**a Fahri, kali ini lebih bertenaga untuk menutupi jantung yang mulai bergemuruh. "Kapan kita pacaran?!"
"Ish, KDRT mulu Lo mah!" sahut Fahri sambil mengusap dadanya dramatis.
Aulia ikut mengusap bekas pukulannya dengan wajah cemberut, "Lo juga yang mulai. Orang kita nggak pacaran."
"Ya udah, kalau nggak mau pacaran. Kita langsung minta restu Om Gilang, trus nikah. Siap nggak Lo?"
"Sinting!"
Fahri malah tertawa disumpahi. Dia naik ke motor terlebih dahulu, menunggu Aulia naik baru menjalankan motornya. Pelan sekali, beda dengan dulu-dulu. Setelah sekian lama, akhirnya Fahri rasakan lagi sensasi menyenangkan ini.
"Peluk dong, Ul. Pelit amat!" pintanya tak tahu malu.
Si gadis tak bergeming. "Ntar Lo jatuh!" bujuk Fahri lagi.
Aulia maju sedikit, pegang ujung kaos Fahri secuil. Hubungan macam apa mereka ini? Mereka tidak dalam hubungan yang romantis kan, pikir Aulia.
Fahri tambah geli. Ide jahil muncul di kepala. Sengaja Fahri lepas kopling lalu putar gas mendadak. "AAAA BANG FAHRI GILA!"
Reflek Aulia peluk erat-erat pinggang si pelaku yang kurang ajarnya tambah kegirangan. "PEGANG YANG KENCENG UL... KITA MAU TERBANG!"
"AAAA MAMA..."