13. Kencan

1302 Kata
Kencan kata Fahri adalah bekerja di bengkel dengan Aulia yang melongo menonton aktivitasnya. Fahri terus mondar mandir membantu para pekerjanya sementara Aulia planga plongo garuk-garuk pipi sambil mikir, "Ngapain fungsinya Gue di sini dah." Siluet tubuh tinggi tegap dengan otot yang pas pada bagiannya saat membelakangi cahaya, membuat sosok Fahri bersinar bak dewa. Padahal sepupu Aulia itu hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana kargo andalannya. Aulia sampai menyeka air liur yang hampir menetes melihat pemandangan indah itu. "Sadar Ul. Bang Dante juga ganteng!" batinnya berulang kali. Sekuat tenaga berusaha tidak peduli dengan pemandangan Fahri yang beberapa kali menyeka rambut yang mengganggu, tapi Aulia harus menyerah dengan logikanya. "Hiss," kesalnya pada diri sendiri. Aulia mencegat Fahri yang berjalan ingin mengambil sesuatu di etalase. Fahri mengangkat alis, bertanya 'kenapa' lewat isyarat. "Nunduk bentar," perintahnya. Datang-datang langsung merengut, pasang tampang judes. Fahri yang tangannya masih kotor, sempat bingung tapi tidak protes. Dia tundukkan kepala mensejajarkan dengan tinggi sang gadis. Menahan ketukan irama jantung yang makin cepat karena berada sedekat ini dengan mantan cinta monyetnya, Aulia berusaha keras terlihat jutek. Aulia lepas kunciran di kepala, lalu mengumpulkan rambut-rambut nakal yang menutupi mata Fahri. Disatukan hingga seperti pohon kelapa. Aduh, kenapa sepupunya ini ganteng sekali. Walau keringatnya sudah kemana-mana, kok tetap wangi. 'Cup' Tanpa permisi bibir kenyal nan seksi milik Fahri, mencium pipi si gadis. Aulia melotot dengan nafas terhenti dan jantung seperti melorot ke perut. "Bang Fahri!" "Makasih yaa," katanya sambil berlalu kembali bekerja. Aldo dan dua orang karyawan Fahri, mesem-mesem tapi tak berani mencie-ciekan. Ada juga dua orang pelanggan yang sedang menunggu motornya dikerjakan, pura-pura tidak melihat. Aduh, Aulia panas dingin sebadan-badan. Tak kuat menahan malu, si gadis berniat masuk ke ruangan Fahri tapi salah jalan. Karena terlalu... entah Aulia juga tidak mengerti, kenapa dia mendadak jadi orang pilon. Aulia malah jalan keluar bengkel. "Mau kemana, Dek?" teriak Fahri yang walau sibuk kerja, matanya tetap mengawasi pergerakan Aulia. Sialan, kenapa Fahri jadi manis begini si? Aulia jadi mau guling-guling saja. Berhubung ada es krim keliling yang lewat, Aulia menyahut, "Beli es krim!" Fahri biarkan Aulia jajan dan berkeliaran semaunya. Asal gadis itu jangan menghindar lagi. Bekerja sambil ditemani Aulia ternyata sangat menyenangkan, tambah semangat, tambah termotivasi, tambah... cinta. Eh? Aulia bagikan satu-satu es krim yang dibeli. Pada tiga karyawan Fahri. Bahkan pada pelanggan. Fahri? dia lewati begitu saja. Sang pemuda hanya tersenyum melihat tingkah Aulia yang dia tahu sebenarnya salah tingkah tapi sok cuek. Beres mengerjakan motor pelanggan yang selanjutnya di finishing oleh Aldo, Fahri cuci tangan terus mendatangi si cantik yang kini anteng di dalam ruangannya sambil menikmati es krim. 'Fiuhh' Fahri tiup wajah Aulia yang taunya malah melamun. Es krim di tangannya sampai menetes-netes. "Mikirin apa si Lo?" tanyanya dengan gerakan meraih tangan Aulia dan menjilat lelehan es krim. Bahkan hingga ke sela jari si cantik, namun matanya tak lepas dari menatap mata indah sang gadis. Aulia kedip mata beberapa kali tak mampu bersuara. Dilihatnya ikatan pohon kelapa di rambut si ganteng belum di lepas. Lucu namun tetap maskulin dalam waktu yang bersamaan. Wajah Aulia memanas, otak traveling kena sentuhan lembut lidah Fahri. "Mikirin apa, hm?" Si cantik gelagapan, "M mikir B bang Dante," gagap. Kening Fahri berkerut tak suka. Hish, si Aul memang paling pandai merusak suasana, kesal Fahri. "Dia ngilang nggak ada kabar," lanjut Aulia tak paham situasi. Tanganya masih dalam genggaman sang sepupu yang diremas gemas. Fahri hela nafas, menatap lurus mata bulat si cantik yang berkedip-kedip imut. Salah fokus melihat lelehan es krim di bibir yang terus menetes menuju dagu. Tanpa komando wajah Fahri mendekat, tepat di depan bibir si gadis dia proklamirkan, "Jan mikirin cowok manapun lagi selain Gue ya, Dek." Aulia tahan nafas saat sepupu gantengnya itu makin maju. Menyentuh dagu yang belepotan dengan lidah. Mencicipi, menjilat, membersihkan dari jejak es krim. Sintingnya, bukan menjauh Aulia malah tutup mata, pasrah. Fahri menyeringai, semakin berani menyentuh apa yang selama ini menjadi fantasinya. Hemm, bibir si cantik begitu plumpy, begitu lembut, begitu manis, begitu... enak. Aulia remat kuat kaos Fahri, dan si lelaki menekan lembut tengkuk gadisnya agar semakin tak bisa lepas. Keduanya hanyut terbawa suasana. Perang antar dua bibir semakin sengit. Fahri begitu lihai memainkan peran. Mengisap atas lalu bawah, menerobos ke dalam mulut Aulia, mengabsen deretan gigi yang rapi, menguasai lidah si cantik. Ah, Fahri sudah gila dan tercandu-candu. Cukup lama keduanya menikmati benturan bibir tanpa jeda. Hingga satu teriakan kencang menarik kesadaran Aulia hingga ke puncak. "FAHRI!" Fahri dan Aulia sama ngos-ngosan seperti habis lari sepuluh putaran. Wajah Aulia langsung merah padam menyadari apa yang sudah dia perbuat bersama abang sepupunya sendiri. Apalagi melihat siapa yang berdiri di depan pintu, Aulia rasanya mau mengubur diri hingga kerak bumi. Berbeda dengan Fahri yang nampak tenang tapi menyimpan amarah yang tertahan karena menganggu kesenangannya. Berbalik dengan tenang, lalu mengangkat dagu. "Mau apa Lo?" katanya datar menjaga intonasi. Tangannya ringan membelai jemari Aulia menenangkan. "Kalian yang apa-apaan? Kalian sepupu Fahri. Sadar!" teriak Astrid menggebu-gebu. "Dan kamu!" telunjuknya mengarah pada Aulia yang tidak berani menatap mata merah Astrid. "Teganya kamu, Ul. Dia tunangan Aku!" "Bukan!" Fahri langsung menyahut. Kembali Fahri berbalik menjelaskan, "Bukan, Dek. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia selain karena dia ponakannya Kak Sarah," jelas Fahri pada Aulia yang kini matanya ikut merah siap menangis. Astrid menggeleng tak terima. "Fahri, apa artinya kedekatan kita selama ini? Kenapa setelah ada dia, kamu berubah?!" "Gue memang begini sebelumnya. Nggak ada hubungannya dengan Aul. Gue minta maaf kalau Lo salah mengartikan perhatian Gue selama ini. Tapi supaya Lo tau, Gue cuma anggap Lo teman, nggak lebih." "Enggak Fahri! Kamu bohong! Semua pasti karena sepupu kamu itu yang murahan!" tunjuk Astrid berapi-api pada gadis yang kini berlindung di belakang Fahri sambil menangis. "ASTRID! Jaga mulut Lo!" teriak Fahri akhirnya. Tangannya terkepal menahan agar jangan sampai menampar perempuan. "Apa Ri yang udah dia kasih dan belum Gue kasih sama Lo? Tubuh Gue? Ayo ayo kita tidur bareng," Astrid maju meraih tangan Fahri dan langsung ditepis begitu saja. Hilang sudah perangai Astrid yang anggun, sopan dan dewasa. Sifat aslinya yang impulsif dan tak pernah mau kalah kini muncul ke permukaan. Fahri memandang jijik pada keponakan kakak iparnya itu. Tatapan penghinaan yang menyakiti harga diri Astrid. "Pergi Lo dari sini! Dan jangan pernah ganggu Aul atau Lo akan tau akibatnya," ancam Fahri. "Apa? Kamu bisa apa?" tantang Astrid. Fahri tersenyum mengejek, "Lo pikir Gue nggak tau rumor tentang Lo?" Astrid menggeram tak takut, merasa dirinya sudah sempurna, tak pernah melakukan kesalahan. Dia tau Fahri hanya menggertaknya saja. "Aku akan aduin perbuatan kalian ke Om Gibran dan Bang Fahmi!" "Silakan! Lalu kami akan langsung dinikahkan. Dan saat itu terjadi, Gue sangat berterima kasih sama Lo!" Astrid menghentakkan kaki. "Pokoknya kamu harus jadi milikku Fahri!" "Keluar dari sini!" tunjuk Fahri ke arah pintu. Astrid yang keras kepala mencoba maju, "Kamu...." "KELUAR!!" Teriakan Fahri menggelegar bersamaan bunyi hantaman kursi yang dia tendang. Astrid kaget dan sekaligus gentar. Belum pernah melihat Fahri semarah ini. Begitupun dengan Aulia yang langsung mundur menjauh. Aldo dan dua temannya sampai jatuh dari persembunyiannya di dekat pintu. Beruntung sudah tidak ada pelanggan. Dengan kesal Astrid memundurkan langkah. Menatap sinis pada dua orang manusia yang pasti akan dia balas. 'Brakk' Gadis itu membanting pintu. Fahri hela nafas lalu teringat untuk memberi perintah. "Aldo!" teriaknya. Buru-buru lelaki kurus kepercayaan Fahri itu datang. "Y ya Bos?" Sambil berkacak pinggang, Fahri masih terbawa emosi. "Lain kali jangan biarkan cewek itu masuk seenaknya ke tempat ini!" "Si siap, Bos!" sahut Aldo sambil memberi sikap hormat. Pegawai Fahri itu kemudian mundur teratur dan menutup pintu pelan-pelan. Fahri tarik nafas, berbalik untuk menemukan kondisi Aulia yang menyedihkan. Terpojok, merasa bersalah, takut, dan malu. Fahri maju berniat meraih gadisnya dalam pelukan. Namun Aulia mundur tak ingin disentuh. Satu kalimat yang keluar dari bibir si cantik setelah sekian menit berlalu. "Antar Gue pulang!" Fahri raup rambutnya lalu menggeram, "Astrid sialan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN