14. Rahasia

1458 Kata
"Enak jilat ludah sendiri, Ri?" Akhirnya Dika punya kesempatan mencerca sahabat yang akhir-akhir ini terlihat sangat sibuk. Entah angin apa, Fahri hari ini ditemukan dalam keadaan melamun di kelas usai perkuliahan selesai. Fahri tengok sebentar muka Dika yang pasang tampang mengejek itu, tak berniat menyahut. Pikirannya berputar-putar tentang Aulia saja. Sejak kejadian di bengkel waktu itu hingga sekarang, Fahri belum melihat lagi wajah sang pujaan hati. Di rumah, Aulia hampir tidak keluar kamar, tidak ikut sarapan apalagi makan malam. Atau yang paling sering Aulia bersembunyi di kamar bayi Bian. Ayah Gibran sedang dinas di luar kota dengan Mama Rita yang setia menemani. Tambah-tambahlah tak ada yang bisa menarik Aulia untuk kumpul keluarga seperti biasa. Di kampus Aulia juga pandai sekali menghilang. Begitu perkuliahan usai entah bagaimana gadis itu sudah pergi dari ruangan. Akun sosmed, nomor kontak Fahri diblokir. Intinya, Aulia menghindari Fahri... lagi. Fahri frustasi. Fahri marah. Fahri... rindu. "Muka Lo kayak duit seribu lecek, Ri!" merasa tak ditanggapi, Dika bersuara lagi. Fahri hanya berdecak. "Eh, itu Aul!" tunjuk Dika dengan meyakinkan ke arah luar kelas. Barulah Fahri bereaksi bahkan sampai berdiri dan memutar badan hingga seratus delapan puluh derajat. Dika terpingkal-pingkal. Sudah tahu penyebab galau sang sahabat. "Taik!" Fahri kesal menoyor kepala Dika. Membereskan tasnya lalu beranjak dari kelas. Kali ini Fahri coba peruntungan untuk pulang, mana tahu Aulia sudah di rumah. Akan dia tunggui si gadis di depan pintu kamarnya sekalian. "Hubungan Lo sama Aul gimana si, Ri?" kali ini Dika serius. Fahri lirik sekilas, "Baik." "Kalau baik, Lo nggak mungkin uring-uringan gini. Dia nolak Lo?" Fahri melotot tidak terima. Aulianya masih suka Fahri, dia yakin seratus persen. Semua karena si kampret Astrid. "Lo nggak boleh maksa mau Lo sama dia, Ri. Aul udah punya cowok. Lo juga ada Astrid. Gentle jadi cowok!" "Jan sok tau deh Lo!" hardik Fahri. Dia menghadap Dika menatap lawan bicara sungguh-sungguh. "Gue sama Astrid nggak pernah pacaran kaya Lo sama Wina. Dia aja yang ngaku-ngaku. Gue diam karena nggak enak dia ponakan Kak Sarah. Astrid udah terlalu ikut campur urusan pribadi Gue. Jadi mulai sekarang Gue nggak akan diam lagi. Dan Aul... dia masih.suka.Gue!" katanya penuh penekanan di akhir. Iya, Fahri yakin dia masih pemilik hati gadis itu, terbukti dari ciumannya yang berbalas kemarin. Ah, Fahri jadi tambah rindu kan. "Alah, cowok labil. Jan pura-pura Lo sama Gue. selama ini Gue liat Lo seneng-seneng aja kalo jalan sama Astrid. Karena sikap Lo begitu, bikin dia berharap. Dan baru sejak Aul dateng Lo berubah. Dulu Lo jelek-jelekin sepupu Lo itu, sekarang dia udah gede tambah cantik Lo pepet. Apa namanya kalau bukan munafik?" Fahri tersinggung, dia raih kerah baju Dika dan bicara dengan menahan emosi. "Jangan ikut campur urusan Gue. Terserah Gue kalo mutusin ngejar Aul sekarang. Karena faktanya mau Gue bohongin diri sendiri, Gue tetap suka Aul. Dulu atau sekarang!" Dika terbahak. Akhirnya Fahri mendeklarasikan perasaannya yang sudah sejak lama dia pendam. Dika kenal Fahri, tau kalau sahabatnya itu punya watak keras kepala. Dika tahu, tidak mudah bagi Fahri mengakui perasaannya, mengingat ego Fahri yang setinggi gunung Meratus. Fahri lepas cengkraman, bingung dengan perubahan sikap Dika yang begitu cepat. "Kembali ke pertanyaan awal Gue. Enak jilat ludah sendiri?" "Sialan Lo!" Fahri dorong bahu Dika yang puas menertawakannya. Bodo amat, yang Fahri pedulikan sekarang hanya Aulia. Fahri teruskan melangkah, tujuannya adalah parkiran. Menunggu sang kekasih tepat di depan pintu kamarnya benar akan dia jabani walaupun semalaman. Baru duduk di atas motor, ponsel Fahri bergetar. Buru-buru dia buka dan lagi-lagi kecewa karena bukan Aulia yang mengirimi pesan. Melainkan Astrid yang pesannya tak pernah dia balas lagi. Niat hati mau blokir kontak gadis itu, tapi salah fokus dengan gambar yang barusan di kirimkan gadis itu. Fahri cengkeram kuat ponselnya melihat foto yang diambil dari jarak dekat. Ada Aulia dan Dante yang sedang berciuman seperti di sebuah bilik karaoke. Ada beberapa botol alkohol kosong di tengah-tengah meja. Lalu ada tulisan Astrid yang menyertai di bawah gambar, "Ini sepupu yang kamu suka, Ri? Ternyata murahan juga selera kamu." *** Dante sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Matanya merah, perutnya seperti di aduk-aduk. Sebentar lagi sepertinya dia kembali akan memuntahkan isi perut untuk yang kedua kalinya. Dua LC yang menemani sudah kabur tunggang langgang sejak dia muntah pertama kalinya ke tubuh para gadis. Keributan kecil itulah yang menyita perhatian seorang gadis yang juga sedang patah hati di sana, Astrid. Gadis itu tidak salah mengenali pria yang pernah memukuli Fahri di kampus kala itu. Apalagi sekarang, pemuda setengah sadar itu sedang mengigau sebuah nama yang sangat ia benci, Aulia. Astrid duduk tenang memperhatikan Dante yang meracau sambil melipat tangan di d**a. Menatap lurus sambil tersenyum miring mendapat sebuah ide ketika matanya menangkap pergerakan Dante yang terpatah-patah coba menghubungi seseorang di ponselnya. "Aul... sayang... jangan putusin Aku hiks hiks," isak cowok malang itu. Lalu tiba-tiba ponsel itu kemudian Dante lempar asal, "Cewek murahan!" katanya lagi berteriak kesal lalu batuk-batuk dan minum lagi. Entah sudah berapa banyak alkohol yang masuk lambungnya. Astrid ambil ponsel itu dan tanpa berpikir lagi menghubungi kontak Aulia melalui video call. Tangkapan layar hanya di arahkan pada Dante yang sudah sekarat. Panggilan terjawab pada dering ketiga, "Bang Dante!" teriak Aulia dari seberang telpon. "Aul?" Dante hanya mampu bersuara tak mampu lagi membuka mata. "Sayangku hiks hiks..." Astrid matikan panggilan video itu, lalu mengirimkan titik lokasi melalui pesan. Dia lempar lagi ponsel Dante dan duduk dengan tenang menunggu sasaran. Benar saja, tak sampai setengah jam, Aulia datang dengan terburu-buru dan langsung menghampiri Dante. Bau yang tidak enak langsung menusuk hidung si gadis, tapi dia hiraukan. "Bang Dante, Lo nggak apa-apa?" Aulia langsung duduk di samping Dante dan menepuk-nepuk pipi lelaki tampan itu untuk menyadarkannya. "Sayang?" Dante yang setengah sadar tertawa cerah. Lalu memeluk Aulia seerat-eratnya. Takut sekali kehilangan kesayangannya. "Kamu jan putusin Aku hiks hiks... Kamu jan milih Fahri ya ya hiks," racau Dante sambil memegang wajah sang gadis. Bahkan dengan berani dia sempat mencium bibir sang gadis yang langsung di dorong hingga tubuhnya kembali terhuyung. Aulia tidak suka bau asam bercampur alkohol dari mulut Dante. Astrid yang tidak disadari keberadaannya oleh Aulia menggunakan kesempatan itu untuk memotret kedekatan Aulia dan Dante. Lalu dengan senyum kemenangan mengirimnya pada kontrak Fahri. Tak lupa menambah kalimat dengan bumbu-bumbu racun di dalamnya. Tempat ini tak ramah, juga waktu yang semakin larut, Aulia mencoba mengangkat tubuh Dante berniat membawa si lelaki pulang. Namun, hingga percobaan ketiga pun tubuhnya selalu limbung karena berat badan Dante tak sebanding dengannya. Aulia coba menghubungi Reva, mencari bala bantuan. Barulah setelah itu dia menyadari sosok lain yang ada di sana, seperti menonton pertunjukan dengan tenang. "Kak Astrid?" Aulia bingung dan bertanya-tanya bagaimana bisa Dante bersama dengan Astrid dibilik yang remang ini. Astrid menyeringai, "Puas kamu hancurin hidup orang?" "Maksud Kakak apa?" Aulia tak terima. "Kamu rebut Fahri dari Saya! Kamu buang cowok ini kayak sampah setelah dapat Fahri? Ck ck ck," Astrid geleng kepala dengan tatapan yang begitu merendahkan. "Terserah Kak Astrid mikir apa, yang jelas Gue nggak begitu!" Tak terima direndahkan, Aulia juga melawan. Astrid mencemooh, "Fahri itu nggak serius, dia cuma manfaatin kamu. Setelah dia puas dan dapat yang dia mau, Fahri pasti buang kamu!" "Fahri? Oh Fahri anjing... Ehe..." Dante tertawa mendengar nama itu setelah diucapkan berkali-kali. "Ada satu rahasia, ssttt jan kasih tau Aul tapi ya hiks," ibu jari Dante terulur di bibir Aulia. Pemuda mabuk itu semakin meracau namun ada yang pernah berkata, ucapan yang keluar dari bibirnya adalah yang paling jujur dibanding saat sadarnya. Aulia dan Astrid menjeda pertengkaran mereka, menunggu Dante selesai bicara. "Kata Papa hiks Aulia itu... bukan anak kandung Om Gilang hiks." Pegangan di tubuh Dante terlepas. Suara berisik di sekitar seolah berdengung. Aulia syok setengah mati mendengar perkataan laki-laki yang masih cowoknya itu. "Fahri dan Aul itu bukan sepupu kandung, Ehe..." Dante tertawa-tawa. "Maksud Bang Dante apa?!" Aulia mengguncang-guncang tubuh lemah Dante yang seperti tak bertulang. Tapi nampaknya pemuda itu sudah tidak sanggup lagi menahan kesadarannya. Dia rebah dan mendengkur di sofa seperti bayi yang tak berdosa. Bukan hanya Aulia, Astrid pun tak kalah terkejut mendengar kenyataan itu. Artinya jika Fahri bersikeras ingin bersama Aulia, tidak ada larangan terkait norma. Dan kemungkinan besar Fahri juga sudah tahu status Aulia yang sebenarnya. Makanya laki-laki itu gencar mendekati Aulia. "Nggak mungkin," lirih Aulia. Mengingat betapa manjanya dia dan bagaimana seluruh keluarga memperlakukannya, akal sehat gadis itu menolak keras. "Ul, Bang Dante kenapa?!" itu Reva yang datang-datang langsung histeris melihat Abang kandungnya tergeletak di sofa. Mabuk bukan kebiasaan Dante. Aulia seperti tuli. Segala racauan yang keluar dari mulut Reva tak ada yang sangkut di telinganya yang seperti berdenging. Bersama Reva menyeret tubuh berat Dante, tatapan Aulia kosong. Berjalan tertatih menuju pintu keluar, Aulia masih sempat mendengar teriakan Astrid yang mengiris hati mungilnya. "Aulia!" Aulia berhenti sebentar, namun tak menoleh. "Karena kamu cuma anak pungut, tolong sadar diri!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN