Dengan kaki gemetar Aulia sampai di rumah. Niat hati ingin memastikan langsung perihal status diri sendiri yang anak pungut tapi seketika Aulia ragu. Memang kenapa kalau dia hanya anak pungut?
Toh, sikap keluarga tidak akan berubah, tetap sayang Aulia selamanya. Dia yakin semua orang pasti sudah tau kecuali dirinya. Tapi kenapa harus rahasia?
Baru sekarang Aulia sadar, jika dilihat dari fisik saja, dia berbeda dengan mereka. Aulia putih, dalam artian putih yang bukan kulit orang Indonesia kebanyakan. Rambut sedikit merah, juga warna mata yang lebih gelap dari keluarganya. Jika dilihat sisi Gilang atau Inge, tak ada satu bagian pun yang diwarisi.
Bukannya Aulia tidak berterima kasih sudah dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Bukan pula dia tak tahu diri, tapi entah kenapa hatinya...kecewa.
Langkah Aulia terhenti sebelum kakinya melangkah lebih jauh ke rumah Abang sepupu kesayangan. Dilihatnya, Fahmi sedang tertawa bahagia bersama Sarah sambil menimang bayi mungil mereka di halaman belakang. Sesekali Fahmi mencium gemas istrinya bergantian dengan bayi di pangkuan. Aulia hela nafas, tidak mungkin merusak momen itu.
Kalimat beracun yang sempat dimuntahkan Astrid 'Karena kamu cuma anak pungut, tolong sadar diri!' cukup membuatnya goyah. Begitu berisik di kepala sekaligus sakitnya hingga ulu hati.
Aulia menyeret kakinya ke kamar. Langkahnya berhenti di depan kamar sepupu satu lagi yang beberapa waktu belakangan mati-matian dia hindari. Haruskah dia bertanya pada Fahri tentang keresahannya?
Aulia hela nafas lagi. Melangkah ragu mendekati pintu yang ditempeli stiker moto GP, si gadis ketuk pelan. Tak ada sahutan, lalu coba lagi ketuk kuat-kuat, kosong. Kamar itu tak berpenghuni.
Aulia dudukan diri di sofa sambil menunggu Fahri, lama merenung. Perut sudah keroncongan, yang ditunggu tak kunjung kelihatan lubang hidungnya. Menengok jam yang sudah lewat pukul sebelas malam. Aulia keluarkan ponsel coba hubungi Mama atau Papanya. Tapi sekali lagi dirinya ragu, takut membuat orang tuanya khawatir.
Namun, berdiam diri di rumah, Aulia yakin dia tak akan mampu tidur sebelum memastikan kebenaran omongan orang mabuk. Menguatkan tekad, Aulia berdiri lalu melangkah menuju satu tempat.
***
"Pulang dah Lo bedua!" usir Fahri pada Dika dan Aldo.
Usai mendapat kiriman foto mesra Aulia dan Dante, Fahri putuskan tak pulang ke rumah. Dia butuh waktu untuk meredam emosi juga berpikir. Tempat bersemayamnya adalah bengkel.
Eh, si kampret Dika tau-tau nongol dengan alasan lagi suntuk, gara-gara Wina lagi 'Girls Time' sama besti-bestinya.
Di tambah lagi si Aldo, yang galau habis putus setelah satu tahun pacaran sama ceweknya yang beda kota. "Elah, timbang pacaran LDRan doang Lo sampe mabok, Do!" sinis Fahri sambil melirik botol-botol bir yang berserak di lantai.
Ini sudah lewat jam kerja, jadi Fahri bisa lebih santai dengan karyawan sendiri. Walau sebenarnya di jam kerja saja, Fahri juga santai-santai saja, hanya kadang Aldo dan dua karyawan lainnya, tak enak hati, tak mau juga di sebut ngelunjak.
Sudah biasa bengkel Fahri ini sesekali di jaga secara bergantian. Walau tutup, tetap ada orang di dalamnya mengingat barang berharga tak murah yang tersimpan di bengkel dan showroom. Ada kamar lengkap dengan perabotan di samping ruangan Fahri. Malam ini giliran Aldo yang jaga bengkel.
"Gue udah habis banyak ini, Bos. Kirim buat beli skincare dia, beli paket data lah, buat jajan, eh baru sekali nggak di kasih minta putus!" cerita Aldo miris. Pemuda itu memijit kepalanya yang berdenyut.
"Ya bagus lah," sambar Dika. "Kalau diterusin bakal boncos Lo!"
Fahri tepuk bahu Aldo, "Kalau Lo butuh duit, bilang sama Gue, Do. Jan Lo simpen sendiri."
"Wiss, baek Bos Lo, Do! Porotin dah, sebelum dia berubah pikiran!" Dika turun naikkan alisnya.
"Diem Lo, kaleng rombeng!" lempar Fahri dengan botol bir kosong.
Aldo hanya menggeleng, kepalanya sudah sangat berat, walau dia belum benar-benar mabuk. Tapi tubuh yang tidak biasa minum alkohol itu sudah lemah tak berdaya, lalu dia tidur dengan damai di lantai.
Nah, satu lagi biang kerok. Diam-diam ternyata Dika ikut meminum bir yang masih banyak tersisa itu. Awalnya Fahri bodo amat, pikirannya masih bercabang ke sepupu cantik yang mampu membuatnya egois.
Iya, Fahri sangat sadar dia egois. Merebut Aulia dari Dante yang adem ayem pacaran seharusnya bukan gaya Fahri. Tapi mau bagaimana lagi, itu Eleanora Aulia. Sepupu yang selalu dia jaga sejak kecil dan diam-diam juga dia sukai. Walau sebelumnya mati-matian dia mengelak.
Fahri hisap dalam rokok yang ada diapitan jarinya, sampai suara 'Hoek' membangunkan Fahri ke dunia nyata.
"Anjing, jan muntah di sini Lo!"
Fahri berdiri menarik-narik kerah baju Dika yang malah rebah di atas muntahnya sendiri. Iyyack! Fahri menyerah, biar Wina yang urus pacar gabutnya ini.
Hanya setengah jam berselang setelah pesan di kirimkan, Wina datang. Mukanya sudah ditekuk masam. "Kok Lo biarin dia mabok si, Ri!" protes gadis berambut sebahu itu.
"Bukan Gue yang ngajak minum. Laki Lo noh sok-sok'an minum padahal cupu! Angkut pulang sono!" usir Fahri ketus. Punya teman malah merepotkan.
Fahri dan Wina sama-sama jijik, alhasil Dika dibawa pulang dalam keadaan shirtless karena kaos yang dipakai sudah kena muntah. Bahkan kaca mobil Wina dibiarkan terbuka agar bau-bau busuk tidak tercium.
Cukup lelah mengurus orang mabuk, Fahri kembali dengan keringat di pelipis. Dia hela nafas melihat Aldo yang sudah tidur pulas di lantai. Satu lagi yang perlu di tarik-tarik ke tempat tidur. Bukannya menghilangkan stres malah nambah-nambah beban Fahri menggerutu.
Haus. Fahri lirik satu kaleng bir yang tersisa. "Hah! sikat aja lah," gumam Fahri, toh mungkin dia juga perlu untuk melupakan masalahnya sebentar.
Minum baru seperempat Fahri sudah merasa kepanasan. Maklum, Fahri sama saja dengan Aldo yang tidak biasa dengan alkohol. Rasa pahit yang lewat di tenggorokan nyatanya cukup memberi efek pusing.
Tanggung, Fahri tenggak habis sisa bir di kaleng berharap dia pingsan setelahnya. Dia pijit pelipisnya lalu menyeret diri sendiri ke ruangan tempatnya beristirahat. Baru berdiri, suara lembut dari gadis cantik pujaan hati sudah menginterupsi.
"Bang Fahri..."
Fahri menoleh dan mata cantik itu bertemu tatap dengannya. Mereka sama-sama diam dalam beberapa menit. Sampai akhirnya Fahri maju lebih dulu. Tapi sial, gerakan maju itu diiringi dengan langkah mundur si gadis.
Aulia takut. Belum pernah melihat tatapan itu dari mata sepupunya. Marah, putus asa, cemburu juga rindu bercampur jadi satu di mata merah itu. Sekarang, Aulia menyesali keputusannya menyusul laki-laki yang sudah dua hari ini dia hindari.
Semakin dekat Fahri, semakin cepat Aulia ambil langkah mundur. Hampir saja dia tergelincir karena menginjak kaleng bir yang berserak, jika bukan karena tangan kokoh Fahri yang menahan pinggangnya.
"B bang Fahri," gugupnya.
Fahri diam saja. Matanya malah fokus pada bibir bawah Aulia yang digigit si empunya. Tangannya yang nakal menyentuh bibir lembut itu. Fahri mau lagi mencicip bilah manis yang membuatnya candu. Dia juga ingin menghapus jejak Dante di sana.
Aulia menoleh ke samping, tanda tidak bersedia. Fahri hela nafas. Cukup kecewa. "Kemana aja?" tanyanya serak.
"Gue kangen," katanya lagi sambil memeluk tubuh langsing itu dan meletakkan kepalanya yang sakit di bahu si cantik.
Si gadis bungkam. Mendadak banyak pertanyaan yang mau disuarakan tertahan di tenggorokan. "Lo nggak boleh sama Dante," racau Fahri. Efek alkohol yang dia telan nampaknya mulai menguasai.
"B bang, jan gini," pinta Aulia lemah. Tangannya ingin mendorong tubuh Fahri, tapi nyatanya malah meremat kaos pemuda itu.
"Kenapa, hmm?"
"K kita nggak mungkin bersatu, Bang Fahri. Banyak hati yang akan kita kecewain. Gue nggak mau bikin Mama, Papa, Om, Tante juga Nenek sedih."
Fahri mendengus, "Kenapa mereka harus sedih?"
"Kita sepupu kan, Bang?" tekan Aulia. Berharap bisa mendapat jawaban dari kebenaran statusnya.
Fahri malah terkekeh. "Kenapa kalau sepupu? Sepupu juga boleh nikah kan?"
Aulia menggeleng. Matanya merah mengingat rahasia yang dibongkar Dante. Entah kenapa melihat sikap dan kalimat Fahri seperti menegaskan kalau mereka memang tidak memiliki ikatan darah. "Jadi, kita emang bukan sepupu?" butiran itu jatuh di pipi putih si cantik.
'Karena kamu cuma anak pungut, tolong sadar diri!' Sial kalimat itu terus berulang-ulang di kepala.
Fahri mengangkat wajah dan tercenung melihat pujaan hati menangis. "Siapa yang bilang gitu?"
"Nggak penting siapa yang bilang. Gue cuma perlu denger kebenarannya dari orang terdekat Gue. Bener Gue cuma..."
Fahri bungkam bibir yang sesenggukan itu dengan jarinya. f**k! Ini yang Fahri takutkan. Aulia bersedih. Ini juga yang menjadi alasannya denial selama ini.
Antara perasaan cinta yang menggebu-gebu tapi juga takut kalau Aulia bersedih mengetahui fakta sebenarnya. Mati-matian Fahri lari dari perasaannya. Fahri baru punya keberanian karena melihat Aulia bersama Dante. Dia tidak rela. Fahri bisa gila jika melihat pujaan hatinya bersama laki-laki lain.
Fahri usap lembut air mata sang gadis dengan ibu jarinya, "Apapun kebenarannya, Lo harus tau kalau Gue sayang Lo, Dek!"
Aulia memejamkan mata. Sudah divalidasi kalau dia memang bukan anak kandung Papa Gilang dan Mama Inge. Aulia makin histeris. Bayangan akhir-akhir ini tentang kedua orang tuanya yang sering terlibat cekcok berputar lagi di ingatan. Aulia kah penyebabnya? Dia merasa semakin rendah diri.
Fahri benamkan wajah sang gadis di dadanya. Sambil mengusap lembut punggung bergetar Aulia, dia juga memberikan banyak kecupan di kepala si cantik.
Belum terlihat puas menangis, Fahri inisiatif gendong tubuh ringkih itu ke ruangannya dan pelan-pelan menidurkan di sofa. "Udah Dek. Jan nagis lagi. Apapun kenyataannya nggak akan merubah sayang Gue sama Lo. Begitu juga dengan Om Gilang dan Tante Inge juga semua keluarga," hibur Fahri lirih.
Aulia tidak menyahut, tangisnya sudah reda hanya menyisakan isak kecil di antara nafasnya. Fahri berdiri, niat mengambilkan air minum, tapi tangannya di tahan.
Kembali mata mereka saling tatap. "Sini aja," pinta si gadis serak.
"Lo nggak haus?"
Aulia menggeleng. Rasa haus kalah dengan rasa takut ditinggal sendirian. Fahri hela nafas, ambil posisi di belakang si gadis dan memeluk erat tubuh pujaan hati.
Mereka saling menempel di sofa yang sempit. Rasa pusing yang sempat mendera Fahri semakin bertambah karena hangatnya suhu tubuh yang dia peluk.
Sama-sama diam, sama-sama tidak bisa tidur, sama-sama terbawa suasana. Dengan kurang ajar tangan yang awalnya memeluk perut ramping Aulia beralih membelai halus ke dalam kaos panjang si gadis.
Aulia tahan nafas saat perlahan tapi pasti telapak tangan yang kasar naik menyentuh undakan sintal yang tumbuh dengan sempurna miliknya. Aulia gigit bibir bawahnya menahan suara yang ingin keluar.
Fahri balik tubuh itu agar menghadapnya, lalu tanpa aba-aba menyatukan bilah bibir ranum yang sejak tadi dia inginkan. Manis, lembut, kenyal dan.... candu.
Alkohol b*****t! Kutuk saja Fahri yang malah tambah birahi melihat Aulia berantakan di bawahnya. Dia kalah dengan akal sehatnya.
"Boleh?" tanyanya formalitas. Walau Aulia menggeleng, Fahri tetap akan menerkam mangsa yang sudah pasrah di bawah tubuhnya itu. Dan sialnya Aulia diam saja, mata cantiknya berkedip-kedip seperti memberi izin Fahri melakukan apa saja.
Fahri kembali mendekat dia ulang lagi ciuman manis mereka dengan intensitas yang semakin menuntut. Turun ke leher menikmati kulit halus nan wangi milik pujaan hati.
Kaos Aulia sudah di singkap. Gadis itu sadar sepenuhnya, setelah hari ini, dia bukan lagi gadis yang sama. Sofa yang mereka rebahi menjadi saksi keperawanannya di reguk oleh sepupu sendiri.
Jerit tertahan saat Fahri benar-benar memasukinya, "Sst, maaf, dek," bisik pria Aulia itu. Penuh kelembutan seolah dia barang yang rapuh. Bagaimana Aulia tidak jatuh semakin dalam pada pria tampan ini.
Aulia hanya mampu memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang membuatnya pening. Hujat saja dirinya yang murahan ini, yang begitu mudahnya kalah di hadapan cinta pertamanya dalam keadaan paling terpuruk pula.
Fahri yang menyatu dengan dirinya adalah puncak dari rasa yang dia tahan selama ini. Hujaman demi hujaman terus menggiring keduanya menuju nirwana.
Nafas keduanya berkejaran, keringat saling bertukar dan perasaan yang semakin terikat. Hingga tiba di puncak kenikmatan yang mereka reguk, sang jantan berucap teguh, "I love you, Aulia."