9.Merasa Kacau

1656 Kata
Faye sedang berendam air hangat di bathtub. Faye berendam dengan air hangat yang berbusa karena ia mencampurkan sabun cair beraroma terapi yang menenangkan. Berendam akan membuatnya lebih rileks. Entah kenapa, Faye rasanya mendapatkan apes ketika tidak sengaja bertemu kembali dengan Calista. Pertemuan dengan Calista kemarin tanpa sengaja di rumah sakit membuat ia mendapat undangan pesta ulang tahunnya. Dan malam ini mau tidak mau ia harus menghadiri acara perayaan pesta ulang tahun Calista. Tapi setelah Faye pikir-pikir, tanpa harus bertemu dengan Calista juga tetap akan menghadiri acara ulang tahunnya. Karena bagaimanapun Liam mengatakan jika ia adalah kekasihnya. Calista juga sangat senang saat Liam mengatakan Faye adalah kekasihnya. Saat kemarin bertemu di rumah sakit Calista menceritakan jika selama ini ia sedih dan terganggu dengan adanya kabar jika adiknya adalah seorang gay. Calista tidak mau jika Liam mendapat tuduhan seperti itu. Dan wajar saja saat Liam mengenalkan Faye adalah kekasihnya Calista terlihat sangat bahagia. Sebenarnya Faye ingin menyanggah jika dirinya bukan kekasih Liam. Namun saat bertemu Calista untuk bicara saja lidahnya terasa kelu. Faye menghela nafas lelah. Tapi cepat atau lambat ia harus menjelaskan yang sebenarnya dengan Calista. Mungkin ini terakhir kalinya ia akan berhubungan dengan Liam karena dua minggu lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Andre. Beberapa menit berlalu ketika merasa lebih rileks. Faye beranjak dari bathtub dan segera menyelesaikan mandinya. Tiga puluh menit lagi Liam akan menjemputnya dan pergi ke acara ulang tahun Calista. Setelah menyelesaikan mandinya Faye segera berdandan seperti biasa. Ia memakai off shoulder dress berwarna hitam yang menonjolkan bahu untuk tampil cantik dan seksi namun tidak berlebihan. Selesai merias wajahnya Faye segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. "Faye, kamu mau kemana?" Kinasih mengernyitkan dahinya sambil memandang Faye dari atas hingga ke bawah. "Kamu nggak capek habis pulang kerja mau pergi lagi?" tanya Kinasih. Faye meneguk salivanya. "Faye ada janji sama teman Ma." "Ya, sudah, jangan pulang larut malam karena besok kamu mau diajak tante Arumi untuk fitting baju pengantin." "Besok?" Faye memastikan. "Besok kamu liburkan?" Faye menganggukkan kepalanya kaku. "Faye pamit dulu ya Ma, udah ditunggu teman." Kemudian Faye segera pamit dengan Kinasih karena sudah ditunggu Liam di depan rumah. Faye sengaja menyuruh Liam untuk menunggu di mobil saja. Ia tidak mau Kinasih tahu jika dirinya pergi dengan Liam. "Tumben temannya nggak disuruh masuk dulu," gumam Kinasih sambil menatap kepergian Faye. *** Sungguh diluar dugaan Faye. Ia kira acara ulang tahun akan diadakan di rumah Liam. Tapi ternyata Faye salah, acara ulang tahun kakaknya diadakan di ballroom hotel mewah yang Faye ketahui adalah hotel bintang lima. Faye sampai berdecak kagum, konsep ulang tahun ini seperti di negeri dongeng. Dekorasi ditata cukup megah, langit-langit ruangan dihiasi dengan balon, bunga dan lampu kristal. Meja makan para tamu undangan ditutupi dengan taplak meja sutra, peralatan makan perak, dan bunga tulip halus dalam vas perak. Dari kejauhan ia melihat Calista dan dua perempuan kembar keponakan Liam. Tiba-tiba Liam menggandeng tangannya dan membuat Faye sontak terkejut. Faye menatap Liam dan mengerjapkan matanya. Liam yang melihat itu hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Faye ingat jika ia harus berpura-pura menjadi kekasih Liam. Faye dan Liam akhirnya berjalan bergandengan tangan memasuki ballroom mewah itu. Faye dan Liam berjalan berdampingan lalu menghampiri Calista. Sementara itu dari dalam Calista melihat dua orang yang sudah ditunggu kedatangannya. Senyum Calista pun terbit. "Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," celetuk Calista sambil tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya. Faye dan Calista cipika-cipiki. Samar-samar Faye mendengar bisik-bisik tamu lain yang dapat dipastikan jika mereka teman Calista. "Kak Massimo mana?" tanya Liam. Massimo merupakan suami bule Calista. Massimo berasal dari Italia. "Sedang berbincang dengan para tamu yang lain." Faye tersenyum canggung. Ia tidak mengenal siapa-siapa di pesta ini. Hanya Liam yang Faye kenal. Para tamu pesta ulang tahun Calista kebanyakan telah memiliki berkeluarga. Terlihat dari mereka yang membawa anak dan juga pasangannya. "Cieee, Liam bawa siapa tuh?" tanya salah satu teman Calista. "Ahh iya, aku sudah menebak kalian pasti akan tanya Liam bawa siapa. Seperti yang aku katakan kalau Liam itu bukan gay. Buktinya Liam datang dengan kekasihnya," ucap Calista dengan senyum sumringahnya. "Benar Liam gadis itu kekasih kamu?" tanya teman Calista yang satunya. Liam menganggukkan kepalanya mantap. "Iya, benar. Dan sebentar lagi kami akan menikah." Faye menganga tak percaya dengan apa yang baru saja Liam katakan. Faye hanya tertawa kecil menanggapi. Tak lama setelah perbincangan yang membuat Faye tidak nyaman. Acara pun akhirnya dimulai. Calista berjalan dengan anggunnya naik ke panggung. Disana Calista ditemani dengan suami dan anak-anaknya. Liam memilih duduk menemani Faye. Calista menebar senyum ke para tamu yang datang ke pesta ulang tahunnya. Sangat cantik dengan usianya yang tidak lagi muda dan telah memiliki dua orang anak. Calista bahkan terlihat masih gadis dan belum menikah. Calista mengenakan gaun biru yang cantik, dibagian atas kepalanya dihiasi mahkota layaknya putri di film Disney. Sementara itu Faye duduk termenung sambil menyaksikan jalannya acara. Sungguh beruntung hidup Calista. Di cintai pasangan dan dua perempuan kembar cantik yang berdiri di sampingnya. Faye tahu suaminya sangat mencintai Calista terlihat dari mata dan perlakuannya pada Calista. Faye hanya terpaku menatap pasangan bahagia di hadapannya. Faye ingin suatu saat nanti bisa merasakan apa yang Calista rasakan, dicintai oleh pasangan dan di kelilingi anak-anak yang lucu. Tapi semua itu tidak mungkin. Yang menikah karena cinta saja terkadang tidak bahagia. Apalagi yang menikah tanpa adanya cinta. Tanpa sadar air mata Faye menetes membasahi pipinya. Buru-buru ia hapus sebelum Liam yang ada di sampingnya melihat hal itu. Liam menepuk pundak Faye pelan. Sedari tadi Liam memandangi Faye. Dari Faye yang menatap panggung dengan tatapan yang entah tidak dapat Liam artikan, sampai tiba-tiba Faye meneteskan air matanya. "Kamu kenapa?" tanya Liam lembut. Faye menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, sepertinya mataku kemasukan debu." Liam kembali menatap panggung. Sesekali ia melirik Faye. Liam merasa bersalah dengan Faye. Seharusnya ia tidak kelewatan dengan memperkenalkan Faye adalah calon istrinya. Namun Liam merasa bosan dengan pertanyaan kapan dirinya akan menikah. Sampai tak sadar perkataan tersebut keluar dari bibirnya. Kemudian acara selanjutnya adalah tiup lilin dan potong kue. Kue ulang tahun itu sangat besar karena dibuat setinggi 6 tingkat. Setelah melewati jalannya acara sampai menyerahkan kado ke Calista. Acara ulang tahun akhirnya selesai. Kini Faye sedang perjalanan pulang diantar oleh Liam. Keheningan melanda mereka berdua. Biasanya Liam yang cerewet jika sedang berdua menjadi diam dan fokus menyetir. Faye hanya menatap luar kaca jendela mobil. Keduanya larut dalam pemikirannya masing-masing. Jalanan yang tidak terlalu macet membuat mereka tak sampai tiga puluh menit dalam perjalanan pulang. "Terima kasih Faye sudah mau menemaniku ke pesta ulang tahun kakakku," ucap Liam. Faye menganggukkan kepalanya pelan. "Terima kasih sudah mengantarku pulang dan-" Faye menghentikan ucapannya. "Dan apa Fay?" tanya Liam. "Tolong jauhi saya karena dua minggu lagi saya akan menikah!" ucap Faye. "Apa?" Liam membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Faye akan mengatakan hal itu. "Saya permisi." Faye segera melepas seat belt-nya berniat turun dari mobil namun tangan Liam menahannya. "Maksud kamu apa Fay?" "Maksud saya sudah jelas, dua minggu lagi saya akan menikah. Dan mungkin ini terakhir kalinya kita pergi bersama. Selebihnya hanya sebatas pekerjaan." Suara Faye terdengar sumbang. "Kamu mau menikah sama siapa Fay?" Liam menatap dalam Faye. "Ini sudah larut malam jadi biarkan saya masuk ke dalam," ucap Faye. "Maaf." Liam melepaskan tangan Faye dan membiarkan Faye turun dari mobilnya. Liam menatap kepergian Faye. Ia tersenyum getir. Kenyataan apalagi yang menampar dirinya. Jujur saja ia sudah nyaman dekat dengan Faye. Ia bahkan telah menaruh rasa lebih ke Faye. Selama ini Liam memang berusaha mendekati Faye. Dan saat ini juga ia merasa jantungnya seperti berhenti sedetik saat Faye memintanya untuk menjauh. Liam segera melajukan mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Liam membelokkan mobilnya ke sebuah bar. Ia memarkirkan mobilnya dan masuk ke Vroger Bar langganannya. Sebuah bar yang sudah sangat lama dibangun namun tidak banyak orang yang tahu karena tidak semua orang bisa sembarangan masuk. Vroger Bar ini sangat tertutup dan orang yang memasuki bar ini tidak boleh asal memotret. Vroger Bar ini sangat rahasia, terletak di bawah tanah di sebuah restaurant. Untuk dapat ke Vroger Bar harus menuruni tangga, dan akan menemui jalan buntu dengan pintu yang tertutup oleh rerumputan dan sebuah sekop, dan untuk mendapat izin masuk harus memencet bel di samping pintu. Bel di samping itu juga tertutup rerumputan. Jika orang yang tidak tahu ada sebuah bar mengira itu benar-benar jalan buntu. Vroger Bar memiliki konsep seperti sebuah bangunan kuno dengan sentuhan vintage. Liam yang merasa kacau, sengaja datang ke Vroger Bar ingin minum alkohol sebentar untuk menenangkan dirinya. Saat sampai di meja bartender ia melihat Andre. Teman sesama dokter tempatnya bekerja. Andre sedang duduk santai sambil menyesap cocktailnya. "Apa kabar Liam? Lama tak berjumpa," sapa bartender bernama Jeje. "Oh hai Je! Aku baik," ucap Liam. "Mau pesan apa?" "Seperti biasa." Liam duduk di kursi tinggi yang berada di meja bartender dan menimbulkan lirikan tak kentara dari Andre. "Sepertinya lelaki satu ini terganggu dengan kedatanganku," sindir Liam. Jeje terkekeh geli sambil meracik minumannya. "Ya, tentu saja. Dia sedang kacau karena dua minggu lagi akan menikah." "Wow, apa dia sangat bersemangat akan menikah sampai harus datang ke bar untuk menenangkan dirinya?" goda Liam. Andre berdecak kesal. Kemudian menyodorkan gelasnya ke Jeje. "Aku ingin nambah!" "Aku tidak melihat aura kebahagiaan calon pengantin," cibir Liam. Liam dan Andre sudah saling mengenal sejak lama. Mereka satu kelas saat SMA dulu. Liam juga tahu banyak tentang kehidupan Andre. Tapi setelah lulus SMA mereka berpisah karena Andre melanjutkan studinya keluar negeri. "Karena memang aku tidak menginginkan pernikahan ini." Tentu saja Liam terkejut dengan ucapan Andre. Andre pernah bercerita dengannya jika tahun ini akan melamar Lettysia, kekasih hatinya dari masa SMA. Bahkan Liam juga tahu banyak tentang hubungan mereka. Jeje hanya mengedikan bahunya saat Liam menatapnya meminta penjelasan. Liam memicingkan matanya. "Bukankah impianmu menikahi Lettysia?" tanya Liam. "Bukan dengan Lettysia, tapi aku dijodohkan dengan gadis lain," jawab Andre tenang namun terdengar dingin. "Gadis lain siapa?" cecar Liam. "Ahh, bahkan mulutku tidak sanggup untuk mengucapkan namanya," ucap Andre. Pada detik itu juga, Liam dan Jeje saling pandang dengan raut wajah kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN