Andre terbangun dalam keadaan shirtless di apartemen Lettysia. Andre menggeliat kemudian menyibakkan selimutnya.
"Kamu sudah bangun sayang," sapa Lettysia.
Lettysia sedang duduk di depan meja rias mengenakan kimono mandinya sambil mengeringkan rambut.
"Hmm ya," ucap Andre.
Lettysia melirik ke arah Andre sekilas yang sedang duduk di ranjang memunggunginya. Lettysia kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati Andre. Ia memeluk pria itu dari belakang.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Lettysia tepat ditelinga Andre.
Andre bergeming, tidak menjawab pertanyaan Lettysia.
Letty semakin mengeratkan pelukannya.
"Semalam kenapa tiba-tiba mengajakku pulang? Padahal kan kita belum makan," protes Lettysia.
"Tiba-tiba aku merindukan masakanmu."
"Aku mengenal kamu lama Andre, aku tidak memaksamu untuk bercerita sekarang."
"Kamu juga pasti tahu masalahku sekarang."
Lettysia melepaskan pelukannya. "Soal menikah dengan Faye aku sudah menyetujuinya, yang terpenting kamu jangan sampai jatuh cinta sama Faye."
"Mana mungkin aku jatuh cinta dengan gadis itu."
Andre mengelus rambut Lettysia pelan kemudian mengecup pipi Lettysia.
"Aku mau mandi, hari ini ada operasi," ucap Andre kemudian beranjak dari kasurnya.
Lettysia menatap punggung Andre yang semakin menjauh.
Bohong jika Lettysia tidak sakit hati, rasanya dunia benar-benar hancur. Hal yang diimpikan Lettysia untuk menikah dengan pujaan hatinya harus pupus begitu saja. Lettysia tersenyum getir. Air mata sudah mengalir deras membasahi pipi.
Teringat beberapa tahun silam saat dirinya duduk dibangku SMA. Ia merupakan adik kelas Andre pada saat itu.
Lettysia jatuh cinta pada Andre selain karena ketampanannya namun juga prestasi. Andre jago di bidang olahraga terutama basket. Saat sedang bermain basket di lapangan, Lettysia sering menonton dan bersorak-sorai menyemangati Andre.
Andre termasuk most wanted di sekolah. Banyak yang mengidolakan Andre pada saat itu. Tapi Andre tak pernah menanggapinya. Ia termasuk orang yang cuek dan dingin.
Kalau boleh jujur yang mendekati dulu adalah Lettysia. Ia juga yang memberanikan diri menyatakan cintanya ke Andre. Tanpa Lettysia sadari jika ternyata Andre juga menyukainya.
Sebenarnya tahun ini Andre ingin melamarnya, tapi semua itu hancur karena perjodohan yang Hendra lakukan dengan gadis itu.
"Aku tidak bisa diam saja," gumam Lettysia lalu menyeka air matanya.
***
Andre membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan elit. Ia kembali ke rumahnya. Andre baru saja menghidupkan ponselnya yang sengaja dimatikan semalam karena sedang tidak ingin diganggu. Dan benar saja banyak notifikasi terutama dari Arumi yang telah menelponnya lebih dari sepuluh kali.
Kemudian Andre masuk ke sebuah rumah mewah. Rumah dua lantai yang elegan dengan warna cream dan putih.
Saat memasuki rumah itu ia sudah disambut dengan tatapan tajam Hendra yang menunggunya pulang.
Tak menghiraukan tatapan tajam Hendra. Andre langsung berjalan melewati Hendra lalu menaiki anak tangga.
"Andre!" serunya.
Andre menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya. "Andre bukan anak kecil lagi Pa!"
"Papa hanya ingin kamu berhenti berhubungan dengan wanita itu! Kamu pikir Papa tidak tahu semalam kamu tidur dimana?" sentak Hendra.
Andre menuruni anak tangga kemudian mendekati Hendra.
"Andre mau tanya sama Papa, jika Papa yang ada di posisi Andre ap-"
"Jika Papa ada diposisi kamu, Papa akan memilih gadis itu!" potong Hendra.
"Kamu tahu kan kalau jantung Papa ini adalah milik Ayah gadis itu. Karena Ayah gadis itu Papa masih hidup sampai sekarang. Kalau Papa jadi kamu, Papa akan membalas budi dengan menikahi dan menjaga anaknya!"
Andre kembali menaiki anak tangga kemudian masuk ke kamarnya. Ia muak dengan drama keluarganya. Biasanya jika ia sedang bertengkar dengan Hendra. Ada Arsya, kakaknya yang selalu membela dan menenangkannya. Namun, Arsya telah meninggal sepuluh tahun silam.
Kepergian Arsya membawa luka bagi Andre. Ia kehilangan sosok kakak, teman, dan juga sahabat. Baginya Arsya adalah sosok yang sempurna, dan selalu mengerti dengan segala keinginannya.
Andre menutup pintu lalu mengambil foto yang tergeletak di atas nakas. Ia memandang foto dirinya dan Arsya saat masih kecil. Foto saat Arsya merangkul bahunya. Ia tersenyum gentir, andai saja jika Arsya masih ada. Ia tidak akan seperti ini. Walaupun Andre dekat dengan Arumi, namun ia kecewa karena Ibunya tidak pernah membelanya. Ia juga selalu menyuruhnya untuk menuruti semua perintah Hendra.
Dari dulu Andre selalu dikekang, ia bahkan sampai tak percaya dengan orang-orang disekitarnya. Keinginan Andre saat ini hanya ingin menikahi wanita yang dicintainya.
"Kak, dulu aku nggak mau jadi dokter, tapi aku harus tetap jadi dokter karena perintah Papa," ucap Andre sambil memandangi foto dirinya dan Arsya.
"Tapi kamu selalu meyakinkanku kalau jadi dokter nggak ada ruginya. Dan kamu benar, sekarang aku bisa membantu banyak orang."
"Aku tau, aku salah. Aku selalu berpikiran negatif tanpa mencari tahu sisi positifnya. Tapi kamu selalu membimbingku, selalu mengarahkanku. Bukan seperti mereka jika aku salah maka cacian dan makian yang mereka berikan."
Andre tersenyum kecut kemudian meletakkan kembali fotonya. Ia membuka lemari dan mengambil jas putih.
"Dan kamu juga nggak ada ruginya jika menikahi Faye."
Andre menoleh dan terkejut mendapati Arumi yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
Arumi masuk ke kamar lalu mendekati Andre. Ia mengelus bahu Andre pelan.
"Kamu memang sudah dewasa nak. Tapi kamu tetap masih anak kecil bagi Papa dan Mama," ucap Arumi.
Andre menganggukkan kepalanya. Kemudian ia masuk ke walk in closet mengganti pakaiannya lalu pamit untuk bekerja. Tadi saat di apartemen Lettysia, ia sudah mandi dan sarapan. Karena hari ini ada operasi Andre berangkat lebih awal.
Andre masuk ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya santai.
***
Faye baru saja mengambil pemeriksaan laboratorium rontgen di ruang radiologi. Pemeriksaan ini keluar untuk dibuatkan kesimpulan diagnosa. Hasil diagnosa ini nantinya menentukan pasien boleh pulang atau harus rawat inap.
Faye keluar dari ruang radiologi. Baru saja menutup pintu dan membalikkan badan namun ia dikejutkan dengan seseorang.
"Faye?!"
"Ternyata kamu seorang perawat disini?"
Beberapa detik berlalu sampai akhirnya Faye tersadar. Faye menelan salivanya.
"Iya, Kak. Saya perawat disini," ucap Faye.
"Ya ampun, ternyata selera Liam nggak berubah ya," ucap Calista terkekeh geli.
Calista baru saja dari toilet. Saat akan kembali ke ruang IGD ternyata ia melihat Faye. Kemudian Calista pun memastikannya.
Faye berusaha menetralisir degupan jantungnya. Ia masih terkejut bertemu dengan Calista.
"Kamu bawa apa itu?" tanya Calista.
"Pemeriksaan hasil rontgen."
"Kak Calista kenapa bisa ada disini?" tanya Faye.
"Becky tadi jatuh, terus tangannya cedera. Sekarang lagi diperiksa di ruang IGD," jelas Calista.
"Apa sudah ditangani?"
"Sudah, tadi baru ditangani sama suster."
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi," ucap Calista tersenyum.
"Fay, aku bersyukur banget ternyata kamu beneran kekasih Liam. Selama ini aku berpikir kalau Liam itu gay. Soalnya sampai sekarang usianya kepala tiga dia belum juga mau menikah," jelas Calista.
Faye hanya tertawa kecil menanggapi. Sungguh, ia bingung harus mengatakan apa. Semalam saat ia makan malam dengan Liam dan tak sengaja bertemu dengan kakak Liam. Akhirnya Liam mengatakan jika ia adalah kekasihnya. Tanpa Liam sadari jika ini akan berbuntut panjang.
Faye mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau begitu saya permisi, mau kembali ke ruang IGD," pamit Faye.
"Ya, sudah kalau gitu bareng aja, aku juga mau kembali ke ruang IGD karena Becky masih ditangani. Tadi aku baru saja dari toilet sebentar," ucap Calista.
Faye menganggukkan kepalanya kaku. Lagi dan lagi ia harus terjebak dengan situasi sulit seperti ini. Faye memejamkan matanya, lalu menarik nafasnya dalam-dalam menenangkan dirinya berharap semuanya akan baik-baik saja.
***
Andre baru saja keluar dari ruang operasi. Selama operasi, Andre harus memimpin tim dokter dan perawat lain untuk memastikan prosedur medis berjalan dengan lancar. Andre yang merupakan dokter spesialis bedah juga harus membuat keputusan penting tentang kesehatan dan keselamatan pasien.
Andre kemudian melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kerjanya. Ia melepas jasnya dan duduk di meja kerjanya.
Andre membuka sebotol air mineral lalu meneguknya hingga tandas.
Baru saja ia duduk santai, tiba-tiba telepon di meja kerjanya bunyi. Ia segera mengangkat dan ternyata Liam mengatakan ada pasien gawat darurat yang harus segera di operasi.
Andre segera memakai jasnya dan bergegas ke ruang IGD. Sesampainya di ruang IGD Andre segera memeriksa pasien. Dan benar saja ia harus melakukan operasi darurat karena pasien mengalami cegukan terus-menerus selama tujuh hari. Setelah diperiksa karena gangguan saluran pencernaan dan perut.
Tak menunggu lama Andre beserta tim medis yang lain segera melakukan operasi darurat.
Beberapa jam setelah operasi berhasil dilakukan Andre kembali lagi ke ruang kerjanya.
Sementara itu saat ini Faye sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Andre. Ia membawa laporan yang Xena titipkan untuk diberikan kepada Andre.
Sebelum masuk Faye mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Masuk!"
Suara tegas dari dalam terdengar, Faye memejamkan matanya sejenak lalu membuka pintu.
"Permisi."
"Saya mau memberikan laporan operasi," ucap Faye.
Kemudian Faye menyodorkan secarik kertas ke Andre, namun Andre menunjuk dengan dagunya untuk meletakkannya ke meja.
Faye pun akhirnya meletakkannya ke meja.
"Saya pamit keluar."
"Tunggu!" Satu suara dingin menghentikan langkahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Dok?" tanya Faye formal.
Andre beranjak dari duduknya kemudian mendekati Faye.
"Dua minggu lagi kita akan menikah. Persiapkan semuanya karena setelah menikah kamu akan tinggal bersama saya!" ucap Andre menatap Faye.