Faye meletakkan tasnya di loker. Karena hari ini ia berangkat terlalu pagi. Faye memutuskan untuk menceritakannya ke Sherly pembicaraan dengan para suster tadi.
Sherly menatap Faye sendu.
"Masalah kamu itu nggak jauh-jauh dari Liam atau Nora," keluh Sherly.
"Aku nggak tahu lagi harus gimana," gumam Faye.
Sherly lalu memegang bahu Faye. Kemudian menatap Faye dengan sorot mata dalam. "Kamu nggak perlu ngapa-ngapain, kalau misal memang benar. Lagipula itu bukan urusan mereka!"
Faye menganggukkan kepalanya lalu tersenyum hangat. Kemudian Faye memeluk Sherly. Teman semasa kecil yang selalu menemaninya saat suka maupun duka.
Mereka berdua segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju IGD. Faye dan Sherly memang mendapatkan tugas di ruangan IGD.
Kabar jika Faye adalah calon istri dokter Liam sudah sampai di telinga Nora. Dua hari ini Nora izin tidak masuk kerja. Hari ini ia kembali bekerja tapi dikejutkan dengan kabar yang membuatnya naik pitam.
Kabar tersebut membuat Nora sangat benci dengan Faye. Yang membuat Nora belum bisa move on dengan Liam karena mereka telah berpacaran satu tahun lamanya. Dalam waktu satu tahun itu juga mereka sudah saling memperkenalkan keluarganya masing-masing. Banyak waktu yang Nora habiskan dengan Liam. Namun, sekarang hanya tinggal kenangan.
Saat jam istirahat tiba Nora mencari keberadaan Faye. Tak dapat dipungkiri terlihat kemarahan di wajahnya.
Nora tersenyum miring. Tanpa harus bersusah payah mencarinya ia telah bertemu dengan Faye yang baru saja keluar dari toilet khusus karyawan.
Nora mendekati Faye sambil menyilangkan kedua tangannya didada. "Apa kau telah menurunkan harga dirimu sehingga Liam ingin menikahimu?"
Baru saja Faye merasa tenang tidak bertemu dengan Nora. Namun sekarang ia malah harus berhadapan kembali dengan Nora.
"Itu hanya salah paham!" tegas Faye.
"Tak perlu mengelak jalang. Kau pasti sudah tidur dengan Liam!"
"Maaf, saya disini untuk bekerja bukan mencari ribut!" ucap Faye.
Tanpa menunggu lama Faye langsung pergi meninggalkan Nora sebelum ia emosi seperti tempo hari.
Faye memijat keningnya. Tidak bisakah sehari saja Faye hidup tenang. Ada saja kesalahpahaman yang menimpa dirinya. Tapi untuk apa ia menjelaskan kembali karena pasti mereka yang telah membenci akan selalu membencinya walau yang Faye katakan adalah benar. Apalagi hari ini Liam tidak datang, ia izin karena ada keperluan pribadi. Yang bisa Faye lakukan hanyalah diam karena percuma juga ia menjelaskannya. Semua berada di pihak Nora. Lagipula kalau misal memang benar ia calon istri Liam juga bukan urusan mereka.
***
Faye baru saja mengoleskan make up ke wajahnya. Polesan make up yang minimalis dan tidak terlalu mencolok sangat khas di wajah Faye.
Malam ini ia akan pergi makan malam dengan Liam. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Faye segera membuka pintunya.
"Cantik banget anak Mama," puji Kinasih.
"Iya, dong Ma, siapa dulu Mamanya."
Kinasih terkekeh geli. "Kamu pulangnya jangan malam-malam ya!"
"Iya, Ma. Nanti Faye langsung pulang."
"Dan kamu harus ingat karena sebentar lagi menikah jadi Mama mohon kamu menjaga jarak pergi sama lelaki lain."
Faye menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Faye berangkat dulu ya," pamit Faye.
Kemudian Faye segera keluar dari rumah. Dari kejauhan ia melihat mobil yang tak asing. Mobil tersebut melaju lalu berhenti tepat di depan Faye.
Liam membuka kaca jendela mobilnya. "Kamu sudah siap?"
"Sudah."
"Kalau begitu ayo masuk!" seru Liam.
Faye segera masuk ke mobil Liam. Ia duduk di samping kemudi.
Tak sampai satu jam akhirnya mereka berdua sampai di restoran. Mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan memasuki restoran tersebut.
Saat melangkah masuk ke restoran Faye sampai berdecak kagum. Ia disambut dengan langit-langit dramatis tinggi yang dipenuhi dengan lampu kristal yang sekilas terlihat seperti kupu-kupu. Alunan live musik yang begitu menghibur membuat suasana begitu rileks.
Faye tersenyum memandangi mereka.
"Kamu suka?"
Suara Liam merebut perhatian Faye. Faye tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau pesan apa?" tawar Liam.
Faye mengambil buka menu kemudian memilih-milih makanan.
"Beef steak black pepper sauce," ucap Faye.
Kemudian Liam memanggil waiters dan segera memesan makanan.
"Fay, terima kasih ya sudah mau menerima ajakan untuk makan malam," ucap Liam tersenyum hangat.
"Iya, Liam. Tempatnya bagus ya, aku baru pertama kali ke tempat sebagus ini," puji Faye.
Sesuai permintaan Liam tempo hari, jika diluar pekerjaan tidak perlu bersikap formal.
"Benarkah? Tapi masih banyak yang lebih bagus dari ini. Hanya saja aku lebih memilih disini karena tak pernah kecewa dengan rasa makanannya."
Sambil menunggu makanannya datang mereka berdua pun berbincang-bincang. Dan hal yang bikin Faye tersenyum malu adalah saat Liam mengungkit jika dulu saat Liam meminta berkenalan Faye tidak seramah sekarang. Bahkan saat didekati Faye lebih memilih menjauh.
Pipi Faye bersemu semerah tomat. Memang benar apa yang dikatakan Liam. Padahal Liam mendekatinya untuk membahas tentang pekerjaan. Bukan karena apa, tapi saat itu Liam masih kekasih Nora. Dan Faye hanya mengantisipasi saja karena pernah mendengar gosip jika ada suster yang resign dari rumah sakit karena Nora. Suster tersebut dibenci oleh suster lain karena hasutan Nora yang mengatakan jika suster tersebut telah menggoda kekasihnya.
"Itu karena kamu masih kekasih Nora. Aku tidak mau terjadi salah paham," jelas Faye.
Namun sekarang saja sudah salah paham. Nora selalu menuduhnya menjadi orang ketiga diantara hubungannya dengan Liam. Padahal, hubungan Faye dan Liam hanya sebatas pekerjaan. Terlebih lagi tugas mereka yang sama-sama di ruangan IGD.
"Omong-omong soal Nora. Apa benar kalian berdua kemarin bertengkar?"
Kemudian Faye memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Liam.
Liam menghela nafas, kemudian memijat keningnya. "Kenapa sekarang lebih parah," gumam Liam.
"Itu yang bikin saya muak dengan Nora dan memilih mengakhiri hubungan dengannya. Saat menjadi kekasihnya, Nora selalu mengekang. Dia juga tipe pencemburu akut," jelas Liam.
Saat ini Faye mengerti, ternyata pokok permasalahan ada pada diri Nora.
"Kalau boleh tahu memangnya benar dulu ada suster yang resign gara-gara ada masalah dengan Nora?" Faye memastikan.
"Iya, benar. Selain pencemburu akut Nora juga orang yang emosional. Berbeda denganku yang santai."
Faye mengangguk setuju dengan ucapan Liam. Pantas saja hubungannya tidak bertahan lama karena sikap mereka yang bertolak belakang.
Kemudian makanan datang, dengan segera mereka menyantapnya.
Saat sedang menikmati makan malamnya, tiba-tiba Liam mendengar seseorang yang memanggil namanya.
"Zio Iam!" serunya.
Liam menoleh ke sumber suara dan betapa terkejutnya dua keponakan kembarnya tepat berada disampingnya.
"Becky, Becca kalian sama siapa?" tanya Liam dengan dua perempuan imut bermata hazel yang sedang menatapnya.
"Liam!" Seorang wanita cantik datang menghampirinya.
"Kakak?"
"Zio Iam, Becky mau sama Zio!" Becky mendekati Liam dan menarik tangannya.
"Zio Iam ini punya Becca!" sentak Becca sambil tangannya berkacak pinggang.
Liam melirik ke arah Faye dan tersenyum canggung. "Mereka ponakanku," ucap Liam.
"Mereka memanggilku Zio karena dalam bahasa Italia artinya paman," ucapnya lagi.
"Liam, kamu sudah punya ganti kok nggak bilang sama kakak?" sahut kakak Liam yang bernama Calista.
Suasana tiba-tiba terasa canggung. Liam menelan salivanya kemudian tertawa kecil.
"Becky, Becca jangan bertengkar! Zio Iam itu punya kalian berdua," ucap Calista.
Kemudian Becky dan Becca pun terdiam.
"Siapa wanita ini?" tanya Calista dengan seringainya.
"Kak, kenalin ini namanya Faye, teman aku."
Kemudian Liam menoleh ke arah Faye. "Fay, ini kakak kandungku namanya Calista. Dua anak perempuan kembar ini namanya Becky dan Becca. Mereka adalah keponakanku," jelas Liam.
"Dia anak saya," ucap Calista menunjuk Becky dan Becca.
Kemudian Calista mengulurkan tangan kanannya berniat berkenalan dengan Faye.
"Kalian ini sepasang kekasih?" tanya Calista.
"Bukan," sanggah Faye.
"Tidak perlu ditutupi, terus ngapain kecan di tempat romantis kaya gini," ucap Calista.
Orang tua Liam sudah meninggal saat ia masih berkuliah. Keduanya mengalami kecelakaan di jalan tol karena sopir mereka lalai dan mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk. Saat ini Liam hanya memiliki satu orang kakak perempuan. Namun ia telah menikah dengan seorang pria bule asal Italia. Liam akhirnya tinggal di rumahnya sendirian. Kakaknya tinggal di Italia dan hanya pulang setiap satu bulan sekali ke Indonesia untuk memantau bisnisnya.
"Liam, kalau begitu jangan menunggu lama. Kamu itu sudah kepala tiga," goda Calista.
Sementara itu Andre baru saja memasuki restoran mewah tersebut bersama Lettysia. Dari kejauhan ia dikejutkan dengan dua orang yang dikenalnya. Mereka adalah Faye dan Liam.
Andre mengernyitkan dahinya. Faye dan Liam sedang makan malam bersama.
"Sayang, kita duduk disana ya," ucap Lettysia bergelayut manja di lengan Andre.
"Kamu kesana dulu, aku ke toilet sebentar."
Andre meninggalkan Lettysia lalu berjalan menuju toilet melewati meja yang ditempati oleh Faye dan Liam. Mereka tidak menyadari dengan keberadaan Andre.
Dan sedetik kemudian Andre terkejut karena mendengar arah pembicaraan mereka. Andre mengumpat dalam hati, tangannya mengepal, lalu tatapan matanya menggelap.