6.Calon Istri

1246 Kata
Faye hanya menatap nanar kepergian Andre. Kemudian ia berjalan lunglai menuju IGD. Sesampainya di IGD ia segera memberikan pertolongan pertama dengan para pasien. Faye lalu menggunakan sarung tangan ketika hendak melakukan pemasangan infus kepada pasien. "Suster cantik apa saya bisa sembuh?" tanya seorang pasien wanita paruh baya. "Tentu, anda tidak akan lama disini. Setelah mendapat penanganan pasti akan segera sembuh," ucap Faye tersenyum lembut. "Tapi nanti saya tidak bertemu suster cantik lagi," ucapnya sendu. "Kita bisa bertemu di lain kesempatan." "Apa suster cantik sudah menikah?" "Belum." "Kalau begitu menikah saja dengan anak saya. Nanti kita jadi sering bertemu." Faye hanya tertawa kecil menanggapi. "Maaf sebelumnya, tapi suster cantik ini calon istri saya." Suara Liam terdengar dari belakang Faye. Faye menoleh melihat kedatangan Liam. Raut kebingungan terlihat sangat jelas di wajah Faye. Namun, ia hanya tersenyum tipis menanggapi. Dalam hati Faye membenarkan ucapan Liam. Jika terus di respon maka pasien akan bertanya tentang hal pribadinya. Sebenarnya Faye juga maklum karena ini bukan pertama kalinya pasien menanyakan hal seperti ini. Kemudian pasien tersebut setelah mendapatkan penanganan dipindahkan ke ruang rawat inap oleh suster lain. "Maafkan saya suster Faye, maksud saya buk-" "Saya mengerti dokter Liam, bahkan saya berterima kasih karena sudah dibantu tadi," potong Faye. "Saya paling tidak suka jika ada pasien yang menanyakan tentang hal pribadi. Menurut saya itu topik yang sensitif," jelas Liam. "Sebenarnya saya juga maklum karena ini bukan pertama kalinya mendapatkan pertanyaan seperti itu." "Tidak apa-apa juga, tapi yang bikin kesal mau jodohin sama anaknya," gerutu Liam. Kemudian keduanya pun tertawa lepas. Dalam hati Faye merasa miris, entah kapan terakhir kali dirinya tertawa lepas seperti sekarang. Beberapa hari ini Faye selalu menangis. Ia berterima kasih dengan Liam karena telah sedikit menghiburnya. Ya, sedikit. "Suster Faye besok malam ada acara apa tidak?" tanya Liam. "Tidak ada." "Kalau tidak keberatan suster Faye mau tidak makan malam bersama saya?" Faye sedikit berpikir kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan Liam. "Boleh." "Kalau begitu besok malam saya jemput," ucap Liam tersenyum hangat. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Faye tidak langsung pulang. Ia mampir sebentar di taman kota. Taman dimana tempat terakhir kalinya bermain dengan Panji dan Kinasih. Saat ini ia sedang merindukan ayahnya. Ia butuh sosok ayah, ia juga butuh perlindungan. Namun yang bisa Faye lakukan adalah berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian Panji. Faye terduduk di bangku putih. Taman kota ini memiliki beberapa permainan seperti perosotan dan ayunan. Tidak ada yang berubah dari taman kota ini. Masih seperti yang dulu, hanya saja ada beberapa bunga baru yang ditanam. Suasana sore hari ini mengingatkan Faye dengan kenangan empat belas tahun silam. Bermain gelembung dan berlari-larian seperti apa yang saat ini dilihatnya. Taman kota ini tak pernah sepi, beberapa anak kecil selalu meramaikannya. Para orang tua juga sering mengajak anak bermain di taman kota ini karena suasananya yang menyatu dengan alam. Tak jarang juga guru mengajak para murid mengajar sekaligus bermain di taman ini. Faye menghela nafas, ia ingin seperti yang lain. Ia ingin menikah dengan seseorang yang mencintainya. Kemudian melahirkan buah hati dan bermain di taman kota ini bersama seperti waktu dirinya bermain dengan ayah dan ibunya. Sungguh impian kecil Faye bersama keluarga kecilnya yang entah dapat ia wujudkan atau tidak. Jangankan memikirkan itu, saat ini saja calon suaminya tidak memperbolehkan ia melibatkan hatinya. Faye tertawa miris dalam hati, ucapannya terlambat. Bahkan sebelum Andre mengatakan itu Faye telah jatuh cinta dengan Andre. Bukan soal ketampanan, tapi ia kagum saat Andre dengan cekatan menangani pasien dan tak pernah mengeluh ketika pasien banyak yang berdatangan. Apalagi saat ada pasien yang tidak mampu, Andre bahkan menyuruh pasien tersebut untuk tidak membayar pengobatannya di rumah sakit. Faye yakin, Andre tidak seburuk itu. Beberapa jam berlalu tak terasa jam menunjukkan pukul enam sore. Faye bergegas pulang kerumah. Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar dari taman lalu menyetop taxi. *** Malam hari ini Andre memutuskan pergi ke bar. Vroger Bar adalah tempat yang dikunjunginya saat ini. Andre kemudian mendatangi meja bartender. "Tequila." "Oke dude!" ucap bartender lelaki tersebut. Andre duduk di kursi bartender sambil menunggu racikan minuman yang dibuat oleh bartender. Andre datang ke bar bukan hanya untuk menikmati cocktailnya, melainkan dengan menikmati suasana bar. Pencahayaan yang minim, musik-musik sendu yang sangat tepat untuk melepas penat. Disini juga tidak sembarangan orang bisa masuk. Bartender Vroger Bar sampai akrab dengan Andre karena ia termasuk langganan dari saat masih sekolah menengah keatas. Andre juga sering menyempatkan waktu untuk mampir ke bar pada saat jalanan macet karena pulang kerja. Andre sangat menyukai Vroger Bar ini karena kebersihannya sangat terjaga. Menu cocktail dan mocktail juga banyak. Bahkan hampir semua Andre telah mencicipinya. Yang membuat tidak bosan karena bartender yang handal. Salah satu keseruan yang Andre sukai adalah duduk manis menyesap mocktail di meja bar sambil menyaksikan aksi bartender meracik minuman nya. Lagipula bartender Vroger Bar ini juga orang yang asyik diajak ngobrol. "Baru pulang kerja?" tanya bartender tersebut yang bernama Jeje sambil menyodorkan minumannya. Andre menganggukkan kepala kemudian menyesap minumannya. "Kemarin Letty kesini." "Ngapain?" "Biasalah minum, tapi tidak seperti biasanya. Dia terlihat sangat kacau. Kalian sedang tidak ada masalahkan?" tanya Jeje. Andre diam, ia tidak menjawab. Tentu saja Letty sangat kacau karena satu bulan lagi ia akan menikah dengan Faye. Faye, nama yang sangat ia benci. Impian Andre untuk menikahi Lettysia harus pupus begitu saja. Mau tidak mau ia harus menikahi gadis yang baru saja dikenalnya belum ada satu bulan ini. Andre memejamkan matanya, lalu meremas gelas kaca yang dipegangnya. Sudah Jeje duga jika Andre sedang ada masalah dengan Letty. Jeje yang menyaksikan kejadian itu hanya bergeming. Kemudian melayani pelanggan lain yang datang. *** Pagi yang cerah ini Faye melangkahkan kakinya sambil bersenandung ria masuk ke rumah sakit. Hari ini ia bangun lebih awal, jadi ia sampai di tempat kerja bisa dengan santai. Saat sampai di loker untuk meletakkan tasnya beberapa suster yang sudah datang tiba-tiba menatapnya sambil berbisik. Faye mengernyitkan dahinya, dalam benaknya mungkin karena ia kemarin ribut dengan Nora. Omong-omong soal Nora, setelah kejadian bertengkar kemarin Faye belum melihat Nora kembali. Tapi menurut Faye itu lebih baik daripada harus bertemu dan bertengkar kembali. Namun setelah kejadian kemarin, Faye akan lebih bersabar lagi. Ia tidak mau dicap buruk oleh Mario. Ia hanya ingin fokus untuk bekerja saja. Masalah karena tuduhan dari Nora akan diabaikan karena apa yang dikatakan tidak benar. "Fay, apa benar kamu calon istri dokter Liam?" tanya salah satu suster tersebut. Faye mengerjapkan matanya. Ia tidak mengerti apa maksud dari suster tersebut. Bukankah yang dijodohkan dengannya adalah Andre. Kenapa para suster malah menanyakan Liam. Tapi untuk perjodohan dengan Andre saja belum ada yang tahu selain keluarganya masing-masing. "Maksud kamu apa ya?" "Sudah nggak perlu pura-pura, kabarnya juga sudah menyebar," sahut suster satunya. "Aku nggak paham apa maksud kalian," ucap Faye. "Fay, kemarin aku dengar dari telinga aku sendiri dokter Liam itu bilang sama pasien kalau kamu itu calon istrinya," jelas suster tersebut. Faye memejamkan matanya. Kemudian memijat keningnya. Faye segera menampik kabar tersebut. "Itu cuma salah paham, dokter Liam mengatakan itu hanya ingin membantuku supaya tidak ditanya sama pasien tentang hal pribadi," ucap Faye. "Tidak perlu mengelak Faye, kita hanya bertanya saja," ucap suster tersebut. "Jadi gara-gara itu Nora sama kamu bertengkar? Pantas saja, setahuku Nora juga belum move on dari dokter Liam," ucap suster yang satunya. Ketika Faye ingin menjelaskan kembali para suster tersebut langsung keluar dari loker meninggalkan Faye. Sherly yang datang dari belakang pun refleks menjatuhkan tasnya karena terkejut mendengar pembicaraan Faye dan para suster tersebut. Faye tersentak dengan kedatangan Sherly, namun sebelum Sherly bertanya Faye segera menggelengkan kepalanya. "Sepertinya akan datang masalah lagi," lirih Faye.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN