5.Terpaksa Menerima

1277 Kata
"Dokter Andre?!" Tubuh Faye menegang, bibirnya terasa kelu, untuk menggerakkan bola matanya saja sangat susah. "Sepertinya kalian sudah saling kenal," sahut Hendra. Beberapa detik berlalu, tiba-tiba Andre mengulurkan tangan kanannya. Berniat menjabat tangan Faye. Andre tidak mengalihkan tatapannya dari Faye yang terkesiap dan tetap mematung di tempatnya. Faye kemudian berdiri dan membalas uluran tangan Andre. Kemudian Hendra mempersilahkan semuanya duduk. Andre duduk berhadapan dengan Faye. "Baiklah, jadi keluarga kami meminta bertemu karena ada hal penting yang harus dibicarakan," ucap Hendra. Faye menundukkan kepalanya sambil memilin-milin dress-nya. Pikiran Faye berkecamuk tak karuan, apakah benar jika Andre yang akan menikah dengannya? Lalu bagaimana dengan Lettysia? Bukankah mereka adalah sepasang kekasih. "Tapi sebelum membahas itu lebih baik kita makan malam dulu," ucapnya lagi. Lalu mereka segera memesan makanan. Beberapa menit kemudian makanan datang. Mereka segera menyantapnya. Faye yang tiba-tiba tidak nafsu makan hanya membolak-balikkan makanannya. Sementara itu Arumi dan Kinasih bercengkrama untuk mencairkan suasana. "Kinasih, kamu sudah menceritakan maksud pertemuan ini kan?" tanya Hendra mengawali pembicaraan setelah makan malam selesai. Kinasih menganggukkan kepalanya. "Faye juga sudah menyetujuinya." "Apa benar begitu Faye?" tanya Hendra tersenyum. Faye mendongakkan kepalanya, kemudian melemparkan pandangan pada Hendra. "Iya," lirih Faye. "Bagaimana dengan kamu Andre?" tanya Hendra. Andre menaikan satu alisnya. "Apa perlu ditanyakan? Dari dulu Andre harus menuruti semua perintah Papa kan?" Faye sontak terkejut, jawaban Andre diluar dugaan Faye. Faye menduga jika Andre terpaksa menerima perjodohan ini. Terlebih sedari tadi Andre menatapnya tajam seperti ingin memakannya. Beberapa kali juga mata mereka saling bertemu, namun Faye segara membuang tatapannya. "Lalu, kapan pernikahan ini akan dilangsungkan?" tanya Hendra. "Lebih baik secepatnya," ucap Kinasih. "Bagaimana jika satu bukan lagi?" sahut Arumi. "Ma!" Andre menyentaknya, membuat seisi ruangan menatap Andre yang seperti tersulut emosi. "Pernikahan itu bukan main-main dan kita juga belum saling kenal!" Faye meneguk salivanya, namun lagi-lagi Hendra menyela. "Kalian bisa saling mengenal jika sudah menikah." "Kenapa Papa sama Mama begitu yakin Andre menikah dengan gadis ini sedangkan Andre yang telah mengenal Lettysia lama tidak kalian restui?" Terlihat kemarahan walau dengan nada yang sangat tenang. "Andre!" Hendra sampai berdiri dari mejanya karena sangat emosi dengan ucapan Andre. "Jangan bahas wanita itu lagi!" sentak Hendra. Arumi memegang tangannya dan membuat Hendra kembali duduk. Faye sontak saja terkejut, air mata sudah di pelupuk mata. Berkedip sekali saja sudah membasahi pipinya, namun sebisa mungkin ia tahan. Suasana tiba-tiba terasa dingin. "Saya setuju jika satu bulan lagi, tapi semua keputusan kembali kepada mereka berdua," ucap Kinasih. "Apa kalian berdua setuju?" tanya Arumi. Mau tidak mau setelah perbincangan panjang akhirnya pernikahan akan diadakan satu bulan lagi. Tidak ada lamaran, hanya resepsi sederhana sesuai permintaan Andre dan dihadiri oleh beberapa orang saja. Malam semakin larut, acara pertemuan selesai. Faye dan Kinasih segera pulang. Dalam perjalanan pulang hanya keheningan melanda mereka. Tak satupun yang memulai pembicaraan. Semua larut oleh pikiran masing-masing. Kinasih masih berpikir positif jika Andre mengatakan itu menurutnya wajar karena mereka belum saling mengenal. Dan mungkin sampai tiba saatnya nanti mereka pasti akan saling mengerti dan menjaga satu sama lain. Setelah sampai Faye segera turun dari taxi dan masuk ke rumahnya. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Faye mengunci pintunya. Ia bersandar pada pintu. Faye tidak bisa menahan tangisnya lagi, tangisnya pun pecah begitu saja. Sejak mendengar jawaban ketus dari Andre hati Faye terasa teriris. Andre sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun dengannya. Hanya berjabat tangan selebihnya tidak ada yang dibicarakan. Bahkan mereka juga tidak saling bertukar kontak. Faye takut apa yang akan terjadi kedepannya, bagaimana jika tiba-tiba ia menikah dengan Andre yang notabenenya adalah kekasih Lettysia. Apa kata karyawan di rumah sakit nanti. Dan bagaimana reaksi Lettysia? *** Dering ponsel yang diletakkan di atas nakas terus berbunyi. Faye membuka matanya perlahan. Ia merenggangkan tubuhnya bersamaan dengan ketukan pintu kamarnya. "Nanti bisa terlambat Faye," ucap Kinasih masih sambil mengetuk pintu kamarnya. "Faye sudah bangun Ma!" Teriak Faye dari dalam kamar. Ketukan pintu itu pun berhenti. Namun tidak dengan bunyi ponsel milik Faye. Faye segera mengambilnya dan mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Sherly. "Gila ya! Udah jam berapa ini?" sentak Sherly dari seberang sana yang memekakkan telinga Faye. Faye langsung menutup teleponnya dan melirik jam weker di atas nakas yang telah menunjukkan pukul delapan pagi. Faye segera beranjak dari kasur dan membersihkan dirinya. Tak sempat berdandan dan sarapan. Ia langsung pamit dengan Kinasih karena sudah terlambat. Setelah keluar dari taxi, Faye segera bergegas masuk rumah sakit dan mengganti pakaiannya di ruang ganti. Tak sampai satu menit mengganti pakaiannya, Faye kemudian berlari menuju ruang IGD. Ia tersenyum kecil dengan Xena karena terlambat lagi. Xena hanya menggelengkan kepalanya melihat Faye yang terlambat. Tanpa menunggu lama Faye segera memeriksa para pasien. Jam makan siang pun tiba, Faye memutuskan makan siang di kantin bersama Sherly. Kantin langganan Faye terletak di dekat parkiran khusus dokter. Kantin itu berada di belakang dan kebanyakan pelanggannya para tenaga medis. "Jadi beneran kemarin kamu berantem sama Nora?" tanya Sherly menahan kekehannya. "Dia yang mulai dulu," kesal Faye. Tawa Sherly pun pecah, ia tidak bisa membayangkan wajah imut Faye yang marah-marah. Pasti akan terlihat sangat lucu di mata Sherly. Faye mencebikkan bibirnya. "Nggak lucu!" Temannya ini tidak pernah bisa jika diajak serius. "Ehh, mata kamu kok bengkak sih kaya habis nangis, jangan bilang nangis karena kalah sama Nora," ejek Sherly terbahak. Faye diam, ia hanya mengaduk-aduk pop ice di depannya. Tentu saja matanya bengkak, ia menangis semalaman setelah pulang dari tempat pertemuan. Faye baru bisa tidur jam empat pagi. Maka dari itu tak heran ia bangun kesiangan. Sherly yang melihat Faye diam saja akhirnya berhenti tertawa. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Faye. "Fay, kamu kenapa sih? Udah nggak perlu dipikirin. Nora emang gitu orangnya." "Bukan masalah Nora," lirih Faye. "Lalu?" Faye menatap kosong pandangan didepannya. "Satu bulan lagi aku akan menikah." "What?!" Sherly membelalakkan matanya. "Nggak usah bercanda!" Selama berteman dengan Faye, ia belum pernah dikenalkan dengan kekasihnya. Dan sekarang Faye mengatakan jika satu bulan lagi akan menikah. "Aku serius!" Kemudian Faye memutuskan untuk bercerita dengan Sherly. Faye tidak bisa memendam ini semua sendirian. Ia menceritakan dari awal hingga akhirnya harus menikah dengan Andre. Sherly menatap Faye sendu, sepertinya Faye dalam masalah besar karena pasti Lettysia tidak akan diam saja. Beberapa kali Sherly mendengar gosip dari sesama suster jika Lettysia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Seperti menghancurkan karir seseorang yang menurutnya mengganggu hidupnya. "Aku harus bagaimana?" gumam Faye. Sherly hanya bisa mengelus bahu Faye pelan berusaha menenangkan jika semuanya akan baik-baik saja. "Apa sama sekali tidak bisa dibatalkan?" tanya Sherly. Faye hanya menggelengkan kepalanya pelan. Satu jam sudah mereka duduk di kantin. Jam makan siang juga sudah habis. Mereka memutuskan untuk kembali bekerja. Faye baru saja mengantarkan pasien ke ruang ICU. Pasien yang baru saja diantar mengalami henti jantung. Beruntung, setelah dipompa jantungnya kembali berdetak walau keadaan pasien masih belum sadar. Faye kembali ke IGD yang harus melewati beberapa koridor di rumah sakit ini. Saat sampai lorong dekat taman dari kejauhan mata Faye menangkap dua orang yang sedang berjalan bersamaan. Kemudian Faye membalikkan badannya berniat untuk melewati lorong yang lain. Walau jauh mungkin lebih baik daripada berpapasan dengan Andre dan Lettysia. Faye dengan cepat berbalik arah dan berjalan sampai satu suara menghentikan langkahnya. "Tunggu!" Faye menoleh, ternyata Andre sudah berada tepat di belakangnya. Faye celingukan mencari dimana Lettysia berada. "Letty sudah masuk ke ruang radiologi." Ucapan Andre sontak membuat Faye terkejut karena seperti bisa membaca isi pikirannya. Faye meneguk salivanya. "Ada perlu apa dokter Andre?" "Siapa namamu?" tanyanya dingin. "Fa … aye," ucap Faye gugup. "Kamu tau kan saya masih kekasih Lettysia?" "Dan kamu juga tahu kan pernikahan ini semata-mata hanya untuk membalas budi?" Andre menatap dingin Faye. "Saya harap kamu tidak melibatkan hati!" ucap Andre kemudian berlalu meninggalkan Faye dengan segala kekalutan di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN