4.Tak Menyangka

1288 Kata
Faye baru saja mengantarkan pasien dari ruang IGD ke ruang rawat inap. Setelah mengantarkan pasien menggunakan brankar ia pun kembali ke ruang IGD. Ruangan rawat inap dengan IGD jaraknya cukup jauh, Faye harus melewati beberapa lorong yang ada di rumah sakit. Saat tiba di lorong yang sepi ia tersentak mendengar tepuk tangan seseorang. Faye menghentikan langkahnya, ia celingukan mencari suara itu. Tiba-tiba dari belakang Nora datang dengan seringainya. "Bagus," ucap Nora. Nora menghampiri Faye sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Enak ya, yang kemarin diantar pulang Liam," sindir Nora. Faye menghela nafas kesal. Ia membalikkan badan berniat untuk pergi namun sedetik kemudian ia tersentak karena Nora menarik tangannya. Ia hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Faye menghempaskan tangannya. "Sebenarnya apa maumu?" geram Faye. "Kau benar-benar tidak tahu diri! Bisa-bisanya masih bertanya apa mauku?" sentak Nora. Nora merupakan mantan kekasih Liam. Nora sangat membenci Faye karena ia sangat dekat dengan Liam. Nora menuduh Faye selalu menggoda Liam dan membuat Liam berubah lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya. Nora yang masih mencintai Liam tidak terima karena diputus sebelah pihak. "Harus berapa kali aku katakan jika tidak ada hubungan dengan dokter Liam selain tentang pekerjaan!" tegas Faye. "Mana ada jalang mau mengaku!" Faye langsung mendaratkan tamparan ke pipi kanan Nora. Kesabaran Faye sudah habis, ia tidak mau terus menerus di rendahkan oleh Nora. Nora memegangi pipinya yang memerah karena tamparan keras dari Faye, ia pun menatap nyalang Faye. Tak menunggu lama Nora lalu mendorong tubuh Faye. Faye pun tersungkur ke belakang. Keduanya pun terlibat perkelahian sengit. Seorang satpam yang baru saja dari toilet mendengar keributan dari lorong yang sepi. Satpam langsung memeriksa lorong tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat dua orang suster sedang berkelahi. Satpam tersebut langsung melerainya. "Kalian berdua ini apa-apaan?" Lerai satpam tersebut. Nafas Faye memburu, tangannya mengepal, ia menatap Nora tajam. "Pak satpam, jalang itu menamparku dulu," adu Nora. "Dia yang memulai Pak, dia selalu menuduh dan merendahkan harga diriku!" seru Faye. "Sudah-sudah tidak perlu bertengkar, kalau ada masalah bicarakan ini bersama dan selesaikan secara baik-baik!" ucap satpam tersebut. Keduanya tidak ada yang mengalah, bahkan saat melerai satpam pun terkena tonjokan dari Nora. Satpam masih berusaha melerai, namun mereka malah terlibat adu mulut. Satpam memutuskan meninggalkan mereka dan melaporkannya ke atasan. Saat ini Faye dan Nora sedang berada di ruangan direktur rumah sakit. Mereka berdua dipanggil oleh Mario karena terlibat perkelahian. "Sebenarnya saya tidak mau mengetahui apa permasalahan kalian berdua. Tapi saya menghimbau jangan bertengkar di rumah sakit ini. Masalah pribadi tidak seharusnya dibawa ke pekerjaan!" jelas Mario. Nora terisak, ia menundukkan kepalanya. "Saya hanya bertanya baik-baik tapi dia malah menampar saya Pak," adu Nora. Faye membuka mulutnya, ia terkejut dengan pernyataan Nora. "Bohong dia Pak, saya tidak mungkin menampar jika tidak ada sebab. Saya hanya membela diri saya karena terus menerus dituduh," ucap Faye. Nora makin terisak, ia menggelengkan kepalanya. "Saya tidak menuduh Pak, dia saja yang terlalu berlebihan menanggapinya," sergah Nora. Mario hanya diam menatap bawahan yang sedang beradu mulut mencari pembenaran. Mario menghela nafas. "Apapun itu saya kecewa dengan kalian berdua!" "Maafkan saya Pak, saya akui memang ini salah. Kedepannya saya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi," ucap Faye. Setelah mendapat teguran dari Mario. Faye dan Nora keluar dari ruang direktur. Faye segera bergegas menuju ruang IGD. "Dari mana saja kamu kenapa baru kembali sejak pagi tadi?" tanya Xena. "Maafkan saya suster Xena, saya baru saja dipanggil Pak Mario." "Ya, sudah, kamu bantuin saya. Tolong bawa pasien ini ke ruang bangsal," pinta Xena. *** Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Faye masih merasa kesal dengan Nora. Terlebih lagi ini pertama kalinya mendapat teguran dari Mario. Faye malu, namun ia tidak bisa diam saja dengan semua tuduhan Nora. Faye harus sekali-sekali memberikan pelajaran ke Nora. Dan yang membuat Faye muak karena akting Nora di depan Mario yang seolah-olah dirinya lah yang salah. Ia tidak boleh menyerah, apalagi sampai menangis di depannya, itu akan membuat Nora senang. Faye mengacak-acak rambutnya, akhir-akhir ini emosinya tidak stabil. Ia berpikir mungkin karena tekanan di tempat kerjanya yang terlalu berlebihan. Ahh tidak, Faye senang bekerja di rumah sakit Renjana Kasih. Apalagi ada Sherly, teman yang selalu setia menemaninya. Faye sedang memikirkan siapa lelaki yang akan menikah dengannya. Malam ini adalah malam pertemuan dengan lelaki itu. Faye menggigit telunjuknya, ia belum siap menerima kenyataan. Apalagi untuk menikah, di usianya yang sekarang ia belum mantap untuk ke jenjang yang lebih serius, apalagi dengan lelaki yang baru dikenalnya. "Mbak, sudah sampai." Faye tersentak dari lamunannya. Ternyata taxi yang ditumpangi sudah berada tepat di depan rumahnya. Faye segera membayar argo dan turun dari taxi. Kemudian memasuki rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia segera menuju ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Setelah keluar dari kamar mandi, Faye terkejut karena Kinasih sedang duduk di ranjangnya. Kinasih beranjak dari kasur dan menghampiri Faye. "Kamu sudah pulang nak, Ibu baru saja dari tetangga sebelah, anaknya meninggal karena kecelakaan." "Sudah Ma baru aja, terus sekalian Faye mandi." "Kamu nggak lupa kan malam ini?" Faye menggelengkan kepalanya. "Nggak Ma." Kinasih menatap wajah anak semata wayangnya sendu. Raut wajah Faye terlihat gelisah, matanya membengkak seperti habis menangis. Kinasih berpikir mungkin Faye belum siap untuk menikah, terlebih lagi dengan seseorang yang belum pernah dilihatnya. Kinasih merasa bersalah, ia seharusnya membiarkan Faye menemukan tambatan hatinya. Namun, Kinasih lebih menyetujui dengan perjodohan itu karena ia telah mengenal keluarga mereka lama. Yang terpenting untuk Kinasih mereka akan menjaga dan menganggap Faye seperti anaknya sendiri. *** Malam pun tiba, Faye menatap wajahnya di depan meja rias. Faye baru saja berdandan. Malam ini adalah malam dimana ia akan bertemu dengan lelaki yang dijodohkan dengannya. Tanpa berdandan saja Faye sudah cantik, namun malam ini ia ingin tampil lebih. Dengan mengenakan gaun dress pendek berwarna merah maroon, dan high heels senada, make up tipisnya serta rambut panjang light brown terurai yang di curly bagian bawahnya menambah daya tariknya. Apalagi bola mata ambernya yang menawan. Suara knop pintu terbuka membuat Faye tersentak. Faye menghela nafas, ia berusaha menetralisir degupan jantungnya. "Kamu sudah siap Faye?" Faye menganggukkan kepalanya. "Sudah Ma." "Kalau begitu ayo berangkat!" ajak Kinasih. Mereka segera berangkat naik taxi. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah di Jakarta tempat pertemuan itu berada. Faye sampai berdecak kagum dengan tempatnya. Faye berpikir mungkin mereka bukan orang sembarangan. Terbukti dari tempat yang mereka adakan untuk jadi tempat pertemuan. Restoran dengan interior yang terinspirasi oleh sejarah perdagangan rempah-rempah. Seorang pelayan datang menghampiri Faye dan Kinasih dan mengantarkannya ke sebuah ruangan yang Faye yakini adalah privat room. Faye sampe mengerjapkan matanya menatap ruangan yang telah di desain elegan dan khas untuk pertemuan intim dan acara pribadi. Kemudian Faye dan Kinasih pun duduk. Walaupun suhu di ruangan sejuk, namun tidak berlaku untuk Faye. Ia merasa suhu tubuhnya panas, keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajahnya. Kinasih yang melihat Faye resah pun mencoba menenangkannya. "Bagus ya ruangannya," celetuk Kinasih sambil matanya memandangi privat room tersebut. Faye hanya tersenyum tipis menanggapi. Baginya ia tidak peduli dengan ruangan tempat pertemuan, yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana caranya ia mengendalikan dirinya supaya tidak tegang. Faye bahkan sebelum berdandan tadi berpikir untuk kabur. Namun, ia tidak ingin mengecewakan Kinasih. "Sepertinya mereka sudah datang," ucap Kinasih. Dari kejauhan Faye melihat ada tiga orang yang berjalan mendekat ke arahnya. Faye menundukkan kepalanya, ia mengaitkan kedua jari telunjuknya. Derap langkah yang semakin dekat semakin jelas membuat bulu kuduk Faye meremang. "Selamat malam Kinasih." Suara berat yang menyapa Kinasih membuat jantung Faye berdegup kencang. Faye masih menundukkan kepalanya, ia belum berani menatap mereka. "Selamat malam." Kinasih berdiri dan berjabat tangan dengan mereka. "Faye, ulurkan tanganmu," bisik Kinasih. Perlahan, Faye pun mendongakkan kepalanya. Dan sedetik kemudian matanya melebar, ia terkejut dengan apa yang di hadapannya sekarang. Faye tak menyangka jika lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah Andre. Dokter spesialis bedah tempatnya bekerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN