III : Namanya Laksita dan ia Pandai Bermain Kata

2888 Kata
Aku tidak punya saudara. Dulu setiap kali menghadapi kesulitan, aku selalu bercerita apa pun pada Mama. Entah itu soal guru di sekolah yang mudah marah atau juga soal diriku yang kesulitan mendapat teman. Dahulu Mama adalah duniaku, sosok yang memberikanku seluruh hidupnya. Anggapan tersebut muncul karena dahulu dunia yang aku miliki sangat sempit. Dalam keseharianku, aku hanya melihat Mama dan Papa. Jadi, secara praktis aku hanya menggantungkan pertanyaan dan jawabanku berdasarkan jawaban dari keduanya. Kemudian, baru aku sadari kalau Mama bertindak lebih dominan dalam urusan rumah tangga. Pada beberapa kesempatan Mama mungkin akan bertindak dengan cara yang benar guna membantuku menyelesaikan masalah, tetapi pada satu waktu aku juga tahu kalau Mama bertindak hanya berdasarkan norma yang ia anggap benar dan seringkali Mama membuat keputusan dengan tidak melibatkan aku sebagai pihak yang sepatutnya diperhitungkan. “Mah, aku mau ambil kelas bahasa boleh?” Suara di dalam kepalaku mendadak terdengar. Itu adalah vokal dari sosok Dave Kashito yang lugu, dua puluh tahun lalu. Dave Kashito yang terlihat kurus di dalam balutan seragam SMP. Dahulu dengan bangganya ia tersenyum pada Mama, mengutarakan keinginannya terkait penjurusan SMA. Dahulu sekali Dave Kashito yang lugu menganggap bahwa Mama yang merupakan dunianya akan selalu berada di belakangnya untuk mendukung, untuk menerima Dave yang apa adanya. “Tidak boleh.” Sayangnya, tempo hari Mama yang merupakan dunia bagi Dave Kashito justru memberikan penolakan paling pahit. Aku menatap langit. Dahulu, umurku masih lima belas atau mungkin enam belas—aku tidak terlalu ingat apakah aku sudah merayakan ulang tahunku waktu itu. Satu yang pasti hari itu adalah upacara kelulusanku dari Sekolah Menengah Pertama. Acaranya sederhana, kami diberikan ijazah, naik ke panggung, dan berfoto. Beberapa guru mengatakan bahwa aku adalah anak yang cerdas. Katanya, aku bisa menjadi apa pun jika aku mau. Dulu kuanggap kalimat tersebut sebagai pujian. Tetapi, sepertinya Mama menganggap pujian sebagai hal yang berbeda. “Kenapa tidak boleh?” tanyaku. “Kamu mau jadi apa kalau ambil kelas bahasa?” Aku masih ingat, bibirku masih dengan percaya dirinya menjawab Mama, “Penulis. Aku ingin jadi penulis. Aku ingin membuat buku seperti orang-orang yang namanya aku simpan di rak.” Mama mengembuskan napasnya kala itu. Entah mengapa sepertinya pernyataanku terdengar begitu berat baginya. Kira-kira berapa kilogram beratnya keinginanku kala itu? Sayang sekali aku tidak bertanya waktu itu. “Dengar, Dave. Kamu adalah satu-satunya harapan Mama dan Papa. Jadi, kamu harus tumbuh menjadi seseorang yang dapat kami andalkan. Masa tua Mama dan Papa bergantung pada kamu, Dave. Citra keluarga juga bergantung pada kamu.” Kala itu kedua bahuku melemas. Sekarang giliran aku yang merasa dibuat kesulitan oleh Mama. Berat rasanya mendengar suara Mama. Rasanya aku seperti sedang memikul beban seberat lima kilogram pada masing-masing bahuku. Rasanya seperti aku harus berjalan dengan beban sebanyak itu untuk waktu yang lama. “Memang kalau aku jadi penulis, aku tidak bisa diandalkan?” “Tidak," jawab Mama untuk kesekian kali. Sebelum aku mampu membantah, Mama sudah terlebih dahulu memandangku lekat. Kedua tangannya secara perlahan jatuh di atas bahuku. Melalui tatapannya Mama seolah-olah sedang memberikan penekanan yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun, termasuk aku. “Dave, sayang Mama?” Aku mengangguk. “Sayang sama Papa juga?” Aku kembali mengangguk untuk yang kedua kalinya. “Iya, sayang. Aku sayang Mama dan Papa. Seperti kemarin, sebagaimana hari ini." “Dave mau lihat Mama dan Papa sedih?” Dahiku mengkerut bingung. “Kenapa sedih?” Tidak. Harusnya aku bertanya; kenapa harus bersedih? “Karena kalau Dave memilih untuk menjadi penulis, itu artinya Dave tumbuh bukan sebagai anak yang kami inginkan. Mama tidak pernah berharap punya anak yang mahir menulis dan menjadi seorang penulis. Mama juga tidak pernah membayangkan akan membesarkan seseorang yang memiliki cita-cita yang berbeda dengan Mama dan Papa. Dave tau kenapa?” Aku diam. Pada satu sisi di dalam kepalaku, aku merasa bingung harus menjawab apa. Kemudian, pada satu sisi di dalam hatiku, aku merasa belum siap sekaligus takut menerima jawaban Mama. Secara mendadak lidahku kelu. Aku juga ingin melarikan diri. Tempo hari Mama tampak berbeda. Rasanya ia bukan dunia yang selama ini aku puja. Mungkin karena melihat aku yang terus-menerus diam, Mama akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan sendiri—mewakili diriku yang tidak dapat membuka mulut. “Karena anak yang memiliki pilihan berbeda cenderung membangkang. Hari ini kamu mungkin akan meminta masuk kelas bahasa dan menjadi penulis. Lalu besoknya hal seperti apa yang kamu inginkan dari Mama dan Papa? Terlalu banyak meminta bisa sangat merepotkan, Dave.” Cenderung membangkang. Kalimat tersebut terus-menerus terngiang di dalam kepalaku untuk waktu yang lama dan bertransformasi menjadi sesuatu yang membentuk diriku hari ini. Langkahku terhenti pada satu toko buku di sekitar 128 Princes Street. Tempat tersebut berwarna biru tua dengan jendela kaca selebar tembok yang membatasi ruangan di dalam sana dengan posisiku berdiri. Melalui pantulan kaca, aku dapat melihat beberapa buku baru dengan nama penulis yang pernah aku dengar namanya. Melalui pantulan kaca itu juga, aku bisa melihat siluet diriku yang sekarang. Umurku sudah 38 tahun. Aku punya pekerjaan dan gaji yang layak. Hanya saja, kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Petter beberapa saat waktu lalu? Kenapa aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan Laksita terkait kesediaanku untuk mengikuti kehendak orangtuaku? Mendadak satu pertanyaan muncul di dalam benakku, apakah aku memang akan terus menjadi anak yang berbakti? Jika iya, sampai kapan? Anehnya, aku justru mempertanyakan soal hidup di penghujung usia keemasanku. Anehnya, aku justru mempertanyakan diriku sendiri di saat seharusnya aku sudah lama melewati fase krisis dalam pencarian jati diri. Konyol sekali, aku merasa terjebak di dalam pikiranku yang lugu. Aku hendak memutus pikiranku yang mulai bercabang dan meneruskan perjalanan pulang jika saja satu nama penulis tidak dengan sengaja aku lihat. Dari balik kaca toko, aku bisa menemukan satu penulis yang karyanya menemaniku selama satu minggu terakhir; Laksita Purnama. Nama tersebut ditulis pada satu sampul buku berjudul The Moon is Beautiful, Isn’t It? Secara naluriah, aku bergerak memasuki bangunan di depanku. Suasana di dalam sana terasa lebih hangat dengan aroma buku yang tercium samar-samar. Tepat pada rak bagian selatan, aku dapat menemukan setumpuk buku yang ditulis oleh Laksita Purnama dan berada di antara deretan judul buku yang terasa masih asing bagiku. Aku meraih satu buku dan membaliknya, melihat blurb yang tertera di sana dan mulai membayangkan Laksita dengan segala dunianya. Bagi Winarya, Rembulan adalah dunianya. Sementara bagi Rembulan, dunianya sudah lama mati. Tertulis demikian pada bagian belakang sampul buku. Satu karya pahit lainnya yang ditulis oleh Laksita. “Tuan orang Indonesia?” Suara seseorang berhasil memecah perhatianku. Begitu menoleh, aku dapat menemukan figur seorang pria muda dengan name tag yang menggantung pada bajunya; Yohan. Di mataku Yohan terlihat memiliki rambut berwarna cokelat—yang entah apakah itu hasil semir atau ia memang lahir dengan warna rambut seperti itu dan sepasang mata yang warnanya mirip dengan rambutnya. “Ya?” jawabku sedikit mengawang antara menjawab pertanyaannya atau justru mempertanyakan pertanyaannya. “Laksita Purnama. Untuk karya yang itu belum ada terjemahannya, jadi pasti yang cari orang Indonesia.” Aku kembali melirik buku di tanganku. Tampaknya sosok Laksita Purnama tidak dengan mudah hilang begitu saja dari jangkauanku. “Ini novel barunya Laksita?” Pria bernama Yohan itu mengangguk, sepertinya ia pegawai di sini. “Iya. Tapi, kalau Tuan mau cari bukunya yang lama seperti Kepada Kepasrahan Aku Pasrah atau Mati pada Pukul Dua, di sini masih ada stock.” “Buku-bukunya Laksita dijual di sini?” pertanyaanku selanjutnya terdengar retoris. Yohan dengan sopan mengangguk dan berjalan mendahuluiku. Seperti terhipnotis, aku mengekor sebelum kemudian ia berhenti pada satu rak buku berisi jejeran novel yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Salah satu novel memuat nama Laksita Purnama sebagai pengarang. “Yap. Seperti yang bisa Tuan lihat. Kami menjual beberapa karya penulis Indonesia. Jadi, Tuan mau cari buku yang mana?” Aku memperhatikan dua judul buku lama milik Laksita. Keduanya belum pernah aku baca, pun aku tidak bisa menebak apa isinya hanya melalui judul. Dengan sedikit kebingungan, aku menatap Yohan. “Yang bagus yang mana ya? Jujur aja, saya baru sekali baca tulisan Laksita.” Yohan menyipitkan matanya dan berbalik menatap buku Laksita. “I see … I see. Sebetulnya Tuan suka buku yang seperti apa? Karena baik itu The Moon is Beautiful, Isn’t It?, Kepada Kepasrahan Aku Pasrah, maupun Mati pada Pukul Dua sama-sama menyuguhkan cerita yang berbeda.” Yohan terdengar fasih berbicara dalam bahasa Indonesia. Satu keberuntungan karena aku dapat berbicara dengannya secara lebih leluasa. “Berbeda gimana?” Yohan berbalik. Ia menatapku aneh, “Tuan mau spoiler? Kalau saya bilang, sama artinya dengan saya membocorkan ceritanya.” Aku menaikan satu alisku, rasanya aku terjebak di antara dua pilihan saat ini; antara ketidaktahuanku soal Laksita dan keingintahuanku untuk mengulik Laksita melalui karyanya yang asing. Kira-kira mana yang terdengar lebih baik? “Mungkin kamu bisa rekomendasikan saya salah satu dari tiga karya Laksita yang paling membekas bagi kamu?” Yohan tampak setuju dan menjentikkan jarinya. “Boleh. Kalau begitu, bagaimana dengan Mati pada Pukul Dua? Isinya tentang gadis yang mati pada pukul dua pagi.” “Horor?” “No … no.” Yohan menekuk bibirnya. “Bukan horor atau thriller. Tuan sebaiknya baca dan artikan sendiri maknanya.” Dengan begitu, aku berakhir membawa tulisan lainnya milik Laksita di dalam tas. Melewati jarak selama hampir seratus enam belas menit dan menyimpannya pada nakas di samping kasur. Kali ini, tulisan seperti apa yang kamu ciptakan, Laksita? Aku bertanya sendirian, berharap segera mendapat jawaban dari sosok Laksita yang entah sekarang ada di mana. +++ To : + 62 8 xxxxxxxxxx From : Dave Kasihto Halo, Laksita. Saya tidak sengaja menemukan karya kamu di toko buku sekitar 128 Princes Street. Saya baru baca lima lembar, tapi saya pikir saya akan …. Aku menghentikan pergerakan jariku di atas keyboard ponsel, kehilangan kata-kata. Halo, Laksita. Saya tidak sengaja menemukan karya kamu di toko buku sekitar 128 Princes Street. Saya baru baca lima lembar, tapi saya pikir saya akan menyukai buku kamu seperti sebelumnya. Dahiku mengkerut ragu. Dengan cepat, aku membaca ulang pesanku untuk kemudian menghapusnya. Rasanya seperti ada yang janggal. Tetapi, apa yang janggal itu? Selamat malam, Laksita. Saya Dave. Tadi saya melihat karya kamu pada salah satu rak buku di bookstore sekitar 128 Princes Street. Saya baru membaca lima lembar, tapi saya pikir saya akan menjadikan buku kamu sebagai salah satu karya yang akan saya simpan. Semoga kamu dapat terus berkarya ya. Pembuka, isi, dan penutup. Aku memastikan bahwa isi pesanku telah memuat hal-hal yang dibutuhkan agar komunikasi kami dapat berjalan secara efektif. Setelah membuang ragu, aku menyentuh icon sent dan menutup fitur SMS. Aku rasa berteman dengan Laksita bukan hal yang buruk. Terlebih lagi kami memiliki minat yang sama—atau dalam kasusku setidaknya aku juga pernah mencintai tulisan dan novel fiksi. Mungkin kami dapat bertukar pendapat atau cerita selama masih sama-sama di Inggris. Tidak lama dari itu, aku mendapat balasan dari nomor Laksita. To : Dave Kasihto From : + 62 8 xxxxxxxxxx Hai, Dave! Wah, terima kasih ya sudah baca tulisanku. Kalau boleh tau, kamu baca yang mana ya? Aku meluruskan punggungku yang semula bersandar pada dipan kasur. Baru kusadari kalau aku tidak menyertakan judul dari buku yang sedang aku baca. Dengan sedikit tergesa-gesa, aku membalas pesan Laksita. Mati pada Pukul Dua. Sent. Tidak berselang lama, aku kembali mendapat balasan. To : Dave Kasihto From : + 62 8 xxxxxxxxxx Oh iya, salah satu karya lamaku. Gimana-gimana? Kamu suka isinya? Aku melirik jam pada bagian pop up ponsel, masih pukul delapan malam. Jika aku membalas pesan Laksita, mungkin itu tidak akan mengganggu waktu istirahatnya. Saat ini suka. Tidak tahu nanti setelah baca sampai bab terakhir. Sent. To : Dave Kasihto From : + 62 8 xxxxxxxxxx HAHAHAH, kenapa? Katanya mau kamu simpan Aku berpikir sebentar guna mencari jawaban yang terdengar masuk akal dan tidak menyinggung Laksita selaku penulis. Setiap buku selalu punya kejutan, tapi tidak semua kejutan saya rasa cocok untuk saya. Sent. To : Dave Kasihto From : + 62 8 xxxxxxxxxx Aduh, aku kalau ngomongin buku pasti selalu nggak bisa kalau harus via text begini. Boleh kutelepon enggak? Aku melirik tasku di seberang kasur. Di dalamnya terdapat sekitar lima belas lembar paper yang ditulis oleh mahasiswaku. Biasanya aku akan membacanya hari itu juga—tepat setelah hari pengumpulan. Hanya saja, sepertinya tugasku bisa sedikit ditunda selama sepuluh sampai dua puluh menit ke depan. Jadi, dengan pasti aku menjawab ya. Dan benar saja, deretan nomor ponsel Laksita muncul pada layar ponselku sekitar satu menit kemudian. “Halo, Dave," sapa Laksita terlebih dahulu. Suara Laksita masih terdengar sama seperti tempo hari. “Iya, halo Laksita." “Jadi gimana? Kamu sudah baca sampai mana? Aku agak lupa sama detil bukunya.” Ia masih saja memiliki banyak kata yang dapat dimuntahkan dalam sekali tarik napas. Satu kelebihan yang dimiliki Laksita. "Saya baru baca sampai halaman empat, tepatnya di lembar kelima terhitung dari lembar daftar isi." Aku sengaja menggantung jawabanku, menunggu reaksi Laksita yang tetap hening sampai pada detik kelima. Artinya, ia masih menunggu, seperti Laksita yang pertama kali kutemui; Laksita yang bersedia untuk menunggu dalam diam. "Saya rasa, kamu punya ciri khas tersendiri dalam menciptakan sebuah tulisan fiksi. Setidaknya kesan itu yang saya tangkap setelah membaca dua karya kamu, sekalipun buku kedua belum rampung saya baca." Laksita di seberang sana terdengar bergumam, menanggapi kalimatku dengan respon singkat. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Aku bahkan tidak akan merasa malu seandainya Laksita menyebut aku sebagai orang sok tahu sebab memang begitu. Aku sedang ingin sok tahu soal Laksita. "Ciri khas seperti apa yang kamu lihat dari aku, Dave?" Pertanyaan Laksita selanjutnya terdengar lebih serius. Dan tampaknya aku juga harus menanggapinya dengan serius juga. "Kita baru bertemu satu kali dan saling menelepon seperti ini dua kali. Pertemuan kita singkat sekali, Laksita. Tapi, saya pernah dengar katanya, seorang penulis selalu meninggalkan jejak di dalam tulisnya. Entah itu jiwanya, hatinya, pikirannya, atau juga kematiannya. Kemudian, saya melihat bahwa kamu mungkin saja meninggalkan kematian kamu pada tulisan kamu sebagaimana ketika kamu menulis kumpulan cerita pendek soal anak yang dibuang dan dilupakan oleh orangtuanya juga soal gadis yang mati pada pukul dua pagi. Kamu, setidaknya bagi saya terlihat seperti itu." Pada awalnya, aku menduga kalau Laksita akan marah, menelepon telepon, tersinggung, dan kami tidak akan berbicara lagi. Atau bagian terburuknya adalah Laksita merasa terhina atas kalimat yang baru saja aku lontarkan. Akan tetapi, pada kenyataannya ia justru terdengar seperti sedang mendengkus—seperti sedang meragukan sesuatu atau justru merasa lucu. "Kamu pandai merangkai kata, Dave," kata Laksita dengan suara pelan dan tenang. Sepertinya ia tidak mengalami guncangan emosi apa pun. Seperti kalimatku tidak bermakna apa pun baginya. "Begitu?" "Mmm..." Ia bergumam pelan. "Rasanya aku bisa saja lho percaya sama ucapan kamu barusan." "Maksudnya?" "Tunggu dulu. Sebelum kamu bertanya, aku mau kamu menjawab aku dulu. Kenapa kamu bisa melihat aku dengan cara yang seperti itu?" Laksita dan permainan kata-katanya. Aku kemudian jatuh pada pertanyaan mengenai kemampuanku dalam membangun komunikasi. Dalam kesempatan ini, aku merasa bisa saja menolak untuk memberikan jawaban dan membiarkan Laksita menebaknya seorang diri. Namun, bagian dari diriku seperti terbawa pada suasana yang Laksita ciptakan. Perempuan ini mirip ombak biru—segulung ombak kecil yang menghanyutkan aku untuk selanjutnya tenggelam di tengah laut lepas. Dan, apabila Laksita dan bibirnya merupakan ombak maka, laut seperti apa yang ia miliki? "Sebelumnya saya mau minta maaf seandainya kalimat saya nanti akan menyakiti kamu." "That's fine. Go ahead, Dave." Laksita terdengar cukup tegar malam itu. "Kematian itu pahit, Laksita. Bagi saya kematian adalah akhir dari seluruh kehidupan manusia. Saya mempercayai keberadaan surga dan neraka, tetapi siapa yang dapat menjamin kalau manusia akan merasa jauh lebih baik di dua tempat itu? Bagaimana pun ketika seseorang meninggal, maka mimpi, cinta, dan harapannya, semuanya akan hilang dan berhenti begitu saja. Seperti itu, kamu dan tulisan kamu—seperti sesuatu yang terasa pahit." Laksita diam dan aku mulai merasa was-was. Tidak sopan memberikan penilaian negatif hanya karena aku membaca buku yang ia tulis dan sedang berbicara padanya. Aku mungkin akan terdengar seperti anak kecil yang sok tahu. Aku berniat untuk memanggil namanya jika saja Lakista tidak segera bersuara. "Kamu sok tahu sekali, tapi aku suka sama perumpamaan yang kamu kasih." Dengan begitu aku dapat mengembuskan napas lega. Dan dengan sedikit menekan rasa malu, aku bertanya, "Suka bagaimana? Kamu bilang aku sok tahu ... kalimat kamu sangat kontradiktif sekali." "Begini..." Laksita mengambil jeda sebentar. Terdengar suara selimut yang ditarik dan tubuh yang terdengar rebah. Kutebak itu adalah Laksita yang sekarang ini sedang berbaring di atas kasurnya. "Kamu bilang penulis meninggalkan jiwa, hati, pikiran, dan kematiannya pada tulisan yang mereka ciptakan. Lalu kamu bilang kalau aku terlihat seperti penulis yang meninggalkan kematian. Kamu nggak salah, cuma bagiku ... aku lebih mirip penulis yang meninggalkan seluruh hidupnya pada tulisan yang aku buat." Aku mendengarkan, sebagaimana Laksita yang selalu mengambil sikap mendengarkan setiap kali aku mengutarakan pendapat. "Aku menulis bagaimana dunia yang sebetulnya nggak adil. Aku menulis kekecewaanku, rasa sakitku, kebahagiaanku, pengetahuan dan pengalaman yang aku rasakan. Aku menulis semua hal yang hidup di dalam diriku," sambungnya. "Kematian memang pahit, Dave. Tapi, juga sesuatu yang suci. Di dalam agamaku, setiap orang yang meninggal akan mendapat pakaian yang layak, peti mati yang dicat, bunga segar, dan penghormatan terakhir. Kalau orang yang meninggal punya sikap baik dan dermawan mungkin tiga sampai lima orang akan menangisinya, merindukannya, dan memeluk fotonya erat-erat. Nah, kalau aku belum sampai sana." Oh. Laksita memang ombak. Ia ombak yang menenggelamkan aku ke dalam laut yang luas. Dan sudah kubilang kan, kalau Laksita pandai bermain kata-kata? []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN