Sama seperti hari sebelumnya, aku akan keluar dari gedung apartemenku, berjalan kaki selama sepuluh menit menuju York Railway Station, dan naik kereta untuk kemudian turun di Edinburgh Waverley.
Yang berbeda hari ini hanyalah kehadiran Laksita. Setelah memasuki gerbong, aku mencari kehadiran Laksita sebagaimana ia yang juga terlihat seperti sedang mencari diriku di antara padatnya penumpang. Dan ketika sepasang mata kami saling bertemu, baik aku maupun Laksita sama-sama melambaikan tangan. Seperti memanggil. Seperti memberi sinyal bahwa kami menyadari kehadiran satu sama lain.
Melalui gestur tersebut, aku bergerak menghampiri Laksita. Pagi itu ia tersenyum manis, seperti kemarin. Ia juga masih mengenakan long coat kemarin, celana jeans, dan tas yang tersampir di bahu kanannya.
“Mau duduk di sampingku lagi?” tanya Laksita terlebih dahulu, membuka percakapan kami pagi itu.
“Boleh. Kamu juga masih sendirian hari ini?”
Ia mengendikkan bahunya satu kali. “Seperti yang kamu lihat. Temanku juga sepertinya nggak bisa menyusul sampai hari terakhirku di sini.”
“Memangnya kamu di sini sampai kapan?”
Kami mengobrol sambil berjalan. Aku mengikuti langkah Laksita yang berjalan satu langkah di depanku. Dari belakang, aku bisa melihat rambut panjang Laksita yang dibiarkan digerai. Rambutnya yang berwarna blonde terlihat menutupi punggung Laksita yang kecil.
“Kalau dihitung sejak hari kedatanganku ya, sekitar lima hari lagi. Dan kalau kamu penasaran, aku datang dua hari lalu.”
“Kamu seminggu saja di sini?”
“Betul. Hanya seminggu.” Laksita menutup kalimatnya dan berbalik. Ia menujuk dua kursi penumpang yang masih kosong dan berkata, “Kita akan duduk di sini selama hampir dua jam ke depan, Mr. Dave.”
Aku mengucapkan terima kasih dan mempersilakan Laksita agar duduk terlebih dahulu. Berdasarkan kesan pertama yang Laksita tinggalkan tempo hari, aku menduga bahwa Laksita mungkin saja suka duduk pada kursi di samping jendela. Dan sebagai orang asing aku berusaha menjadi—atau terlihat baik dan pengertian maka, aku memberikan Laksita tempat yang sekiranya akan ia sukai.
“Kamu tidak suka duduk di samping jendela?” Ia bertanya usai menjatuhkan tubuhnya pada kursi penumpang. Rambutnya yang panjang ia sampirkan pada bahu kanan. Mencegah agar surainya tidak kusut.
“Saya bisa duduk di mana saja. Kursi dekat jendela bukan spot favorit saya.”
Laksita tersenyum senang. “Itu artinya, kamu bukan teman yang merepotkan.”
Aku menjatuhkan tubuhku agar duduk di samping Laksita sebelum menimpali kalimatnya. “Kenapa bisa dikatakan seperti itu?”
“Aku suka duduk di samping jendela ketika berada dalam perjalanan. Dan kebanyakan teman yang aku punya juga seperti itu. Jadi, terkadang kami harus bergiliran duduk di samping jendela atau kalau hal sepeti itu nggak bisa dilakukan ya, salah satu di antara kami harus mengalah. Makannya aku bilang kamu bukan teman yang merepotkan.”
“Karena kita tidak perlu saling berebut kursi dekat jendela?” tebakku.
“Ya. Betul sekali. Semoga kita menjadi teman baru yang baik.”
Teman baru ya. Bagaimana pun hubungan kami di mata Laksita memang terlihat seperti teman. Apabila aku adalah Laksita, mungkin aku tidak akan dengan semudah itu melabeli orang asing yang lebih banyak bersikap sok tahu sebagai teman.
Dunia adalah tempat yang berbahaya, Laksita. Aku ingin mengatakannya, membiarkan Laksita berpikir dua kali sebelum memberiku gelar teman. Hanya saja, kalimat tersebut tidak pernah mau keluar dari mulutku.
Aku juga ingin menjadikan Laksita sebagai temanku. Satu teman rahasia yang aku temukan di Ediburgh, seperti harta karun yang tidak ingin aku bagi kepada seorang pun.
"Kamu bilang, waktu kamu di sini tinggal tersisa lima hari lagi. Memangnya kamu ada kepentingan apa datang kemari?”
Jadi, alih-alih membiarkan Laksita menjauh, aku justru ingin menarik Laksita agar lebih dekat.
“Keperluan workshop. Waktunya cuma enam hari, tapi berhubung aku nggak tahu kapan lagi aku bisa datang kemari, maka aku putuskan menjadi seminggu di mana sisa hari terakhirku adalah waktu bebas dari pekerjaan.”
“Kamu orang sibuk," timpalku.
Laksita tertawa tipis menanggapi kalimatku. “Nggak juga. Kebetulan saja sedang terlihat sibuk.”
“Dan teman kamu ? Kalian harusnya datang ke workshop bersama ‘kan?”
“Iya. Dia teman sekaligus partner kerjaku. Sayang sekali Gantiar nggak bisa datang kemari, padahal kunjungan kami sudah direncanakan jauh-jauh hari.”
Aku tebak nama yang baru saja Laksita sebut adalah nama dari rekan kerjanya yang tidak jadi datang kemari. Entah apa yang terjadi pada orang itu, aku merasa tidak memiliki kuasa untuk bertanya sampai sana.
“Kalau kamu? Sampai kapan kamu akan di sini?” Kali ini giliran Laksita yang bertanya.
Entah karena ia dia betul-betul penasaran atau hanya merasa bahwa dirinya harus bertanya agar percakapan kami tidak berhenti begitu saja.
“Sekitar seminggu lagi. Saya sudah di sini sekitar empat belas hari.”
Perlahan kereta yang kami naiki terasa bergerak, melaju di atas rel.
“Lama sekali. Untuk urusan pekerjaan?”
“Iya. Saya jadi dosen tamu di Univestas Edinburgh.”
Laksita terlihat sedikit membulatkan matanya. Dengan ekspresi seperti itu ia terlihat lucu, mirip seorang anak kecil yang kagum atas sesuatu.
“Kalau begitu kamu orang penting, Dave.”
“Begitu?”
Ia mengangguk. “Sewaktu ambil S1, aku selalu kagum sama salah satu dosenku, namanya Bu Wati. Beliau mengajar Linguistik. Mata kuliahnya sulit, beliau juga cukup strict sama nilai, tapi entah kenapa beliau sangat baik sama aku. Bu Wati jadi satu-satunya dosen yang membuatku merasa kalau aku nggak salah ambil jurusan, aku juga tahu kemana arah hidupku, dan apa yang harus aku lakukan setelah wisuda nanti. Kenangan soal Bu Wati membuatku merasa kalau dosen itu pasti punya jasa yang nggak bisa dibayar oleh mahasiswanya.”
“Maksud kamu, saya mirip Bu Wati?”
Ia lagi-lagi tertawa tipis. Seolah-olah selalu menemukan sesuatu yang lucu dari kalimatku.
“Bukan begitu. Meskipun enggak semua dosen bisa seperti Bu Wati, tapi pasti setidaknya mereka pasti terlihat penting di mata mahasiswa mereka masing-masing. Entah penting karena mahasiswa sangat menghargai posisi dan jabatannya atau penting untuk dihindari.”
Sekarang giliran aku yang tertawa tipis. “Dosen yang penting untuk dihindari itu yang bagaimana memangnya?"
Sesaat Laksita terlihat ragu untuk mengatakannya, namun melihat aku yang diam menunggu akhirnya perempuan ini buka suara. “Dosen yang killer … duh, aku nggak enak bilangnya. Tapi, kamu tahu selalu ada saja dosen yang galak—well katakan tegas.”
Aku mengangguk paham sekaligus ingin membuat Laksita merasa tidak bersalah untuk mengatakan hal semacam itu. “Ya. Saya tahu memang ada sejumlah dosen yang bersikap seperti itu. Dulu saya juga punya dosen yang tipenya baru saja kamu sebut. Setiap kali jadwal mata kuliahnya, saya selalu merasa gugup, seperti akan menghadapi sesuatu yang menyangkut hidup dan mati."
Entah mengapa obrolan kami selanjutnya mengarah pada sesuatu yang abstrak, tidak direncanakan, dan tidak dapat ditebak. Dan di tengah percakapan itu, aku justru menikmatinya.
Mendadak Laksita yang beberapa saat lalu melabeliku sebagai teman baru berubah menjadi sosok yang tampak seakan-akan kawan lama. Rasanya kami seperti pernah menjalin hubungan pertemanan jauh sebelum hari ini tiba.
“Bener. Aku juga suka gugup setiap kali mendapatkan dosen pengajar yang killer. Kamu tahu, saking gugupnya, aku pernah salah menyebut namanya sewaktu menutup sesi presentasi. Rasanya aku malu sekaligus takut dan sedikit merasa tidak enak hati.”
“Serius?” Aku memastikan bahwa pendengaranku tidak salah.
“Iya.” Laksita menjawab dengan tubuh yang kali ini condong menghadap ke arahku. Ia mulai melupakan pemandangan dari balik jendela sana. “Pokoknya masa kuliahku agak chaos deh. Bodoh banget deh aku dulu bisa salah sebut begitu.”
Laksita terlihat menepuk kepalanya pelan, seperti sedang mencoba menghukum dirinya atas peristiwa tempo dulu. Aku memperhatikan Laksita melakukan hal tersebut, ia juga tampak merutuk entah mengatakan apa karena suaranya tidak sampai ke telingaku.
Tidak lama dari itu, karena merasa diperhatikan Laksita memandangku dengan dahi yang mengkerut dan bibir sedikit tertekuk. Perubahan ekspresinya sungguh luar biasa cepat. Aku mulai menebak, apakah Laksita memang tipikal orang yang ekspresif seperti ini? Atau hanya kebetulan saja ia bertemu dengan orang yang membuatnya menjadi pribadi yang ekspresif?
Aku tidak perlu bertanya untuk mendapatkan jawabannya. Aku hanya harus memperhatikan. Laksita bilang ia masih memiliki waktu sekitar lima hari lagi di sini. Apabila selama lima hari itu kami rutin bertemu, mungkin saja aku bisa menemukan jawabanku sendiri.
“Duh, aku malah jadi banyak cerita begini. Maaf ya, kamu pasti kesal dan bosan dengernya, ” ucapnya kemudian, merasa bersalah atas sesuatu yang sesungguhnya bukan masalah bagiku.
“Lho tidak apa-apa. Saya tidak merasa terganggu oleh cerita kamu, Laksita. Rasanya menyenangkan memiliki teman mengobrol. Dan berbicara soal kehidupan kuliah, saya juga punya cerita yang agak memalukan.”
“Yang betul kamu?” Laksita bertanya dengan ekspresi terkejut. “Jangan berbohong cuma buat menghibur aku saja.”
Aku tersenyum geli. “Lho serius. Saya juga manusia lho, pasti pernah berbuat teledor dan bersikap bodoh.”
“Memangnya kalau boleh tahu, cerita yang katanya agak memalukan itu bagaimana? Maksudnya bagaimana kok bisa terjadi pada kamu? Kamu nggak terlihat seperti orang yang pernah berskiap teledor soalnya, di mataku ya."
Aku merasa terkejut atas satu fakta tersebut. Tidak menyangka kalau Laksita akan memandangku seperti itu.
"Begitu? Sepertinya saya meninggalkan kesan yang baik ya." Aku berkata dengan cukup percaya diri sementara itu, Laksita memandangku geli.
"Iya. Tapi, sekarang sudah tidak begitu lagi."
"Kenapa?"
"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu pernah melakukan sesuatu yang memalukan, teledor, dan manusiawi. Artinya, penilaianku soal kamu salah," jelasnya sembari menggelengkan kepala sebanyak dua kali. "Jadi, ayo ceritakan soal peristiwa yang memalukan itu."
Biasanya, jauh sebelum aku mengenal Laksita, aku akan menghabiskan waktu perjalananku dengan membaca artikel jurnal atau mengirim pesan pada Zelin. Intinya, aku cenderung melakukan kegiatan yang tidak melibatkan orang lain. Akan tetapi, untuk hari ini aku memiliki Laksita di sampingku.
"Dulu, sewaktu semester satu, saya pernah salah masuk ruang kelas. Harusnya B02, tapi saya malah masuk ruang B03. Saya baru sadar kalau saya salah masuk ruang kelas sewaktu akan mengisi presensi di mana pada lembar kertas presensi, saya tidak dapat menemukan nama saya."
Aku mengingat kejadiannya dengan jelas. Kenangan tersebut terekam di dalam kepalaku dengan sangat baik dan tampaknya tidak ingin dilupakan. Satu kenangan memalukan yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun kecuali, Laksita.
Selain karena merasa malu untuk diceritakan, aku juga merasa hal tersebut tidak layak untuk didengar. Lagi pula siapa yang mau menghabiskan waktunya untuk mendengar hal remeh semacam itu?
"Terus bagaimana? Kamu di kelas sampai sesi belajar selesai?" Akan tetapi, Laksita menjadi pengecualian. Ia bertanya antusias dan betul-betul mendengarkan.
Bisa saja kami saling bungkam selama perjalanan. Atau bisa saja kami tidak mengobrol melalui telepon kemarin malam dan fokus pada kehidupan masing-masing.
Bisa saja Laksita membuang bukunya. Hal-hal seperti itu memiliki peluang untuk terjadi. Namun, di antara banyaknya peluang yang muncul, Laksita dan aku malah memilih untuk saling mendekat dan mendengarkan.
Aku pernah jatuh cinta. Dahulu sekali. Tapi kuyakini perasaanku pada Laksita bukanlah perasaan suka. Aku juga punya teman wanita di Indonesia.
Mungkin Laksita juga begitu. Terlalu dini untuk menyukai satu sama lain. Alih-alih rasa suka, kupikir perasaan kami kali ini lebih condong pada kebutuhan untuk didengarkan serta kebutuhan untuk memiliki teman di tempat yang jauh.
"Iya. Saya duduk di sana selama dua jam. Saya juga mencatat materi yang dipaparkan oleh dosen karena merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali, terlihat seolah-olah saya memang mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut."
Perjalanan kami mungkin sudah berjalan kurang lebih selama satu jam. Sisa waktuku di kereta dengan Laksita juga sudah mulai menipis, tapi aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Aku masih tidak tahu apakah besok kami akan bertemu kembali. Sebab bisa saja kami memiliki jadwal yang berbeda.
"Bagian memalukannya apa dong? Kalau nggak ada yang menyadarinya selain kamu, itu artinya nggak memalukan, Dave." Laksita protes.
"Ceritanya belum selesai." Aku menatap Laksita serius, seperti akan menceritakan bagian paling penting. Begitu pun dengan Laksita yang menatap diriku sama seriusnya.
"Memangnya bagaimana akhirnya?"
"Aku ketahuan."
"Hah?!" Laksita terkejut. Ia tampak lucu sekali dengan kedua telapak tangan yang membekap mulutnya sendiri agar suaranya tertahan dan tidak menganggu penumpang di sekitar kami.
"Kamu ketahuan?" tanyanya memastikan.
Aku mengangguk tipis. "Iya. Setelah watu belajar habis, kami selaku mahasiswa lantas keluar kelas. Nah, waktu itu dosen yang mengajar sedang merapikan kabel laptop, jadi kami keluar di saat beliau masih di dalam kelas. Sewaktu melewati meja dosen, beliau bertanya, kamu siapa ya?"
"Dia tanya begitu ke kamu, Dave?"
"Iya."
Dengan begitu Laksita tertawa.
[]
Sekitar pukul sebelas pagi, kelasku hampir selesai. Tinggal tersisa tiga puluh menit lagi sebelum jadwal mengajarku untuk mata kuliah Hukum selesai. Pagi itu jumlah mahasiswa yang datang sekitar dua puluh orang. Itu menjadi pertemuan ketiga sekaligus pertemuan terakhirku di kelas Hukum. Artinya, minggu depan aku sudah tidak mengajar lagi untuk mata kuliah ini.
Untuk materi hari ini, aku mendapat tugas untuk menjelaskan bagaimana cara membaca putusan pengadilan agar efisien dan dalam waktu yang cepat.
"To be able to read court judgments efficiently and quickly, you must be able to think legally. What it means?"
Aku menarik spidol dan mulai menulis question of law and question of fact pada badan whiteboard.
Setelah menulis, aku mengalihkan pandanganku pada mahasiswa. Mencari jawaban dari mereka. Tidak lama dari itu seorang mahasiswa mengangkat tangannya ke udara.
"Yes, you," kataku mempersilakannya untuk menjawab.
Mahasiswa yang kuketahui bernama Jean itu menjelaskan, "Judges who are entrusted with the task of ensuring justice by adhering to the notion of Audi et alteram partem or listen to all from all sides in providing justice by increasingly embedding legal textures in their decisions. They clearly make a clear distinction between the question of law and the question of fact."
Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Menanti penjelasannya dengan penasaran. "Question of law exists when the doubt or difference centers on what the law is on a certain state of facts, meanwhile question of fact exists if the doubt centers on the truth or falsity of the alleged facts."
"When reading a court judgement the reader should centralise his attention majorly towards the legal issues instead of focusing on the factual issues, even though the factual things have to be noted for having a clear picture of the case. In this case the prime concern must be made for those substances which have some relevance to law," sambung Jean dengan nada bicara yang lugas.
"Nice answer, Jean."
Aku hendak berbalik guna menulis poin untuk materi hari itu jika saja seseorang tidak mengintrupsi.
"Excusme, Mr. Dave. Can I ask you a question?" Kali ini yang bersuara adalah perempuan. Surainya berwarna terang seperti Laksita.
Laksita lagi.
Padahal perempuan itu sudah berpisah denganku hampir tiga jam yang lalu. Namun, nama, suara, dan wajahnya tidak hilang begitu saja di dalam pikiranku.
"Sure."
"When we read court judgments, what things we should avoid?"
Aku mengangguk paham. "What a nice question. To read court judgment efficiently and quickly, you should avoid reading the judgment in full. As a reader you should centralize your attention towards the conclusion and the introductory part that contain the Zeist of the judgment. Also you should observe the essential and the relevant piece of text and start doing critical thinking."
Pagi itu di sisa kuliahku, aku mendapat pesan dari Laksita. Pesan tersebut muncul setelah mahasiswi yang mengajukan pertanyaan tadi mengucapkan terima kasih.
Aku tidak langsung membalas pesan Laksita, melainkan menutup kelas dan mengucapkan salam perpisahan. Meskipun begitu, kegiatanku sebagai dosen tamu masih belum selesai. Aku masih harus menghadiri seminar dan diskusi lainnya.
What a busy life.
[]
From : Laksita Purnama
Dave, aku tau ini sangat random dan aneh dan apa pun kamu menyebutnya. Tapi, aku baru aja ketemu penulis yang aku kagumi sejak SMA!!!! Rasanya aku mau teriak, tapi jelas nggak bisa soalnya aku masih di dalam venue
PS. abaikan pesan ini jika Anda merasa aneh
Tanpa sadar, aku terkekeh ketika membaca pesan yang Laksita kirim. Dalam bayanganku, aku memikirkan wajah Laksita yang ekspresif. Ia pasti sekarang sedang merasa sangat senang.
To : Laksita Purnama
Oh ya? Siapa tuh kalau boleh tau?
Sent.
Tidak butuh lama sampai pesan lainnya kembali masuk.
From: Laksita Purnama
Tjahya Malam. Kamu tau, tulisanku yang judulnya Mati pada Pukul Dua? Aku menulis itu setelah membaca tulisannya
Aku tak langsung membalas pesan Laksita. Kepalaku saat ini malah dipenuhi oleh ingatan soal kami yang menelepon malam kemarin.
"Kematian memang pahit, Dave. Tapi, juga sesuatu yang suci. Di dalam agamaku, setiap orang yang meninggal akan mendapat pakaian yang layak, peti mati yang dicat, bunga segar, dan penghormatan terakhir. Kalau orang yang meninggal punya sikap baik dan dermawan mungkin tiga sampai lima orang akan menangisinya, merindukannya, dan memeluk fotonya erat-erat. Nah, kalau aku belum sampai sana."
"Kamu menyatakan bahwa kamu adalah kehidupan. Kalau begitu, kamu kehidupan yang seperti apa?"
Malam itu Laksita diam. Laksita bisa saja mengakhiri pembicaraan kami, namun ia lebih memilih untuk meladeni pertanyaanku.
"Menurut kamu yang seperti apa?"
Seperti laut biru, Laksita.
[]