V : Namanya Laksita dan Ia Suka Dongeng

2373 Kata
Laskita seperti laut biru. Atau setidaknya bagiku begitu. Terlalu banyak perumpaan abstrak yang dapat aku berikan kepada Laksita. Ia bisa menjadi apapun, entah itu merah, ombak yang menggulung kecil, maupun laut biru yang luas. Apabila Zelin ada di sini dan dapat membaca isi kepalaku, sudah pasti perempuan itu akan menganggap kalau aku mulai bersikap aneh. Aku melirik jendela pada samping kiri kasur. Benda bening itu menampilkan pemandangan Yorkshire dalam nuansa malam. Ada lampu yang menyala pada gedung di seberang apartemenku, ada juga suara kendaraan yang melintasi bangunan apartemen, dan sedikit suara dari arloji pada nakas. Aku tidak tahu—atau mungkin tepatnya belum tahu di mana Laksita tinggal selama di Edinburgh. Aku juga tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi setelah ini. Aku juga enggan menebak apakah wajah Laksita akan aku temukan pada suatu hari nanti setelah aku pulang ke Indonesia. Dari banyaknya ketidaktahuan itu, aku justru terjebak pada satu keinginan untuk mengetahui Laksita. Untuk menilai Laksita. Dan terkadang juga ingin membuat Laksita memahami sesuatu. Oleh karena itu, aku menjawab pertanyaan Laksita dengan sedikit berani dan juga sedikit ragu. “Mungkin kalimat saya akan terdengar sangat kontradiktif di mana sebelumnya saya melabeli kamu sebagai penulis yang meninggalkan kematian, tapi pada satu sisi saya juga menganggap bahwa kamu bisa menjadi kehidupan itu sendiri, Laksita. Seperti yang sudah kamu bilang, kamu menulis suatu karya berdasarkan pengalaman, pengetahuan, rasa kecewa yang sempat kamu rasakan, dan kebahagiaan kamu. Itu semua adalah sesuatu yang membuat manusia merasa hidup.” “Memang kontradiktif sekali. Seharusnya kamu teguh lho pada pendirian kamu, Dave.” “Iya. Aku memang agak plin-plan dan sok tahu sepertinya.” Aku tertawa canggung, mencoba menghilangkan rasa malu karena sudah mengambil sikap yang tidak baik. “Maaf ya. Pada kenyataanya saya terlalu dini menilai kamu. Padahal kita baru saja bertemu, saya juga baru membaca buku kamu.” “It’s okay. Kamu mau dengar dongeng nggak?” Jawaban Laksita di luar dugaanku—dan seringkali memang seperti itu. Laksita agaknya memiliki alur berpikir yang sedikit berbeda dariku. Aku agak bingung, namun memilih untuk menjawab, “Dongeng yang bagaimana?” “Mmm … dulu, sejak kecil Ibuku suka menceritakan dongeng. Bertahun-tahun aku mendengar dongeng yang sama. Pada awalnya aku berpikir kalau dongeng yang Ibuku ceritakan adalah kisah yang kebanyakan anak tahu atau katanlah sesuatu yang tidak aneh lagi. Lalu, baru aku tahu kalau Ibu mengarang dongengnya sendiri dan menceritakannya hanya untuk diriku seorang.” “Kamu suka sama dongengnya?” Dapat kutebak Laksita saat ini sedang mengangguk. “Sangat suka. Rasanya aku tumbuh dengan dongeng yang dibuat oleh Ibuku sendiri.” “Itu dongeng yang berharga, Laksita. Yakin kamu mau membaginya dengan saya?” Laksita tertawa tipis sebagai respon pertama yang mampu ia berikan. “Kamu orang pertama yang bilang dongeng Ibuku sebagai sesuatu yang berharga.” “Memangnya respon orang lain bagaimana?” “Aku cuma pernah cerita sama satu orang sih. Dia bilang kalau semua ibu pasti akan melakukan hal yang sama supaya anaknya diam, nggak rewel, dan tidur. Dulu aku nggak tau apakah maksud ucapannya merujuk pada dongeng buatan Ibuku yang dianggap wajar atau justru sesuatu yang istimewa. Sampai kemudian aku berpikir, ah artinya dongeng Ibuku adalah hal yang dianggap patut—sudah sewajarnya seorang ibu melakukan hal tersebut. Tapi, aku justru berpikir kalau Ibuku tidak membuat dongeng hanya agar aku diam, nggak rewel, dan tidur. Ibuku membagikan hidupnya di sana, Dave. Ada sesuatu yang ingin Ibuku sampaikan.” Oh. Aku mulai penasaran. “Di dalam dongengnya, Ibuku menceritakan soal angsa putih yang cantik. Angsa itu punya bulu berwarna putih bersih seperti kapas dan awan. Dia jadi angsa paling menawan. Tapi, setiap malam setelah semua temannya pulang, angsa putih justru merasa kesepian. Bulu putih yang ia miliki rasanya tidak telihat cantik di bawah cahaya bulan. Ia juga tidak punya teman bicara. Angsa putih itu kesepian, Dave.” Aku sekarang tahu dari mana bakat Laksita berasal; ibunya. Ibu Laksita memiliki kemampuan untuk bercerita seperti Laksita. Keduanya sama-sama memiliki gaya yang sama dalam menuangkan ide ke dalam sebuah kisah fiksi. Apakah keduanya juga memiliki sifat yang sama? Sama-sama ceria dan ekspresif? Aku tidak tahu. Kecil sekali kesempatanku untuk mengetahuinya. Karena aku merasa Laksita belum menyelesaikan ceritanya, aku memilih untuk mendengarkan lebih lama. Aku bisa saja mengintrupsi perkataan Laksita. Akan tetapi, hal tersebut rasanya tidak berguna. “Menurut kamu, cerita seperti apa yang ingin Ibuku bagikan, Dave?” Benar saja. Laksita bertanya. Untuk kali ini, aku tidak perlu berpikir lama. Aku hanya ingin mengungkapkan penilaianku secara langsung, tanpa pemilihan kata. Aku hanya ingin mengatakan apa yang terlintas di dalam kepalaku saja. “Angsa itu tahu ia cantik, tapi ada saat di mana ia juga merasa jelek. Kenapa saya bisa menilai seperti ini? Sebelumnya kamu bilang kalau setiap malam bulu putih yang dimiliki oleh angsa tidak terlihat di bawah cahaya bulan. Artinya, angsa itu memahami bahwa dirinya memang punya kelebihan dan ia mengakuinya. Kemudian, ada bagian dari dirinya yang juga merasa kalau ia masih punya kekurangan, merasa jelek, dan kesepian. Mungkin saja Ibu kamu ingin mengatakan bahwa even the prettiest one has a flaw.” Namanya Laksita dan ia sedang mendengkus di seberang sana. “Kali ini jawaban kamu benar.” “What a relief.” Tanpa mampu dicegah aku tersenyum, mulai melupakan tumpukan paper yang telah dibuat oleh mahasiswaku. Aku juga belum membuka Trello dan melihat jadwal kegiatanku besok. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan obrolan kami akan berakhir. Agaknya kehadiran Laksita Purnama membuatku bertindak sedikit gegabah. Harusnya aku mulai membaca paper yang telah dibuat. Harusnya aku sudah membuka Trello dan mengatur alarm sehingga jadwalku besok tidak berantakan. Seharusnya dan seharusnya. “Tapi menurut kamu, Dave, apakah memang semua orang—even the prettiest one punya kekurangan? Maksudku … apakah hal seperti itu memang betul-betul terjadi di dunia nyata dan menjadi sesuatu yang dianggap wajar?” “Menurut saya begitu.” Perlahan aku bangkit dari posisi duduk dan berjalan mendekati jendela. Ketika aku sedikit menurunkan pandangan, dapat kutemukan beberapa orang yang tampak berjalan kaki di bawah sana. Mereka mengenakan pakaian yang tebal dan juga sepatu. Jalanan di bawah sana mungkin saja licin. Satu di antara mereka bisa saja terjatuh dan mengalami cidera pada bagian lengan atau bahkan lutut. Hanya saja, untuk alasan yang tidak aku ketahui, mereka—orang-orang di bawah sana lebih memilih untuk berjalan pada waktu di mana langit sudah gelap dan udara menjadi semakin dingin. Dalam benakku, mereka juga pasti pernah memiliki masa sulitnya masing-masing. Mereka juga pasti pernah merasa marah dan terluka atas takdir yang mereka terima. Mereka juga pasti setidaknya sekali dalam hidupnya pernah merasa tidak sempurna. “Hanya saja standar kekurangan setiap orang berbeda, Laksita," sambungku kemudian. Dia bergumam, memintaku untuk melanjutkan, "Kalau bagi angsa kekurangan merujuk pada keadaan di mana dia merasa kesepian setiap malam, maka kekurangan bagi saya bisa saja tidak demikian. Bagi saya, kadang seseorang harus merasa kesepian supaya mereka bisa merasakan dirinya sendiri, bisa melihat dunia melalui kacamata yang berbeda. Dan lagi, Laksita, tidak semua orang bisa menemani. Pada akhirnya bagaimana seseorang menyikapi rasa kesepian pasti berbeda." "Orang lain mungkin bakal protes, Dave kalau dengar kamu ngomong seperti ini. Mungkin sebagian akan berpikir, ah orang ini pasti belum pernah merasa kesepian jadi dia bisa bilang begitu." "Saya pernah kesepian juga, Laksita." Aku menghembuskan napas berat. Secara tiba-tiba saja merasa tidak nyaman. "Tapi, saya menyadari bahwa saya tidak bisa menghindari perasaan itu. Pun, saya tidak bisa menuntut orang lain untuk menghilangkan perasaan kesepian saya." "Kamu sadar nggak sih, Dave ... semakin kita dewasa, semakin sering juga kita merasa kesepian. Aku nggak sendiri nggak bisa membayangkan apa jadinya diriku tiga puluh tahun lagi. Apakah aku akan punya teman bicara atau justru lebih banyak diam. Mendewasa itu menakutkan ya, Dave." Mendewasa itu menakutkan. Aku memahami maksud dari perkataan Laksita. "Kita mungkin baru kenal, Laksita, tapi saya harap kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan masa depan. Pasti hari baik akan datang, Laksita." Malam itu Laksita mengatakan terima kasih. Entah untuk apa. [] From : Laksita Purnama Aku boleh telepon kamu nggak? Aduh, jariku gemeteran banget abis salaman sama Tjahya Malam Untuk pesan kali ini, aku langsung menekan icon telepon di bagian kanan layar gawai dan menempelkan benda tipis itu pada telinga kiri. Di dalam nada dering itu, aku menunggu Laksita menerima panggilan. Satu detik. Dua detik. Tiga det– "Halo, Dave." Sewaktu aku menghitung dalam hati, suara Laksita muncul dan memecah bayanganku soal hitungan waktu. "Jadi, gimana? Kamu senang ketemu Tjahya Malam?" "Banget!" Laksita menjawab dengan suara tertahan. Di balik telepon sana, aku juga dapat mendengar suara orang-orang yang sepertinya hilir mudik di sekitar Laksita. "Awalnya aku sempet ragu buat menyapa, tapi karena tahu pengalaman seperti ini enggak akan datang dua kali. Jadinya, aku beranikan diri saja. Kubilang, halo nama saya Laksita Purnama. Saya salah satu penganggum tulisan Anda. Terus kamu tau apa yang terjadi selanjutnya, Dave?" "Apa?" Aku bertanya seraya berjalan menuju bagian utara kampus. Di bagian sana suasananya cukup sepi. "Dia menjabat tanganku dan mengucapkan terima kasih. Ya ampun, begini ya rasanya di-notice oleh idola sendiri. Aku juga diberi bukunya dan ada tanda tangannya juga!" "Saya senang dengarnya. Artinya kamu punya pengalaman baik yang bisa dibawa ke Indonesia dan diceritakan sama teman-teman kamu." "Iya, aku juga senang sekali. Oh ya, sekarang kamu lagi apa? Aku ganggu kamu nggak ya?" Aku melirik arloji di tanganku. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sampai ke jadwal berikutnya. Aku punya waktu luang, saat ini. "Saya habis mengajar. Acara kamu sudah selesai?" "Sudah. Besok akan berlanjut dengan pemateri yang berbeda dan topik yang berbeda juga." "Kamu sudah makan?" Secara spontan aku bertanya. Respon tersebut dapat muncul karena aku pikir sekarang ini adalah waktu makan siang dan mungkin saja Laksita di luar sana belum makan. "Belum. Kalau kamu?" "Belum juga." "Mau makan apa, Dave?" Aku mulai memikirkan roti dan segelas kopi dingin. "Mungkin roti." "Kamu sedang di Universitas Edinburgh?" "Iya." "Mau ketemu? Aku tahu rekomendasi tempat makan roti yang enak. Kalau kamu nggak keberatan." Dan, apakah aku punya alasan untuk menolak? Tentu saja. Ketika akan bangkit, aku melihat Petter melintas di depanku. Pria itu menggerakkan bibirnya tanpa suara. Berdasarkan gerakan bibirnya, aku menangkap bahwa ia mengatakan lunch, kopi, dan kesedianku untuk makan bersamanya. Pria itu baik. Teman baikku di sini. Dengan gerakan bibir pula, aku membalas ajakan Petter mengatakan maaf, aku sudah punya janji, dan harus segera pergi dalam bahasa Inggris. "Dave, you there?" Mengetahui aku yang diam saja, Laksita pada akhirnya bertanya. "Iya—maksud saya, ayo. Saya kebetulan punya waktu luang sampai pukul satu. Memangnya kita mau ke mana?" Siang itu, aku kembali bertemu Laksita, pada satu sudut di sekitar 67 Bread St. [] Namanya Gantiar. Seseorang yang merekomendasikan tempat makan roti itu adalah Gantiar. Laksita berkata kalau Gantiar sudah melakukan banyak pencarian di internet soal Edimburgh. "Di sini tempat favoritnya, Dave. Gantiar bilang begitu," ucap Laksita untuk yang kesekian kalinya. Perempuan ini mungkin lupa kalau ia baru saja menyebut nama Gantiar beberapa waktu lalu. "Kamu sepertinya sangat dekat ya dengan Gantiar?" Laksita mengangguk setelah mengunyah biscoff slice-nya. "Astaga, ini enak sekali, Dave. Gantiar memang pandai memilih tempat." "Memangnya Gantiar itu orang yang seperti apa?" Aku bertanya karena hanya ingin memiliki bayangan yang lebih jelas saja mengenai sosok Gantiar yang sedang kami bicarakan. Bisa saja 'kan bayanganku akan sosoknya dapat berbeda dengan Gantiar yang sebetulnya Laksita kenal? "Umm ... bagaimana ya." Laksita terlihat berpikir. Di dalam kepalanya mungkin ia sedang menyusun ingatan soal Gantiar yang begini dan Gantiar yang begitu. Itu menjadi detik paling lama yang pernah aku temukan ketika pada akhirnya Laksita melanjutkan kalimatnya. "Dia tipikal teman yang baik. Kami sudah kenal sejak SMA. Sewaktu SMA, Gantiar suka membaca buku–hobinya mirip denganku. Kami kemudian dekat karena sering membicarakan buku dan tiba-tiba saja Gantiar selalu ada di dalam setiap hariku. Ketika aku masuk kuliah, ketika aku lulus, ketika aku mendapat pekerjaan. Yah, dia semacam girl's best friend gitu." Ah. Rupanya Gantiar adalah sosok yang sudah lama masuk di dalam hidup Laksita. "Kalian juga jadi rekan kerja?" Laksita mengambil keping biscoff lainnya dan menggigitnya pelan. Ia mengunyah makanan manis itu sambil mengangguk. Mirip anak-anak. "Betul. Dia juga penulis sepertiku—ya, katanlah seperti itu. Kalau kamu, Dave?" "Aku?" Laksita menunjuk diriku dengan telunjuknya. "Iya. Apakah kamu punya teman yang mirip seperti Gantiar?" Punya. Aku punya dan kami sangat dekat. Rasanya kami seperti lahir dari rahim yang sama. Aku punya sosok yang seperti itu. "Iya. Namanya Zelin." "Oh ya? Coba ceritakan soal Zelin." Laksita yang menyukai dongeng mulai mendengarkan ceritaku. "Zelin adalah anak dari teman orangtua saya. Umur kami terpaut delapan tahun kalau saya tidak salah ingat. Pada awalnya Zelin hanya anak SD yang tidak punya teman dan lebih sering mengikuti ke mana orantuanya pergi—entah itu ke salon atau arisan. Dulu rumah orangtua saya lebih sering dijadikan tempat untuk berkumpul dan melakukan arisan. Dari sana saya kenal Zelin. Kami kemudian dekat dan dia seperti ikut tumbuh bersama saya—mirip Gantiar, teman kamu." "Lucu sekali ya hubungan yang seperti itu. Kamu sering dikira pacarnya Zelin nggak? Eh—Zelin belum menikah 'kan?" Beberapa kali sepertinya pernah. Hanya saja, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya menganggap kalimat seperti kalian terlihat cocok atau tampaknya kalian akan berjodoh. Sebagai guyonan yang hanya dikatakan setiap kali keluarga kami berkumpul. "Zelin belum menikah dan, iya beberapa kali orang menganggap kami sebagai pasangan. Kamu juga begitu dengan Gantiar?" "Bukan main deh, Dave. Sering sekali. Aku bahkan sampai bosan. Kamu sadar nggak sih kalau masyarakat kita tuh cenderung membuat sesuatu yang nggak penting." "Misalnya?" "Ya itu dia. Anggapan kalau laki-laki dan perempuan nggak bisa jadi teman. Kalau pun ada laki-laki dan perempuan yang berteman dianggapnya salah satu di antara mereka punya rasa—saling suka. Padahal, ya menurutku pemikiran kayak gitu nggak relevan banget. Kalau menurut kamu gimana, Dave?" Menurutku ya. "Sejujurnya saya tidak punya banyak teman perempuan. Jadi, ketika orang lain berpikir seperti itu, saya hanya menganggap hal tersebut sebagai guyonan karena kami terlihat dekat dan saling mempercayai satu sama lain." Laksita memandangku dengan tatapan tidak percaya. Sepertinya aku baru saja salah berbicara. "Tetap aja nggak bisa, Dave. Itu sangat mengganggu. Coba bayangkan perasaan kami setelah mendapat kalimat semacam, wah kalian cocok banget ya jadi pasangan suami isteri. Itu bikin nggak nyaman tau, Dave. Kayak, nggak pantes aja buat diucapkan." Baru kali ini aku melihat Laksita terlihat kesal. Tampaknya ia masih punya banyak cerita sampai pukul satu. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN