“Ma, kenapa malah ke sini?” tanya Alana ketika sang mama datang.
Amara yang ditanya pun tersenyum. Dia duduk di sofa ruang kerja putri semata wayangnya. Dia tidak mengatakan apapun, tetapi tangannya sibuk membuka kotak bekal yang mirip seperti rantang kecil. Dia meletakkan satu per satu menu yang dibawa.
“Mama takut kamu tidak terbiasa dengan makanan di rumah Noah, Alana. Makanya mama memasak dan membawanya ke sini. Biar kamu bisa makan banyak,” kata Amara dengan lembut.
Alana tersenyum manis. Mamanya selalu memberikan perhatian lebih dengannya. Meski sekarang dia sudah menikah, tetapi mamanya tetap memperlakukan Alan seperti dulu, tidak ada yang berubah. Dengan perasaan haru, Alana duduk dan meraih piring berisi nasi dan mengambil makanan yang dibawa sang mama.
“Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Amara.
“Enak,” jawab Alana. Masakan mamanya memang yang terbaik. Bagi Alana, masakan sang mama ada juara.
Namun, setelah beberapa kali menyantap makanan tersebut, Alana berhenti. Dia menatap ke arah sang mama dan berkata, “Ma, lain kali jangan begini lagi. Mama gak perlu mengantar makanan ke kantor.”
“Kenapa? Kamu malu?” tanya Amara.
Dengan cepat, Alaan menggelengkan kepala sembari menjawab, “Aku tidak malu sama sekali. Aku malah suka, tetapi aku takut Mama kecapean nantinya. Lagi pula masakan di rumah Noah juga enak, kok. Nanti kalau Alana rindu sama masakan Mama, biar Alana ke saan saja.”
Mendengar itu, Amara membuang napas lirih dan menganggukkan kepala. Dia mengelus rambut panjang sang putri secara perlahan. Melihat Alana yang kembali menyantap makanannya, Amara tersenyum tipis. Bahkan senyumnya jauh terlihat seperti kesedihan.
“Maafkan mama dan Papa, Sayang,” ucap Amara tiba-tiba.
Alana pun berhenti mengunyah dan langsun menelan. Keningnya berkerut dalam, memperhatikan raut wajah sendu sang mama. Melihat kesedihan yang begitu jelas, Alana langsung meletakkan piring di meja dan berganti meraih jemari sang mama.
“Mama kenapa minta maaf? Mama tidak memiliki salah,” ucap Alana. Dia cemas ketika melihat ekspresi sedih terukir di wajah sang mama.
“Mama dan Papa bersalah, Alana. Kami membuat kamu harus menikah dengan Noah. Mama tahu, kamu terpaksa menikah dengannya, kan? Kamu melakukan semua ini supaya perusahaan papamu tidak bangkrut, kan?”
Alana yang mendengar terdiam. Dia memang menikah supaya perusahaan papanya bangkit kembali. Tapi kalau dikatakan terpaksa, Alana sendiri masih ragu. Dulu, dia memiliki perasaan dengan Noah. Meski sudah lama dan berusaha menjauh, tetapi rasa itu tidak pergi sepenuhnya. Alana akui, dia sempat senang saat mendapat syarat untuk menikahi Noah.
Namun, semuanya hancur ketika dia mengetahui Noah yang masih sangat mencintai Jovita. Alana pikir, dia masih memiliki kesempatan. Tapi nyatana, kesempatan itu tidak pernah ada. Entah di masa sekarang atau masa lalu.
“Alana, kalau kamu mau berpisah dengan Noah, mama akan mendukung. Mama tidak mau melihat anak mama menikah dengan pria yang tidak dicintai. Alana, kamu berhak mendapat kebahagiaan. Kalau kamu pergi, mama tidak akan mencegahmu,” kata Amara.
‘Bagaimana aku bisa pergi, Ma. Aku dan Noah sudah memiliki kontrak yang harus dipatuhi,’ batin Alana.
Namun, tidak mungkin dia mengatakan isi hatinya. Dia pun memilih menarik kedua sudut bibir, membentuk senyum manis dan kembali menggenggam jemari sang mama erat. Dengan tenang Alana berkata, “Mama tidak perlu cemas. Aku melakukan semua ini tanpa paksaan. Aku memang ingin perusahaan Papa tidak bangkrut. Tapi, masalah pernikah ini, aku benar-benar tidak melakukannya dengan terpaksa karena aku sudah mencinta Noah.”
“Kamu mencintai Noah? Aku serius?” Amara menatap tidak percaya.
“Aku serius, Ma. Mama tahu pria yang aku ceritakan waktu duduk di bangku SMA?”
“Jadi, pria itu dia?” Amara langsung menjawab.
Alana hanya menganggukkan kepala. Wajahnya bersemu merah. Dia hanya tersenyum malu. Sebisa mungkin, Alana berakting agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Sekarang Mama tenang saja. Mama tidak perlu mencemaskanku dan Noah karena kami hidup bahagia,” kata Alana penuh keyakinan.
Amara pun membuang napas lirih dan menyahut, “Syukurlah kalau memang begitu. Sekarang mama sudah tenang.”
‘Mama tidak perlu tahu yang sebenarnya,’ batin Alana, cukup senang karena mamanya sudah terlihat ceria.
***
“Noah.”
Noah yang baru saja keluar ruangan langsung menghentikan langkah ketika seseorang memanggil namanya. Dia pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat siapa yang ada di depannya, Noah melebarkan kedua mata.
“Jovita,” gumam Noah.
Jovita yang melihat Noah terkejut hanya tersenyum manis. Dia berhenti di hadapan Noah, memasang ekspresi terbaik. Dia juga tampak anggun dengan balutan dress berwarna peach.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Noah. Dia benar-benar tidak mempedulikan penampilan Jovita.
“Aku menjadi model di perusahaan ini. Aku bahkan sudah dikontrak selama dua tahun. Apa kamu tidak tahu hal ini?”
Mendengar itu, Noah terdiam dengan kening berkerut dalam. Dia mengingat, kapan pernah menyetujui kontrak dengan Jovita. Setahunya, dia memang mencari model untuk promosi produk terbaru perusahaannya, tetapi bukan Jovita.
‘Aku rasa ada kesalahan disini. Aku akan tanyakan dengan Sherly,’ batin Noah. Dia menjadi tidak tenang dengan keberadaan Jovita di dekatnya.
Sayangnya, Jovita tidak memperdulikan hal itu. Dia malah mendekat ke arah Noah dan meraih tangan pria itu. Dengan nada suara manja dia berkata, “Siang ini kamu ada kerjaan? Kalau tidak, aku ingin mengajakmu makan siang bersama.”
“Kalau itu, ak—“
“Tenang saja, tidak lama,” sela Jovita sembari mengeratkan dekapan. Dia bahkan sudah berdiri di sebelah Noah dan melanjutkan ucapannya, “anggap saja sebagai sambutan karena aku yang bekerja di perusahaan ini. Selain itu, aku juga akan semakin merasa tenang kalau kamu bisa bersikap biasa. Itu menandakan kamu sudah benar-benar memaafkanku.”
“Noah, ayolah,” rengek Jovita sembari menggoyangkan tangan Noah.
Noah yang mendengar rengekan itu pun membuang napas kasar. Dia melepas genggaman di tangan Jovita dan berkata dengan tegas, “Baiklah. Lagi pula ada yang mau aku bicarakan denganmu.”
Jovita tersenyum lebar. Dia kembali mendekat ke arah Noah dan bersiap memeluk. Beruntung Noah mundur dan menatap tajam, memberikan peringatan untuk wanita di depannya.
“Kamu sudah bilang tidak akan melakukannya lagi, Jovita,” kata Noah mengingatkan.
“Maaf, aku kebiasaan,” sahut Jovita.
Namun, Noah tidak terlalu menanggapinya. Dia masih kesal dengan sikap Jovita yang mulai berlebihan. Dia pun memilih memasukkan tangan ke saku celana dan melangkah ke arah lift. Keduanya menunggu pintu lift terbuka. Hingga pintu terbuka dan Noah siap melangkah masuk, tetapi niatnya terhenti ketika melihat sosok di depannya. Noah terdiam dengan wajah membeku.
Sedangkan Jovita yang melihat malah tersenyum lebar. Dia melambaikan tangan sembari menyapa, “Hai, Alana. Lama tidak bertemu.”