“Akhirnya kamu datang juga, Alana. Papa sudah menunggumu dari tadi,” kata Malex dengan senyum lebar. Dia pun bangkit dan melangkah ke arah Alana berada.
Alana yang kesal pun terpaksa harus mengubah ekspresi wajahnya. Padahal sebelum masuk ke ruangan sang papa mertua, Alana tidak menunjukkan senyum. Wajahnya bahkan ditekuk, merasa kesal setiap mengingat kedekatan Jovita da Noah. Tapi sekarang, dia dengan cepat merubah ekspresinya.
‘Jangan campur adukan masalahmu dengan pekerjaan, Alana. Ingat, kamu dan Noah hanya menikah kontrak. Dia mencintai Jovita. Jadi, kamu harus membuang jauh-jauh perasaan sepihak,’ batin Alana.
“Kamu tadi bertemu dengan Noah?” tanya Malex ketika sudah duduk di sofa ruang kerjanya.
‘Ketemu. Tadi dia bersama dengan cinta pertamanya.’
Sebenarnya Alana begitu ingin meluapkan isi hatinya, tetapi ditahan. Dia tidak mungkin mengatakan hal, membuatnya menggelengkan kepala sembari menjawab, “Tidak, Pa.”
“Tumben sekali. Padahal tadi belum lama ke ruangan papa,” ucap Malex.
“Mungkin sedang sibuk, Pa,” sahut Alana. “Selain itu, kenapa Papa menyuruhku datang ke sini?” lanjutnya. Dia tidak ingin papa mertuanya kembali membahas mengenai Noah.
“Papa sampai lupa, Alana. Sebentar.”
Malex pun segera melangkahkan kaki, menuju ke arah meja kerjanya untuk mengambil sebuah dokumen. Setelah itu, dia kembali melangkah ke arah Alana dan duduk di sebelah sang menantu. Hal itu menarik perhatian Alana yang sejak tadi mengamati.
“Apa ini, Pa?” tanya Alana.
“Ini kontrak kerjasama kita. Sesuai dengan janji papa, kalau kamu bisa membuat Noah menikahimu, papa akan selalu menjadi investor untuk perusahaan papamu,” jelas Malex.
Alana langsung tersenyum lebar. Dia benar-benar lega karena Malex tidak membohonginya. Meski awalnya dia yakin, tetapi beberapa hari ini dia memiliki keraguan. Hingga Alana yang sudah selesai membaca isi dokumen langsung menandatanganinya.
“Terima kasih, Pa,” ucap Alana sembari menyerahkan dokumen.
Malex pun mengambil dokumen tersebut. Dia kembali menutup setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Hingga dia yang sudah yakin pun membuang napas lirih dan menatap ke arah Alana.
“Apa kamu menikahi Noah hanya karena perusahaan orang tuamu?” tanya Malex.
Alana yang mendengar pertanyaan itu pun langsung terdiam. Dia menatap ke arah Malex, merasa bingung karena tiba-tiba mendapat pertanyaan yang menurutnya privasi. Selain itu, Alana juga takut kalau Malex mengetahui perjanjiannya dan Noah.
‘Kalau ketahuan, apa dia akan menarik investasinya?’ batin Alana, mulai merasa cemas.
Malex yang tidak juga mendapat jawaban mulai tertawa kecil. Dia menepuk pundak sang menantu dan berkata, “Papa hanya penasaran saja, Alana. Entah apa tujuanmu dan Noah melakukan pernikahan ini, hanya kalian yang tahu. Papa hanya berharap kalian bisa mendapatkan yang terbaik. Untung-untung kalau kalian bisa memberikan cucu untuk papa.”
Mendengarnya membuat Alana langsung malu. Wajahnya bersemu merah dengan perasaan tidak karuan. Padahal papa mertuanya hanya menggoda saja, tetapi Alana malah terbawa suasana. Meski dalam hati dia berkata, ‘Bagaimana bisa hamil? Kita saja gak saling cinta.’
“Kamu sudah makan?” tanya Malex.
“Sudah, Pa,” jawab Alana.
“Sayang sekali. Padahal papa mau mengajakmu makan siang bersama.”
Melihat wajah kecewa Malex, Alana pun spontan berkata, “Aku bisa temani Papa makan.”
“Kamu serius?” tanya Malex. Wajah sendunya berubah menjadi penuh semangat.
Alana hanya bisa menganggukkan kepala. Sebenarnya dia mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menahan sesuatu. Padahal masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi dia malah mengambil keputusan tanpa pikir panjang.
‘Astaga, Alana. Seharusnya kamu biarkan saja mertuamu ini makan sendiri,’ batin Alana.
“Ayo, Alana. Kita ke kantin kantor saja,” ajak Malex.
Mau tidak mau, Alana memilih bangkit. Dia melangkahkan kaki, menuju ke arah pintu ruangan dan keluar. Alaan sesekali menanggapi sang mertua ketika Malex mengajaknya berbincang. Tidak banyak hal yang bisa dibicarakan. Mereka hanya mengobrol mengenai bisnis dan pengalaman Malex sebelum menjadi seorang yang sukses. Hingga keduanya sampai di kantin, membuat Alana dan Malex mencari tempat makan.
Namun, manik matanya tanpa sengaja menangkap kehadiran Noah dan Jovita. Melihat itu, Alana melebarkan kedua mata. Dia pikir Noah akan mengajak Jovita pergi keluar, tetapi siapa sangka pria itu malah mengajak ke kantin kantor. Hingga Alana mengalihkan pandangan, menatap ke arah Malex dan bersiap mengajak pria itu pergi. Sayangnya Malex lebih dulu melangkah lebar.
“Matilah,” gumam Alana sembari menepuk jidatnya pelan.
Alana pun melangkah lebar, mengejar san mertua. Niatnya ingin menghentikan dan mengajak pergi, tetapi siapa sangka Malex malah lebih dulu sampai. Malex langsung mengetuk meja makan, membuat Noah dan Jovita mengalihkan pandangan.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
***
“Kenapa kalian makan siang bersama di sini?” tanya Malex.
Alana yang duduk di sebelah sang mertua hanya bisa diam. Dia menutup mulut rapat, sesekali menatap ke arah Noah dan Jovita yang duduk di depannya. Ada perasaan bersalah karena tidak bisa melindungi keduanya.
“Noah, kenapa diam? Kenapa kalian di sini? Apa kamu tidak tahu kalau Alana ke sini?” tanya Malex. Dia menatap ke arah Jovita dan mengerutkan kening dalam.
“Lagi pula, siapa wanita ini?” tanyanya dengan tatapan curiga.
Jovita tahu dirinya yang dimaksud. Dia pun tersenyum lebar dan mengulurkan tangan, “Saya teman sekolahnya Noah, Om. Nama saya Jovita. Sekarang, saya juga menjadi model di sini untuk produk terbaru.”
Mendengar itu, Alana terdiam. Dia cukup terkejut mendengar hal itu. Tatapannya pun beralih, menatap ke arah Noah berada. Entah kenapa, lagi-lagi dia merasa sakit hati. Dia yakin, Jovita bisa masuk ke perusahaan itu karena Noah.
‘Tidak mungkin kebetulan, kan?’ Alana ingin tertawa sekeras mungkin. Menertawakan dirinya yang begitu bodoh. Tapi, Alana mencoba untuk bersikap biasa. Dia tersenyum manis dan menatap Jovita.
“Selamat ya, Jovita,” ucap Alana.
Jovita pun menganggukkan kepala. Dia tersenyum manis, menunjukkan kebahagiaan yang begitu jelas. Dia pun meraih lengan Noah dan menarik pria itu agar mendekat ke arahnya.
“Terima kasih, Alana. Tapi aku yakin, semua ini karena bantuan dari Noah juga. Tidak mungkin aku yang baru pulang bisa langsung diterima di perusahaan sebesar ini,” kata Jovita.
“Aku tidak melakukan apa pun, Jovita. Aku bahkan tidak sadar menyetujui suratnya,” sahut Noah. Dia cepat-cepat melepaskan dekapan di lengannya.
“Kenapa harus malu-malu? Aku tahu kalau semua itu ulahmu,” ucap Jovita kembali.
Namun, Noah masih menyangkal. Dia memang tidak sadar sudah menyetujui surat persetujuan mengangkat model. Dia pun berusaha untuk melepaskan dekapan, tetapi Jovita masih menggodanya.
Alana yang melihat hal itu hanya terdiam. Kedua sudut bibirnya tertarik, menunjukkan senyum yang dipaksakan. Dia bahkan berusaha keras untuk menahan air matanya.
‘Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini saat melihat mereka begitu bahagia? Kenapa aku merasa hancur saat tahu bahwa Noah begitu mencintai Jovita sampai bersusah payah memasukan Jovita ke perusahaannya?’ batin Alana, menahan kesedihan yang cukup dalam.