[9] Mencoba Menjelaskan

1125 Kata
“Alana, kamu gak mau di sini dulu?” tanya Malex. Alana yang sudah bersiap pergi pun langsung menggelengkan kepala. Dengan tenang dia menjawab, “Tidak bisa, Pa. Alana masih ada pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan.” Malex yang mendengar hal itu pun membuang napas kasar. Wajahnya tampak lesu karena Alana yang akan pergi. Hal itu bukan tanpa sebab, tetapi Malex yakin, kepergian Alana kali ini karena kehadiran wanita bernama Jovita. Mengingat itu, Malex langsung menatap tajam ke arah Noah. “Pa, aku pergi dulu,” ucap Alana. “Biar Noah yang mengantar,” sahut Malex. Mendengar nama Noah, Alana tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah sang suami yang hanya diam. Tidak terlihat antusias sama sekali. Hingga Alaan menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak perlu, Pa. Aku sendiri saja. Lagi pula Noah sedang sibuk.” ‘Ya, sibuk sama cinta pertamanya,’ batin Alana, sedikit kesal. Meski dia dan Noah menikah karena perjodohan dan juga kontrak, tetapi setidaknya Alana ingin Noah lebih menjaga perasaannya. “Aku gak sibuk. Aku bisa mengantarmu,” kata Noah. “Nah, Noah mau mengantar. Kamu pulang dengan Noah saja. Biar mobilmu nanti diantar sekretaris Papa,” ucap Malex. Sebenarnya Alana masih ingin menolak, tetapi melihat ekspresi wajah sang mertua yang begitu semangat, Alana memilih menganggukkan kepala. Dia tidak mau membuat pria itu kecewa. Sekarang saja Alana sudah merasa bersalah karena tidak mengatakan mengenai pernikahan kontrak dirinya dan Noah. Kalau tahu, Alana yakin, kedua mertua dan juga orang tuanya akan kecewa. “Aku ikut.” Jovita yang sejak tadi diam pun langsung angkat bicara ketika Noah bangkit, “hari ini aku gak bawa mobil. Jadi, aku boleh menumpang kalian, kan?” “Tidak.” Malex yang menjawab dengan tegas. Hal itu membuat Alana, Noah dan juga Jovita menjadi terkejut. “Tap—“ “Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan denganmu, Jovita,” sela Malex. Jovita yang mendengar hal itu pun langsung diam. Kedua tangan yang ada di bawah meja langsung mengepal. Rahangnya mengeras, merasa kesal karena Malex yang tidak berpihak dengannya. Dia tahu, Malex melarangnya pergi karena tidak mau dirinya mengganggu Noah dan Alana. Sayangnya, Malex tidak memikirkan perasaan Jovita. Dia lebih memilih menjaga perasaan menantunya. Dengan bibir mengulas senyum, dia menatap ke arah putra dan menantunya. Dia berkata, “Kalian pergilah.” “Kalau begitu, kami pergi dulu, Pa,” ucap Noah. Dia menatap sekilas ke arah Jovita hingga akhirnya melangkah pergi. Alana yang melihat hal itu pun tersenyum tipis dan dipaksakan. Dengan tenang, dia mengikuti Noah. Meski begitu, Alana masih merasa sakit. Dia tahu Noah menyukai Jovita, tetapi dia tidak pernah menyangka kalau perasaan Noah begitu besar. ‘Apa keputusanku ini salah? Apa aku malah menjadi pengganggu hubungan mereka?’ tanya Alana dengan diri sendiri. Sedangkan di kantin kantor, hanya ada Jovita dan Malex. Jovita yang tidak terlalu mengenal Malex pun hanya diam. Dia menunggu pria itu membuka percakapan. Tapi, tidak ada yang keluar dari mulut pria itu. Jovita yang mulai merasa lelah dan kesal pun membuang napas lirih, “Tuan Malex. Apa yang ingin anda katakan dengan saya?” tanya Jovita dengan suara lembut. Sekesal dan seemosi apapun dia dengan Malex, Jovita tetap menahannya. Pria itu adalah paa dari Noah sekaligus atasannya. Jadi, dia harus memperlakukannya dengan baik. Namun, hal itu tidak membuat Malex bersikap lembut. Dengan sinis dai menjawab, “Kamu baru di perusahaan ini. Meskipun kamu model di sini, tetapi saya tegaskan sekali lagi. Jangan berpikir hal lain dan fokus saja dengan pekerjaanmu.” “Maksud anda?” Jovita tahu maksud dari Malex, tetapi dia ingin pria itu lebih memperjelas. “Saya tahu kamu tidak bodoh. Jadi, kamu pasti mengerti,” jawab Malex. Jovita membuka mulut dan hendak bertanya, tetapi niatnya terhenti ketika melihat Malex bangkit. Dia pun memilih diam, memperhatikan lekat-lekat kepergian Malex. Setelah pria itu pergi, Jovita langsung mendesah kasar. “Soal,” gerutunya penuh emosi. *** “Sebenarnya, kalau kamu tidak mau mengantarku, kamu tidak perlu mengantar, Noah.” Noah yang mendengar hal itu pun langsung mengerutkan kening dalam. Sejak tadi mereka diam, tetapi sekalinya keluar ucapan dari Alana, Noah tidak mengerti. Dia bingung, kenapa tiba-tiba Alana mengatakan hal itu? “Aku juga membawa mobil sendiri. Jadi, kamu bisa meninggalkanku di kantor. Aku juga tidak akan mengatakan dengan papamu,” ucap Alana kembali. “Apa maksudmu?” tanya Noah dengan tatapan bingung. Dia menatap ke arah Alana sekilas dan kembali menatap jalanan. Melihat Noah yang seperti orang bodoh malah membuat Alana kesal. Dia pun mengalihkan pandangan dan menjawab, “Tadi kamu mau pergi dengan Jovita, kan? Tapi gagal karena aku yang datan.” “Hah?” Noah menatap ke arah Alana dan menggelengkan kepala. ‘Dapat pikiran dari mana anak satu ini,’ batin Noah. “Aku tahu, mungkin kamu menganggapku sebagai pengganggu, tetapi aku tadi sudah menolak. Jadi, kalau Jovita marah, aku tidak mau bertanggung jawab,” ucap Alana. Mendengar lagi-lagi Alana menyebut nama Jovita, Noah pun meminggirkan mobil dan berhenti. Dia menatap ke arah Alana berada. Wajahnya tampak kesal. Dia benar-benar muak karena terus disangkut-pautkan dengan Jovita. “Kenapa kamu selalu mengatakan aku mencintai Jovita? Apa kamu tidak pernah berpikir kalau aku mencintai wanita lain?” Noah mulai emosi. Padahal jelas dia mencintai Alana, tetapi wanita itu tidak pernah menganggapnya. Alana yang mendengar hal itu pun menatap ke arah Noah. “Kamu mencintai wanita lain? Kamu pikir aku percaya? Kamu bahkan rela memberikan kejutan yang besar di taman. Jadi, tidak mungkin kamu mencintai wanita lain.” “Jadi, kamu juga melihatnya?” Noah melebarkan kedua mata. Dia cukup terkejut dengan hal itu. “Kamu pikir aku buta? Kamu yang menyuruhku datang. Jelas aku melihatnya,” jawab Alana semakin emosi, “jadi, kamu pikir aku masih percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan? Tidak. Lagi pula Jovita itu cantik, pintar dan kaya. Tidak ada yang bisa menandinginya.” “Ada. Kamu,” kata Noah refleks. Dia pun menatap lekat ke arah Alana berada. Deg. Alana yang mendengar hal itu terdiam. Dia menatap ke arah Noah berada. Pria itu tampak serius. Alana sendiri memilih memperhatikan dalam, mencoba mencari kebohongan dari ucapan Noah, tetapi tidak ada sama sekali. Meski begitu, Alana tidak langsung percaya. Dia memilih mengalihkan pandangan. “Aku tidak akan termakan ucapan buaya sepertimu, Noah. Jadi, hentikan bualanmu itu karena sampai kapan pun aku tidak akan percaya,” kata Alana pada akhirnya. Dia memang memilih untuk menutup rapat-rapat perasaannya. Selama ini Noah selalu berganti-ganti kekasih. Jadi, kalau membuat wanita terbuai dengan kata-katanya bukan hal yang sulit, kan? Alana memilih membuka pintu mobil dan keluar. Meski belum sampai kantor, Alanna memilih pergi. Dia tidak mau berada di mobil yang sama dengan Noah. Pasalnya sejak tadi Alana merasa jantungnya tidak karuan. Sedangkan Noah yang hendak menjelaskan pun langsung terhenti. Melihat kepergian Alana, dia langsung memukul kemudi kasar sebari mengumpat, “Sialan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN